Fenomena Operasi Caesar Di Korsel: Saat Ibu Tak Mau Ambil Risiko Dan Dokter Terbebani

Jun 26, 2026 04:40 PM - 1 hari yang lalu 1545

Jakarta -

Para ibu di beragam negara sepertinya makin sering memilih operasi caesar. Bahkan di Korea Selatan (Korsel), kejadian ini menjadi sorotan. Ini lantaran tidak sedikit ibu yang memilih operasi caesar meski tidak berada dalam kondisi darurat. 

Keputusan tersebut umumnya didorong oleh kemauan untuk menghindari akibat dan ketidakpastian selama persalinan. Mulai dari rasa takut terhadap nyeri kontraksi hingga kekhawatiran kudu menjalani operasi caesar darurat setelah melalui proses persalinan yang panjang.

Dahulu, operasi caesar lebih banyak dilakukan lantaran argumen medis. Namun, sekarang perlahan operasi caesar menjadi bagian dari budaya persalinan yang berorientasi pada pengelolaan risiko. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Meski para ibu merasa lebih aman, para mahir mengingatkan bahwa persalinan normal tetap menjadi pilihan terbaik jika kondisi ibu dan bayi memungkinkan. Operasi caesar juga mempunyai akibat komplikasi dan biaya kesehatan jangka panjang yang perlu dipertimbangkan.

Sebenarnya apa yang membikin operasi caesar seakan menjadi tren?

Angka operasi caesar di Korea Selatan melonjak tajam

Berdasarkan informasi dari Layanan Asuransi Kesehatan Nasional, pada 2024 dari 236.919 bayi yang lahir di Korea Selatan, sekitar 67 persennya dilakukan melalui operasi caesar. Angka ini meningkat dari 51 persen pada 2019.

Ini artinya, lebih dari separuh ibu melahirkan melalui prosedur operasi, bukan persalinan normal.

Meskipun tidak ada statistik resmi yang melacak berapa banyak operasi caesar yang dilakukan atas pilihan ibu daripada kebutuhan medis, tingkat operasi caesar Korsel secara keseluruhan menonjol secara internasional.

Data Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) untuk tahun 2022 menempatkan Korsel di ranking tertinggi di antara negara-negara anggota, dengan 610,6 operasi caesar per 1.000 kelahiran hidup. Ini lebih dari dua kali lipat rata-rata OECD ialah 292,5.

Operasi daripada persalinan normal

Dokter kandungan Lee Jae-il memandang sedikit kemungkinan penurunan operasi caesar di Korsel dalam waktu dekat. Ia mengatakan bahwa sikap wanita menghadapi persalinan telah berubah. 

"Satu dasawarsa lalu, nomor operasi caesar di Korea sekitar 40 persen. Sekarang, saya memperkirakan nomor itu bakal segera melampaui 70 persen. Di klinik, saya memandang lebih banyak wanita memilih operasi caesar berasas preferensi dan keadaan pribadi daripada kebutuhan medis,” katanya dalam sebuah wawancara telepon.

Kebanyakan ibu memilih agar persalinan menjadi proses yang direncanakan dan dikelola risikonya, bukan lagi peristiwa yang tidak dapat diprediksi.

Menurut para ahli, pergeseran tersebut dipengaruhi penurunan nomor kelahiran selama beberapa dekade. Di sisi lain, meningkatnya usia ibu saat mengandung juga membikin proporsi kehamilan berisiko tinggi semakin besar.

Pada saat yang sama, sistem perawatan kesehatan yang mudah diakses di negara ini membikin biaya operasi caesar kurang menjadi halangan finansial dibandingkan di negara lain.

Hong Hanna, yang melahirkan anak wanita pada tahun 2022 dan 2024 melalui operasi, mengakui bahwa keputusannya memilih operasi caesar lebih dipengaruhi preferensi pribadi daripada kebutuhan medis. 

"Saya merasa lebih nyaman mengetahui dengan pasti kapan saya bakal melahirkan dan bahwa master yang telah merawat saya selama kehamilan bakal ada di sana, tanpa kudu cemas tentang situasi yang tidak terduga, seperti tiba-tiba mengalami kontraksi alias ketuban pecah saat tanggal perkiraan lahir semakin dekat," kata Hong melansir The Korea Herald.

Para mahir mengatakan pilihan seperti Hong mencerminkan pergeseran yang lebih luas dalam lanskap persalinan di Korea Selatan.

Kenapa semakin banyak ibu memilih operasi caesar?

Ibu era sekarang memilih operasi caesar bukan lantaran argumen medis semata. Banyak ibu di Korsel melihat persalinan sebagai sesuatu yang perlu direncanakan seaman mungkin.

Lee menyebut salah satu alasannya, ialah meningkatnya usia ibu menjadi salah satu pendorong utama meningkatnya jumlah operasi caesar.

"Seiring bertambahnya usia ibu, wanita menjadi lebih rentan terhadap komplikasi mengenai kehamilan seperti preeklamsia dan glukosuria gestasional. Mereka juga lebih mungkin memerlukan perawatan kesuburan, yang meningkatkan kemungkinan kehamilan ganda. Faktor-faktor ini dapat membikin operasi caesar menjadi perlu secara medis," kata master tersebut.

Menurut laporan dari Badan Statistik Korea, rata-rata usia wanita Korsel saat melahirkan anak pertama termasuk yang tertinggi, ialah 32,8 tahun. Usia ini 3,3 tahun lebih tinggi dari rata-rata golongan tersebut jika dibandingkan 34 negara OECD yang disurvei pada tahun 2022. 

Selain usia, ada beberapa argumen lain yang muncul dari laporan dan wawancara. Mulai dari kemauan mengetahui secara pasti waktu persalinan, ketakutan terhadap nyeri kontraksi yang tidak terduga, pengalaman traumatis mengenai proses melahirkan, hingga kemudahan mengatur agenda family dan pekerjaan.

Fenomena meningkatnya operasi caesar di Korea Selatan bukan hanya soal pilihan perseorangan ibu, tapi juga gambaran perubahan besar dalam sistem kesehatan, budaya risiko, dan tekanan medis.

Operasi mungkin memberikan rasa kondusif dan kepastian. Namun, di sisi lain para mahir tetap memperingatkan risikonya. Meski demikian, operasi caesar tetap menjadi prosedur yang dapat menyelamatkan nyawa jika memang ada indikasi medis.

Karena itu, para mahir menekankan bahwa keputusan metode persalinan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi ibu dan janin, serta berasas pertimbangan master yang menangani kehamilan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya