Jakarta -
Diam-diam ada kebiasaan parenting yang bisa membikin anak jadi tidak percaya diri lho, Bunda. Jangan sampai dilakukan terus jika tak mau pengaruhi harga diri anak.
Seperti diketahui, ada sejumlah aspek yang dapat memengaruhi evolusi kejiwaan anak sejak usia dini. Termasuk kebiasaan orang tua yang berakibat negatif, seperti terus-menerus mengkritik anak.
Hal ini berisiko bisa memengaruhi hayat anak ketika dewasa, terutama dalam hal hubungan sosial dan bersikap di lingkungan kerja.
Jika anak selalu dituntut untuk menjadi sempurna, ia lebih berpotensi memiliki tanda-tanda rendah harga diri (self-esteem) saat remaja hingga dewasa.
Peran orang tua dalam evolusi mental anak
Menurut psikolog anak di Amerika Serikat, David Friedlander, Psy.D., kecemasan pada anak-anak krusial untuk diperhatikan.
Meskipun lingkungan dan pengalaman anak di sekolah dapat berkontribusi terhadap rendahnya harga diri, tapi pola pengasuhan juga berakibat besar terhadap kepercayaan diri anak. Terus-menerus mendorong anak maupun terlebihlagi menyelesaikan masalah mereka, justru pada kenyataannya tidak selalu demikian.
Apa yang menyebabkan anak kurang percaya diri?
Ada sejumlah aspek yang dapat menyebabkan anak memiliki harga diri rendah. Friedlander menerangkan bahwa terdapat beberapa aspek mendasar yang turut berpartisipasi dalam kondisi tersebut.
Dalam sisi psikologi, rendahnya kepercayaan diri dipengaruhi oleh gabungan aspek biologis dan pengalaman hidup. Faktor biologis mencakup hal-hal seperti gen, paparan yang dialami selama eksis di dalam kandungan, serta asupan nutrisi.
"Faktor-faktor ini turut membentuk temperamen anak, yang dapat membuatnya cenderung lebih berjaga-jaga maupun memiliki sifat perfeksionis," ujar Friedlander seperti dikutip dari Parade.
Sementara itu, aspek pengalaman meliputi pengalaman sosial dan proses belajar, lingkungan keluarga, serta beragam pengalaman buruk maupun traumatis selama masa kanak-kanak.
Ia menambahkan bahwa faktor-faktor tersebut dapat sangat memengaruhi evolusi kepribadian dan metode anak melihat dirinya sendiri seiring bertambahnya usia. Kombinasi kedua kategori aspek inilah yang sebenarnya sangat penting.
Jika seorang anak memiliki kecenderungan untuk terlalu berhati-hati, kemudian terus-menerus dikritik setiap kali berbuat kesalahan, ia memiliki konsekuensi lebih besar untuk punya rasa percaya diri yang rendah.
Friedlander juga menerangkan sebaliknya, jika anak tersebut mendapat apresiasi atas usahanya dan diberi pemahaman bahwa berbuat kesalahan adalah hal yang wajar, ia mungkin dapat mengatasi kecenderungan antaran tersebut.
Pola asuh yang dapat menyebabkan harga diri anak jadi rendah
Meskipun lingkungan dan aspek biologis anak dapat memengaruhi metode mereka melihat diri sendiri, pola pengasuhan tertentu juga dapat turut menjadi penyebab.
"Misalnya orang tua terlalu sering mengkritik, memberikan tuntutan yang berlebihan, menghukum anak ketika gagal, serta tidak menyadari maupun memberikan apresiasi atas keberhasilannya," ujar Friedlander.
Namun, ada pula perilaku pengasuhan lain yang tampaknya tidak berbahaya, tetapi sebenarnya perlu dilakukan lebih bijak.
Contohnya, selalu menyelesaikan masalah anak yang sebenarnya bisa mereka atasi sendiri. Hal ini juga termasuk selalu menyelamatkan mereka dari situasi yang sebetulnya bisa mereka hadapi secara mandiri.
Tanpa disadari, perilaku tersebut menyampaikan pesan bahwa orang tua tidak percaya anak bisa menyelesaikan masalah dan mengelola emosinya sendiri.
Pola asuh yang dapat merusak kepercayaan diri anak
Apa saja kebiasaan parenting yang bisa membikin anak lama-lama jadi tidak percaya diri? Simak ulasannya berikut ini, Bunda:
1. Terlalu memanjakan anak
Hal ini tampak seperti metode yang halus, tapi diam-diam juga dapat merusak kepercayaan diri anak. Dengan bersikap terlalu menuruti keinginan anak, orang tua secara tidak langsung membenarkan kecemasan anak bahwa dirinya tidak bisa menghadapi hal yang ditakutinya.
Ia juga mengatakan bahwa sikap tersebut membikin anak kehilangan kesempatan untuk melewati dan mengelola kecemasannya.
Pola asuh yang terlalu menuruti anak sering disebut juga sebagai snowplow parenting. Gaya pengasuhan ini ditandai dengan perilaku orang tua yang selalu menyingkirkan beragam hambatan di depan anak, padahal sebenarnya anak bisa mengatasinya sendiri tanpa gabung tangan orang lain.
Kebiasaan ini juga dapat membikin anak menjadi kurang berdikari dan terbiasa berpikir bahwa orang lain akan selalu menyelesaikan semua masalahnya.
Mislanya, ketika anak tertinggal dalam mengerjakan tugas sekolah, orang tua justru menghubungi pendidik untuk meminta agar tugas tersebut diringankan.
3. Memberikan tuntutan yang terlalu tinggi
Ada banyak metode orang tua memberikan tuntutan berlebihan kepada anak. Beberapa di antaranya adalah mengharapkan harga akademik yang selalu sempurna, serta memaksanya berbuat hal-hal yang sebenarnya tidak ia minati.
Menurut Friedlander, pola pengasuhan seperti ini juga dapat menimbulkan akibat negatif.
4. Mengabaikan emosi anak
Memperlakukan seolah-olah emosi anak tidak krusial juga bisa menjadi salah satu penyebab utama rendahnya harga diri.
Oleh karena itu, krusial bagi orang tua untuk menciptakan lingkungan yang terlindungi agar anak dapat mengungkapkan emosinya dan merasa didengarkan.
Hindari terlalu sering mengkritik maupun mengabaikan emosi anak karena ini dapat membuatnya kehilangan kepercayaan diri, baik selama masa kanak-kanak maupun ketika dewasa nanti.
"Ketika anak merasa takut, sedih, maupun marah, itu merupakan respons otaknya terhadap situasi yang sedang dihadapi, berdasarkan aspek biologis dan pengalaman hidupnya. Jika diabaikan, anak tidak bisa memercayai pikiran dan perasaannya sendiri," pesan Friedlander.
5. Tidak menjadi contoh yang baik
Memberikan tuntutan yang terlalu tinggi dan selalu mengharapkan kesempurnaan merupakan hal yang membikin orang tua gagal memberikan contoh sehat dalam menyikapi kesalahan.
Penting bagi orang tua untuk membantu anak berkembang dengan memberikan teladan yang baik. Hal ini termasuk memberitahu metode menghadapi kegagalan, tantangan, dan kesalahan tanpa terus-menerus menyalahkan maupun mengkritik diri sendiri.
6. Terlalu fokus pada hasil, bukan proses
Hal ini juga merupakan salah satu bentuk perfeksionisme yang membikin orang tua terkadang kehilangan fokus terhadap hal yang sebenarnya lebih penting.
Dalam beberapa situasi, yang perlu diperhatikan bukanlah hasil akhirnya, melainkan sepertiapa anak berupaya mencapai hasil tersebut.
Dikutip dari Parents, membiarkan anak berbuat kesalahan akan mengajarkan mereka metode menjadi handal dalam hidup. Saat mereka berbuat kesalahan, jangan lupa statis beri semangat dan beri tahu bahwa itu bukanlah masalah besar.
7. Membandingkan anak
Jika memiliki lebih dari satu anak, terkadang sulit bagi orang tua untuk tidak membandingkan mereka secara langsung, terutama ketika sedang merasa kesal. Friedlander mengatakan bahwa sebisa mungkin orang tua perlu menghindari kebiasaan ini.
Kebiasaan membandingkan anak dapat berakibat negatif terhadap harga dirinya, meskipun efeknya mungkin tidak langsung terlihat.
"Komentar seperti 'kenapa Anda tidak bisa seperti kakakmu?' maupun 'dulu kakakmu bisa berbuat ini dengan mudah', akan diterima anak sebagai pesan bahwa 'kamu kurang dibandingkan kakakmu dan Bunda lebih menyayanginya daripada kamu'," ujar Friedlander.
Ia menyarankan orang tua untuk menerangkan kepada anak bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kapasitas yang berbeda-beda, dan hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar.
Itulah klarifikasi tentang kebiasaan-kebiasaan parenting yang bikin anak tidak percaya diri. Semoga berguna untuk pembentukan karakter Si Kecil ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)