Bunda Ini Jadi Viral Dan Dikecam Karena Menyusui Bayi 16 Bulan Di Festival Musik

Jun 25, 2026 09:10 AM - 2 jam yang lalu 53

Jakarta -

Seorang ibu menjadi sorotan publik setelah videonya saat menyusui anaknya yang berumur 16 bulan di tengah pagelaran musik viral di media sosial. Dalam video tersebut, sang ibu tampak tetap menikmati kegiatan sembari menggendong dan menyusui anaknya di keramaian festival.

Tayah Ettienne, seorang penyanyi berumur 33 tahun dari London, mengatakan bahwa dia sangat senang bisa keluar dan menikmati musik live di kegiatan tersebut setelah nyaris tidak pernah meninggalkan rumahnya sejak kelahiran putrinya, Aaliyana, 16 bulan lalu. 

Dikutip dari People, pagelaran tersebut merupakan kegiatan yang ramah keluarga, sehingga kehadiran ibu berbareng anak sebenarnya tidak dianggap sebagai perihal yang aneh. Ettienne juga menyampaikan bahwa anak tetap bisa merasa kondusif dan terhubung dengan ibunya meskipun berada di ruang publik yang ramai.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


"Saya belum pernah keluar sejak melahirkan. Ini adalah pagelaran pribadi, hanya untuk undangan. Kebanyakan orang saling mengenal," ucapnya.

Pada suatu momen selama festival, Ettienne menggendong putrinya sembari menari mengikuti musik di tenda dansa. Ia mengatakan bahwa Aaliyana tiba-tiba menunduk dan menyusu, yang sering dia lakukan. Bayi berumur 16 bulan itu mulai menyusu sementara Ettienne terus menari. 

"Kemudian, kami menari sembari dia menyusu, dan dia tertawa serta tersenyum padaku," kata sang ibu, menambahkan bahwa tidak ada seorang pun di tenda yang tampak keberatan dengan kegiatan menyusui tersebut.

"Tidak ada yang asing dari siapa pun. Semua orang di sana betul-betul normal dan tidak mempermasalahkan seorang ibu yang menyusui," tambahnya.

Teman Ettienne merekam momen manis antara ibu dan anak tersebut, dan Ettienne memutuskan untuk membagikan video tersebut di TikTok, yang dengan sigap mendapatkan lebih dari 700.000 penayangan.

Sayangnya, video yang diunggah ke TikTok itu menyebar luas dan memicu perdebatan. Sebagian warganet menilai momen tersebut sebagai perihal yang wajar dan penuh kasih sayang antara ibu dan anak.

Namun, tidak sedikit pula yang memberikan kritik, dengan argumen menyusui di ruang publik terutama di kegiatan besar seperti pagelaran musik dianggap tidak layak oleh sebagian orang.

Stigma negatif netizen

Namun kemudian muncul komentar negatif. Ettienne mengatakan dia 'terkejut' dengan kritik tersebut.

"Tidak layak ya," tulis seseorang. "Hentikan waktu, itu salah," ucap lainnya.

Ettienne mengatakan, dia merasa jengkel dengan beberapa di antaranya. Menurutnya orang-orang mengatakan mereka merasa tidak nyaman menontonnya sangat menyedihkan.

Ettienne pun menuturkan pendapat bahwa menyusui dan menjadi ibu bukan berfaedah hidupnya kudu berakhir mempunyai kegemaran dan bersenang-senang. Menurutnya anak-anaknya mendapat faedah dari memandang orang tua mereka senang dan terpenuhi. Ettienne mengatakan dia juga menerima kecaman lantaran membawa Aaliyana ke pagelaran musik tersebut.

Ettienne juga mengatakan bahwa dia tidak berpikir orang-orang semestinya menilai keahlian seseorang untuk menjadi orang tua, terutama berasas klip yang begitu singkat.

Di tengah kritik, ibu asal Inggris ini juga menerima banyak komentar support dari orang-orang yang mendesaknya untuk mengabaikan hal-hal negatif.

Seseorang menyemangatinya, menulis, "Semangat, Bu." 

Yang lain berkomentar, "Selalu ada yang bilang 'jangan kehilangan jati diri dalam menjadi ibu' sampai Anda betul-betul menjalani hidupmu. Jangan dengarkan komentar-komentar ini, Nak, Anda melakukan perihal yang luar biasa."

Menyusui di ruang publik: Antara kewenangan dan stigma sosial

Secara medis dan kesehatan, menyusui merupakan kebutuhan dasar bayi yang tidak terikat tempat maupun waktu. Organisasi kesehatan dunia seperti WHO apalagi merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga usia 2 tahun alias lebih dengan makanan pendamping.

Artinya, ibu menyusui memang tetap kudu bisa memenuhi kebutuhan anaknya kapan pun dibutuhkan, termasuk saat berada di luar rumah. Namun dalam praktiknya, tetap ada perbedaan pandangan di masyarakat mengenai 'kepantasan' menyusui di ruang publik.

Di banyak negara, termasuk Indonesia, menyusui di tempat umum sebenarnya tidak dilarang dan semakin mendapat support melalui ruang laktasi di akomodasi publik. Meski begitu, stigma sosial kadang tetap membikin sebagian ibu merasa tidak nyaman alias mendapat penilaian negatif.

Diskusi yang terus berulang

Kasus viral seperti ini menunjukkan bahwa rumor menyusui di ruang publik tetap menjadi perdebatan yang belum selesai. Di satu sisi, ada kebutuhan biologis bayi yang tidak bisa ditunda. Di sisi lain, ada norma sosial yang berbeda-beda di tiap lingkungan.

Pada akhirnya, banyak mahir kesehatan menekankan bahwa yang terpenting adalah kenyamanan ibu dan bayi. Dukungan lingkungan sekitar justru berkedudukan besar agar proses menyusui bisa melangkah tanpa rasa takut alias tekanan sosial.

Fenomena ini kembali mengingatkan bahwa menyusui bukan hanya urusan pribadi ibu, tetapi juga bagian dari support sosial yang lebih luas terhadap tumbuh kembang anak.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya