Dongeng alias cerita fabel adalah cerita pendek yang bermaksud untuk mengajarkan pelajaran hidup alias moral yang berharga. Biasanya ditulis untuk anak-anak, fabel sangat pendek dan menggunakan bahasa yang sederhana dan lugas. Fabel juga mempunyai hewan alias tumbuhan sebagai karakter utama yang bertindak seperti manusia, seperti berbicara.
Menceritakan fabel pada anak-anak rupanya memberi faedah bagi mereka. Juga, ada argumen kenapa sebagian besar anak pasti menyukai cerita bertema hewan.
Mengutip laman Storytime Magazine, anak-anak menyukai cerita fabel lantaran hewan dalam cerita bebas untuk bersikap bodoh, lucu, sombong, nakal, baik hati, egois, dan liar dan anak-anak dapat mengawasi dan menikmati semua itu dari jarak yang nyaman.
Namun, jika karakter yang sama digambarkan sebagai anak-anak, tentu muncul lah komparasi antara pembaca dan subjek menjadi jauh lebih jelas, dan itu tidak membikin referensi menjadi lebih santai. Alhasil anak bisa merasa dibandingkan. Inilah salah satu perihal yang menonjol tentang fabel untuk anak-anak.
Fabel umumnya pendek dan mudah dibaca. Sebagian besar hanya memerlukan beberapa menit untuk diceritakan. Dengan pesan mini yang rapi di setiap cerita, fabel merupakan pengantar yang ramah dan seringkali kocak untuk membahas moral dengan anak-anak.
Kali ini, ada dongeng semut dan belalang dari Kampung Dongeng Tangsel, serta cerita fabel lainnya yang bisa Bunda bacakan pada anak. Simak ceritanya berikut ini!
Cerita dongeng Semut dan Belalang
Suatu hari, hiduplah pasukan semut merah yang terkenal dengan kekompakan dan kekuatannya. Mereka selalu melangkah bersama-sama, mencari makanan, dan melindungi daerah mereka, ialah sebuah padang rumput, dengan ketat.
Semut Riko, sang pemimpin pasukan semut tersebut dikenal sebagai semut yang gagah. Tapi, tak jarang dia merasa bahwa kehebatannya kudu ditunjukkan kepada penunggu rimba lain.
Suatu ketika, pasukan semut merah memandang Belalang Sembah, berjulukan Bimo. Belalang sembah itu sedang duduk sendirian di bawah pohon dengan tenteram dan menikmati sinar matahari. Bimo adalah makhluk yang pendiam dan lebih suka menyendiri.
Dia tidak pernah mengganggu siapa pun dan selalu bersikap baik. Namun, bagi Semut Riko dan pasukannya, ketenangan Bimo justru membikin mereka penasaran. Mereka menganggap Bimo mungkin merasa dirinya lebih baik dan lebih tenang daripada mereka.
"Ayo, kita ajak belalang itu bertarung!" seru Semut Riko kepada pasukannya.
"Kenapa kita kudu menantangnya? Dia kan tidak mengganggu kita," kata salah satu semut lain, Semut Diki.
"Justru lantaran dia tidak pernah mengganggu, kita kudu pastikan dia tahu siapa yang berkuasa di sini!" balas Semut Riko yang tanpa berpikir panjang, mendekati Bimo dengan langkah angkuh.
"Hai, Belalang Sembah! Kau terlihat malas dan tenang sekali! Apa kau merasa lebih dahsyat dari kami?" seru Semut Riko.
Bimo mengangkat kepalanya dan tersenyum sopan. "Oh, tentu tidak, teman-teman. Aku hanya menikmati matahari. Aku tak punya masalah dengan kalian," jawabnya tenang.
Namun, Semut Riko merasa jawaban itu tak memuaskan. "Jangan berpura-pura! Kau pasti takut melawan kami! Ayo, bertarung!".
Bimo terdiam, bingung kudu melakukan apa. Dia tidak mau masalah dan sama sekali tidak tertarik untuk bertarung. Melihat Bimo yang diam, pasukan semut mulai mengelilinginya dan mengeluarkan kata-kata mengejek.
Tiba-tiba, seekor burung elang besar melintas di atas mereka. Dalam sekejap, elang itu melirik rombongan semut yang berdompol dan mengincar mereka sebagai mangsa. Elang itu menyambar dengan sigap beberapa semut yang berada di dekatnya. Beruntung, Semut Riko sukses melarikan diri.
Melihat itu, Bimo segera membantu beberapa semut yang terjatuh dan terluka, membimbing mereka untuk pergi jauh dari bahaya. Setelah elang pergi, sisa pasukan semut yang selamat berterima kasih kepada Bimo. Semut Riko pun merasa malu atas tindakannya dan menyadari bahwa keberanian tidak selalu kudu diukur dengan kekuatan.
Sejak hari itu, pasukan semut merah tidak pernah lagi merundung makhluk lain dan belajar menghargai kedamaian seperti yang telah ditunjukkan oleh belalang sembah.
Pesan moral cerita dongeng Semut dan Belalang
Seperti peribahasa, “Siapa menabur angin, bakal menuai badai.” Artinya, siapa pun yang memulai perbuatan jelek alias memancing masalah, pada akhirnya bakal menerima akibat yang lebih besar dan merugikan dirinya sendiri.
Mencari-cari masalah pada seseorang yang tak bersalah adalah perihal yang jelek untuk dilakukan. Selain itu, jangan lah bersikap sombong lantaran merasa paling kuat alias pintar. Itulah pesan moral cerita dongeng semut dan belalang.
5 Cerita fabel pengantar tidur lainnya selain dongeng Semut dan Belalang
Cerita fabel bisa dijadikan dongeng pengantar tidur yang baik untuk anak. Simak cerita fabel pengantar tidur lainnya selain dongeng Semut dan Belalang berikut ini!
1. Undur-undur Kecil yang Berharga
Bunda tahu hewan undur-undur? Binatang mini itu adalah serangga. Ada cerita fabel menarik tentang undur-undur dari Rumah Dongeng Tangsel berikut ini.
Seekor undur-undur mini berjulukan Duri hidup di sebuah taman yang kering dan berpasir. Setiap hari, Duri menggali lubang perangkap dan menunggu mangsa serangga mini untuk menjaga kebersihan taman. Tapi sayangnya, semua makhluk di taman selalu menghindarinya.
"Ewww, jangan dekat-dekat! Itu undur-undur, serangga menjijikkan!" kata seekor kupu-kupu.
"Dia suka sembunyi di pasir, pasti kotor!" tambah seekor semut dengan ekspresi wajah jijik.
Duri pun merasa sedih. Ia mulai menyendiri dan tak lagi membikin lubang-lubang seperti biasanya. "Mungkin saya memang tidak berguna...," gumamnya pelan.
Suatu ketika, datanglah segerombolan semut merah bandel yang menyerbu taman. Mereka merusak sarang semut lain, mengganggu ulat kecil, apalagi mengotori bunga-bunga.
Semua hewan panik. Tak ada yang bisa menghentikan mereka sampai Duri melihatnya dari kejauhan.
"Aku kudu melakukan sesuatu," kata Duri.
Dengan cepat, Duri menggali lubang-lubang jebakan di tempat yang dilalui semut merah. Satu per satu, semut merah terperangkap. Mereka ketakutan dan akhirnya kabur meninggalkan taman.
Makhluk-makhluk taman pun bersorak. "Horeee! Siapa yang menolong kita?" tanya mereka.
"Itu Duri si undur-undur!", jawab seekor ulat.
"Aku hanya melakukan apa yang biasa ku lakukan...," tutur Duri malu-malu.
Seekor kupu-kupu mendekat dan berkata, "Maaf ya, Duri. Kami salah menilaimu. Ternyata Anda sangat hebat!".
Sejak hari itu, Duri tidak lagi minder. Ia bangga menjadi dirinya sendiri, lantaran dia tahu, sekecil apa pun makhluk, pasti punya peran dan faedah di bumi ini.
Pesan moral: Jangan menilai seseorang dari penampilannya saja, namun dari kebaikan dan ketulusan hatinya.
2. Cerita Beruang dan Lebah
Semua orang tahu bahwa beruang madu menyukai madu. Suatu hari, Tuan Beruang memandang ke dalam lemarinya dan tidak menemukan madu.
Beruang itu memandang ke dalam lemari.
"Oh tidak! Tidak ada madu!" katanya. Jadi dia pergi ke rimba untuk mencarinya.
Dia memandang sarang lebah di pohon. Dia mencium aroma madu. "Mmmmm! Madu!"
Dia memasukkan cakarnya ke dalam sarang lebah dan….ZZZZZZZZZ! Seekor lebah terbang keluar.
“Hei, beruang! Pergi!” kata lebah itu. "Ini bukan madumu!"
Beruang dengan cakarnya di dalam sarang, dan seekor lebah tampak marah.
Tuan Beruang kesal.
“Aku lebih besar darimu,” katanya. “Dan saya juga lebih kuat darimu. Aku bisa melakukan apa pun yang saya mau! Sekarang… pergilah!”
Tuan Beruang memasukkan cakarnya ke dalam sarang lebah lagi dan….ZZZZZZZZZ! ZING!
Aduh! Lebah itu menyengatnya tepat di hidungnya!
Beruang memegang hidungnya yang tersengat.
“Hidungku! Hidungku! Oooh... Aku sangat marah!” geram Tuan Beruang.
Ia menemukan tongkat besar. Ia mencoba memukul lebah itu. Ia mengayunkan tongkatnya berulang kali, tetapi lebah itu terlalu cepat! Tuan Beruang semakin marah.
Beruang dengan tongkat besar, tampak marah. “GARRRRRGHGHGH! AKU AKAN MENGHANCURKANMU! KEMARI!”
Lebah itu terbang kembali ke sarang lebah.
“AH HAH! Sekarang kau terjebak!” teriak Tuan Beruang.
Ia mengayunkan tongkatnya ke sarang lebah. Hancur! Hancur! Hancur! Ia menghancurkannya berkeping-keping!
Sarang lebah yang hancur. Kemudian dia mendengar bunyi aneh. Suaranya semakin keras.
ZZZZ! ZZZZ! ZZZ! Zzzz! ZZZZZZZZZZ! Zzzz! ZZZZ!
Ribuan lebah terbang keluar dari sarang lebah yang hancur.
Lebah-lebah muncul dari sarang yang rusak
Mereka terbang di sekitar kepala Tuan Beruang…
ZZZZZZZZZ… ZING! Mereka menyengat telinganya.
ZING ZING! Mereka menyengat sikunya.
Mereka mengejar Tuan Beruang melalui hutan. Mereka menyengat lengannya, kakinya, tangannya, dan terutama hidungnya.
ZING! ZING! ZING!
Lebah-lebah mengejar beruang
Tuan Beruang berlari pulang dan membanting pintu hingga tertutup. BAM!
Lalu dia mendengar bunyi di belakangnya.
Itu Nyonya Beruang.
“Kau melakukannya lagi, kan?” katanya. “Kau kehilangan kesabaran.”
“Ya,” katanya sembari menangis dan menghitung sengatan lebahnya.
“Ini obat sengatan lebahnya,” kata Nyonya Beruang. “Selain itu, kita punya madu di lemari. Letaknya di belakang tepung.”
Nyonya Beruang memegang tabung salep dan menunjuk ke lemari dengan ekspresi frustrasi di wajahnya.
Pesan moral: Sifat pemarah selalu mendatangkan masalah.
3. Petualangan Cacing Mungil
Cici, seekor cacing mungil tinggal di bawah tanah yang lembut, di antara akar-akar pohon dan batu kecil. Tubuhnya lentur, berwarna merah muda, dan dia selalu penasaran dengan bumi di sekelilingnya.
Cici punya banyak teman. Ada Tutu si Semut, Koko si Kepik, dan Mimi si Siput. Setiap hari mereka bermain petak umpet di bawah daun kering dan membikin terowongan mini untuk balapan.
Suatu hari, Cici membujuk teman-temannya untuk bertualang ke atas tanah. Ia mau tahu seperti apa bumi di atas tanah. utu dan Koko langsung semangat.
Namun, Mimi si Siput ragu. "Di atas itu... terang sekali. Dan banyak burung!" katanya sembari gemetaran.
Cici hanya tersenyum. "Tenang saja, kita bakal saling jaga. Dan siapa tahu, kita menemukan sesuatu yang menakjubkan!".
Akhirnya, mereka semua setuju dan mulai menggali jalan naik ke permukaan. Lalu, saat mereka muncul dari tanah, mereka terkejut!
Langit biru membentang, angin berdesir sejuk, dan bunga-bunga warna-warni menari-nari di bawah sinar matahari. Dunia atas tanah rupanya sangat indah!
Petualangan Cici dan kawan-kawan tak berakhir di situ. Saat mereka bermain di atas daun teratai, tiba-tiba... WUSS! Seekor burung besar terbang rendah!
"Semua tiarap!" teriak Cici.
Mereka cepat-cepat berlindung di kembali batu kecil. Jantung mereka berdebar kencang. Tapi mereka selamat!
"Wah, itu menegangkan!" kata Koko. "Tapi seru juga!"
Kemudian, mereka menemukan genangan air mini seperti kolam mini. Di sana, mereka bisa memandang gambaran diri mereka, dan Tutu si Semut apalagi belajar meluncur di atas daun. Asyik sekali!
Saat mentari mulai turun, mereka semua sepakat untuk kembali ke rumah bawah tanah.
"Petualangan hari ini luar biasa," kata Mimi si Siput. "Ternyata, saat kita saling menjaga, kita bisa menghadapi apa pun."
Cici pun tersenyum bangga. Cici bukan hanya cacing mini biasa-ia pemimpin petualangan yang berani dan penuh rasa mau tahu. Sejak hari itu, setiap akhir pekan, Cici dan teman-temannya punya agenda tetap: Hari Petualangan!
Pesan moral: Jangan pernah takut mencoba, jika terjadi masalah hadapi bersama.
4. Singa yang Ketakutan
Suatu malam, Singa bersiap tidur. Ia membaca cerita pengantar tidur favoritnya dan menyanyikan lagu pengantar tidur favoritnya. Ia menyalakan lampu tidurnya. Kemudian, dia mendengar bunyi ketukan dari jendela.
Tuk! Tuk!
"Suara apa itu?" bisiknya.
Tuk! Tuk!
"Suara itu… berasal dari luar jendela!"
Ia turun dari tempat tidur. Ia mengambil tongkat baseball dan berjinjit menuju jendela.
Tuk! Tuk! TUK!
"Itu monster!" pikirnya. Ia mengambil helm sepedanya dan memakainya untuk perlindungan. Ia mendengar bunyi itu lagi.
Tuk tuk tuk tuk!
Singa panik. "Monster itu semakin dekat! Kedengarannya seperti monster terbesar dan paling menakutkan yang pernah ada!"
Tuk tuk tuk tuk!
TUK! TUK! TUK!
TUK! TUK! TUK!
"Hiii!" Singa menjerit. Ia lari dari jendela dan berlindung di bawah tempat tidur. Ia menarik selimut menutupi kepalanya. Ia memegang erat tongkat bisbolnya, dan….
Tuk tuk!
Seekor katak mini melompat ke periode jendela. Katak itu mengenakan tutu dan sepatu tap. Ia menari sedikit. Tuk tuk tuk tuk!
"Halo Singa! Apakah kau di dalam?" kata katak itu.
Ia memandang ke luar jendela dan memandang Singa berlindung di bawah tempat tidur. Singa terbungkus selimut… mengenakan helm sepeda… dan memegang tongkat bisbol. Ia terlihat konyol.
(Dan jujur saja, dia juga merasa konyol.)
"Ummm… saya punya beberapa aktivitas tari baru untuk ditunjukkan padamu," kata katak itu. "Tapi kau terlihat sibuk. Aku bakal kembali nanti. Sampai jumpa!"
Katak itu melompat ke tanah dan menari dengan gembira.
Tuk tuk tuk tuk!
Pesan moral: Terkadang khayalan kita membikin sesuatu tampak lebih menakutkan daripada kenyataannya.
5. Cerita Anak Kucing yang Berani
Jika kita jumpai di kehidupan nyata, anak kucing seringkali takut dengan keberadaan manusia. Namun, di cerita fabel kali ini, ada anak kucing yang berani. Seperti apa kisahnya? Simak dongeng pengantar tidur dari Kampung Dongeng Tangsel berikut ini!
Lala adalah anak kucing mini yang tinggal berbareng induknya di sebuah rumah kayu dekat taman. Setiap hari, Lala bermain, makan, dan tidur di pangkuan sang induk.
Namun suatu hari, saat mereka bermain petak umpet, Lala kehilangan jejak ibunya. "Bunda?" panggil Lala. "Bunda, saya di sini..."
Tapi tidak ada jawaban. Lala mulai panik. Ia melangkah ke luar halaman, mencari di kembali semak-semak dan di bawah ayunan, tapi induknya itu tidak ada.
Lala duduk di bawah pohon, menahan tangis. Tapi lampau dia ingat kata-kata induknya, "Kalau Anda takut, tarik napas... dan coba pelan-pelan cari jalan keluar."
Jadi Lala berdiri lagi. Ia memandang taman di depannya. Ia belum pernah pergi sejauh itu sendiri. Tapi dia tahu, dia kudu berani.
Pertama, dia berjumpa anjing mini yang sedang makan biskuit. "Boleh saya tanya? Kamu lihat ibuku?" tanya Lala.
Anjing mini menggeleng, tapi dia meminta Lala untuk bertanya pada kelinci yang berada di dekat ayunan. Lala pun melangkah ke ayunan, dan berjumpa kelinci putih yang sedang membaca buku.
"Kamu lihat kucing besar?" tanya Lala.
"Aku lihat dia pergi ke arah warung. Mungkin dia mencarimu juga," jawab kelinci sembari tersenyum.
Lala pun berterima kasih dan lanjut mencari induknya. Tapi perutnya mulai lapar. Ia memandang roti jatuh di bawah bangku. Ia mau memakannya, tapi dia ingat ibundanya selalu bilang, "Kalau mau makan, pastikan itu bersih."
Jadi Lala tidak menyantap roti itu. Ia hanya minum air dari keran taman dan terus berjalan.
Akhirnya, di dekat warung, Lala mendengar bunyi yang sangat dia kenal.
"Lalaaa! Di mana kamu?"
"Bundaaa!!" Lala berlari secepat mungkin.
Induknya langsung memeluknya erat. "Bunda sangat khawatir. Maaf Bunda sempat lenyap tadi. Tapi Anda hebat, Nak. Kamu tidak menyerah."
Lala tersenyum kecil. "Aku takut, Bunda. Tapi saya ingat kata Bunda. Jadi saya coba berani."
Sejak saat itu, Lala tahu bahwa kadang-kadang, kita bisa merasa sendiri dan takut. Tapi jika kita tenang, minta bantuan, dan tetap berusaha... kita bisa menemukan jalan pulang.
Pesan moral: Tetap tenang meski kadang diri ini merasa takut saat menghadapi masalah. Tidak perlu sungkan untuk meminta support agar bisa menemukan solusinya.
Menarik ya, Bunda, beragam cerita dongeng fabel di atas yang kaya pesan moral dan bagus diceritakan pada Si Kecil. Semoga dengan membacakan dongeng ini semakin menguatkan bonding ibu dan Si Kecil.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·