Istilah Pcos Kini Berubah Jadi Pmos, Apa Bedanya?

Jun 24, 2026 04:40 PM - 2 jam yang lalu 99

Jakarta -

Bunda pasti sudah tak asing dengan istilah sindrom ovarium polikistik alias polycystic ovary syndrome (PCOS). Istilah medis ini merujuk pada gangguan keseimbangan hormon yang dapat memengaruhi kesuburan.

Dikutip dari laman Badan Kesehatan Dunia (WHO), PCOS adalah gangguan hormonal umum di mana kadar androgen lebih tinggi dari normal, yang menyebabkan periode menstruasi tidak teratur, ovulasi abnormal, infertilitas, hingga pertumbuhan rambut wajah alias tubuh yang berlebihan pada perempuan.

PCOS diperkirakan memengaruhi 10 hingga 13 persen wanita usia produktif. Tak hanya itu, diperkirakan hingga 70 persen wanita dengan PCOS di seluruh bumi tidak menyadari bahwa mereka menderita kondisi ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Istilah PCOS sekarang berubah jadi PMOS

Baru-baru ini, master kesehatan multidisiplin hingga organisasi akademis memutuskan untuk mengganti istilah PCOS menjadi PMOS. Melansir dari studi di jurnal Lancet yang dipublikasikan pada awal Mei 2026, PMOS merupakan singkatan dari polyendocrine metabolic ovarian syndrome alias sindrom ovarium metabolik poliendokrin.

Menurut ulasan ini, istilah PCOS sudah tidak lagi akurat, Bunda. PCOS dianggap hanya menyiratkan 'kista ovarium patologis' dan mereduksi gangguan hormonal alias endokrin jangka panjang.

Tak hanya itu, PCOS juga dianggap berkontribusi pada keterlambatan pemeriksaan dan menjadi sebuah stigma yang dapat membatasi penelitian dan perumusan kebijakan medis. Istilah yang kurang tepat dari PCOS apalagi mempersulit pengelompokkan epidemiologi, komparasi penelitian, dan pengkodean sistem kesehatan.

"Perubahan nama tersebut memberi tahu kita sesuatu yang krusial tentang apa sebenarnya penyakit ini," kata mahir endokrinologi di NewYork-Presbyterian/Weill Cornell Medical Center Dr. Rekha Kumar, melansir dari NewYork-Presbyterian.

"Ini bukan kondisi yang didefinisikan oleh kista ovarium. Ini adalah gangguan hormonal multisistem yang kompleks yang memengaruhi kesehatan reproduksi, akibat kardiometabolik, kesehatan mental, dermatologi, dan banyak lagi."

Perjalanan panjang untuk mengganti nama PCOS menjadi PMOS

Perubahan nama PCOS menjadi PMOS menyantap waktu yang lama, Bunda. Setidaknya, proses ini menghabiskan waktu satu dasawarsa dan telah melibatkan sekitar 22.000 mahir di seluruh dunia, termasuk dokter, peneliti, pasien, dan golongan advokasi.

Pada tahun 2012, US National Institutes of Health Office of Disease Prevention Evidence-based Methodology Workshop on PCOS menyampaikan ketidakakuratan istilah PCOS. Saat itu, mereka merekomendasikan perubahan nama untuk lebih mencerminkan kondisi yang sebenarnya.

Namun, upaya penggantian nama kandas lantaran beberapa alasan, seperti kurangnya kepemimpinan dunia yang inklusif dan kebutuhan bakal proses konsensus internasional yang terkoordinasi.

Sebuah studi dunia longitudinal dengan survei yang melibatkan penderita PCOS dan ahli kesehatan lampau menyoroti kebingungan yang terus bersambung seputar istilah PCOS. Dalam studi ini, 84 persen responden mendukung proses konsensus dunia untuk mengidentifikasi dan menerapkan nama baru, berbarengan dengan strategi pendidikan dan implementasi.

Proses konsensus dunia multi-tahap yang ketat dilakukan untuk memutuskan istilah baru yang menggantikan nama PCOS. Setidaknya, pendanaan dan tata kelola ditetapkan dengan melibatkan 56 organisasi akademis, klinis, dan pasien.

Dalam survei yang dilakukan, mereka yang terlibat kebanyakan setuju untuk menggunakan nama sindrom ovulasi metabolik poliendokrin, yang kemudian direvisi menjadi sindrom ovarium metabolik poliendokrin (PMOS).

"Pendekatan yang disukai adalah perkembangan ke nama baru yang jeli di mana tetap mempertahankan beberapa kesamaan dengan PCOS untuk memungkinkan implementasinya. Pada akhirnya, istilah yang diprioritaskan adalah poliendokrin, metabolik, dan ovarium, dan nama yang disukai untuk kondisi yang sebelumnya dikenal sebagai PCOS adalah sindrom ovarium metabolik poliendokrin (PMOS)," demikian isi jurnal.

Apa itu PMOS?

Melansir dari laman Sarvodaya Hospital, PMOS dapat didefinisikan sebagai:

  • Poliendokrin: 'poli' berfaedah banyak dan 'endokrin' merujuk pada kelenjar penghasil hormon dalam tubuh. Jadi, poliendokrin berfaedah kondisi ini memengaruhi banyak sistem alias kelenjar hormonal, bukan hanya ovarium.
  • Metabolik: metabolik berangkaian dengan metabolisme tubuh, yang berfaedah gimana langkah tubuh menggunakan energi, memproses kadar gula dan lemak, menjaga berat badan, dan mengatur insulin. Pada PMOS, banyak wanita mengalami resistensi insulin, penambahan berat badan, peningkatan akibat diabetes, alias ketidakseimbangan kolesterol.
  • Ovarium: ovarium merujuk pada organ reproduksi wanita yang bertanggung jawab untuk melepaskan sel telur dan memproduksi hormon seperti estrogen dan progesteron. Perempuan dengan PMOS mungkin mengalami ovulasi tidak teratur, ketidakseimbangan hormon, masalah kesuburan, dan siklus menstruasi tidak teratur.

Dikutip dari Mayo Clinic, PMOS dapat dipicu oleh pengaruh androgen dan perubahan langkah tubuh dalam menggunakan hormon insulin, yang bekerja mengontrol kadar gula darah.

Pada PMOS, wanita mungkin mempunyai banyak kantung mini berisi cairan yang tumbuh di sepanjang tepi luar ovarium alias disebut kista. Di dalam kista mini tersebut berisi cairan dan terdapat sel telur yang belum matang alias disebut folikel. Folikel-folikel ini tidak bisa melepaskan sel telur secara teratur.

Penyebab pasti PMOS belum diketahui, tetapi aspek genetik dan style hidup mungkin berperan. Diagnosis dan pengobatan awal berbareng dengan pengelolaan berat badan dapat menurunkan akibat masalah kesehatan jangka panjang, seperti glukosuria jenis 2 dan penyakit jantung.

Gejala PMOS

Gejala PMOS bervariasi dan dapat berubah seiring waktu. Beberapa wanita dengan PMOS mungkin mempunyai indikasi yang sangat parah, sementara yang lain mempunyai indikasi ringan alias tidak mempunyai indikasi sama sekali.

Diagnosis PMOS ditegakkan ketika seseorang mempunyai setidaknya dua dari indikasi berikut:

  • Siklus menstruasi tidak teratur

PMOS dapat menyebabkan siklus menstruasi Anda menjadi kurang teratur, ialah kurang dari 8 kali menstruasi dalam setahun dan jaraknya mungkin lebih dari 35 hari. Kondisi ini juga bisa membikin darah menstruasi deras, berjalan selama beberapa hari, alias datang lebih sering dari biasanya. Bunda dengan PMOS juga mungkin berakhir menstruasi alias mengalami kesulitan untuk hamil.

  • Efek androgen yang berlebihan

Kadar alias kegiatan hormon androgen yang tinggi dapat menyebabkan pertumbuhan rambut tambahan di wajah dan tubuh, alias sering kali di tempat-tempat yang biasanya ditumbuhi rambut pada pria. Kondisi itu disebut hirsutisme. Rambut ini biasanya muncul di dagu, area cambang, dada, paha atas, alias punggung. Terkadang, kerontokan rambut pola di kepala alias jerawat parah juga dapat terjadi.

  • Ovarium polikistik

Tanda PMOS juga dapat terlihat dari ovarium yang mungkin sedikit lebih besar dari biasanya. Dalam pemeriksaan, master dapat menemukan banyak kantung mini berisi cairan di sekitar tepi ovarium. Tetapi lantaran ovarium tidak berfaedah sebagaimana mestinya, sel telur sering kali tidak dilepaskan.

Demikian penjelasan mengenai perubahan istilah PCOS menjadi PMOS. Semoga info ini berfaedah ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/pri)

Selengkapnya