Film Laut Bercerita: Makna Sejarah dan Pelajaran untuk Orang Tua

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 7 menit 62x dilihat
Film Laut Bercerita: Makna Sejarah dan Pelajaran untuk Orang Tua

Bagikan Postingan

Review sinema Laut Bercerita tanpa spoiler. Ini arti sejarah, empati, keluarga, dan pelajaran yang bisa direnungkan orang tua untuk diajarkan pada anak dari sinema adaptasi novel ini.

Ada sinema yang selesai ditonton, kemudian ceritanya ikut selesai. Namun, ada juga sinema yang justru meninggalkan banyak pertanyaan, perasaan, dan ingatan setelah kita keluar dari bioskop. Laut Bercerita termasuk salah satunya.

Diadaptasi dari novel populer karya Leila S. Chudori, sinema Laut Bercerita tayang di bioskop Indonesia mulai 29 Oktober 2026. Disutradarai oleh Yosep Anggi Noen, sinema drama berlatar sejarah ini membujuk pemirsa menyelami perjuangan para mahasiswa pada era 1990-an, persahabatan, keluarga, hingga penantian panjang orang-orang yang kehilangan sosok tercinta.

Bagi Mommies dan Daddies yang sudah membaca novelnya, adaptasi ini menjadi kesempatan untuk balik berjumpa dengan karakter-karakter yang mungkin sudah terasa dekat. Sementara bagi yang belum membaca bukunya, sinema ini statis bisa menjadi pintu masuk untuk mengenal salah satu babak sejarah Indonesia.

Film Laut Bercerita

Foto: Mommies Daily/Dhevita Wulandari. Press screening dan press conference film Laut Bercerita

Review Film Laut Bercerita: Bukan Sekadar Kisah tentang Kehilangan

Laut Bercerita berpusat pada Biru Laut, yang diperankan oleh Reza Rahadian, mahasiswa yang terlibat dalam himpunan bahasan Winatra dan pergerakan mahasiswa pada masa Orde Baru. Bersama teman-temannya, ia berupaya menyuarakan keadilan dan membela penduduk yang terpinggirkan, di tengah situasi politik yang penuh tekanan.

Tanpa membocorkan jalan ceritanya, sinema ini tidak cuma berbicara tentang keberanian mereka yang turun ke jalan. Ada sisi lain yang sama pentingnya, yaitu sepertiapa sebuah peristiwa memengaruhi keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mesti menjalani hidup dalam ketidakpastian menunggu berita dari orang-orang yang dihilangkan secara paksa.

Film ini juga membujuk kita memahami bahwa kehilangan tanpa kepastian bukanlah sesuatu yang gampang diselesaikan. Bagi famili yang ditinggalkan, pertanyaan yang tidak terjawab bisa terus membayangi hayat sehari-hari.

Karena mengadopsi kekerasan dan pengalaman traumatis, sinema ini mungkin terasa emosional bagi sebagian penonton. Jadi, Mommies dan Daddies bisa menyiapkan diri untuk menyaksikan cerita yang tidak selalu nyaman, tetapi krusial untuk direnungkan.

Perlu dicatat juga, sinema ini diklasifikasikan untuk pemirsa berumur 17 tahun ke atas oleh Lembaga Sensor Film.

BACA JUGA: Mengenal 10 Pahlawan Perempuan Indonesia dan Perjuangan Mereka

Apa yang Bisa Dipelajari dari Buku dan Film Laut Bercerita?

Setelah membaca dan menonton sinema ini, ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dan renungkan untuk kemudian menjadikan kita manusia yang lebih berani untuk bernada dalam bentuk apa pun.

1. Belajar Melihat Sejarah dari Sisi Manusia

Ketika belajar sejarah, kita sering fokus pada peristiwa besar dan tokoh-tokoh penting. Padahal, sejarah juga dibentuk oleh hayat orang-orang biasa yang terdampak oleh keputusan dan situasi politik pada zamannya.

Melalui Laut Bercerita, kita diajak melihat bahwa di balik perjuangan mahasiswa ada famili yang menunggu, sahabat yang kehilangan, dan orang-orang yang terus mencari jawaban.

Untuk Mommies dan Daddies, ini bisa menjadi pengingat bahwa mengenalkan sejarah kepada anak tidak mesti selalu dimulai dari hafalan. Kita bisa mulai dari cerita manusia, emosi mereka, dan karena kenapa suatu peristiwa krusial untuk diingat.

2. Empati Berarti Mau Mendengarkan, Bukan Buru-Buru Menghakimi

Kisah ini memperlihatkan bahwa setiap orang bisa mengalami ketakutan, kehilangan, dan ketidakpastian dengan metode yang berbeda.

Pelajaran ini juga relevan dalam pengasuhan. Saat anak bercerita tentang masalahnya, kita tidak mesti selalu buru-buru memberikan solusi. Terkadang, mereka cuma membutuhkan orang tua yang mau mendengarkan tanpa mengecilkan emosi mereka dan percaya pada hal benar yang mereka lakukan.

Film Laut Bercerita

Foto: Instagram/filmlautbercerita

3. Berani Bersuara dan Paham Risiko dari Tindakan

Salah satu tema krusial dalam Laut Bercerita adalah keberanian menyampaikan gagasan dan memperjuangkan sesuatu yang diyakini benar.

Di rumah, Mommies dan Daddies bisa menerapkan harga ini dengan memberikan ruang bagi anak untuk bertanya, berbeda pendapat, dan menyampaikan ketidaksetujuan secara sehat.

Anak, tidak cuma lelaki tetapi juga perempuan, perlu tahu bahwa mereka boleh memiliki pandangan sendiri. Pada saat yang sama, mereka juga perlu belajar menyampaikan gagasan dengan menghormati orang lain, memeriksa informasi, dan memahami akibat aksi mereka.

BACA JUGA: Ajarkan Anak Perempuan agar Berani Bersuara

4. Keluarga adalah Tempat untuk Saling Menguatkan

Selain perjuangan para aktivis, cerita ini juga menyentuh hubungan famili dan beratnya menghadapi kehilangan.

Kita diingatkan bahwa famili bukan cuma tempat berbagi berita bahagia, tetapi juga ruang untuk menghadapi masa-masa sulit bersama. Tidak semua masalah bisa langsung diselesaikan, tetapi kedatangan dan sokongan emosional dapat membantu seseorang merasa tidak sendirian.

Bagi orang tua, anak tidak selalu membutuhkan orang tua yang punya semua jawaban. Mereka juga membutuhkan orang tua yang bersedia hadir, mendengarkan, dan menemani.

5. Ingatan Penting agar Kita Tidak Melupakan Masa Lalu

Membaca buku sejarah maupun menonton sinema berlatar sejarah bukan sekadar menambah wawasan. Keduanya bisa membantu kita memahami kenapa kebebasan berpendapat, keadilan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia perlu dijaga.

Kita tidak mesti mengalami sebuah peristiwa secara langsung untuk belajar darinya. Mendengarkan kesaksian, membaca beragam sumber, dan berbincang secara terbuka bisa menjadi metode untuk menjaga ingatan berbareng sekaligus membangun kepedulian terhadap sesama.

Foto: Instagram/pal8pictures

6. Kebebasan Menulis, Membaca Buku, dan Berdiskusi Perlu Dijaga

Menulis, membaca buku, dan berbincang tentang pemerintah pada era itu menjadi hal yang sulit dan mesti dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Dari sini, kita diingatkan bahwa kebebasan untuk mencari informasi, membaca beragam perspektif pandang, dan menyampaikan gagasan bukanlah sesuatu yang boleh dianggap remeh, melainkan hal bermutu yang bisa kita dapatkan saat ini dari hasil pengorbanan dan perjuangan keluarga, sahabat, dan orang-orang pemberani terdahulu.

Bagi Mommies dan Daddies, harga ini juga bisa diterapkan di rumah dengan membiasakan anak membaca, bertanya, serta berbincang secara terbuka tanpa anak merasa takut langsung disalahkan.

7. Pentingnya Solidaritas, Terutama saat Orang Lain Membutuhkan Dukungan

Kisah Laut Bercerita juga mengingatkan kita bahwa perjuangan tidak selalu mesti dijalani sendirian. Kehadiran teman, sokongan keluarga, dan kepedulian orang-orang di sekitar bisa berarti besar ketika seseorang sedang menghadapi situasi yang sulit.

Dalam hayat sehari-hari, Mommies dan Daddies bisa mengenalkan arti solidaritas kepada anak melalui hal-hal sederhana. Misalnya, menemani kawan yang sedang sedih, tidak ikut mengejek orang lain, maupun berani membantu ketika melihat seseorang diperlakukan tidak adil.

Anak juga perlu belajar bahwa peduli bukan berarti mesti selalu menyelesaikan masalah orang lain. Terkadang, mendengarkan, menemani, dan mencari pertolongan dari orang dewasa yang tepercaya sudah menjadi bentuk sokongan yang berarti.

BACA JUGA: Kuis: Pahlawan Muda, Seberapa Jauh Kamu Memaknai Sumpah Pemuda?

Perlu Baca Novel Laut Bercerita Dulu Sebelum Menonton?

Foto: Gramedia

Menjadi hal yang paling banyak ditanyakan, sinema ini bisa dinikmati sebagai karya tersendiri, meskipun membaca novel terlebih dahulu dapat membantu Mommies memahami konteks dan kedalaman karakter dengan lebih utuh.

Novel memberikan ruang bagi pembaca untuk menyelami pikiran dan emosi figur melalui narasi. Sementara itu, sinema menghadirkan cerita melalui ekspresi, gambar, suasana, dan suara. Keduanya menawarkan pengalaman yang berbeda, sehingga tidak perlu dibandingkan semata-mata berdasarkan seberapa banyak bagiankecil cerita yang berhasil diadaptasi.

Kalau Mommies sudah membaca bukunya, menonton filmnya bisa menjadi kesempatan untuk melihat balik cerita dari perspektif pandang yang berbeda. Kalau belum, tidak ada salahnya menonton filmnya terlebih dahulu, kemudian membaca novel untuk menggali lebih dalam.

Satu hal yang perlu diingat, sinema ini ditujukan untuk pemirsa berumur 17 tahun ke atas. Jadi, meskipun memiliki banyak bahan bahasan tentang empati dan sejarah, itu tidak berarti filmnya otomatis cocok ditonton berbareng anak-anak.

Pada Akhirnya, Laut Bercerita Mengajak Kita untuk Tidak Berhenti Peduli

Salah satu pelajaran terpenting dari Laut Bercerita adalah bahwa mengingat bukan berarti terus hidup di masa lalu. Mengingat adalah metode untuk memahami apa yang pernah terjadi, menghargai mereka yang terdampak, dan belajar agar nilai-nilai kemanusiaan tidak gampang kita abaikan.

Mommies dan Daddies tidak mesti selalu mengubah setiap buku maupun sinema menjadi sesi belajar berbareng anak. Namun, ketika ada kesempatan, kita bisa membujuk mereka berbincang tentang keberanian, kehilangan, keadilan, dan sepertiapa memperlakukan orang lain dengan lebih manusiawi.

Sebab, pada akhirnya, pendidikan tidak cuma tentang membikin anak mengetahui lebih banyak hal, tetapi juga membantu mereka tumbuh menjadi manusia yang mau berpikir, berempati, dan peduli.

Laut Bercerita mengingatkan kita bahwa ada cerita-cerita yang perlu terus disampaikan dan dirawat dalam ingatan, bukan untuk membikin kita terjebak dalam kesedihan, melainkan agar kita tidak kehilangan rasa kemanusiaan.

Cover: Mommies Daily/Dhevita Wulandari
Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads