Horor dan Ekonomi Ketakutan di Bioskop Indonesia

Review Movie Terbaru Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 9 menit 504x dilihat
Horor dan Ekonomi Ketakutan di Bioskop Indonesia

Bagikan Postingan

Horor bukan hanya aliran favorit penonton Indonesia, tetapi telah berkembang menjadi salah satu mesin paling konsisten dalam industri movie nasional.

Jika memandang agenda bioskop Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, satu pola susah diabaikan: movie seram nyaris selalu ada.

Hantu, kutukan, ritual, desa misterius, jin, kematian, legenda lokal, hingga seram yang bercampur komedi terus mengisi layar sepanjang tahun. Bahkan pada September 2026, setidaknya enam movie seram lokal dijadwalkan datang dalam satu bulan, mulai dari “Munafik: Melawan Iblis”, “Suanggi: Ilmu Kutukan”, hingga “Urang Bunian”.

Dominasi tersebut bukan hanya persepsi. Pada 2022, ketika film Indonesia mengumpulkan sekitar 54 juta penonton bioskop, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencatat sekitar 32 juta di antaranya berasal dari movie horor. Sebagai perbandingan, drama memperoleh sekitar 9,3 juta penonton, action 5,6 juta, komedi 4,9 juta, dan romance 2,2 juta.

Empat tahun kemudian, seram tetap berada di posisi yang sangat kuat. Pertanyaannya bukan lagi apakah orang Indonesia menyukai movie horor. Pertanyaannya adalah: mengapa seram begitu cocok dengan ekosistem bioskop Indonesia?

Horor Sudah Menjadi Bahasa Budaya yang Familiar

Dalam tulisan Cultura sebelumnya, “Memahami Definisi, Genre dan Potensi Film Horor”, kami membahas bahwa seram sebenarnya jauh lebih luas daripada sekadar cerita hantu. Psychological horror, body horror, monster, slasher, sci-fi horror hingga survival semuanya berada dalam spektrum yang sama selama movie tersebut membangun rasa takut, teror, jijik, alias ketidaknyamanan.

Namun tulisan tersebut juga mencatat satu karakter unik perfilman Indonesia: horor lokal sangat dekat dengan paranormal dan supernatural.

Ada argumen kultural di baliknya. Cerita tentang jin, arwah, santet, pamali, tempat angker, ritual, dan larangan budaya tidak terasa sepenuhnya asing bagi masyarakat Indonesia. Semuanya telah lama hidup melalui folklore, kepercayaan keluarga, cerita kampung, urban legend, televisi, hingga percakapan sehari-hari.

Karena itu, filmmaker tidak selalu perlu membangun mitologi dari nol. Penonton sudah mempunyai referensi emosional terhadap banyak simbol ketakutan yang digunakan. Pocong memerlukan sedikit penjelasan. Begitu pula kuntilanak, santet, kuburan, ritual pesugihan alias larangan memasuki tempat tertentu.

Horor Indonesia bekerja lantaran sering kali terornya terasa dekat dengan bumi penontonnya sendiri.

MD Pictures

Angkanya Sulit Diabaikan Produser

Kesuksesan komersial memperkuat pola tersebut. Pada 2023, sekitar 40,16 persen movie panjang Indonesia yang dirilis tercatat bergenre horor, lebih besar dibanding aliran lainnya dalam informasi yang dihimpun dari Film Indonesia. Tahun itu, “Sewu Dino” menjadi movie Indonesia terlaris dengan nyaris 4,9 juta penonton.

Pada 2024, komposisinya mulai lebih beragam. Data Lembaga Sensor Film menunjukkan drama justru menjadi aliran terbanyak dengan 141 titel alias 49,5 persen, sementara seram berada di posisi berikutnya dengan 87 titel alias 30,5 persen. Ini krusial lantaran menunjukkan bahwa kekuasaan seram tidak selalu berfaedah kebanyakan movie yang diproduksi adalah horor.

Namun di box office, seram tetap sangat kuat. “Vina: Sebelum 7 Hari” memperoleh sekitar 5,8 juta penonton, “Kang Mak from Pee Mak” sekitar 4,8 juta, “Badarawuhi di Desa Penari” sekitar 4 juta, dan “Siksa Kubur” sekitar 4 juta. Beberapa titel seram lain seperti “Pemandi Jenazah”, “Sekawan Limo”, dan “Lembayung” juga berada di antara film-film lokal dengan perolehan besar pada tahun tersebut.

Secara keseluruhan, movie Indonesia mencapai sekitar 80,66 juta admissions pada 2024 dari total 122,79 juta penonton bioskop, menurut arsip strategis Kementerian Kebudayaan. Pangsa movie lokal dengan demikian berada di kisaran dua pertiga pasar bioskop nasional.

Ketika satu aliran berulang kali bisa menghasilkan jutaan tiket, keputusan industri menjadi mudah dimengerti. Horor dianggap mempunyai pasar yang sudah terbukti, terlepas dari kualitas.

2025 Membuktikan Horor Kuat, tetapi Tidak Tak Terkalahkan

Data 2025 memberikan perspektif yang lebih menarik. Film Indonesia kembali mencatat sekitar 80,2 juta penonton sepanjang tahun. Namun dua kejadian terbesar justru datang dari aliran lain: animasi “Jumbo” melampaui 10 juta penonton dan komedi “Agak Laen: Menyala Pantiku!” juga menembus nomor sekitar 9 juta.

Horor tetap menghasilkan hit besar. “Pabrik Gula” mencapai 4,73 juta penonton, “Petaka Gunung Gede” sekitar 3,24 juta, “Jalan Pulang” sekitar 2,88 juta, sementara horor-komedi “Kang Solah From Kang Mak x Nenek Gayung” mencapai sekitar 2,5 juta.

Ini mengoreksi satu dugaan penting. Horor bukan satu-satunya aliran yang bisa sukses di Indonesia. Ia hanya jauh lebih konsisten dalam menghasilkan movie dengan pasar besar.

Ketika animasi, komedi, drama romantis alias family menemukan cerita yang kuat, penonton Indonesia juga datang dalam jumlah masif.

Pada 2026, Polanya Belum Hilang

Memasuki 2026, seram kembali muncul di papan atas. Hingga akhir Mei, “Danur: The Last Chapter” telah memperoleh sekitar 3,62 juta penonton, sementara “Ghost in the Cell” karya Joko Anwar berada di kisaran 3,3 juta. “Ghost in the Cell” sendiri sudah menembus satu juta penonton hanya dalam enam hari dan sekitar 3,2 juta dalam satu bulan.

Pada semester pertama 2026, 13 movie Indonesia telah sukses melewati satu juta penonton dan sejumlah titel seram kembali berada dalam golongan tersebut.

Bahkan Direktur Film, Musik dan Seni Kementerian Kebudayaan dalam sebuah obrolan Festival Film Horor pada Januari 2026 menyebut seram telah mengambil sekitar 60 persen pangsa penonton bioskop selama tiga tahun terakhir. Angka tersebut merupakan pernyataan dalam diskusi, bukan seri statistik resmi tahunan yang dipublikasikan secara lengkap, tetapi arahnya konsisten dengan performa box office beberapa tahun terakhir.

Bioskop Memang Cocok dengan Horor

Ada argumen lain yang tidak kalah penting: horor menjual pengalaman yang susah direplikasi di rumah. Layar gelap, bunyi surround, penonton yang berteriak bersamaan, lampau tertawa setelah jumpscare menciptakan pengalaman kolektif.

Menonton drama sendiri di laptop mungkin tetap terasa memadai. Tetapi sensasi menonton seram berbareng seratus orang di ruangan gelap mempunyai nilai sosial tersendiri.

Horor apalagi mempunyai sistem penonton yang unik. Rasa takut berkarakter menular. Ketika satu orang terkejut, orang lain ikut bereaksi. Ketika satu studio berteriak, ketegangan berubah menjadi pengalaman bersama.

Karena itu, movie seram secara alami cocok dengan upaya theatrical yang tidak hanya menjual cerita tetapi juga pengalaman menonton. Di Indonesia, kegunaan tersebut menjadi semakin krusial ketika streaming memberikan pilihan intermezo yang nyaris tidak terbatas di rumah.

Horor Mudah Berbicara dengan Penonton Muda

Ada pula untung demografis. Horor relatif mudah dikonsumsi secara kelompok: berbareng teman, pasangan, keluarga, alias komunitas. Filmnya dapat menjadi argumen untuk keluar rumah apalagi ketika penonton tidak mengenal sutradara alias pemainnya.

Premis seram juga biasanya mudah dikomunikasikan. Sebuah poster wanita kerasukan, rumah terpencil, jenazah misterius alias desa terkutuk sudah dapat menyampaikan bentrok movie dalam beberapa detik. Kemampuan ini sangat berbobot di era TikTok dan Instagram.

Trailer singkat, reaction video, potongan jumpscare, makeup karakter, cerita letak berpenunggu hingga kisah “berdasarkan kejadian nyata” mudah dikonversi menjadi materi percakapan digital. Horor bukan hanya mudah dijual melalui trailer. Horor mudah diceritakan kembali. Sekali lagi, walaupun kualitas jauh di bawah standard.

KKN di Desa Penari

MD Pictures

IP Lokal Indonesia Seolah Tidak Pernah Habis

Keunggulan lain adalah sumber cerita. Indonesia mempunyai ratusan golongan etnis, legenda, ritual, mitologi, kepercayaan lokal dan cerita rakyat. Dari Jawa sampai Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali hingga Indonesia Timur, nyaris setiap daerah mempunyai sumber terornya sendiri. Karena itu, lokalitas justru dapat menjadi intellectual property.

“KKN di Desa Penari” menggunakan desa, ritual dan mitologi lokal. “Petaka Gunung Gede” membawa teror ke budaya pendakian. Film seperti “Suanggi: Ilmu Kutukan” bergerak menuju mitologi Indonesia Timur, sementara “Urang Bunian” mengambil kepercayaan yang lekat dengan Sumatra.

Ini memberi industri sesuatu yang susah ditiru Hollywood: ketakutan yang lahir dari konteks Indonesia sendiri.

Dan ketika cerita tersebut terasa spesifik secara lokal, paradoksnya juga dapat menjadi lebih menarik secara internasional lantaran menawarkan sesuatu yang berbeda.

Risiko Terbesarnya Justru Kesuksesan Horor Itu Sendiri

Dominasi mempunyai sisi lain. Ketika formula tertentu terus menghasilkan uang, industri mempunyai insentif untuk mengulangnya. Hantu perempuan, ritual, desa terpencil, ustaz, kerasukan, kematian tragis, alias kisah viral dapat berubah dari bahasa budaya menjadi formula produksi.

Kekhawatiran ini sebenarnya sudah muncul dalam tulisan Cultura pada 2022. Saat itu kami mencatat bahwa walaupun arti seram sangat luas, movie seram Indonesia tetap terlalu sering berkutat pada paranormal dan supernatural.

Empat tahun kemudian, ada kemajuan. “Siksa Kubur” memasukkan seram religius dan eksistensial. “Ghost in the Cell” mencampurkan seram dengan komedi serta satire sosial. “Agak Laen” dan “Kang Mak from Pee Mak” memperlihatkan bahwa horor-komedi dapat menjadi tontonan massal.

Namun supernatural horror tetap menjadi bahasa dominan. Padahal potensinya jauh lebih besar.

Indonesia tetap mempunyai ruang luas untuk psychological horror, folk horror yang lebih antropologis, body horror, creature feature, home invasion, slasher, eco-horror, survival, technological horror hingga sci-fi horror.

Dominasi semestinya memberi industri keberanian bereksperimen, bukan justru membuatnya takut keluar dari formula yang sudah berhasil. Dengan begitu, movie Indonesia bakal lebih mendunia, bukan hanya laku di bioskop dan filmmaker hanyak publish angka, angka, dan nomor saja.

Horor Murah? Tidak Sesederhana Itu

Ada dugaan bahwa produser menyukai seram semata lantaran lebih murah dibuat. Sebagian memang mempunyai struktur produksi yang relatif ekonomis dibanding blockbuster action dengan set besar, VFX kompleks alias shooting internasional. Horor juga tidak selalu memerlukan tokoh dengan penghasilan tertinggi lantaran konsep dapat menjadi selling point utamanya.

Namun kesuksesan movie seperti “Badarawuhi di Desa Penari” alias “Siksa Kubur” menunjukkan bahwa seram Indonesia juga telah memasuki skala produksi yang jauh lebih ambisius. Walaupun secara plot, akting dan aspek lainnya kadang tetap kurang.

Artinya, daya tarik sebenarnya bukan sekadar biaya rendah. Yang lebih krusial adalah risk-to-reward ratio: aliran ini mempunyai audiens yang sudah terbentuk, marketing hook yang jelas, local IP berlimpah, dan kesempatan theatrical yang besar. Bagi produser, kombinasi tersebut sangat menarik. Revenue.

Horor dan Ekonomi Ketakutan di Bioskop Indonesia

Dominasi Horor Sebenarnya Mengatakan Sesuatu tentang Indonesia

Horor selalu menjadi salah satu aliran terbaik untuk membaca masyarakat. Apa yang membikin sebuah generasi takut biasanya mengungkap sesuatu tentang kehidupan generasi tersebut.

Hollywood mempunyai serial killer, home invasion, nuclear paranoia hingga technological horror. Jepang mempunyai yūrei dan kekhawatiran terhadap modernitas. Korea menggunakan seram untuk berbincang tentang keluarga, kelas, sejarah dan institusi. Indonesia mempunyai hantu, agama, ritual, pamali, desa, keluarga, dosa, tubuh, dan hubungan antara bumi modern dengan kepercayaan yang jauh lebih tua.

Karena itu, kesuksesan movie seram Indonesia sebenarnya tidak perlu dilihat sebagai tanda bahwa penonton “hanya suka hantu”. Ia menunjukkan bahwa seram mempunyai keahlian luar biasa untuk menerjemahkan kekhawatiran lokal menjadi intermezo populer.

Tantangan berikutnya justru lebih besar. Setelah industri membuktikan bahwa orang Indonesia bersedia membeli jutaan tiket untuk merasa takut, pertanyaannya bukan lagi apakah seram bisa dijual.

Jawabannya sudah jelas. Pertanyaan yang lebih menarik adalah: seberapa jauh sineas Indonesia berani memperluas arti tentang apa yang bisa membikin kita takut?

Jika seram generik terus menjadi salah satu mesin terbesar perfilman nasional, keberhasilannya semestinya digunakan bukan hanya untuk membikin lebih banyak movie horor, tetapi untuk membikin jenis seram yang semakin beragam, berani, dan susah ditemukan di tempat lain.

Karena pada akhirnya, kekuatan terbesar seram Indonesia mungkin bukan hantunya. Melainkan Indonesia sendiri.

Artikel Lainnya Review Movie Terbaru