Gen Z dikenal lebih berani dalam mengutarakan pendapat, termasuk saat interview kerja. Ini dia pertanyaan Gen Z saat interview kerja yang bisa bikin HRD terdiam.
Generasi Z alias Gen Z kembali menjadi sorotan lantaran langkah pandangnya dinilai berbeda saat mencari pekerjaan. Jika selama ini kandidat kerja identik dengan pertanyaan seputar gaji, tunjangan, alias jenjang karier, sekarang banyak pelamar dari kalangan Gen Z justru lebih konsentrasi menggali perihal lainnya.
Banyak pencari kerja yang termasuk Gen Z lebih mengedepankan budaya kerja dan kondisi perusahaan sebelum menerima tawaran pekerjaan. Perubahan pola pikir ini mencerminkan pergeseran prioritas di bumi kerja modern.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi Gen Z, lingkungan kerja yang sehat, keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance), serta transparansi perusahaan dianggap sama pentingnya dengan besaran penghasilan. Tak heran, langkah mereka menjalani proses wawancara kerja pun membikin banyak perekrut mulai mengevaluasi kembali pendekatan rekrutmen yang selama ini digunakan.
Mari telaah mengenai karakter Gen Z yang sering menjadi sorotan saat interview kerja.
Pertanyaan Gen Z saat interview kerja yang bikin HRD terdiam
Mengutip The Economic Times, kisah menarik dibagikan oleh seorang career coach, Simon Ingari, melalui media sosial X. Ia menceritakan pengalamannya saat seorang kandidat Gen Z menjalani wawancara kerja dan memberikan respons yang di luar dugaan.
Awalnya, pewawancara dari pihak HRD mengusulkan pertanyaan yang umum ditanyakan dalam proses rekrutmen, ialah argumen kandidat tersebut meninggalkan pekerjaan sebelumnya. Namun dia tidak langsung menjawab, pelamar itu justru membalikkan pertanyaan kepada HRD.
Pertanyaan sederhana yang membikin suasana hening
Dengan tenang, kandidat tersebut bertanya mengenai orang yang sebelumnya menempati posisi yang sedang dilamar. Pertanyaan itu membikin pewawancara sempat terkejut dan meminta penjelasan lebih lanjut.
Pelamar kemudian melanjutkan pertanyaannya. Ia mau mengetahui apakah tenaga kerja sebelumnya dipromosikan, mengalami burnout, memilih mengundurkan diri secara diam-diam, apalagi menghilang begitu saja dari perusahaan.
Pertanyaan tersebut seketika membikin ruangan menjadi hening sebelum akhirnya pihak HRD mengakui bahwa posisi itu memang mengalami tingkat pergantian tenaga kerja yang cukup tinggi.
Jawaban HRD menjadi penentu keputusan
Setelah mendengar penjelasan tersebut, kandidat hanya mengangguk dan menyampaikan bahwa jawaban itu sudah cukup baginya. Respons singkat tersebut kemudian memicu obrolan luas di media sosial mengenai langkah Gen Z menilai sebuah perusahaan.
Banyak warganet menilai bahwa bagi Gen Z, info mengenai tingginya tingkat pergantian tenaga kerja bisa menjadi sinyal adanya persoalan di lingkungan kerja. Oleh karena itu, mereka merasa perlu memahami kondisi perusahaan sebelum memutuskan bergabung.
Gen Z lebih kritis dalam memilih tempat bekerja
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang lebih sering diminta menjelaskan argumen keluar dari pekerjaan terdahulu, Gen Z sekarang juga mau mengetahui penyebab perusahaan terus membuka posisi yang sama. Mereka berupaya mengidentifikasi sejak awal apakah lingkungan kerja berpotensi memicu stres, burnout, alias mempunyai budaya kerja yang kurang sehat.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa Gen Z tidak hanya mau memperoleh pekerjaan, tapi juga memastikan tempat kerja yang dipilih bisa mendukung perkembangan pekerjaan sekaligus kesehatan mental mereka dalam jangka panjang.
Bukan tanda sombong, tapi corak mitigasi risiko
Fenomena ini dinilai bukan sebagai sikap arogan alias terlalu banyak menuntut. Sebaliknya, langkah berpikir Gen Z mencerminkan meningkatnya kesadaran dalam menilai akibat sebelum menerima sebuah pekerjaan.
Kini proses wawancara tidak lagi sekadar menjadi momen perusahaan menilai kandidat. Sebaliknya, para pencari kerja, khususnya Gen Z, juga aktif mengevaluasi calon tempat kerja mereka.
Pergeseran ini membikin perusahaan dan tim HRD dituntut lebih transparan mengenai budaya kerja, kepemimpinan, hingga tingkat retensi tenaga kerja agar bisa menarik sekaligus mempertahankan talenta terbaik di tengah persaingan bumi kerja yang semakin ketat.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·