Kincai Media – Dunia astronomi kembali diguncang oleh temuan yang menantang nalar. Para intelektual baru saja mengidentifikasi sebuah anomali kosmik yang disebut sebagai “objek pengganggu misterius” yang berjarak sekitar 11 miliar tahun sinar dari Bumi. Objek ini mempunyai massa setara dengan satu juta kali massa Matahari, namun sepenuhnya gelap dan tak terlihat.
Ditemukan pada tahun 2025 melalui pengaruh gravitasinya, objek ini menjadi barang langit terjauh yang pernah dideteksi hanya berasas pengaruh gravitasi tanpa emisi cahaya. Keberadaannya yang ganjil membikin para astronom di Institut Astrofisika Max Planck dan Institut Nasional Astrofisika Italia (INAF) kudu memutar otak, lantaran karakteristiknya tidak sesuai dengan model materi gelap yang ada saat ini.
Simona Vegetti, ketua tim dari Institut Astrofisika Max Planck, menjelaskan bahwa mereka percaya telah memetakan inti dari entitas kosmik ini. Menurutnya, pusat objek tersebut mempunyai ciri-ciri yang konsisten dengan lubang hitam alias inti bintang yang sangat padat. Namun, kejutan sebenarnya terletak pada pengedaran massanya.
“Inti pusatnya menyumbang sekitar seperempat dari total massa objek. Namun, saat pengamatan menjauh dari pusat, kepadatannya mendatar dan membentuk struktur piringan raksasa. Ini adalah struktur yang belum pernah kami amati sebelumnya, sehingga kemungkinan ini adalah kelas baru dari objek gelap,” ujar Vegetti.
Terdeteksi Lewat Lensa Gravitasi
Struktur anomali ini ditemukan dalam sistem lensa gravitasi JVAS B1938+666. Fenomena lensa gravitasi sendiri adalah pengaruh yang diprediksi oleh Albert Einstein dalam Teori Relativitas Umum pada tahun 1915. Ketika sinar dari sumber latar belakang melewati objek bermassa besar di depannya, jalur sinar tersebut bakal membelok, menciptakan pengaruh pembesaran yang memungkinkan manusia mengintip objek jauh di alam semesta.
Sistem JVAS B1938+666 terdiri dari beberapa objek masif yang berjarak antara 6,5 hingga 11 miliar tahun cahaya. Objek misterius ini merupakan komponen terjauh dalam sistem tersebut. Tantangan terbesar dalam penelitian ini adalah objek tersebut sama sekali tidak memancarkan cahaya, berbeda dengan galaksi elips masif yang menjadi komponen utama sistem lensa tersebut.
Tim peneliti menggunakan informasi berbobot tinggi dari beragam teleskop, termasuk Teleskop Green Bank, untuk merekonstruksi pengedaran massa objek ini. Mereka menganalisis gangguan mini pada busur gravitasi sistem JVAS B1938+666. Hasilnya cukup mengejutkan: tidak ada model materi gelap yang bisa menjelaskan karakter objek ini secara logis.
Menanti Konfirmasi James Webb
Davide Massari, personil tim dari INAF, menyoroti keanehan kurva densitas objek tersebut. Menurutnya, pusat objek sangat padat, namun volumenya sangat besar secara tidak wajar. Distribusi massanya tidak seragam, di mana terdapat barang ekstrem padat di tengah, namun perpanjangan densitasnya jauh melampaui skala tipis sebuah galaksi alias sistem bintang dengan massa setara.
Temuan yang telah dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy pada 5 Januari lampau ini tetap menyisakan tanda tanya besar. Saat ini, penelitian tetap sangat berjuntai pada teleskop radio. Harapan terbesar sekarang digantungkan pada Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) yang mempunyai keahlian observasi inframerah yang kuat untuk memecahkan fenomena kosmik ini.
Cristiana Spingola dari INAF menyatakan bahwa jika JWST sukses mendeteksi sinyal sinar dalam spektrum inframerah, objek ini mungkin adalah galaksi kerdil ultra-kompak dengan halo bintang yang meluas secara tidak wajar. Namun, skenario kedua jauh lebih menantang.
“Jika apalagi James Webb tidak dapat mendeteksi sinar bintang alias materi yang terlihat, maka kita sedang berhadapan dengan objek yang karakteristiknya tidak dapat dijelaskan oleh model materi gelap yang ada saat ini,” pungkas Spingola. Ini bisa berfaedah kita perlu merevisi pemahaman fisika tentang konstituen alam semesta.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·