Jakarta -
Ketika seorang wanita memberi berita bahwa dirinya sedang hamil, respons pertama yang sering muncul biasanya adalah, “Selamat ya!” alias “Wah, akhirnya mengandung juga!”
Memang terdengar hangat dan penuh kebahagiaan. Tapi ternyata, tidak semua Bunda hanya mau mendengar ucapan selamat ketika memberi tahu berita kehamilan. Banyak ibu berambisi juga memahami bahwa perjalanan menjadi seorang ibu bisa disertai rasa takut, cemas, dan beragam perjuangan yang tidak selalu terlihat.
Sebab, bagi sebagian Bunda, terutama yang melewati perjalanan panjang untuk hamil, pernah mengalami keguguran, mempunyai kondisi kehamilan berisiko, alias sedang menghadapi banyak kekhawatiran, berita kehamilan bisa membawa emosi yang kombinasi aduk. Ada bahagia, haru, takut, cemas, hingga rasa tidak percaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sehingga bagi sebagian ibu, terutama yang sedang menjalani kehamilan penuh tantangan, kalimat tersebut belum tentu menjadi perihal yang paling mau mereka dengar.
Kehamilan tidak selalu datang dengan emosi bahagia
Bagi sebagian perempuan, mengetahui dirinya mengandung memang menjadi momen yang sangat membahagiakan. Namun, bagi yang lain, berita kehamilan bisa bercampur dengan banyak emosi.
Ada ibu yang kudu menghadapi akibat kesehatan, riwayat keguguran, perjuangan program hamil, masalah finansial, tekanan psikologis, hingga kekhawatiran tentang kondisi bayi.
Dalam kondisi seperti ini, ucapan, "Selamat,” terkadang terasa kurang menggambarkan apa yang sedang mereka jalani. Dikutip dari Omnes, yang membahas pengalaman ibu dengan kehamilan susah menyoroti bahwa banyak wanita memerlukan support emosional dan pengakuan atas perjuangan mereka, bukan hanya seremoni atas berita kehamilan tersebut.
Ucapan yang lebih dibutuhkan ibu hamil
Dikutip dari Omnes, Elaine, mantan perwira Penjaga Pantai dari California Utara, mengalami dua kehamilan yang tidak terduga selama masa dinas militernya. Ia merasa sangat dicintai dan didukung ketika kerabat laki-lakinya bereaksi terhadap buletin tersebut dengan penuh sukacita dan antusiasme: “Seorang bayi! Selamat! Aku sangat senang untukmu. Aku tahu Anda selalu mau menjadi seorang ibu.”
Banyak wanita menyarankan untuk berlatih dengan mengatakan “Selamat!” sehingga bakal muncul secara alami pada saat itu, dan kemudian mengusulkan pertanyaan seperti “Bagaimana perasaanmu?” dan, "Bagaimana saya bisa membantumu mengurus rumah dan anak-anak?”
Elaine menambahkan bahwa pendekatan ini memerlukan perhatian dan kasih sayang kepada setiap perempuan selama kehamilannya dan menyambut setiap bayi sebagai berkah terutama ketika situasinya sulit.
Selain itu, Alyssa Grasinski, dari Indiana, yang sedang mempersiapkan kehadiran putri pertamanya sembari belajar hukum, dia merasa sangat berfaedah bahwa teman-temannya mengajaknya minum milkshake alias teh daripada pergi ke tempat-tempat yang kurang cocok untuk ibu, seperti warung kopi alias bar. Seorang kawan sekelas menyiapkan paket bingkisan untuknya yang berisi barang-barang untuk meredakan mual, teh yang lezat, jurnal, dan kartu ucapan pribadi.
Dari pada langsung berbicara “Selamat ya!”, berikut simpulan dari beberapa ibu agar merasa lebih didukung ketika mendengar kalimat yang menunjukkan empati, seperti:
- “Aku akan menemani perjalanan Anda ya.”
- “Pasti banyak yang Anda rasakan, saya ada jika Anda butuh cerita.”
Kalimat sederhana seperti ini memberi ruang bagi ibu untuk mengekspresikan perasaannya tanpa kudu selalu terlihat bahagia. Ucapan lain yang juga bisa membikin ibu merasa dipahami:
- “Aku ikut bahagia, tapi saya juga tahu perjalanan ini mungkin tidak mudah.”
- “Kamu sudah berjuang sejauh ini.”
- “Apa pun yang Anda rasakan, itu wajar.”
- “Aku doakan semuanya melangkah baik untuk Anda dan bayi.”
Dukungan emosional berpengaruh pada perjalanan kehamilan
Kehamilan bukan hanya perubahan fisik, tetapi juga perjalanan emosional. Penelitian tentang kesehatan mental maternal menunjukkan bahwa support sosial selama kehamilan berasosiasi dengan kondisi psikologis ibu yang lebih baik.
Sebuah studi dalam jurnal BMC Pregnancy and Childbirth menemukan bahwa support sosial dari pasangan, keluarga, dan lingkungan dapat membantu mengurangi stres serta kekhawatiran selama kehamilan.
Hal ini krusial lantaran stres berkepanjangan selama kehamilan dapat memengaruhi kualitas hidup ibu dan berasosiasi dengan beragam akibat kesehatan.
Mendengarkan kadang lebih berfaedah daripada memberi nasihat
Banyak orang sebenarnya bermaksud baik ketika memberi ucapan selamat alias langsung memberikan nasihat. Namun, tidak semua ibu memerlukan solusi.
Kadang, yang paling dibutuhkan hanyalah seseorang yang mau mendengar. Karena di kembali kabar, “Aku hamil”, ada ibu yang sedang memproses banyak hal: rasa bahagia, takut, harapan, apalagi trauma dari pengalaman sebelumnya.
Jadi, lain kali ketika mendengar seseorang mengumumkan kehamilannya, mungkin bukan hanya, “Selamat ya!” yang perlu diberikan. Sebuah kalimat sederhana seperti, “Aku ikut menemani perjalanan kamu,” bisa menjadi support yang jauh lebih berarti bagi seorang ibu.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·