Jakarta -
Istilah people pleaser mungkin sudah tidak asing lagi didengar belakangan ini ya, Bunda. Sekilas, sikap ini dianggap sebagai corak kepedulian dan kebaikan kepada orang lain.
Namun di kembali kemauan untuk selalu menyenangkan orang lain, ada sisi lain yang kerap tidak disadari. Tidak sedikit orang yang justru mengabaikan kebutuhan diri sendiri demi mendapatkan penerimaan dari orang lain.
Bagi sebagian orang, menjadi people pleaser bukan sekadar sifat bawaan. Kebiasaan ini bisa terbentuk sejak lama sebagai langkah untuk menghindari konflik, penolakan, alias emosi tidak nyaman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Psikoterapis sekaligus penulis kitab Are You Mad at Me? How to Stop Focusing on What Others Think and Start Living for You, Meg Josephson, LCSW, menjelaskan bahwa krusial untuk mengenali perihal ini agar seseorang bisa menjalani hidup dengan lebih sehat.
Oleh lantaran itu, Josephson membagikan beberapa kebiasaan yang sering dilakukan people pleaser tanpa mereka sadari. Berikut penjelasan selengkapnya, Bunda.
7 kebiasaan yang sering dilakukan people pleaser tanpa sadar
Sebagai seorang psikoterapis, Josephson mengungkapkan bahwa ada sejumlah perilaku yang terlihat pada orang dengan kecenderungan people pleaser. Berikut beberapa di antaranya, dikutip dari laman Parade.
1. Terlalu banyak memikirkan hubungan sosial
Salah satu kebiasaan pada people pleaser adalah terlalu banyak memikirkan setiap hubungan sosial yang terjadi. Hal-hal mini dapat membikin pikiran jadi mudah khawatir.
Josephson menjelaskan bahwa kondisi ini biasanya membikin seseorang sangat berjuntai pada penerimaan orang lain. Rasa kondusif mereka pun kerap ditentukan dari apakah orang lain terlihat senang alias tidak.
"Ketika kita terjebak dalam respons menjilat, rasa kondusif kita terletak pada pengetahuan bahwa orang lain menyukai kita dan senang dengan kita," kata Josephson.
"Karena itu, kita sering kali sangat waspada dalam hubungan kita dan apalagi perihal terkecil sekali pun. Ketika seseorang memandang cerita IG kita tetapi belum membalas pesan kita dan kita mungkin berpikir, 'Apakah saya melakukan sesuatu yang salah?'" ujarnya.
2. Merasa diri selalu salah
Sebagian people pleaser juga merasa dirinya selalu melakukan kesalahan alias takut bakal memicu masalah dalam hubungan. Inilah sebabnya, mereka jadi lebih berhati-hati dalam bersikap.
Josephson mengatakan bahwa kondisi ini dapat terbentuk dari pengalaman masa kecil. Terlebih jika seseorang tidak tahu gimana menyelesaikan masalah di sekitarnya.
3. Menghindari bentrok sebisa mungkin
Banyak people pleaser menghindari bentrok lantaran merasa perihal itu sangat menegangkan. Josephson menjelaskan bahwa pola seperti ini bisa terbawa hingga dewasa.
Apalagi jika sejak mini tidak terbiasa memandang bentrok diselesaikan dengan langkah yang sehat dan penuh empati, Bunda.
"Sering kali, sebagai orang dewasa, kita mungkin menghindari bentrok dengan segala langkah lantaran kita percaya, "Jika saya berkonflik dengan orang ini, hubungan bakal hancur alias berakhir, dan tidak ada jalan kembali," katanya.
4. Terlalu membebani diri dan susah berbicara "Tidak"
Selanjutnya, people pleaser tak jarang merasa kudu selalu melakukan lebih banyak agar bisa diterima dan disukai, Bunda. Mereka condong mengabaikan kebutuhan diri sendiri demi orang lain.
Josephson menjelaskan bahwa kondisi ini membikin seseorang sering mengatakan "ya" meski sebenarnya mau menolak. Menurutnya, perihal ini menyebabkan seseorang menekan keinginannya dan lebih menyenangkan orang lain.
Jika terus dilakukan, lambat laun mereka bisa jengkel lantaran kebutuhan pribadi tidak pernah betul-betul terpenuhi.
5. Merasa seperti sedang berakting dalam hubungan
Dalam keseharian, people pleaser kerap merasa seperti sedang menjalani peran tertentu di hadapan orang lain. Mereka berupaya menyesuaikan diri agar selalu terlihat menyenangkan di setiap situasi.
Kondisi ini membikin mereka menyembunyikan sisi diri yang sebenarnya, Bunda. Hal ini juga dapat mengakibatkan rasa malu yang cukup besar, ialah "Apakah saya palsu? Apakah saya hanya membodohi semua orang?".
6. Merasa tidak mengenal diri sendiri
Sebagian people pleaser bisa sampai pada tahap merasa bingung dengan jati dirinya sendiri, lho. Mengapa demikian? Ini terjadi lantaran mereka terlalu konsentrasi pada orang lain dibandingkan diri sendiri.
Josephson menuturkan bahwa kebiasaan selalu menyenangkan orang lain membikin seseorang lebih banyak memperhatikan reaksi dan emosi orang lain. Itu sebabnya, mereka jadi kurang peduli dengan emosi dan kebutuhan pribadinya sendiri.
"Seiring waktu, perihal ini dapat membikin orang yang selalu berupaya menyenangkan orang lain merasa seperti, 'Siapakah saya? Siapakah saya ketika saya tidak diperhatikan dan berupaya menyenangkan orang lain?'" ungkap Josephson.
7. Mereka perlu menjaga emosi orang lain
Berikutnya, people pleaser suka merasa bertanggung jawab atas emosi orang-orang di sekitarnya. Mereka berupaya menjaga suasana agar tidak ada yang merasa kecewa alias marah.
Namun, kebiasaan ini terasa melelahkan jika dilakukan terus-menerus dalam setiap hubungan. Mereka mudah merasa bersalah ketika orang lain terlihat tidak bahagia.
Itulah beberapa kebiasaan yang sering dilakukan oleh people pleaser tanpa mereka sadari. Semoga bisa menambah wawasan baru, ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/rap)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·