Jakarta -
Inflasi rumah tangga saat ini terus meningkat, mulai dari nilai kebutuhan harian sampai biaya tempat tinggal. Sementara itu, kenaikan penghasilan juga terjadi di banyak perusahaan, meski dampaknya belum tentu sama bagi setiap orang.
Kondisi ini membikin banyak pekerja mempertanyakan, apakah pendapatan mereka tetap seimbang dengan biaya hidup. Terlebih kebutuhan rumah tangga seperti pangan, transportasi, dan sewa tempat tinggal terus bergerak naik.
Di tengah situasi tersebut, Jobstreet by SEEK merilis laporan terbaru bertajuk Salary Pulse. Laporan ini memberi gambaran tentang kondisi gaji, kepuasan pekerja, serta langkah perusahaan memberikan kenaikan upah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Survei ini dilakukan pada Februari 2026 berbareng lembaga riset Nature, melibatkan 1.010 pekerja ahli di Indonesia. Responden berasal dari rentang usia 18 hingga 64 tahun di beragam sektor pekerjaan.
Hasilnya menunjukkan bahwa 62 persen pekerja mengalami kenaikan penghasilan dalam satu tahun terakhir. Dari jumlah itu, 45 persen naik hingga 5 persen, sementara 39 persen naik di kisaran 6 hingga 10 persen.
Dalam informasi ini, meskipun Gen Z menerima pendapatan lebih rendah lantaran banyak yang tetap di level pekerja paruh waktu, mereka justru paling puas dengan penghasilan mereka, ialah 65 persen merasa bahagia. Sebaliknya, golongan Gen X yang berpenghasilan lebih tinggi justru menjadi paling tidak puas, di mana hanya 41 persen merasa gajinya sudah memadai.
Namun tingkat kepuasan ini berbeda, tergantung gimana kenaikan penghasilan itu diberikan dan gimana pekerja menilainya. Lalu, apakah kenaikan penghasilan ini sudah cukup untuk mengimbangi inflasi rumah tangga yang terus naik?
Kenaikan penghasilan dan keseimbangan biaya hidup rumah tangga
Meski ada kenaikan gaji, tapi kondisi saat ini menunjukkan biaya hidup terus meningkat dari waktu ke waktu. Mulai dari kebutuhan pangan, transportasi, hingga sewa tempat tinggal yang semakin naik setiap tahunnya.
Namun, menurut Managing Director Jobstreet by SEEK, Wisnu Dharmawan, perihal ini tidak bisa dilihat secara bersamaan, Bunda. Ia menilai kondisi penghasilan dan kepuasan setiap orang berbeda, tergantung situasi masing-masing.
"Itu sebenarnya mungkin lebih personal, lantaran penghasilan tadi juga masing-masing berbeda-beda. Dan juga akhirnya jika kita lihat dari penelitian tadi, tingkat kepuasan juga berbeda-beda," ujar Wisnu dalam kegiatan Media Briefing mengenai pemaparan informasi Laporan Eksklusif terbaru dari Jobstreet by SEEK, Selasa (23/06/2026).
Ia menjelaskan bahwa ada pekerja yang merasa gajinya sudah sesuai dengan pekerjaannya. Namun ada juga yang merasa belum puas dengan penghasilan yang diterima saat ini.
"Kalau tadi ada dua ya, ada yang merasa gajinya sudah sesuai dengan pekerjaannya alias sudah layak, alias merasa puas alias tidak puas dengan gajinya. Itu dua perihal yang berbeda," kata Wisnu.
Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa penilaian penghasilan tidak hanya soal pekerjaan, tetapi juga sangat berkarakter pribadi. Inilah sebabnya, setiap orang bisa mempunyai pandangan yang berbeda.
"Nah, jika penghasilan yang sudah sesuai dengan pekerjaan itu lebih ke arah perannya ini sudah oke alias belum? Tapi jika kepuasan itu lebih personal. Kepuasan ini sangat tergantung dari masing-masing tenaga kerja gitu ya," ungkapnya.
Wisnu menambahkan bahwa kondisi ini turut dipengaruhi oleh kebutuhan setiap perseorangan dan keluarga. Maka dari itu, tingkat kepuasan penghasilan bisa berbeda-beda, termasuk antar generasi.
"Masing-masing tenaga kerja itu juga tergantung perannya apa, segala macam kebutuhan dia sebagai perseorangan dan family itu seperti apa. Maka itu, ada tingkat kepuasan yang berbeda-beda antar generasi," jelas Wisnu.
Tekanan inflasi rumah tangga dan langkah tenaga kerja menyikapi
Seperti sudah disebutkan sebelumnya bahwa perbedaan kondisi setiap perseorangan membikin tingkat kepuasan terhadap penghasilan berbeda-beda. Hal ini ikut memengaruhi gimana setiap orang merespons tekanan biaya hidup yang terus meningkat.
Di tengah naiknya nilai kebutuhan, banyak pekerja merasakan tekanan dari inflasi rumah tangga. Wisnu menyampaikan bahwa sebagian orang mulai mencari pekerjaan yang lebih baik alias mencoba bermusyawarah dengan perusahaan.
"Kalau dari sisi inflasi rumah tangga, sebenarnya bisa mendorong untuk mencari pekerjaan yang lebih baik alias bermusyawarah dengan perusahaan," tutur Wisnu.
"Tapi itu juga kembali lagi tergantung apakah memang ada opsi lain. Kalau kebetulan memang opsi lain tersedia, ya itu bisa saja terjadi," lanjutnya.
Karena itu, disarankan agar langkah yang diambil tidak dilakukan tergesa-gesa. Lebih baik membicarakan terlebih dulu di perusahaan mengenai kemungkinan kenaikan gaji.
"Jadi jika dari penelitian ini, saran yang bisa diberikan adalah sebaiknya dibicarakan dulu secara internal di perusahaan, misalnya mengenai percakapan mengenai kenaikan gaji, dibanding langsung terburu-buru mencari pengganti lain di perusahaan alias tempat kerja yang lain," kata Wisnu.
Tips menghadapi tekanan biaya hidup bagi family dan ibu bekerja
Di tengah meningkatnya biaya hidup, banyak family dan ibu bekerja yang mulai mencari langkah agar tetap bisa memperkuat dengan kondisi yang ada. Menurut Wisnu, krusial untuk memandang pilihan yang dimiliki masing-masing pekerja sebelum mengambil keputusan.
"Kalau dari sisi karyawan, sifatnya tergantung pada opsi yang dimiliki oleh tenaga kerja tersebut. Jadi jangan terlalu terburu-buru, lantaran yang namanya pekerjaan alias pekerjaan itu kita sebaiknya memandang secara jangka panjang," katanya.
Ia menilai bahwa dalam memilih pekerjaan alias memperkuat di tempat kerja, ada banyak perihal yang perlu dipikirkan. Salah satunya adalah gimana perusahaan tersebut bisa memberikan nilai jangka panjang bagi pekerja.
"Apakah misalnya di perusahaan tersebut bisa memberi, pertama perusahaannya mempunyai nama alias merek yang bagus, yang membikin CV tenaga kerja juga bakal bagus jika secara jangka panjang," ujar Wisnu.
Selain itu, pengembangan diri di tempat kerja juga menjadi perihal yang tidak kalah penting. Karena peningkatan keahlian bisa berakibat besar pada nilai diri seseorang di bumi kerja.
"Lalu apakah pengembangan diri, pengembangan tenaga kerja di perusahaan tersebut juga bagus, sehingga pengembangan itu, termasuk peningkatan keterampilan, bisa meningkatkan nilai dari tenaga kerja itu sendiri," ungkap Wisnu.
"Jadi, saya menyarankan untuk tidak memikirkan penghasilan secara jangka pendek saja, tetapi memikirkan pekerjaan secara jangka panjang," sambungnya.
Itulah ulasan mengenai inflasi rumah tangga yang terus meningkat serta kenaikan penghasilan yang terjadi saat ini. Semoga dapat memberi wawasan baru, ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/som)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·