"Cantik" In This Era

Insight Inspirasi dan Hiburan Jan 05, 2026 05:00 PM 138

Cantik dan keelokan tidak pernah bisa dilepaskan dari bumi perempuan. Kata tersebut selalu menjadi parameter untuk mengukur perempuan. Namun seiring perubahan zaman, pola pikir pun kian berkembang dan bergeser dalam mendefinisikan kecantikan mereka.

Cantik Pada Mulanya

Sumur dapur dan Kasur. 3 kata untuk melabeli tugas utama wanita di mana tanggungjawab utamanya adalah mengurus rumah tangga. Label yang sangat erat dilekatkan pada perempuan, terutama Masa Kolonial Belanda (±1600-1942). Periode ketika wanita Indonesia paling dibatasi. Zaman itu, wanita mendapat akses yang susah dalam perihal pendidikan dan pekerjaan.

Perempuan ditempatkan hanya di ranah domestik: dapur, sumur, kasur. Perempuan dianggap tidak perlu sekolah, lantaran "ujung-ujungnya jadi istri", serta tidak diberi kewenangan untuk memilih pasangan dan menentukan hidup apalagi akses pekerjaan formal. Jarang ada wanita yang mempunyai mimpi yang besar.
Beberapa memilih mengubur mimpinya lantaran terhalang beragam macam hal. Mimpi itu sudah tertutup apalagi jauh sebelum dia sempat tumbuh. Sistem sosial seperti patriarki yang kental turut mempelopori kesenjangan yang terjadi, ketika laki-laki dianggap lebih superior dibanding wanita sehingga lebih diutamakan.

Perempuan dulunya tidak dididik untuk mendapat pekerjaan dan pendidikan. 'Cantik' kala itu adalah mereka yang sukses dipersiapkan untuk mengurus rumah, melayani suami, dan membesarkan anak. Dalam mengubah stigma itu, wanita kudu berjuang keras demi dipandang sejajar dan setara dengan laki-laki terutama dalam perihal pekerjaan dan pendidikan.

Hal ini jelas tergambar dalam beberapa sejarah tokoh-tokoh wanita dengan kisahnya memihak hak-hak wanita seperti R.A.Kartini (Jawa), Dewi Sartika (Jawa Barat), sampai Maria Walanda Maramis (Sulawesi Utara) dan tetap banyak nama lainnya. Perjuangan hak-hak wanita tersebut kian memperlihatkan hasil yang nyata di masa kini.

.Ilustrasi wanita terpelajar/ Foto: Istock

Cantik in New Era, Perubahan Kesempatan dan Ruang untuk Berkembang

Era berkembang dan era semakin berevolusi, begitu juga pola pikir yang bertumbuh. Mindset patriarki sekarang berangsur ditinggalkan dalam beberapa aspek. Dimulai dari profesional, akademisi, sampai politik, wanita dapat bersaing untuk menunjukkan kompetensinya. Masa kini, terdapat lebih banyak lapangan kerja yang tidak memerlukan spesifikasi kelamin unik seperti pekerjaan virtual-yang bisa dikerjakan dimana saja, dengan beragam bagian dimulai dari science sampai beauty.

Ada banyak pekerjaan yang apalagi seorang ibu sekalipun dapat mengerjakannya dari rumah sembari mengurus anak, namalain tanpa mengganggu peran utamanya sebagai ibu rumah tangga. Akses pendidikan juga semakin terbuka lebar. Dahulu, wanita mudah dibatasi lantaran kurangnya pengetahuan dan terbatasnya akses yang dimiliki. Kini banyak danasiwa kuliah maupun sekolah bagi siapa saja yang mau menggapainya. Peluang ini memberi rasa percaya diri yang kuat bagi perempuan.

Perempuan dapat berpikir lebih kritis serta menunjukkan perannya dalam mengedukasi serta mengkritik. Dengan akses pendidikan yang meledak ditambah percepatan teknologi dan media sosial yang luas, semakin besar panggung yang tersedia bagi sesama wanita untuk bisa bersuara, menginspirasi perempuan lainnya, dan membangun identitas sendiri tanpa kudu terus-menerus berada dalam bayang-bayang pria.

Media sosial memberi wanita ruang untuk berkarya, membangun gambaran diri, menghasilkan uang, dan menyampaikan pendapat dari perspektif pandang perempuan.

.Ilustrasi wanita maju./ Foto: Istock

Pendewasaan Pola Pikir Perempuan

Alicia Eva, seorang influencer yang kerap memberikan motivasi yang menampar sekaligus bukti nyata dari konsistensi dalam konten-kontennya. Dimulai dari hal-hal mini untuk memberi tantangan terhadap dirinya sendiri berkembang menjadi beragam buahpikiran dan projek-projek besar.

Alicia Eva kerap melakukan beragam kegiatan positif dimulai dari mengajar anak-anak pedalaman papua dengan yayasan yang dia bangun berjulukan Jiwa Emas Foundation, sampai membikin event pagelaran yang dinamai Her Era. Eva bercerita bahwa dia bukan berasal dari family dengan ekonomi tinggi.

Ia dulunya juga sudah berdagang sedari bangku sekolah, apalagi Eva merintis upaya perhiasan yang sekarang dinamakan Soul of Gold. Eva menjadi icon bahwa wanita bisa untuk berkekuatan apalagi sedari usia muda. Ia konsisten, berani mulai dari kecil, dan apalagi memulai sesuatu tanpa kudu menunggu kondisi ideal.

Salah satu pemimpin wanita Indonesia yang saat ini tengah menjadi sorotan publik ialah Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda yang dapat diikuti pada akun Instagramnya: s_tjo. Beliau memimpin Maluku Utara serta menjadi ibu tunggal untuk ketiga anak-anaknya. Sebuah quote yang diambil dalam salah satu wawancara beliau mengatakan 'Perempuan sering kali merasa tidak cukup mampu, padahal sebenarnya mereka mempunyai banyak kelebihan yang bisa dikembangkan'. Maka dari itu, dia menekankan pentingnya memusatkan daya pada kekuatan yang dimiliki.

Kita dapat mengawasi pergeseran pola dari era dulu dan sampai sekarang. Perempuan sekarang sudah jauh berkembang. Kesetaraan kelamin banyak disuarakan, dan kepercayaan terhadap wanita untuk memimpin kian meningkat. Pemimpin perempuan, influencer perempuan, dan pekerjaan-pekerjaan lainnya yang seakan membuka kesempatan besar untuk para wanita bisa memberdayakan diri.

"Cantik" sekarang tidak lagi hanya sekedar paras ataupun penampilan, namun juga berfaedah kompeten dan berakibat bagi sesama. Banyak influencer yang tidak lagi hanya mengagungkan kecantikan namun juga mendorong wanita untuk bisa memberdayakan diri, meningkatkan skill, dan punya pemasukan mandiri, terlepas dari latar belakang apapun yang dimiliki orang tersebut.

Sayangnya, pola pikir ini belum menyebar ke seluruh wanita Indonesia. Di beberapa kota sekalipun tetap banyak para anak-anak muda yang memutuskan untuk tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi setelah lulus SMA. Mereka memilih antara langsung bekerja alias membantu orangtua di rumah. Kita juga tidak bisa menutup mata dengan tetap banyaknya kejadian putus sekolah, menikah dini, alias wanita yang merasa "tidak perlu bermimpi besar" di Indonesia.

Perjuangan untuk mengedukasi para wanita Indonesia agar bisa berkekuatan dan mempunyai mimpi yang tinggi tetap kudu lebih digaungkan lagi, sehingga harapannya tidak ada lagi wanita yang berpikir bahwa kelamin bakal membatasi fleksibilitasnya, tidak ada yang tetap mempunyai pemikiran bahwa wanita hanya sebatas didalam rumah. Perempuan juga mempunyai daya juang yang sama hebatnya seperti para lelaki.

.Definisi Cantik/ Foto: Istock

Definisi 'Cantik' Hari Ini

Cantik adalah keberanian. Berani mengambil keputusan hidup sendiri, dan berani menolak standar lama. Cantik sekarang bukan lagi tentang meniru, mengikuti standar masyarakat, ataupun standar sosial media melainkan tentang menjadi diri sendiri, menunjukkan sisi paling otentik dalam diri dan menjadi sisi paling jujur dalam diri sendiri.

Caranya dengan konsentrasi ke pengembangan diri (skill, wawasan, mental). Seperti motto yang banyak digaungkan; brain, beauty, behavior. Rawat diri lantaran menyayangi diri dan berterima kasih pada hidup, bukan lantaran tuntutan. Bangun individual value & tetapkan boundaries dari hal-hal yang bertentangan dengan value. Terakhir, temukanlah tujuan hidup dan passionmu sendiri.

Cantik di era ini adalah kebebasan untuk memilih jalan hidup sendiri. Bukan hanya soal wajah, tapi soal value, karakter, dan kontribusi. Mari redefinisi cantik-untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain.

Penulis: Tiara Lovita Ginting
Editor: Dian Rosalina

*Segala pandangan dan opini yang disampaikan dalam tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis dan tidak mencerminkan pandangan resmi lembaga alias pihak media online.*

(ktr/DIR)
Tags
#cxomedia #kontributorcxomedia #cantik #perempuan #kesetaraan gender #empowerment #kecantikan modern #identitas perempuan #cover story #cbtrendingoncxomedia #trendingcxo
Selengkapnya