Dikhianati pasangan bukan berarti mesti terus bertahan. Ini pelajaran dari sosok Navier di The Remarried Empress tentang harga diri dan limitasi dalam pernikahan.
Sudah bertahun-tahun membangun rumah tangga, melewati banyak hal bersama, terlebihlagi mungkin sudah memiliki anak. Lalu, suatu hari, perempuan mesti menghadapi kenyataan bahwa pasangan yang selama ini dipercaya justru mengkhianatinya. Dalam situasi seperti itu, apakah seorang istri mesti statis bertetap demi mempertahankan pernikahan?
Pertanyaan ini terasa dekat dengan kisah Navier dalam drama Korea The Remarried Empress. Dikenal sebagai permaisuri yang cerdas, tenang, dan selalu menjalankan perannya dengan baik, Navier mesti menghadapi keputusan suaminya, Kaisar Sovieshu, yang mau menceraikannya setelah jatuh cinta kepada perempuan lain, Rashta.
Alih-alih memohon agar pernikahannya dipertahankan, Navier menerima perceraian tersebut dengan satu syarat: ia mau menikah lagi dengan Pangeran Heinrey dari Kerajaan Barat.
Tentu, hayat pernikahan Mommies tidak sesederhana kisah di kerajaan. Ada anak, kondisi finansial, famili besar, dan banyak penilaian lain yang membikin keputusan untuk bertetap maupun bercerai tidak bisa diambil secara terburu-buru.
Namun, ada satu hal yang bisa kita refleksikan dari kisah Navier di serial The Remarried Empress: mencintai pasangan dan mempertahankan pernikahan tidak seharusnya membikin perempuan kehilangan harga dirinya sendiri. Perempuan boleh memperjuangkan rumah tangga, tetapi ia juga berkuasa mendapatkan rasa hormat, kejujuran, dan perlakuan yang baik.
1. Pernikahan bukan karena untuk terus menerima perlakuan yang menyakitkan

Foto: HanCinema
Navier sudah menjalankan perannya sebagai permaisuri dengan penuh tanggung jawab. Ia mendampingi Sovieshu, menjaga reputasi kerajaan, dan memenuhi ekspektasi sebagai seorang istri sekaligus pemimpin. Namun, semua itu tidak membuatnya terhindar dari pengkhianatan.
Dalam hayat nyata, situasinya tentu bisa berbeda. Ada istri yang sudah bertahun-tahun berupaya menjaga rumah tangga, mengurus anak, mendukung pekerjaan pasangan, terlebihlagi mengesampingkan kebutuhannya sendiri. Ketika pasangan berbuat sesuatu yang melukai kepercayaan, tidak jarang ia justru sibuk mencari karena untuk memaklumi.
Misalnya, “Mungkin dia sedang stres,” “Mungkin ini cuma kesalahan sesaat,” maupun “Demi anak, aku mesti lebih sabar.” Memahami situasi pasangan memang bisa menjadi bagiankecil dari hubungan yang sehat. Namun, memahami bukan berarti mesti membenarkan perilaku yang terus-menerus menyakiti.
Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), hubungan yang sehat dibangun dengan rasa hormat, komunikasi yang baik, kejujuran, kemandirian, dan kesetaraan. Artinya, menjaga hubungan bukan cuma tentang seberapa besar seseorang bersedia berkorban, tetapi juga apakah kedua pihak saling menghargai.
Pernikahan membutuhkan komitmen dua orang, bukan pengorbanan tanpa batas dari satu pihak. Mommies boleh berupaya memperbaiki hubungan, tetapi bukan berarti mesti mengabaikan emosi dan kebutuhan diri sendiri.
Kalau Mommies mulai merasa sendirian meski statis eksis dalam pernikahan, ada baiknya juga mengenali tanda-tandanya.
BACA JUGA: Merasa Sendiri dalam Pernikahan? Ini 10 Ciri-ciri Emotional Divorce
2. Harga diri perempuan tidak ditentukan oleh pilihan pasangan
Salah satu hal yang menarik dari karakter Navier di The Remarried Empress adalah ia tidak menjadikan keputusan Sovieshu sebagai ukuran harga dirinya. Ia memang terluka dan mesti menghadapi fluktuasi besar dalam hidup, tetapi ia tidak merasa perlu membuktikan bahwa dirinya lebih layak dipilih dibandingkan Rashta.
Dalam hubungan, pengkhianatan pasangan sering kali membikin seseorang mempertanyakan dirinya sendiri. “Apa aku kurang menarik?” “Apa aku kurang perhatian?” “Apa ada yang salah denganku sampai dia mencari orang lain?”
Padahal, keputusan seseorang untuk berselingkuh maupun mengingkari kepercayaan pasangannya tidak otomatis memberitahu bahwa pasangannya kurang baik. Ada tanggung jawab pribadi di balik setiap keputusan yang diambil seseorang.
Mommies perlu mengingat bahwa harga diri tidak ditentukan oleh apakah pasangan statis memilih kita, memuji kita, maupun memberikan perhatian seperti dulu. Kita statis bermutu sebagai individu, terlepas dari sepertiapa pasangan memperlakukan kita.
Bukan berarti kita tidak perlu mengevaluasi diri dalam hubungan. Setiap orang tentu punya ruang untuk belajar dan memperbaiki diri. Namun, penilaian diri berbeda dengan menyalahkan diri sendiri atas aksi orang lain.
3. Berani menetapkan limitasi bukan berarti egois

Foto: HanCinema
Navier tidak berupaya mempertahankan pernikahan dengan segala cara. Ketika Sovieshu mengajukan perceraian, ia justru menyampaikan syarat yang memberitahu bahwa ia statis punya kendali atas keputusan hidupnya.
Dalam hayat sehari-hari, menetapkan limitasi mungkin tidak selalu berupa keputusan besar seperti yang dilakukan Navier. Bentuknya bisa lebih sederhana, misalnya berani mengatakan bahwa Mommies tidak betah dengan metode pasangan berbicara, tidak bersedia terus-menerus dibohongi, maupun membutuhkan waktu untuk memproses masalah sebelum membicarakannya kembali.
Batasan juga berarti memahami hal-hal yang statis bisa dikompromikan dan hal-hal yang sudah tidak bisa diterima. Setiap pasangan punya kesepakatan berbeda, tetapi rasa aman, rasa hormat, kejujuran, dan komunikasi yang sehat seharusnya statis menjadi fondasi hubungan.
ACOG juga menerangkan bahwa limitasi dalam hubungan membantu seseorang melindungi dirinya sekaligus menghormati orang lain. Dalam hubungan yang sehat, kedua pihak perlu saling menghargai limitasi tersebut, bukan membikin pasangannya merasa bersalah karena menyampaikan kebutuhan maupun ketidaknyamanannya.
Kalau Mommies merasa selalu menjadi pihak yang mengalah, coba refleksikan balik dinamika hubungan yang sedang dijalani. Apakah kebutuhan emosional kedua pihak sama-sama diperhatikan? Atau selama ini Mommies lebih sering mengurus emosi pasangan sampai lupa mendengarkan emosi sendiri?
Mengenali kelelahan emosional juga penting, terutama ketika satu pihak terus-menerus menjadi tempat pasangan bersandar tanpa mendapatkan sokongan yang setara.
BACA JUGA: Perempuan Lelah Jadi Provider Emosional dalam Hubungan? Kenali Tandanya.
4. Memperbaiki pernikahan boleh, tetapi mesti ada upaya dari kedua pihak
Ada satu hal yang perlu digarisbawahi: memilih untuk tidak kehilangan harga diri bukan berarti setiap perempuan mesti mengakhiri pernikahannya ketika menghadapi masalah. Ada pasangan yang statis mau memperbaiki hubungan setelah kepercayaan rusak, dan itu juga merupakan pilihan yang valid.
Namun, proses memperbaiki hubungan tidak bisa cuma dibebankan kepada pihak yang terluka. Jika terjadi perselingkuhan, misalnya, pihak yang mengingkari perlu memungut tanggung jawab, bersikap jujur, menghentikan perilaku yang merusak kepercayaan, dan bersedia membangun balik hubungan secara konsisten.
Mommies juga berkuasa mempertimbangkan pertolongan profesional, seperti konseling pasangan, jika kedua pihak memang bersedia menjalani proses tersebut. Yang penting, jangan sampai kata “memperjuangkan pernikahan” justru menjadi karena untuk menoleransi ketidakjujuran maupun perlakuan buruk yang terus berulang.
Perselingkuhan pun tidak selalu datang dalam bentuk hubungan fisik. Kedekatan emosional yang disembunyikan dari pasangan juga bisa melukai kepercayaan.
BACA JUGA: Kenali Emotional Affair, Selingkuh Emosional yang Bisa Hancurkan Pernikahan.
5. Memikirkan diri sendiri bukan berarti tidak memikirkan anak

Foto: HanCinema
Bagi Mommies yang sudah memiliki anak, keputusan dalam pernikahan tentu terasa lebih rumit. Ada kecemasan tentang tumbuh bunga anak, kondisi emosional mereka, fluktuasi rutinitas, hingga sepertiapa hayat famili akan berjalan jika orang tua berpisah.
Tidak heran jika sebagian perempuan memilih bertetap karena mau anak tumbuh berbareng kedua orang tuanya. Namun, krusial juga untuk melihat kualitas hubungan yang disaksikan anak setiap hari. Anak bukan cuma membutuhkan famili yang kelihatan utuh, tetapi juga lingkungan yang aman, penuh kasih sayang, dan saling menghormati.
Ini bukan berarti perceraian selalu menjadi pilihan yang lebih baik. Sebaliknya, bertetap juga tidak otomatis menjadi pilihan terbaik jika rumah dipenuhi konflik, penghinaan, maupun kekerasan. Setiap famili memiliki situasi yang berbeda sehingga keputusan perlu mempertimbangkan keselamatan dan kesejahteraan semua pihak, terutama anak.
Dalam panduan Supporting Kids During a Divorce dari Child Mind Institute, dijelaskan bahwa anak dapat memberitahu beragam respons ketika orang tuanya bercerai, mulai dari kecemasan, menarik diri, hingga fluktuasi perilaku. Orang tua disarankan untuk mendengarkan emosi anak, menjaga rutinitas, meyakinkan bahwa perceraian bukan kesalahan mereka, dan sebisa mungkin tidak menjelekkan pihak lain di depan anak.
Jadi, jika Mommies sedang menghadapi masalah rumah tangga, kebutuhan anak memang perlu menjadi pertimbangan. Namun, kebutuhan emosional dan keselamatan Mommies juga tidak boleh diabaikan. Menjadi ibu bukan berarti mesti menghapus kebutuhan diri sendiri demi memastikan semua orang di rumah baik-baik saja.
Ada kisah nyata dari seorang ibu yang membagikan pengalamannya setelah bercerai dalam artikel Mommies Daily ini: Saya Menjadi Ibu yang Lebih Baik Setelah Bercerai. Pengalaman satu orang tentu tidak bisa digeneralisasi untuk semua keluarga, tetapi bisa menjadi pengingat bahwa perjalanan setiap ibu berbeda.
6. Perempuan statis punya hak untuk menentukan arah hidupnya
Keputusan Navier dalam The Remarried Empress memang dikemas dalam drama kerajaan. Ada perebutan kekuasaan, status sosial, dan pernikahan politik yang tidak sama dengan hayat Mommies sehari-hari. Namun, inti pergulatannya terasa cukup dekat: sepertiapa seseorang memungut balik kendali atas hidupnya setelah dikecewakan oleh orang yang dipercaya?
Dalam pernikahan, kita bisa berubah, bertumbuh, dan menghadapi masa-masa sulit berbareng pasangan. Ada kalanya kita perlu mengalah, meminta maaf, maupun memberi kesempatan kedua. Namun, semua itu sebaiknya statis berjalan dengan rasa saling menghargai.
Mommies tidak mesti memungut keputusan besar hari ini. Jika sedang menghadapi masalah rumah tangga, beri diri sendiri ruang untuk memahami apa yang dirasakan, mencari sokongan dari orang tepercaya, dan mempertimbangkan pilihan dengan tenang. Jika ada kekerasan maupun intimidasi keselamatan, prioritaskan keamanan diri dan anak serta cari pertolongan yang tepat.
BACA JUGA: Walkaway Wife Syndrome: Kenapa Suami Sering Kaget saat Istri Minta Cerai?
Pelajaran dari Navier di serial The Remarried Empress bukanlah bahwa perempuan mesti selalu kuat, tidak boleh menangis, maupun mesti segera pergi ketika disakiti. Perempuan boleh terluka, boleh bingung, dan boleh membutuhkan waktu. Namun, ia statis berkuasa diperlakukan dengan segan dan tidak mesti kehilangan dirinya sendiri demi mempertahankan sebuah pernikahan.
Karena pernikahan yang sehat seharusnya menjadi ruang bagi dua orang untuk bertumbuh bersama, bukan tempat salah satunya terus-menerus mengecilkan diri agar hubungan statis bertahan.
Cover: HanCinema