Honor Robot Phone Siap Hadapi Dji, Bukan Cuma Ponsel Biasa

Dec 20, 2025 09:00 AM - 4 bulan yang lalu 146564

Kincai Media – Apa jadinya jika sebuah smartphone tidak lagi puas hanya bersaing dengan sesama ponsel? Bayangkan sebuah perangkat yang kamera belakangnya bisa bergerak sendiri, melacak subjek, dan menawarkan stabilitas layaknya gimbal profesional. Itulah yang sedang dipersiapkan Honor dengan Robot Phone-nya, dan targetnya sekarang jauh lebih ambisius: mengalahkan raja stabilisasi video, DJI.

Bocoran terbaru dari dalam Honor mengindikasikan pergeseran strategi yang cukup berani. Setelah beberapa waktu lampau perusahaan asal Tiongkok itu memamerkan prototipe kerja Robot Phone di Honor User Carnival, sekarang fokusnya bukan lagi sekadar mengungguli iPhone alias Samsung. Sebuah pernyataan blak-blakan dari Chief Imaging Engineer Honor, Luo Wei, di media sosial Weibo, seperti melempar sarung tangan terbuka. Ketika ada yang menyebut Apple sebagai patokan video seluler, Luo dengan tegas membantah. “Patokan untuk video seluler adalah DJI, bukan?” tanyanya. “Mari kita bersaing dengan mereka tahun depan.” Kalimat itu bukan sekadar ancaman kosong, melainkan sinyal jelas bahwa Honor sedang membidik pasar yang sama sekali berbeda.

Luo Wei baru saja menyelesaikan proyek krusial yang dikerjakan nyaris setahun. Ia dengan percaya diri menyatakan bahwa teknologi video Honor tahun depan bakal “cukup kuat untuk meninggalkan pesaing jauh di belakang.” Spekulasi yang beredar kuat mengaitkan proyek rahasia ini dengan Robot Phone yang telah lebih dulu diperkenalkan. Jika dugaan ini benar, maka lengan kamera mekanis yang tersembunyi di kembali modul kamera belakang itu bukan sekadar aksesori futuristik. Ia bisa menjadi senjata utama Honor untuk menyaingi skill DJI dalam aktivitas kamera yang presisi, pencarian objek, dan stabilisasi gambar yang mulus—semua itu dikemas dalam bodi smartphone.

Ini adalah langkah yang tidak biasa. Smartphone biasanya berkompetisi dalam perihal chipset, layar, alias desain. Honor, dengan Robot Phone, justru mengubah arti ponsel itu sendiri. Mereka memposisikannya sebagai “kamera pribadi yang bisa bergerak dan beradaptasi,” bukan lagi sekadar “lempengan kaca statis.” Konsep ini membuka kemungkinan baru bagi pembuat konten, vlogger, alias siapa pun yang menginginkan kualitas video cinematic tanpa membawa peralatan tambahan yang ribet.

Prototipe Honor Robot Phone dengan lengan kamera mekanis yang dapat bergerak

Rencana peluncuran resminya pun sudah mulai jelas. Honor dikabarkan bakal memperkenalkan Robot Phone secara dunia di Barcelona pada tahun 2026. Perangkat ini disebut-sebut bakal mengombinasikan kepintaran buatan (AI), sistem cerdas, dan pencitraan arti tinggi, semua didukung oleh apa yang digambarkan Honor sebagai “otak AI” yang powerful. Kombinasi antara hardware mekanis yang lincah dan kepintaran buatan inilah yang mungkin menjadi kunci untuk menantang kekuasaan DJI. Bayangkan sebuah ponsel yang tidak hanya menstabilkan gambar secara digital, tetapi juga secara bentuk menggerakkan lensanya untuk mengikuti subjek alias mengkompensasi guncangan, layaknya drone alias kamera pada gimbal.

Pernyataan Luo Wei juga mengundang pertanyaan menarik: sejauh mana sebuah brand smartphone bisa melompat ke kategori perangkat yang berbeda? DJI telah membangun reputasi puluhan tahun di bagian stabilisasi dan pergerakan kamera yang presisi, terutama untuk drone dan gimbal. Honor, di sisi lain, adalah pemain kuat di pasar ponsel. Dengan Robot Phone, mereka seolah berkata, “Kami tidak mau merebut pasar DJI, kami mau membikin pasar baru yang memadukan keduanya.” Ini adalah strategi high-risk, high-reward. Jika berhasil, Honor tidak hanya bakal menjual ponsel, tetapi juga solusi imajinatif yang revolusioner.

Namun, tantangannya nyata. Integrasi bagian mekanis yang rumit ke dalam bodi smartphone yang tipis pasti memunculkan masalah daya tahan, konsumsi daya, dan tentu saja, harga. Apakah konsumen siap bayar premium untuk fitur kamera yang begitu spesialis? Ataukah Robot Phone bakal menjadi produk niche bagi kalangan ahli dan early adopter? Jawabannya mungkin terletak pada seberapa baik Honor dapat menyederhanakan pengalaman penggunaan. AI-nya kudu cukup pandai sehingga pengguna tidak perlu repot mengatur perspektif dan aktivitas lengan kamera secara manual.

Ilustrasi konsep dan kreasi dari Honor Robot Phone

Langkah Honor ini juga tidak bisa dipisahkan dari tren besar perusahaan teknologi Tiongkok yang semakin garang memasuki bumi robotika. Beberapa waktu lalu, kita juga memandang komentar CEO Xiaomi tentang robot humanoid yang diprediksi bakal menggantikan pekerja manusia. Bahkan, Honor sendiri telah secara resmi mengumumkan masuk ke bumi robot humanoid. Robot Phone bisa dilihat sebagai langkah pertama yang lebih konkret dan dekat dengan konsumen dalam visi robotika mereka. Ini bukan lagi tentang membikin ponsel yang lebih cepat, tetapi tentang membikin perangkat yang lebih “hidup” dan interaktif.

Jadi, apa artinya bagi Anda sebagai pengguna? Jika Anda adalah seorang content creator yang sering bepergian, bayangkan kemudahan merekam video tracking shot yang smooth tanpa perlu membawa gimbal eksternal. Atau bagi orang tua yang mau merekam momen kocak anak yang aktif bergerak, kamera yang bisa mengikuti aktivitas secara otomatis bakal menjadi fitur penyelamat. Honor tampaknya mau menangkap momen-momen spontan itu dengan kualitas yang sebelumnya hanya bisa dicapai dengan peralatan profesional.

Pertarungan antara Honor dan DJI tahun depan, jika memang terjadi, bakal menjadi tontonan yang menarik. Ini bukan sekadar perang spesifikasi di atas kertas, melainkan pertarungan filosofi: antara perangkat unik yang mendalam (DJI) versus integrasi semua-in-one yang berani (Honor). Satu perihal yang pasti, dengan Robot Phone, Honor telah membuktikan bahwa khayalan mereka tentang masa depan ponsel jauh melampaui batas-batas yang selama ini kita kenal. Mereka tidak hanya mau menjadi yang terbaik di kelasnya, tetapi juga menciptakan kelas yang sama sekali baru. Dan seperti yang ditunjukkan dalam event-event sebelumnya, Honor serius mendengarkan umpan kembali pengguna untuk mewujudkan visi tersebut. Kita tinggal menunggu, apakah ponsel dengan “lengan” ini bakal menjadi revolusi berikutnya, alias sekadar penelitian yang menarik?

Selengkapnya