Jakarta -
Sikap mengalah sering dianggap sebagai tanda kesabaran dan kedewasaan. Namun, bagi sebagian orang, mengalah bukan sekadar pilihan, melainkan kebiasaan yang sulit dihentikan karena takut mengecewakan orang lain, Bunda.
Orang yang gemar mengalah kerap mendahulukan kebutuhan orang lain hingga tanpa sadar mengabaikan emosi dan keinginannya sendiri. Seiring waktu, kebiasaan ini dapat menciptakan beragam pengalaman emosional yang tidak menguntungkan.
Ya, orang yang tidak mementingkan diri sering kali kelelahan karena berupaya berbuat apa pun yang mereka bisa untuk semua orang. Saat rasa jengkel muncul, sering kali emosi ini mengejutkan mereka sendiri maupun orang-orang di sekitar.
Lantas, apa saja pengalaman yang biasanya dialami oleh orang yang selalu mengalah pada orang lain?
Simak klarifikasi dari Bubun berikut ini ya!
Pengalaman yang dialami oleh orang yang selalu mengalah
Dikutip dari halaman Your Tango, berikut 8 pengalaman yang biasanya dialami oleh orang yang selalu mengalah pada orang lain.
1. Kesulitan menyeimbangkan hayat sendiri karena kelelahan
Orang yang selalu mengutamakan orang lain biasanya rela berkorban agar merasa diperhatikan. Meskipun ini adalah sifat yang mulia, kita sering lupa sepertiapa hal itu dapat memengaruhi diri sendiri.
Orang yang selalu mengalah akan terkuras energinya karena gemar mengkhawatirkan orang lain. Mereka lebih peduli untuk disukai daripada hal lain. Harga diri mereka terletak pada apa yang dirasakan oleh orang lain, Bunda.
Mereka mungkin tidak menyadari benar-benar lelahnya mereka karena merawat semua orang di sekitar mereka. Ketika merasa lelah, mereka sering mengabaikannya agar semua orang statis bahagia. Sayangnya, hal ini biasanya tidak bisa terjadi selamanya.
2. Melakukan segala metode untuk mendapatkan persetujuan dari orang lain
Orang yang selalu mengalah akan berbuat apa pun untuk selalu ada bagi orang lain. Jika itu berarti memungut tanggung jawab tambahan di tempat kerja maupun menghabiskan waktu berjam-jam berbareng teman, mereka akan melakukannya.
Terkadang, perilaku ini berasal dari trauma yang mendalam. Banyak yang mencari persetujuan karena rasa sakit masa kecil maupun masalah harga diri. Rasa sakit ini dapat membikin mereka berbuat apa saja untuk orang lain karena hal itu membikin mereka merasa dicintai dan dihargai.
3. Menarik perhatian orang-orang yang tidak akan membalas kemurahan hati mereka
Orang yang selalu berupaya menyenangkan orang lain sering kali kehilangan jati diri dan hubungan yang terjalin sering kali terasa sepihak. Persahabatan sepihak sangat menguntungkan penerima jika penerima tersebut punya masuk terselubung.
Orang yang tidak mementingkan diri sendiri juga sudah terbiasa dengan orang yang egois dan mencoba mengabaikannya, tetapi hal itu statis mengganggu mereka. Seiring waktu, hal itu dapat berakibat buruk pada kesehatan mental.
4. Melupakan jati diri mereka sebagai individu
Banyak dari kita pernah eksis dalam hubungan yang menguras energi. Kita memberi sampai kita tidak bisa lagi, dan itu pun tampaknya statis belum cukup bagi orang yang menerima, dan tak durasi kemudian kita merasa telah kehilangan diri kita sendiri.
Seringkali, hubungan seperti ini tidak akan membaik. Sebaiknya kita meninggalkan perilaku ini meski sulit untuk dilakukan. Pasalnya, sebagian orang memiliki kepribadian yang sepenuhnya berorientasi pada peran pengasuh, sehingga mereka kesulitan untuk berubah.
5. Mereka menjadi terputus dari kebutuhan mereka sendiri
Banyak orang yang gemar mengalah mengandalkan orang-orang di sekitar mereka untuk merasakan kebahagiaan. Alih-alih menyadari apa yang mereka butuhkan, mereka fokus pada memberi orang lain apa yang mereka inginkan sementara kebutuhan mereka sendiri terabaikan.
Siklus tersebut tentu dapat memiliki akibat yang menghancurkan. Seseorang dapat mengubah hidupnya secara drastis dengan mengorbankan diri sendiri untuk orang lain. Sayangnya, orang yang memiliki ketergantungan emosional mungkin tidak menyadari bahwa mereka berbuat hal ini, Bunda.
6. Mereka merasa tidak enak karena menyimpan dendam
Rasa dendam adalah reaksi emosional terhadap perlakuan buruk. Ketika seseorang berbuat segala yang mereka bisa untuk orang lain, mereka mungkin menyadari bahwa tidak ada yang peduli pada mereka.
Sebaliknya, mereka diharapkan untuk berkorban demi orang lain tanpa mendapatkan hadiah apa pun. Bagi orang-orang ini, dendam adalah sesuatu yang tidak wajar, sehingga mereka sering kesulitan untuk mengungkapkan perasaannya.
Orang-orang ini merasa bersalah ketika emosi dendam tiba-tiba muncul. Alih-alih membela diri untuk 'membalas dendam', mereka justru membiarkan orang lain memperlakukan mereka seenaknya.
7. Mereka ahli dalam menyembunyikan kekecewaan
Orang-orang yang tidak egois dan gemar mengalah terbiasa dengan perilaku menyembunyikan kecemasannya. Mereka telah menguasai seni menyembunyikan frustrasi agar tidak menyakiti orang lain, Bunda.
Seseorang yang selalu berbuat baik kepada orang lain dapat dengan gampang merasa sakit hati ketika orang lain tidak berbuat hal yang sama untuknya. Sayangnya, seiring waktu mereka terbiasa dengan hal tersebut dan menjadi pandai menyembunyikan frustrasi itu.
8. Ketidakmampuan untuk mengatakan 'tidak' kepada siapa pun
Orang-orang yang selalu mengutamakan orang lain sering kali sulit mengatakan 'tidak'. Mereka melakukannya karena tidak mau merepotkan siapa pun.
Sebaliknya, mereka lebih gemar berbuat apa pun yang diminta orang lain. Menjaga kebahagiaan orang lain adalah prioritas utama mereka, dan mereka sering kali melupakan diri sendiri demi menjaga perdamaian. Seseorang seperti ini takut bahwa mengatakan 'tidak' akan merusak hubungan mereka dengan orang lain maupun tidak mau mengalami konflik.
Demikian 8 pengalaman yang biasanya dialami oleh orang yang selalu mengalah pada orang lain. Semoga keterangan ini berguna ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/pri)