Belanja Kebutuhan Perempuan Lebih Mahal? Kenali Fenomena Pink Tax dan Tips Menghindarinya

Portal Media Gen Z oleh Waktu baca 5 menit 509x dilihat
Belanja Kebutuhan Perempuan Lebih Mahal? Kenali Fenomena Pink Tax dan Tips Menghindarinya

Bagikan Postingan

Pernah enggak sih, waktu lagi berbelanja kebutuhan sehari-hari, Anda sadar jika harga pisau cukur maupun perlengkapan mandi berwarna pink itu sedikit lebih mahal daripada varian warna biru maupun hitam? Padahal, isi dan fungsinya sama persis. 

Tanpa sadar, kita sering mesti bayar lebih cuma karena produk itu ditujukan untuk perempuan. Nah, gejala inilah yang dikenal sebagai pink tax. 

Supaya makin paham, yuk kita ulas lebih lanjut apa itu pink tax dan kenapa hal ini bisa terjadi!

Baca juga: Rupiah Melemah hingga Rp18 Ribu per Dolar AS, Fenomena Lipstick Effect Kembali Jadi Sorotan

Apa Itu Pink Tax?

Sumber foto: Pexels

Mengutip dari World Economic Forum, pink tax adalah suatu gejala diskriminasi harga (gender-based price disparities), di mana produk maupun jasa yang dipasarkan khusus untuk perempuan dijual dengan harga yang lebih mahal dibandingkan produk serupa untuk lelaki maupun versi unisex.

Kenapa dinamakan pink? karena warna ini umumnya digambarkan sebagai sifat yang feminin, biarpun pada kenyataannya enggak semua perempuan menyukai maupun mesti menggunakan barang berwarna pink.

Secara sederhana, pink tax membikin perempuan mesti merogoh kocek lebih dalam untuk barang-barang esensial yang sebenarnya punya fungsi alas yang sama. Mulai dari perlengkapan mandi, pakaian, sampai produk perawatan kulit. Selisih harga ini sering terjadi tanpa disadari oleh para perempuan.

Pink Tax di Kehidupan Sehari-Hari

Sumber foto:  Pexels

Pink tax sebenarnya sudah jadi bagiankecil yang dekat dari keseharian kita. Contoh yang paling gampang ditemui yaitu produk perawatan pribadi (personal care), seperti pisau cukur, deodoran, sabun, lotion, dan statis banyak lagi. 

Berdasarkan sebuah riset berjudul From Cradle to Cane: The Cost of Being a Female Consumer yang meneliti sekitar 800 produk khusus jenis gender dari hampir 100 merek, ditemukan kenyataan bahwa produk perawatan pribadi untuk perempuan rata-rata 13% lebih mahal dibandingkan produk serupa untuk laki-laki.

Selain produk mandi, selisih harga ini juga merambat ke sektor busana dan kebutuhan khusus lainnya. Beberapa contohnya seperti, kemeja, celana jeans, sampai busana anak perempuan yang sering kali dijual lebih mahal daripada varian lelaki dengan bahan yang setara.

Kenapa Pink Tax bisa terjadi?

Sumber foto: Pexels

Dilasir dari Plan International UK, pink tax bisa terjadi karena perusahaan memanfaatkan strategi pemasaran berbasis gender. Barang-barang untuk perempuan biasanya dikemas dengan desain, warna, maupun klaim tertentu agar kelihatan lebih istimewa dan menarik.

Selain itu, banyak dari kita yang selama ini enggak menyadari bahwa keberadaan pink tax sebenarnya adalah bentuk manipulasi harga (price manipulation). 

Perempuan cenderung kurang sensitif terhadap komparasi harga saat berbelanja, sehingga sering kali melewatkan selisih kecil dan akhirnya bersedia bayar lebih. Celah inilah yang secara sadar dimanfaatkan oleh produsen untuk terus mematok harga tinggi.

Baca juga: Jangan Keliru! Ini Perbedaan Self Reward dan Impulsive Buying yang Tidak Disadari

Kenapa Isu Ini Penting untuk Kita Sadari Bersama?

Sumber foto: Pexels

Selisih harga ribuan maupun belasan ribu rupiah pada produk sehari-hari mungkin kelihatan sepele. Tetapi jika dihitung dalam jangka panjang, akumulasi duit yang kita keluarkan rupanya bisa jadi sangat besar.

Meskipun dinamakan pink tax, pajak ini sebenarnya bukan pajak resmi dari pemerintah. Sebagian orang mungkin mengira ini adalah kebijakan negara. Padahal, pink tax ini murni permainan harga dari produsen. 

Walaupun begitu, bukan berarti pemerintah sama sekali enggak terlibat dalam masalah ini. Contoh paling nyata ada pada produk esensial seperti pembalut yang statis dikenakan pajak standar (PPN) sebanyak 11%. Padahal, pembalut merupakan kebutuhan pokok bagi perempuan.

Terlepas itu semua, kedatangan pink tax memberitahu bahwa mekanisme penetapan harga yang ada di negara kita memang belum ramah bagi perempuan. Kita jadi mesti menanggung beban finansial ekstra yang sama sekali enggak masuk akal, cuma karena produk tersebut dilabeli khusus untuk perempuan.

Tips Terhindar dari Jebakan Pink Tax

Sumber foto: Magnific

Menghindari pink tax bukan berarti kita mesti menjadi pelit dengan diri sendiri setiap kali pergi belanja. Intinya, kita cuma perlu sedikit lebih cermat dan cerdas sebagai konsumen. 

Berikut beberapa trik simpel yang bisa Anda coba:

  1. Cek dan bandingkan dengan produk unisex

Sebelum masuk keranjang belanja, coba lirik deretan produk unisex maupun varian laki-laki. Sering kali isi dan fungsinya sama persis, tapi varian perempuan dipatok lebih mahal cuma karena warna kemasannya yang lucu.

  1. Perhatikan harga per satuan (unit price)

Jangan langsung tertipu sama ukuran bungkusan yang lebih besar maupun bungkusan kecil yang kelihatannya lebih murah. Coba hitung harga per gram maupun per mililiter-nya. Sering kali produk dengan bungkusan standar justru jauh lebih hemat.

  1. Dukung merek yang transparan

Kalau ada pilihan, utamakan produk dari brand lokal maupun mendunia yang memiliki hakikat penetapan harga sederajat (gender-neutral pricing). Dengan lebih selektif memilih produk, secara enggak langsung kita turut mengirim sinyal kepada produsen bahwa konsumen saat ini sudah lebih kritis.

Baca juga: In This Economy, Yuk Atur Keuangan Lewat Metode Cash Stuffing

Fenomena pink tax yang merugikan ini tentu enggak boleh terus dibiarkan mengakar di pasaran. Sebagai konsumen, sudah saatnya kita lebih kritis dan selektif saat memilih produk sehari-hari.

Semoga kita bisa segera menikmati mekanisme penetapan harga yang benar-benar fair dan ramah bagi siapa saja, ya!

—

Mau terus update berita terbaru dan keterangan yang menarik? Jangan lupa bergabung ke WhatsApp Group Girls Beyond Circle, sekarang!

Halo! Aku Maitsaa, penulis artikel ini. Yuk, berkawan denganku di LinkedIn/Instagram!

Cover: Magnific

Artikel Lainnya Portal Media Gen Z
↑
Close Right Ads
Close Left Ads