Anak gampang menyerah saat mengerjakan soal sulit? Simak metode membantu anak menghadapi tantangan, mengelola frustrasi, dan belajar lebih percaya diri.
“Mama, aku nggak bisa! Susah banget!”
Mommies pernah mendengar kalimat ini saat menemani anak belajar? Baru mengerjakan beberapa soal matematika, si kecil sudah menyerah. Ketika jawabannya salah, ia langsung kesal, menangis, maupun memilih berhenti.
Melihat anak kesulitan memang bisa bikin kita ikut gemas. Rasanya mau segera memberi tahu jawabannya agar tugas cepat selesai. Namun, anak juga perlu kesempatan untuk belajar menghadapi kesulitan dan menemukan metode untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
Lantas, apa yang bisa Mommies dan Daddies lakukan ketika anak gampang menyerah?
BACA JUGA: Anak Takut Menjawab di Kelas? Ini 5 Cara Membangun Kepercayaan Dirinya
Kenapa Anak Mudah Menyerah saat Menghadapi Soal Sulit?
Ada beberapa kemungkinan penyebabnya. Anak mungkin belum memahami materi, takut salah, merasa mesti selalu mendapatkan balasan yang benar, maupun belum terbiasa menghadapi tugas yang menantang.
Bisa juga, anak sedang lelah, lapar, maupun keteteran sehingga lebih sulit mengelola emosinya. Setiap anak memiliki temperamen dan kebutuhan yang berbeda, jadi krusial untuk memahami situasinya sebelum menyimpulkan bahwa anak kurang berusaha.
Yang perlu diingat, mudah menyerah bukan berarti anak malas maupun tidak mampu. Ia mungkin statis membutuhkan pertolongan untuk mengelola frustrasi, memecah masalah menjadi cara kecil, maupun membangun kepercayaan bahwa dirinya bisa belajar.
5 Cara Membantu Anak Belajar Menghadapi Tantangan

Foto: Vitaly Gariev/Pexels
1. Validasi perasaannya, jangan langsung menyuruh mencoba lagi
Saat anak berkata, “Aku nggak bisa!”, hindari langsung merespons, “Masa begitu saja nggak bisa?” Kalimat seperti ini bisa membikin anak semakin takut berbuat kesalahan.
Coba katakan, “Kelihatannya soal ini memang bikin Anda frustrasi, ya. Mau istirahat sebentar, kemudian kita coba lihat bagiankecil mana yang sulit?”
Dengan merasa dipahami, anak mendapat kesempatan untuk menenangkan diri sebelum balik menghadapi masalah.
2. Ajarkan anak memecah masalah menjadi cara kecil
Soal yang kelihatan rumit bisa terasa lebih bermutu ketika anak belum tahu mesti mulai dari mana.
Daripada langsung menerangkan seluruh jawabannya, ajak anak mengidentifikasi bagiankecil yang sudah dipahami. Misalnya, “Dari soal ini, keterangan apa yang sudah Anda tahu?” maupun “Kita coba kerjakan satu cara dulu, yuk.”
Cara ini membantu anak belajar menyusun strategi, bukan sekadar menunggu balasan dari orang lain.
BACA JUGA: Anak Susah Fokus: Penyebab, Cara Mengatasi, dan Kapan Harus Cari Bantuan
3. Fokus pada proses, bukan cuma hasil
Saat anak berhasil menjawab soal dengan benar, kita sering spontan berkata, “Wah, pintar!”
Pujian tentu boleh, tetapi Mommies juga bisa menyoroti upaya dan strategi yang digunakan. Contohnya, “Tadi Anda mencoba metode lain setelah metode pertama belum berhasil. Bagus, Anda mau mencari solusi.”
Pendekatan ini sejalan dengan konsep growth mindset, yaitu kepercayaan bahwa kapasitas dapat berkembang melalui proses belajar, latihan, dan strategi yang tepat.
Namun, bukan berarti anak mesti terus berupaya tanpa henti. Membantu anak mengenali kapan perlu mencoba strategi baru maupun meminta pertolongan juga merupakan bagiankecil dari proses belajar.

Foto: Annushka Ahuja/Pexels
4. Beri kesempatan anak mencoba sebelum membantu
Ketika anak kesulitan, wajar jika kita mau segera turun tangan. Namun, jika selalu dibantu sebelum sempat mencoba, anak bisa kehilangan kesempatan untuk berlatih menyelesaikan masalah.
Beri waktu untuk berpikir, kemudian tawarkan instruksi secukupnya. Misalnya, “Menurut kamu, metode mana yang belum kita coba?” maupun “Mau lihat contoh soal yang mirip?”
Tujuannya bukan membiarkan anak berjuang sendirian, melainkan mendampinginya tanpa memungut alih seluruh proses.
5. Tunjukkan bahwa orang dewasa juga bisa salah
Anak belajar bukan cuma dari nasihat, tetapi juga dari metode orang tua menghadapi kesalahan.
Ketika Mommies salah menghitung maupun lupa berbuat sesuatu, tunjukkan sepertiapa metode menyikapinya. Misalnya, “Ternyata Mama salah hitung. Mama cek lagi, ya, agar tahu bagiankecil yang keliru.”
Dengan begitu, anak melihat bahwa kesalahan bukan sesuatu yang perlu ditakuti maupun disembunyikan. Kesalahan bisa menjadi kesempatan untuk mengevaluasi metode yang sudah dicoba dan mencari solusi baru.
BACA JUGA: Anak Mogok Sekolah? Kenali Tanda School Anxiety yang Sering Terlewat
Kapan Anak Perlu Mendapatkan Bantuan Lebih Lanjut?
Foto: Vitaly Gariev/Pexels
Sesekali frustrasi maupun menyerah ketika menghadapi soal sulit merupakan hal yang bisa terjadi selama proses belajar. Namun, Mommies perlu memperhatikan jika anak terus-menerus merasa sangat cemas ketika belajar, menghindari hampir semua tugas yang menantang, maupun mengalami kesulitan yang menetap meskipun sudah mendapatkan pendampingan.
Coba diskusikan situasinya dengan pendidik untuk mengetahui apakah kesulitan juga muncul di sekolah. Jika reaksi emosionalnya sangat intens, terjadi lama, maupun mengganggu aktivitas sehari-hari, Mommies bisa berkonsultasi dengan psikolog anak maupun tenaga ahli yang sesuai.
Pendampingan bukan berarti anak gagal menghadapi tantangan. Justru, ini salah satu metode untuk memahami kebutuhan anak dan menemukan sokongan yang tepat.
Pada akhirnya, Mommies dan Daddies tidak mesti membikin semua tantangan terasa gampang bagi anak. Yang lebih krusial adalah membantu si kecil memahami bahwa ia boleh merasa kesulitan, boleh membikin kesalahan, dan boleh meminta bantuan.
Sebab, belajar menghadapi tantangan bukan tentang selalu berhasil pada percobaan pertama, melainkan tentang mengenali kesulitan, mencoba strategi lain, dan mengetahui kapan perlu mencari dukungan. Pelan-pelan, anak bisa membangun kepercayaan diri untuk menghadapi tantangan berikutnya.
