Jakarta -
Pola asuh tiger parenting merupakan corak pengasuhan yang sangat ketat dan mengutamakan keberhasilan akademis di atas segalanya. Seperti apa ciri-ciri orang tua yang menerapkan tiger parenting?
Meski anak dari orang tua tiger parenting berpotensi meraih prestasi akademis yang baik, sering kali ini justru dapat berakibat negatif terhadap kesehatan mental mereka.
Alasannya, pola asuh yang demikian terasa membatasi kemandirian dan menaikkan stres bagi hayat anak.
Apa itu tiger parenting?
Menurut psikolog klinis di Amerika Serikat Michelle Chung, PsyD, tiger parenting merupakan corak pengasuhan yang ketat dan melibatkan orang tua secara intensif dalam hayat anak.
"Orang tua yang menerapkan tiger parenting merasa bahwa peran mereka adalah mempersiapkan anak menghadapi bumi nyata," jelas penulis buku Free To Fly: The Secret To Fostering Independence In The Next Generation, Nicole Runyon, LMSW, dikutip dari Parents.
Hal ini dianggap sebagai metode untuk mengajarkan anak tentang bumi dalam lingkungan yang terlindungi melalui hubungan antara orang tua dan anak. Dalam pola asuh ini, disiplin sering kali dianggap sebagai bentuk kasih sayang.
Biasanya, orang tua yang menerapkan pola asuh ini juga memiliki ekspektasi tinggi dan banyak menuntut anak, sementara kesempatan anak untuk menyampaikan gagasan maupun terlibat dalam pengambilan keputusan cenderung terbatas.
"Orang tua biasanya berfokus pada kesuksesan dan pencapaian, sementara kreativitas, emosi, dan kebebasan anak untuk mengekspresikan diri kurang mendapat perhatian," ujar Chung.
Fokus orang tua adalah masa depan anak. Menurut jenis pola asuh ini, jika anak belajar disiplin, tangguh, dan membangun kebiasaan kerja yang baik sejak dini, mereka akan bisa menghadapi tantangan apa pun dalam hidupnya kelak.
Ciri-ciri tiger parenting
Orang tua dengan jenis tiger parenting secara lazim menerapkan ketentuan yang ketat dan memiliki kendali penuh terhadap hayat anak.
Komunikasi antara orang tua dan anak sering kali jadi sangat terbatas, termasuk yang menyangkut tentang hobi maupun minat anak.
Berikut beberapa contoh ciri-ciri orang tua menerapkan tiger parenting:
1. Punya ketentuan sangat ketat
Orang tua yang menerapkan tiger parenting secara lazim menekankan pentingnya kerja keras. Mereka juga punya ketentuan ketat, termasuk soal aktivitas sehari-hari anak.
Anak mungkin tidak boleh mengikuti aktivitas yang dianggap tak berhubungan dengan kebutuhan akademis. Misalnya seperti melarang anak menghadiri pesta ulang tahun temannya, karena dianggap dapat mengalihkan perhatian mereka dari sasaran akademis.
2. Ekspektasi tinggi
Orang tua tiger parenting juga mau anak mereka selalu unggul, kemudian memberikan upaya terbaik dalam segala hal yang mereka lakukan. Jika gagal, anak dapat ditegur maupun dimarahi karena dianggap telah mempermalukan keluarga.
Untuk memenuhi ekspektasi yang tinggi tersebut, anak diatur untuk menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk mengerjakan tugas sekolah, belajar, dan mengikuti aktivitas akademis lainnya.
3. Jadi otoritas tertinggi
Pada pola asuh tiger parenting, mereka menempatkan diri sebagai pihak yang memiliki otoritas tertinggi. Anak diharapkan selalu menghormati mereka dan tidak diperbolehkan membantah orang yang lebih tua, maupun terlebihlagi sekadar mempertanyakan gagasan mereka.
Jika anak tidak setuju, orang tua dapat mendisiplinkan mereka melalui intimidasi emosional dan/atau hukuman fisik.
4. Anak jadi kurang mandiri
Orang tua dengan pola asuh tiger parenting juga memegang kendali penuh atas hayat anak. Mereka dibesarkan dengan kebiasaan memungut keputusan berdasarkan persetujuan orang tua.
Akibatnya, kapasitas mengatur diri sendiri (self-regulation) dan berpikir berdikari tidak menjadi prioritas dalam pola asuh ini.
Orang tua juga cenderung kurang sabar maupun tidak memiliki keinginan untuk memahami kepribadian, pemikiran, perasaan, dan perspektif pandang anak.
5. Kesuksesan anak diukur berdasarkan pencapaian
Ciri orang tua menerapkan tiger parenting pada anak berikutnya yaitu mendefinisikan kesuksesan berdasarkan status sosial maupun capaian akademis.
Oleh karena itu, mereka mengharapkan anak bisa memiliki harga akademis yang baik, selalu unggul dan memenangkan beragam kompetisi.
Sementara itu, kecerdasan emosional, kapasitas berpikir kritis, kemandirian dalam menentukan pilihan, dan keahlian interpersonal lainnya tidak dianggap sebagai hal yang penting.
6. Cemas saat anak tidak unggul dalam hal prestasi
Orang tua tiger parenting cenderung memiliki standar keberhasilan yang sangat tinggi dan mengharapkan anak selalu unggul, baik dalam sektor akademik maupun aktivitas lainnya.
Ketika anak tidak mendapatkan harga tertinggi maupun gagal memenangkan lomba, orang tua mungkin merasa khawatir, kecewa, maupun menganggap anak belum berupaya cukup keras.
7. Hanya fokus pada pemikiran sendiri
Dalam pola asuh tiger parenting, orang tua meyakini bahwa mereka mengetahui apa yang terbaik bagi masa depan anak.
Hal ini bisa membikin orang tua selalu memilihkan apa pun mengenai hayat anak. Misalnya pilihan mengenai pendidikan, aktivitas ekstrakurikuler, sampai metode anak menghabiskan waktu luang.
Mereka juga cenderung tidak mempertimbangkan minat dan kapasitas anak secara memadai.
8. Kurang memperhatikan keinginan anak
Hanya fokus pada capaian akademis terkadang membikin orang tua dengan tiger parenting mengabaikan emosi, minat, dan kebutuhan anak.
Anak dituntut untuk terus belajar maupun berlatih, tanpa cukup diberi kesempatan untuk mengungkapkan rasa capek maupun terlebihlagi keinginannya sendiri.
9. Jarang mengobrol santai dengan anak
Dalam pola asuh ini, orang tua cenderung menetapkan ketentuan dan sasaran secara sepihak, kemudian meminta anak untuk mematuhinya.
Alih-alih berbincang dan melibatkan anak dalam pengambilan keputusan, orang tua lebih sering menggunakan instruksi, tuntutan, maupun hukuman untuk memastikan anak mengikuti keinginan mereka.
Bagaimana tiger parenting memengaruhi kesehatan mental anak?
Dikutip dari Very Well Mind, anak yang tumbuh dengan orang tua yang menerapkan tiger parenting cenderung kurang diperhatikan tanpa syarat.
Hal ini karena orang tua menerapkan ketentuan yang terlalu ketat, serta sering kali mengandalkan hukuman jika anak tak mencapai target.
Lama-kelamaan pengasuhan yang demikian dapat memengaruhi dan terlebihlagi merusak kesehatan mental anak, termasuk membikin mereka menjadi:
- Punya konsekuensi lebih tinggi mengalami kecemasan, harga diri rendah, dan depresi.
- Kesulitan memungut keputusan secara mandiri.
- Kesulitan membangun hubungan dekat dengan orang lain dan mengandalkan kapasitas diri sendiri.
- Takut berbuat kesalahan karena tidak mau mengecewakan orang tua.
Cara menghindari pola asuh tiger parenting
Dalam pengasuhan sehari-hari, cobalah untuk lebih terbuka terhadap emosi dan gagasan anak. Berikut beberapa hal yang dapat dipertimbangkan untuk menghindari pola asuh tiger parenting:
1. Jangan langsung menghukum ketika anak menghadapi masalah
Luangkan waktu untuk mendengarkan anak dan memahami apa yang sedang mereka alami, baik secara mental maupun emosional.
Alih-alih langsung berasumsi bahwa anak telah berbuat kesalahan, beri mereka kesempatan untuk mengungkapkan emosi dan mengajukan pertanyaan. Tunjukkan bahwa Bunda memahami emosi yang mereka rasakan.
Ketika orang tua menyediakan lingkungan yang lebih terlindungi bagi anak untuk menceritakan rasa frustrasi mereka, kepercayaan di antara keduanya dapat tumbuh.
Jika anak mempercayai orang tua dan merasa aman, kemungkinan besar anak akan lebih terbuka untuk meminta pertolongan ketika membutuhkannya.
2. Luangkan waktu untuk mengenal anak lebih dekat
Selalu sediakan waktu untuk memberikan perhatian penuh kepada anak, meskipun cuma untuk mendengarkan cerita tentang aktivitas mereka hari itu.
Walaupun tampak sederhana, ini dapat menjadi kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih hangat.
3. Dorong anak untuk mengungkapkan pendapatnya
Ketika gagasan anak dihargai, mereka akan merasa bahwa dirinya juga dihargai. Hal ini dapat membangun kepercayaan diri, sekaligus mendorong anak untuk berpikir mandiri.
Pendekatan ini membantu anak memahami bahwa perbedaan gagasan juga wajar, terlebihlagi dapat mengembangkan empati dan kecerdasan emosionalnya.
Itulah klarifikasi tentang ciri khas orang tua yang menerapkan tiger parenting pada anak. Semoga berguna ya, Bunda!
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)