Kincai Media – Bitcoin dilaporkan mengungguli emas secara signifikan sejak eskalasi perang Iran pada 28 Februari 2026.
Sejumlah pencari pasar menunjukkan rasio BTC terhadap emas naik tajam selama periode tersebut. Binance Research apalagi menyebut Bitcoin outperform emas sekitar 36 persen sejak bentrok Iran dimulai.

Performa ini menjadi sorotan lantaran biasanya emas dianggap sebagai aset utama saat ketegangan geopolitik meningkat.
Bitcoin Naik Saat Emas Melemah
Selama fase awal konflik, Bitcoin sempat bergerak volatil dan turun sigap berbareng aset berisiko lain. Namun setelah tekanan awal mereda, BTC justru pulih lebih kuat dibanding emas.
Beberapa informasi pasar menunjukkan Bitcoin naik sekitar 7 persen hingga 8 persen pada Maret, sementara emas melemah lebih dari 3 persen dalam periode yang sama.
Ada juga perkiraan yang lebih agresif, dengan BTC naik dari sekitar US$ 65.000 ke US$ 70.000, sementara emas turun cukup dalam dari level awal perang.
Kondisi ini membikin rasio BTC/gold melonjak dan memperkuat argumen bahwa Bitcoin mulai diperlakukan sebagai hedge makro alternatif.
Ujian Besar Pertama untuk Bitcoin
Yang membikin pergerakan ini menarik adalah konteksnya.
Bitcoin tidak hanya naik saat pasar sedang risk-on, tetapi juga sukses mengungguli emas di tengah bentrok militer aktif.
Sejumlah analis menyebut perang Iran sebagai salah satu stress test nyata pertama bagi Bitcoin sebagai aset lindung nilai di level portofolio.
Biasanya, dalam kondisi perang alias krisis geopolitik, penanammodal mencari perlindungan di emas. Namun kali ini, Bitcoin justru menarik inflow kuat dari produk ETF dan penanammodal institusional.
Baca Juga: Solana Wajib Tembus Level Ini untuk Konfirmasi Reli Baru
ETF Bitcoin Jadi Penopang Utama
JPMorgan sebelumnya mencatat bahwa Bitcoin menunjukkan tanda-tanda peningkatan inflow dan kegiatan selama konflik, sementara logam mulia seperti emas dan perak justru mengalami outflow dan likuidasi posisi.
Gold ETF dilaporkan mengalami arus keluar besar, sementara produk Bitcoin spot ETF di AS terus menyerap permintaan institusional.
Hal ini menunjukkan bahwa sebagian penanammodal mulai memandang Bitcoin bukan hanya sebagai aset spekulatif, tetapi juga sebagai pengganti makro di tengah ketidakpastian global.
Emas Tetap Penting, Tapi Bitcoin Mulai Menantang
Meski Bitcoin outperform dalam periode ini, bukan berfaedah emas kehilangan peran sebagai aset safe haven.
Emas tetap mempunyai sejarah ribuan tahun sebagai penyimpan nilai, sementara Bitcoin baru melewati usia belasan tahun dan tetap jauh lebih volatil.
Namun, performa BTC selama bentrok Iran memberi amunisi baru bagi pendukung narasi “digital gold.”
Jika tren ini bersambung dalam krisis berikutnya, posisi Bitcoin sebagai pesaing emas dalam portofolio makro bisa semakin susah diabaikan.
Disclaimer: Semua konten yang diterbitkan di website Kincai Media ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan yang telah tayang di Kincai Media bukan nasihat investasi alias saran trading.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata duit digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. Kincai Media tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·