Jakarta -
Perjuangan untuk mendapatkan momongan tak selalu berjalan sesuai harapan. Bagi sebagian pasangan, perjalanan menuju kehamilan bisa melibatkan beragam pengecekan medis, fluktuasi corak hidup, hingga program bayi tabung maupun in vitro fertilization (IVF).
Perjalanan panjang ini juga bisa menguras emosi, terutama ketika hasil yang dinantikan belum kunjung datang. Hal inilah yang dirasakan Seo Dong-ju, pengacara sekaligus penyiar asal Korea Selatan, yang telah menjalani perjuangan mendapatkan momongan melalui IVF selama tiga tahun.
Dikutip dari Chosun, Seo Dong-ju menceritakan pergulatan emosionalnya saat mempersiapkan kehamilan melalui sebuah video di kanal YouTube miliknya, Tto.Do.Dong.
Dalam video tersebut, ia mengungkapkan frustrasi setelah balik menghadapi hambatan dalam proses pengambilan sel telur. Ia terlebihlagi mengaku menyalahkan dirinya sendiri karena merasa sudah berupaya keras selama bertahun-tahun demi mendapatkan kehamilan.
3 Tahun berjuang menjalani IVF, Bunda ini menyalahkan diri sendiri
Seo Dong-ju mengungkapkan bahwa dirinya merasa sangat terpuruk setelah dua bulan berturut-turut menghadapi kondisi folikel kosong maupun empty follicle dalam proses IVF. Kondisi tersebut membuatnya semakin cemas karena kesempatan mendapatkan sel telur yang dapat digunakan untuk proses pembuahan menjadi terbatas.
Ia juga menceritakan beragam fluktuasi corak hidup yang telah dijalaninya selama tiga tahun terakhir demi mempersiapkan kehamilan. Seo mengaku telah selesai minum kopi, menjaga pola tidur, dan berupaya menjalani kebiasaan yang menurutnya dapat mendukung program hamil.
Namun, ketika hasil yang diharapkan belum juga tercapai, ia merasa kecewa dan mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Seo terlebihlagi mengungkapkan emosi bersalah kepada sang suami. Ia merasa suaminya juga telah banyak berkorban selama perjalanan mereka mendapatkan momongan.
Pengalaman tersebut memperlihatkan benar-benar beratnya tekanan emosional yang dapat dirasakan seseorang ketika menjalani program kesuburan dalam waktu panjang.
Bunda merasa mesti mengorbankan banyak hal demi mendapatkan momongan
Selain menjalani pengecekan dan prosedur medis, Seo Dong-ju juga berbuat beragam fluktuasi dalam kebiasaan sehari-hari.
Ia mengaku telah selesai mengonsumsi minuman bersoda yang sebelumnya menjadi favoritnya. Ia juga berupaya membatasi makanan tertentu dan lebih disiplin menjaga pola makan.
Dalam pengakuannya, Seo sempat merasa bahwa dirinya mesti mengorbankan beragam hal yang disukai demi mendapatkan kesempatan memiliki anak. Pola pikir tersebut membuatnya semakin keras terhadap diri sendiri ketika upaya yang dilakukan belum membuahkan hasil.
Padahal, keberhasilan program bayi tabung tidak cuma ditentukan oleh kedisiplinan seseorang dalam menjalani pola hidup tertentu. Hasil IVF dapat dipengaruhi oleh beragam aspek medis, termasuk usia, kondisi sel telur dan sperma, kualitas embrio, serta penyebab infertilitas yang dialami pasangan.
Karena itu, kegagalan dalam satu siklus IVF bukan berarti seorang perempuan kurang berupaya maupun telah berbuat sesuatu yang salah.
Penelitian ungkap perjuangan infertilitas bisa memengaruhi kesehatan mental
Pengalaman Seo Dong-ju sejalan dengan temuan riset mengenai akibat infertilitas terhadap kesehatan mental perempuan.
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan dalam jurnal BMJ Open pada 2022 menganalisis 32 riset dengan total 124.556 perempuan. Penelitian tersebut menemukan adanya hubungan antara infertilitas dan masalah psikologis. Perempuan yang mengalami infertilitas memiliki kemungkinan mengalami tekanan kejiwaan dan depresi yang lebih tinggi dibandingkan perempuan yang tidak mengalami infertilitas.
Temuan ini memberitahu bahwa perjuangan mendapatkan keturunan bukan cuma berhubungan dengan kondisi jasmani dan prosedur medis, tetapi juga dapat memengaruhi kesejahteraan emosional perempuan.
Tekanan tersebut bisa semakin terasa ketika seseorang menghadapi hasil pengobatan yang tidak sesuai harapan, ketidakpastian mengenai kesempatan kehamilan, maupun emosi bersalah terhadap pasangan.
Meski demikian, pengalaman setiap orang berbeda. Tidak semua perempuan yang menjalani IVF akan mengalami masalah kesehatan mental yang sama.
Kini belajar menata hati dan menyadari kebahagiaan tak cuma bersandar pada momongan
Di tengah perjuangan panjangnya, Seo Dong-ju mulai mencoba mengubah metode pandangnya terhadap kehidupan. Ia mengungkapkan bahwa dirinya menyadari bahwa, terlepas dari apakah nantinya memiliki anak maupun tidak, ia sebenarnya sudah memiliki banyak hal yang membikin hidupnya terasa bahagia.
Kesadaran tersebut membantunya melihat balik perjalanan yang selama ini dijalani dengan penuh tekanan. Seo juga mengatakan bahwa sokongan dari sang suami dan orang-orang terdekat menjadi sumber kekuatan baginya.
Perjalanannya belum tentu berakhir sesuai harapan yang selama ini diimpikan. Namun, ia mulai belajar untuk tidak terus-menerus menyalahkan diri sendiri dan tidak menjadikan keberhasilan mendapatkan momongan sebagai satu-satunya ukuran kebahagiaan.
Kisah Seo Dong-ju menjadi pengingat bahwa perempuan yang sedang berjuang mendapatkan keturunan juga membutuhkan ruang untuk beristirahat secara emosional, menerima emosi kecewa, dan mendapatkan sokongan dari orang-orang di sekitarnya.
Bagi Bunda yang sedang menjalani IVF maupun program hamil lainnya, belum berhasil hamil bukan berarti Bunda gagal sebagai pasangan maupun kurang berusaha. Perjalanan setiap orang berbeda, dan Bunda tidak mesti menghadapi semua emosi itu sendirian.
Jika tekanan emosional mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog maupun tenaga kesehatan yang memahami permasalahan infertilitas dapat menjadi salah satu metode untuk memperoleh sokongan yang sesuai.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)