Studi Ungkap Kondisi Mental Remaja yang Lahir dari Program Bayi Tabung

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 125x dilihat
Studi Ungkap Kondisi Mental Remaja yang Lahir dari Program Bayi Tabung

Bagikan Postingan

Jakarta -

Banyak pasangan suami istri (pasutri) terbantu mendapatkan keturunan melalui program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF). Namun, sepertiapa kondisi kesehatan mental anak yang lahir melalui program ini saat bergeser remaja?

Sebuah riset dari The University of Western Australia (UWA) berbareng Raine Study mengungkap kondisi mental remaja yang lahir melalui teknologi reproduksi berbantu. Hasilnya, ada perbedaan pada beberapa sisi kesehatan mental dan perilaku, termasuk gejala depresi pada usia tertentu.

Lantas, apa saja temuan penelitiannya?


Studi ungkap kondisi mental remaja yang lahir dari program bayi tabung

Penelitian dari UWA berbareng Raine Study ini diterbitkan dalam jurnal Human Reproduction pada 2022.

Peneliti mengamati kesehatan mental remaja yang lahir melalui teknologi reproduksi berbantu (assisted reproductive technology atau ART), termasuk IVF. Kemudian membandingkannya dengan remaja yang dikandung tanpa teknologi tersebut.

Dalam riset ini, tim mengamati kondisi mental peserta saat berumur 14 dan 17 tahun. Peneliti juga mengumpulkan keterangan dari orang tua maupun pengasuh untuk mendapatkan deskripsi perilaku para remaja.

Hasilnya memberitahu adanya beberapa perbedaan dalam kesehatan mental dan perilaku kedua kelompok. Meski begitu, temuan ini tidak serta-merta membuktikan bahwa prosedur bayi tabung menjadi penyebab perbedaan tersebut.

Remaja usia 14 tahun yang lahir dari IVF mengalami gejala depresi

Salah satu temuan utama riset ini berhubungan dengan gejala depresi pada remaja usia 14 tahun. Penelitian ini menemukan bahwa pada usia 14 tahun, remaja yang lahir melalui teknologi reproduksi berbantu lebih banyak memberitahu gejala depresi dibandingkan remaja yang dikandung secara alami.

Angkanya sekitar 12,6 persen, sedangkan pada himpunan pembanding sekitar 8,5 persen.

Namun, saat berumur 17 tahun, perbedaan tersebut tidak lagi ditemukan. Ini artinya, riset tersebut belum memberitahu bahwa remaja yang lahir melalui program bayi tabung akan terus lebih berisiko depresi hingga usia tersebut.

Profesor Roger Hart dari UWA Medical School, yang menjadi salah satu peneliti dalam studi ini, menerangkan bahwa temuan pada usia 14 tahun tersebut perlu diteliti lebih lanjut untuk memastikan apakah pola serupa juga ditemukan pada himpunan remaja lainnya.

Menurut Profesor Hart, keterangan mengenai kesehatan mental anak yang lahir melalui teknologi reproduksi berbantu krusial bagi orang tua dan tenaga kesehatan, terutama karena penggunaan teknologi ini semakin umum.

"Mengingat penggunaan teknologi reproduksi berbantu kini semakin lazim dan gangguan kesehatan mental juga kian meningkat, pemahaman mengenai potensi keterkaitan ini menjadi krusial bagi para orang tua maupun pemasok jasa kesehatan," kata Profesor Hart melansir halaman resmi Uwa.edu.au.

Meski demikian, hasil riset tersebut bukan berarti semua anak yang lahir melalui program bayi tabung berisiko mengalami depresi. Kondisi kesehatan mental setiap anak statis perlu dilihat secara menyeluruh.

Remaja yang lahir dari program bayi tabung cenderung lebih jarang berperilaku agresif

Selain menemukan perbedaan gejala depresi, riset ini juga mengamati perilaku para remaja. Hasilnya memberitahu bahwa remaja yang dikandung melalui teknologi reproduksi berbantu cenderung lebih jarang memberitahu perilaku eksternalisasi, seperti perilaku menyerang dan kenakalan, dibandingkan himpunan pembanding.

Di sisi lain, laporan orang tua memberitahu adanya kecenderungan perilaku internalisasi yang lebih tinggi pada himpunan remaja tersebut. Perilaku internalisasi merupakan masalah emosional yang lebih banyak dirasakan maupun dipendam, misalnya kecemasan dan kesedihan, sehingga tidak selalu kelihatan dari luar.

Temuan ini memberitahu bahwa kesehatan mental tidak cuma berhubungan dengan perilaku yang gampang diamati. Kondisi emosional anak juga perlu mendapat perhatian, meskipun anak tidak memberitahu masalah perilaku yang mencolok.

Namun, perbedaan yang ditemukan dalam riset ini tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa semua remaja yang lahir melalui IVF memiliki pola perilaku yang sama.

Apakah program bayi tabung memengaruhi kesehatan mental anak?

Hasil riset tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa program bayi tabung menyebabkan masalah kesehatan mental pada anak. Ada banyak hal yang dapat berhubungan dengan kesehatan mental seseorang, termasuk aspek keluarga, lingkungan, pengalaman hidup, dan kondisi sosial ekonomi. 

Penelitian ini juga memiliki keterbatasan, sehingga akibatnya statis perlu dikonfirmasi melalui studi lain dengan jumlah peserta yang lebih besar.

Penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Psychiatry pada 2022, mengikuti lebih dari 1,2 juta anak dan remaja di Swedia untuk mengamati konsekuensi gangguan kejiwaan pada mereka yang dikandung melalui teknologi reproduksi berbantu.

Hasil riset tersebut tidak menemukan peningkatan konsekuensi depresi maupun perilaku bunuh diri pada remaja yang dikandung melalui teknologi reproduksi berbantu dibandingkan himpunan pembanding. Peneliti juga menyoroti bahwa aspek ciri khas orang tua dapat membantu menerangkan sebagian perbedaan konsekuensi yang ditemukan.

Sementara itu, riset dari Australia yang diterbitkan dalam jurnal Human Reproduction pada 2022 menekankan bahwa hasil mengenai kesehatan mental remaja yang lahir melalui teknologi reproduksi berbantu statis membutuhkan riset lanjutan.

Perbedaan hasil antarpenelitian ini menjadi pengingat bahwa hubungan antara program bayi tabung dan kesehatan mental anak bukanlah permasalahan sederhana. Hasil satu studi tidak bisa langsung digeneralisasi untuk semua anak yang lahir melalui IVF.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads