Benedetta: Ketika Iman, Hasrat, dan Kekuasaan Sulit Dibedakan

Review Movie Terbaru oleh Waktu baca 7 menit 506x dilihat
Benedetta: Ketika Iman, Hasrat, dan Kekuasaan Sulit Dibedakan

Bagikan Postingan

Paul Verhoeven tidak pernah terlalu tertarik pada karakter yang mudah dikategorikan sebagai baik alias buruk. Dalam “Benedetta” (2021), sutradara “Basic Instinct”, “Starship Troopers”, dan “RoboCop” membawa kecenderungan tersebut ke sebuah biara di Italia abad ke-17. Berdasarkan kehidupan Benedetta Carlini yang didokumentasikan sejarawan Judith C. Brown dalam “Immodest Acts: The Life of a Lesbian Nun in Renaissance Italy”, movie ini menggunakan seksualitas dan pengalaman mistik seorang biarawati untuk membicarakan sesuatu yang lebih luas: hubungan antara iman, tubuh, dan kekuasaan.

Benedetta Carlini (Virginie Efira) telah tinggal di biara sejak tetap kecil. Ketika dewasa, dia mulai mengalami beragam penglihatan religius tentang Yesus dan kemudian menunjukkan stigmata, luka yang menyerupai luka penyaliban Kristus. Status spiritualnya meningkat berbarengan dengan kehadiran Bartolomea (Daphné Patakia), wanita muda yang melarikan diri dari kekerasan keluarganya. Kedekatan mereka perlahan berkembang menjadi hubungan seksual yang bertentangan dengan patokan kehidupan religius.

Konflik semakin rumit ketika pengalaman mistik Benedetta membikin posisinya di biara semakin kuat. Sister Felicita (Charlotte Rampling), kepala biara yang skeptis, mencurigai bahwa mukjizat tersebut mungkin tidak sepenuhnya autentik. Dari sinilah “Benedetta” berkembang dari drama cinta terlarang menjadi permainan politik mengenai siapa yang mempunyai otoritas untuk menentukan kebenaran.

Screenplay karya Verhoeven dan David Birke bekerja paling baik ketika mempertahankan ambiguitas Benedetta. Film tidak pernah memberikan jawaban definitif apakah dia betul-betul menerima wahyu, mengalami delusi, alias sengaja menggunakan kepercayaan orang-orang di sekitarnya untuk memperoleh kekuasaan. Bahkan mungkin ketiganya betul pada saat yang sama. Ketidakpastian tersebut membikin Benedetta menjadi karakter yang jauh lebih kompleks daripada sekadar biarawati pemberontak.

Verhoeven juga cukup tajam dalam menggambarkan biara sebagai sebuah lembaga yang tidak sepenuhnya terpisah dari ekonomi dan politik. Sejak awal, ayah Benedetta kudu bermusyawarah mengenai biaya untuk memasukkan putrinya ke biara. Kesucian rupanya mempunyai struktur kelas, sementara pengalaman religius dapat memperoleh alias kehilangan legitimasi tergantung kepentingan institusi.

Film tidak sekadar menyerang kepercayaan alias memosisikan seksualitas sebagai kebebasan absolut. Kritiknya lebih diarahkan kepada struktur kekuasaan yang bisa menentukan mana pengalaman yang dianggap suci dan mana yang dianggap sesat. Ketika mukjizat Benedetta menguntungkan institusi, dia dapat diterima. Ketika kekuasaannya mulai menakut-nakuti hierarki, pengalaman spiritual yang sama dapat menjadi dasar untuk menghukumnya.

Namun screenplay “Benedetta” juga mempunyai kecenderungan terlalu sibuk. Agama, homoseksualitas, misogini, wabah, politik gereja, patriarki, mukjizat, seksualitas, dan oportunisme datang nyaris bersamaan. Beberapa tema mendapatkan ruang yang menarik, sementara lainnya terasa hanya disentuh sebelum Verhoeven bergerak menuju provokasi berikutnya. Inilah yang membikin movie terkadang terasa kurang konsentrasi meskipun secara pendapat sangat kaya.

Provokasi paling jelas muncul melalui hubungan Benedetta dan Bartolomea. Verhoeven dengan sengaja mempertemukan simbol religius dengan seksualitas, termasuk melalui patung mini Virgin Mary yang dimodifikasi menjadi perangkat seksual. Adegan tersebut mudah dianggap sebagai shock value, tetapi mempunyai kegunaan tematik yang jelas: movie mempertanyakan kenapa tubuh dapat dipuja dalam representasi religius tetapi dianggap berdosa ketika menjadi sumber kenikmatan.

Namun langkah hubungan seksual keduanya divisualisasikan juga bukan tanpa masalah. Ada beberapa momen ketika eksplorasi seksualitas wanita terasa terlalu dekat dengan male gaze. Verhoeven tampaknya menyadari sifat provokatif citranya, tetapi pemisah antara mengkritik objektifikasi dan menikmati objektifikasi tersebut tidak selalu jelas.

Secara visual, “Benedetta” jauh lebih elegan daripada reputasinya sebagai movie kontroversial. Sinematografi Jeanne Lapoirie membangun bumi abad ke-17 melalui interior batu, sinar lilin, ruang gereja yang monumental, dan pencahayaan naturalistik. Film menciptakan kontras antara arsitektur biara yang kaku dengan tubuh manusia yang tidak pernah dapat sepenuhnya dikendalikan. Darah, luka, penyakit, seks, rasa sakit, dan kenikmatan terus menerobos patokan institusi.

Visi religius Benedetta menggunakan bahasa visual yang berbeda. Yesus muncul sebagai figur yang nyaris menyerupai pahlawan fantasi, terkadang dramatis hingga mendekati camp. Pilihan tersebut sebenarnya sesuai dengan perspektif movie lantaran kita tidak sedang memandang representasi objektif mengenai Tuhan, melainkan gimana Benedetta membayangkan Tuhan. Spiritualitas dan gairah akhirnya menggunakan bahasa visual yang nyaris sama.

Virginie Efira menjadi pusat keberhasilan film. Performanya mempertahankan misteri Benedetta sampai akhir. Ia terlihat betul-betul religius, tetapi sekaligus sangat memahami gimana kepercayaan dapat digunakan untuk memperoleh otoritas. Efira tidak pernah memberikan petunjuk sederhana mengenai mana Benedetta yang autentik dan mana yang sedang memainkan peran.

Daphné Patakia memberikan daya berbeda sebagai Bartolomea. Jika Benedetta penuh kalkulasi dan ambiguitas, Bartolomea jauh lebih langsung dalam hubungannya dengan tubuh dan hasrat. Charlotte Rampling apalagi lebih menarik sebagai Sister Felicita. Awalnya dia tampak seperti figur otoritas yang menghalangi Benedetta, tetapi perlahan terlihat bahwa skeptisismenya mempunyai dasar yang cukup rasional. Rampling menghindari stereotip kepala biara represif dan menjadikannya figur pragmatis yang memahami langkah kerja institusi.

Ketika movie memasuki bentrok dengan Papal Nuncio yang diperankan Lambert Wilson, skala ceritanya melebar. Persoalan individual berubah menjadi persoalan politik mengenai siapa yang mempunyai kewenangan menentukan apakah Benedetta seorang suci, pendosa, alias penipu. Pada titik ini, kebenaran menjadi kurang krusial dibandingkan siapa yang mempunyai kekuasaan untuk mendefinisikannya.

Perpindahan tonal menjadi salah satu kekuatan sekaligus kelemahan “Benedetta”. Film dapat bergerak dari drama sejarah menuju erotisme, satire, kekerasan, lawakkasar, hingga gambaran wabah. Karakter tersebut sangat unik Verhoeven, tetapi membikin movie sesekali terasa tidak stabil. Ada saat ketika “Benedetta” mengusulkan pertanyaan serius mengenai ketaatan dan institusi, kemudian beberapa menit berikutnya sengaja memancing tawa alias kontroversi.

Meski demikian, movie tetap sukses lantaran tidak menawarkan kemenangan moral sederhana. Benedetta dapat dibaca sebagai wanita yang menemukan langkah memperoleh kekuasaan dalam struktur patriarkal, tetapi dia juga manipulatif. Gereja dapat terlihat represif, tetapi orang-orang yang meragukan Benedetta tidak semuanya keliru. Bartolomea adalah korban, tetapi bukan karakter tanpa agensi.

Ambiguitas tersebut jauh lebih menarik daripada kontroversi seksual yang mengelilingi film. Verhoeven pada akhirnya sedang berbincang tentang gimana kekuasaan memerlukan narasi. Benedetta memperoleh kekuatan ketika orang percaya terhadap kisah tentang dirinya. Institusi kepercayaan mempertahankan kekuasaan dengan menentukan cerita mana yang dianggap mukjizat dan mana yang disebut penghujatan.

“Benedetta” bukan karya Paul Verhoeven yang paling subtil maupun paling konsisten, tetapi keberaniannya susah diabaikan. Screenplay-nya sesekali terlalu padat dan perpindahan tonalnya tidak selalu mulus, tetapi movie mempunyai performa kuat, visual elegan, dan pendapat yang terus mengusik setelah cerita berakhir.

Kekuatan terbesarnya berada pada ketidakmauan Verhoeven menjelaskan siapa sebenarnya Benedetta. Jika dia terbukti sebagai orang suci, movie bakal terlalu sederhana. Jika dia hanya penipu, hasilnya juga kurang menarik. “Benedetta” justru hidup dalam kemungkinan bahwa seseorang dapat betul-betul percaya kepada Tuhan sekaligus menggunakan keyakinannya sebagai instrumen kekuasaan.

Pesan Moral

“Benedetta” memperingatkan ancaman ketika sebuah lembaga memperoleh otoritas absolut untuk menentukan pengalaman manusia mana yang dianggap benar, suci, alias berdosa. Tubuh menjadi salah satu medan utama perebutan kekuasaan tersebut: siapa yang boleh mengendalikannya, menikmatinya, dan menentukan maknanya.

Namun movie juga tidak menganggap pemberontakan otomatis sebagai kebajikan. Benedetta sendiri menunjukkan bahwa orang yang sebelumnya tidak mempunyai kekuasaan tetap dapat menjadi manipulatif ketika akhirnya mendapatkannya. Karena itu, persoalan utama movie bukan sekadar kepercayaan melawan seksualitas, melainkan hubungan yang jauh lebih universal antara kepercayaan dan kekuasaan.

Dampak Budaya

“Benedetta” berkompetisi untuk Palme d’Or di Festival de Cannes 2021 dan mengembalikan Paul Verhoeven ke pusat obrolan mengenai pemisah antara sinema seni, erotisme, agama, dan provokasi. Film ini juga memperkenalkan kembali kisah Benedetta Carlini kepada audiens yang lebih luas, berasas penelitian Judith C. Brown terhadap arsip persidangan gerejawi abad ke-17.

Secara historis, kasus Carlini krusial lantaran menjadi salah satu pengarsipan langka mengenai hubungan seksual antara wanita pada periode tersebut. Film Verhoeven tentu mengambil kebebasan dramatik, tetapi keberadaannya kembali membuka pembicaraan mengenai gimana sejarah seksualitas wanita sering kali hanya dapat diketahui melalui arsip lembaga yang justru berupaya mengontrolnya.

“Benedetta” juga dapat ditempatkan dalam tradisi movie seperti “The Devils” (1971) karya Ken Russell yang menggunakan ruang religius untuk membicarakan tubuh, represi, dan politik. Bedanya, Verhoeven membawa humor, erotisme, dan ambiguitas moral khasnya sendiri.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar “Benedetta” bukan apakah tokoh utamanya betul-betul berbincang dengan Tuhan. Pertanyaan yang lebih menarik adalah: ketika seseorang sukses meyakinkan orang lain bahwa dirinya berbincang atas nama Tuhan, siapa yang kemudian mempunyai kekuasaan untuk mengatakan bahwa dia berbohong?

Artikel Lainnya Review Movie Terbaru
Close Right Ads
Close Left Ads