Bunda bisa menggunakan AI dengan baik? Benarkah tenaga kerja dengan skill AI bisa digaji lebih tinggi? Yuk simak faktanya, Bunda.
Kemampuan menggunakan kepintaran buatan alias artificial intelligence (AI) semakin menjadi aspek krusial dalam menentukan nilai seorang tenaga kerja di pasar kerja. Menurut para pakar, pekerja yang bisa memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi perusahaan sekarang mempunyai kesempatan memperoleh penghasilan yang jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang belum menguasai teknologi tersebut.
Tren ini tidak hanya terjadi di industri teknologi, tapi juga meluas ke sektor perbankan, pemasaran, sumber daya manusia, manufaktur, hingga jasa pelanggan. Dengan semakin banyak perusahaan yang memasukkan keahlian AI sebagai syarat utama dalam perekrutan, para master menilai bahwa keahlian ini telah berubah dari sekadar nilai tambah menjadi kebutuhan dasar di bumi kerja modern.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mari telaah mengenai skill AI yang semakin dibutuhkan di industri kerja digital dan modern.
Skill AI bisa meningkatkan penghasilan hingga 60 persen
CEO TeamLease Digital, Neeti Sharma, mengungkapkan bahwa pekerjaan yang memadukan keahlian AI dengan bagian teknologi, Global Capability Centre (GCC), dan sektor perbankan serta jasa finansial menawarkan premi penghasilan yang sangat tinggi.
“Posisi yang melengkapi pekerjaan dengan AI di sektor teknologi, GCC, dan perbankan sekarang memberikan premi penghasilan sebesar 30 persen hingga 60 persen. Ini menciptakan salah satu kesenjangan penghasilan terbesar di pasar kerja India,” kata Neeti Sharma, mengutip The Economics Time.
Seorang ahli senior di bagian AI alias machine learning di GCC dapat memperoleh penghasilan sekitar 58 sampai 60 lakh rupee per tahun alias setara Rp1 miliar. Sementara posisi support TI tradisional rata-rata hanya menerima sekitar 12 lakh rupee per tahun, tentu jauh secara nominal.
Semakin banyak perusahaan yang secara resmi menghubungkan keahlian AI dengan kompensasi karyawan. Diperkirakan dalam dua hingga tiga tahun ke depan, ahli AI dapat menikmati pertumbuhan penghasilan kumulatif sebesar 50 persen hingga 60 persen, sedangkan pekerja non-AI kemungkinan hanya memperoleh kenaikan sekitar 18 persen sampai 25 persen.
Skill AI dibutuhkan di banyak bidang
Head of Global Research Lightcast, Elena Magrini, menyampaikan bahwa hasil kajian lebih dari satu miliar lowongan pekerjaan menunjukkan pola yang sama di tingkat global.
“Iklan lowongan kerja semakin menekankan keahlian AI dan ada indikasi kuat bahwa perusahaan bersedia bayar penghasilan premium bagi kandidat yang memilikinya,” kata Magrini dilansir dari CNBC International.
Setiap perlu mencantumkan setidaknya satu skill AI menawarkan penghasilan rata-rata 28 persen lebih tinggi dan lebih besar dibandingkan posisi tanpa persyaratan tersebut. Jika sebuah posisi mensyaratkan dua keahlian AI alias lebih, premi gajinya meningkat hingga 43 persen.
Magrini mengungkapkan bahwa faedah skill AI tidak terbatas pada programmer alias data scientist.
“Bukan hanya developer perangkat lunak alias intelektual informasi yang diuntungkan dari keahlian AI. Profesional di bagian pemasaran, keuangan, hingga HR juga perlu mulai memikirkannya,” ujar Magrini.
Dengan semakin luasnya penggunaan AI di beragam industri, mempelajari teknologi ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan langkah strategis untuk meningkatkan nilai diri dan membuka kesempatan pendapatan lebih besar.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·