Hamil di Usia Lanjut Tahun Lewat IVF, Bunda Ini Sedih Kerap Dikira Nenek dari Putranya

Jun 21, 2026 12:30 PM - 1 bulan yang lalu 45923

Berhasil mendapatkan kehamilan di usia yang tak lagi muda memang membawa kebahagiaan tetapi di satu sisi menjadi beban tertentu jika terlalu jauh jarak usia anak dan orang tuanya. Seperti kisah mengandung di usia 53 tahun lewat IVF, Bunda ini sedih kerap dikira nenek dari putranya.

Bagi sebagian perempuan, mendapatkan kehamilan memang tak selalu mudah. Ada juga beberapa wanita yang memerlukan waktu lama untuk mendapatkan kehamilan mereka. Bahkan, dengan segenap upaya yang dilakukan pun, kehamilan tak jarang belum didapatkan. Sementara, usia senantiasa melangkah dan kehamilan yang didapatkan justru di usia senja. 

Hal inilah yang dialami seorang Bunda berjulukan Monica Kranner yang juga seorang mahir gizi yang berbasis di London. Ia saat ini mempunyai anak berumur 2.5 tahun ketika dirinya berumur 56 tahun dan suami berumur 60 tahun. Tentu saja bukan perihal mudah bagi mereka melewati pertanyaan dan sorotan dari orang-orang sekelilingnya mengenai keberadaan anaknya yang kerap dikira cucunya.


Kondisi tersebut telah dialaminya sejak dia mengandung lho, Bunda. Misalnya saja ketika dia ke master gigi, dan dia kudu menulis di blangko konsultasi bahwa dirinya sedang mengandung dan membikin resepsionis terkejut.

"Salah satu yang betul-betul menyakitkan adalah saat makan malam family di momen Natal. Ketika pelayan memuji kami lantaran menghabiskan waktu berbobot berbareng cucu kami,"ceritanya seperti dikutip dari laman Business Insider.

Ya, dugaan bahwa kakek nenek dari anaknya memang nyaris terjadi setiap kali mereka pergi keluar, Bun. Baik itu ke taman, toddler group, alias apalagi saat mereka berbelanja. 

Menghadapi perihal tersebut memang tak selalu menyenangkan ya, Bunda. Terkadang, pasangan tersebut bisa menghadapinya dengna tenang. Tetapi, di lain waktu bisa sangat menyakitkan bahwa orang-orang hanya membikin dugaan tanpa mengetahui faktanya bahwa mereka menunggu begitu lama untuk mempunyai anak.

Akhirnya kudu berbagi kisah menyakitkan dengan orang asing

Berbagi kisah pribadi bagi mereka menjadi perihal yang sangat menyakitkan, apalagi terhadap orang asing. Kenyataannya, perihal itu kudu dilakukan untuk menjelaskan bahwa anak yang selalu menyertai mereka bukanlah cucunya melainkan anaknya.

Kisah pun kudu diceritakan ketika dirinya mencoba mengandung sejak usia 39 tahun dan telah tujuh kali keguguran yang menyedihkan dialaminya. 

"Putra kami adalah keajaiban yang ditunggu selama lebih dari 14 tahun. Berbagi ini dengan orang asing bukanlah perihal mudah, tetapi kami merasa perlu melakukannya,"katanya.

Alasan lain perlunya menjelaskan kondisi sesungguhnya ialah lantaran dari kacamata anaknya, yang dilihat hanyalah dua orang tua yang sangat mencintainya. Dia tidak memandang usia orang tuanya, tetapi dia pun cemas bahwa perihal tersebut bisa terjadi ketika anaknya mulai sekolah.

"Saya tidak mau teman-temannya menghakiminya dan mengolok-ngoloknya lantaran mempunyai orang tua yang lebih tua. Itulah salah satu argumen sebenarnya berpikir kenapa dia mendidiknya di rumah, guna melindunginya dari perundungan,"tegasnya.

Memiliki anak di usia lanjut, kesehatan menjadi prioritas

Memiliki anak mini di usia lanjut bukanlah perihal yang mudah dilalui. Apalagi, kesehatan pun semakin menurun dan perihal itu tidak boleh dianggap remah sedikit pun. 

"Saya telah menjadi mahir gizi selama lebih dari 20 tahun, melayani pelanggan di London, tempat kami tinggal: Wina, tempat asal saya; dan Los Angeles."

Meskipun pada akhirnya dirinya sukses mengandung melalui IVF, dia sangat percaya bahwa nutrisi memainkan peran krusial dalam membantu dirinya mengandung di usia 53 tahun. Dan, dia melewati menopause ketika dirinya mulai mengalami hot flashes pada usia 55 tahun yang tertunda lantaran hormon IVF.

"Sekarang, nutrisi yang membikin saya cukup segar untuk menyamai tingkat daya putra saya. Ini juga bukan hanya tentang saat ini semata. Saya dan suami tentunya mau hidup selama mungkin untuk berada di sini bagi putra kami. Itulah argumen kenapa kami mau menjaga kesehatan kami," ungkapnya.

Menyoal style hidup yang dijalaninya, dia mengatakan bahwa dirinya dan keluarganya memang menjalani pola hidup sehat termasuk dengan  mengonsumsi makanan organik sepenuhnya.

"Saya memasak makanan segar di rumah sesering mungkin. Saya memastikan setiap makanan mengandung protein, sayuran, dan roti gandum. Makanan unik untuk putra saya adalah telur rebus dengan kefir, minuman susu fermentasi, beberapa sayuran rebus yang diiris, alpukat, dan keripik pisang serta roti gandum sebagai pelengkap," bebernya.

Menikmati waktu berbareng putranya

Memiliki usia yang tak lagi muda, tentunya dia dan suaminya sangat memikirkan gimana keduanya bisa menyeimbangkan antara pekerjaan dengan waktu berbareng putranya. Sebab, krusial bagi dirinya untuk menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan putranya sembari tetap menjalankan bisnisnya.

"Saya mundur dari upaya saya ketika putra saya lahir, hanya berjumpa pelanggan ketika mereka menghubungi saya. Saya juga tak melakukan pemasaran proaktif lagi sampai tahun ini. Sementara, suami saya menjalankan agensi periklanan kecilnya sendiri. Jadi, dia mempunyai elastisitas untuk turun tangan dan mengurus putranya jika diperlukan. Dan, kami juga mempunyai pengasuh. Pengasuh kami datang separuh hari dan saya mengurus Lewis (putranya-red)  setengah hari berikutnya,"jelasnya.

Meski cukup sibuk dan lelah, dia sangat menikmati kebersamaan dengan putranya. Selain membawanya ke beragam kegiatan bersamanya, dia juga kerap menemani putranya dalam beragam momen termasuk menemaninya tidur. Saat tidur siang, dia pun mencoba berebahan bersamanya untuk beristirahat dan berada di dekatnya. 

Dengan semua yang dilakukannya tersebut, tentunya sungguh sangat menyebalkan ketika banyak orang menganggap bahwa putranya dianggap cucunya. Tentu saja komentar tersebut membikin dirinya sensitif. 

"Kalian tidak tahu apa yang telah dialami orang lain. Bukan urusan siapa pun sebenarnya mengenai berapa usia kami. Kami melakukan yang terbaik untuk putra kami, dan itulah yang terpenting," pungkasnya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya