Belanja pandai pakai backwards shopping, langkah simpel biar dompet tetap aman/Foto: Pexels.com/Mike Jones
Backwards shopping bisa menjadi salah satu langkah sederhana buat Anda yang mau menghemat pengeluaran shopping in this economy. Kalau biasanya Anda menentukan menu terlebih dahulu, mencatat semua bahan yang diperlukan, lampau pergi ke supermarket, metode ini justru membujuk Anda melakukan perihal yang sebaliknya.
Konsep ini bisa membantu mengurangi dua sumber pemborosan yang sering terjadi saat belanja, ialah membeli peralatan yang sebenarnya tetap ada di rumah dan membiarkan bahan makanan terbuang lantaran tidak sempat digunakan. Kalau Anda penasaran dengan konsep ini, berikut beberapa perihal yang perlu Anda ketahui tentang backwards shopping, sebagaimana telah dilansir dari Reader’s Digest dan Kiplinger.
Apa Itu Backwards Shopping?

Pengertian backwards shopping/Foto: Magnific.com/senivpetro
Backwards shopping adalah kebalikan dari pola shopping bahan makanan yang biasa dilakukan. Kalau biasanya Anda berpikir, “Minggu ini mau masak apa?” lampau mencari resep dan membeli seluruh bahannya, backwards shopping dimulai dari pertanyaan, “Aku tetap punya apa di rumah?”.
Kamu mengecek isi lemari es dan dapur, kemudian menggunakan bahan-bahan tersebut sebagai dasar untuk menentukan menu. Setelah itu, barulah Anda membikin daftar shopping untuk melengkapi bahan yang belum tersedia. Meski istilah backwards shopping belakangan semakin populer, terutama melalui media sosial, konsepnya sendiri bukanlah kebiasaan baru.
Andrea Woroch, master penghematan konsumen yang dikutip Reader’s Digest, menyebut strategi ini sudah digunakan family selama puluhan tahun untuk menghemat pengeluaran. Ada juga yang menyebut konsep ini sebagai pantry-first meal planning, ialah merencanakan makanan berasas bahan yang sudah dimiliki sebelum membeli bahan baru.
Cek Stok Dapur dan Isi Kulkas Sebelum Belanja

Cek stok dapur, langkah awal dalam backwards shopping/Foto: Pexels.com/RDNE Stock project
Sebelum membikin daftar belanja, cek terlebih dulu stok dapur dan isi lemari es kamu. Perhatikan bahan makanan yang tetap tersedia, terutama bahan yang masa simpannya mulai pendek dan catat di kertas alias aplikasi catatan yang ada di ponsel.
Kamu juga bisa memandang struk shopping minggu sebelumnya. Tandai peralatan yang tetap tersedia di rumah sehingga Anda tidak membelinya lagi.
Kebiasaan ini berfaedah untuk mencegah pembelian ganda, terutama untuk bahan dapur seperti beras, pasta, saus, bumbu, alias makanan kaleng. Jangan sampai niat mengisi stok malah membikin dapur penuh peralatan yang sama.
Susun Menu dari Bahan yang Sudah Ada

Cek stok dapur, salah satu langkah melakukan backwards shopping/Foto: Pexels.com/Anna Shvets
Setelah tahu isi dapur, jangan buru-buru membuka aplikasi pesan-antar alias mencari resep dari nol. Coba lihat bahan yang ada dan pikirkan kombinasi makanan yang bisa dibuat. Misalnya, Anda punya pasta, kacang kalengan, bayam, bawang putih, minyak zaitun, dan keju. Bahan-bahan ini sudah bisa menjadi satu menu tanpa perlu melakukan shopping besar.
Kamu juga tidak kudu membikin meal plan super detail. Prinsipnya adalah membikin makanan dari apa yang tersedia. Nasi, telur, dan tempe, misalnya, bisa menjadi bahan dasar nasi goreng alias tempe orek sederhana.
Sayuran sisa dapat diolah menjadi tumisan alias omelet. Kalau sedang buntu, Anda bisa memanfaatkan aplikasi resep untuk mencari buahpikiran berasas bahan yang tersedia di rumah.
Buat Daftar Belanja untuk Bahan yang Masih Kurang

Belanja hanya untuk bahan yang kurang, salah satu langkah melakukan backwards shopping/Foto: Magnific.com/gpointstudio
Bedanya dengan daftar shopping biasa, kali ini Anda hanya mencatat bahan yang belum tersedia. Misalnya, Anda sudah mempunyai ayam goreng dan sambal untuk membikin ayam geprek, tetapi mau menyajikannya dengan lalapan. Artinya, Anda cukup membeli sayuran seperti kol dan timun sebagai pelengkap, bukan seluruh bahan untuk membikin menu dari awal.
Konsep ini sering disebut gap-only shopping, ialah berbelanja hanya untuk mengisi bahan yang tetap kurang. Daftar yang lebih pendek membikin perjalanan ke supermarket menjadi lebih terarah. Kamu juga jadi lebih mudah menolak bujukan untuk membeli peralatan yang sebenarnya tidak diperlukan lantaran sudah tahu persis apa yang mau dicari.
Manfaatkan Stok agar Tidak Berakhir Jadi Sampah

Gunakan stok sebelum kedaluwarsa, salah satu langkah melakukan backwards shopping/Foto: Pexels.com/Lucie Liz
Menghemat duit saat shopping rupanya bukan hanya soal menemukan nilai paling murah. Kamu juga perlu memastikan makanan yang sudah dibeli betul-betul dimakan.
Buah yang membusuk, sayuran yang layu, produk susu yang kedaluwarsa, alias daging yang terlalu lama tersimpan di lemari es sama saja dengan duit yang terbuang. Karena itu, menggunakan bahan yang sudah tersedia menjadi salah satu faedah utama backwards shopping.
Agar lebih mudah, letakkan bahan yang kudu segera digunakan di bagian depan kulkas. Kamu juga bisa menggunakan wadah transparan untuk bahan makanan kering sehingga stok lebih mudah terlihat.
Kalau punya banyak bahan di freezer, sesekali lakukan pengecekan agar Anda tahu apa yang sebenarnya tetap tersedia. Cara sederhana ini membantu mencegah bahan makanan berlindung di kembali tumpukan stok baru.
Batasi Impulse Buying saat Berada di Supermarket

Backwards shopping membantu mengurangi impulse buying/Foto: Magnific.com/pvproductions
Meski Anda sudah membikin daftar shopping dengan rapi, tidak menutup kemungkinan Anda bakal tergiur dengan camilan baru yang belum pernah Anda coba, barang-barang yang promo, alias produk yang kemasannya terlihat menarik. Kalau tidak hati-hati, barang-barang mini seperti ini bisa membikin total shopping membengkak.
Bukan berfaedah Anda sama sekali tidak boleh membeli sesuatu di luar daftar. Kamu bisa memberikan pemisah untuk peralatan impulsif agar tetap punya ruang untuk jajan tanpa membikin shopping kebablasan.
Salah satu saran dari Phil Lempert, seorang analis industri makanan dan pendiri SupermarketGuru, adalah menyediakan maksimal tiga slot untuk pembelian impulsif. Selain itu, tetap berpegang pada daftar yang sudah dibuat dan hindari terlalu lama berkeliling di area yang tidak berasosiasi dengan kebutuhan kamu.
Aturan Tiga Menu dalam Backwards Shopping

Aturan tiga menu dalam backwards shoppingFoto: Pexels.com/Ella Olsson
Kalau terlalu mengandalkan stok dapur dan kulkas, Anda bisa kekurangan bahan segar. Kamu juga mungkin terlalu optimistis menganggap semua bahan yang tersimpan tetap layak digunakan.
Selain itu, terlalu sering pergi ke supermarket hanya untuk membeli satu alias dua bahan juga bisa menjadi masalah lantaran setiap kunjungan memberikan kesempatan baru untuk melakukan impulse buying.
Cobalah mulai dengan patokan tiga menu, ialah pilih tiga makanan yang bisa dibuat dari bahan yang sudah ada di rumah selama satu minggu. Setelah itu, belanjalah hanya bahan-bahan yang kurang.
Kamu juga bisa menambahkan satu alias dua menu no-spend, ialah makanan yang seluruh bahannya sudah tersedia di dapur alias kulkas. Dengan langkah ini, backwards shopping lebih terasa seperti kebiasaan baru daripada patokan diet shopping yang ketat.
Konsep backwards shopping sebenarnya sederhana, ialah sebelum membeli sesuatu yang baru, lihat dulu apa yang sudah Anda punya. Dari sana, Anda bisa menentukan menu, membikin daftar bahan yang betul-betul dibutuhkan, lampau pergi ke supermarket dengan tujuan yang lebih jelas. Yuk, mulai coba backwards shopping di agenda shopping kebutuhan Anda selanjutnya!
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik wanita dan juga laki-laki, kami juga mempunyai organisasi unik untuk Anda yang tetap berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(naq/naq)