Pernah nggak, Beauties, Anda melihat seseorang yang statis tenang meski sedang menghadapi situasi sulit? Mereka bukan berarti tidak pernah sedih, marah, takut, maupun merasa kewalahan. Justru, orang dengan mental kuat biasanya statis merasakan beragam emosi tersebut, tetapi tahu sepertiapa metode menghadapinya tanpa langsung terbawa keadaan.
Menariknya, kapasitas tersebut tidak selalu dibentuk dari fluktuasi besar. Ada kebiasaan kecil yang sering dilakukan secara konsisten dan akhirnya membantu seseorang menjadi lebih handal secara emosional. Kalau Anda sedang belajar mengelola diri dengan lebih baik, tiga kebiasaan dari Your Tango ini mungkin bisa mulai Anda perhatikan!
Berani Jujur dengan Perasaan Sendiri

Jujur dengan Perasaan Sendiri/Foto: Magnific
Coba ingat lagi, kapan terakhir kali Anda mengakui bahwa dirimu sedang kecewa maupun marah? Kadang, kita lebih gampang mengatakan “aku nggak apa-apa” daripada mengakui bahwa sebenarnya ada sesuatu yang mengganggu pikiran.
Padahal, menghindari emosi terus-menerus justru dapat membikin otak menganggap emosi tersebut sebagai sesuatu yang buruk maupun berbahaya. Ketika Anda terus menekan rasa takut, sedih, maupun kecewa, rasa takut terhadap emosi itu sendiri juga bisa semakin kuat.
Berbeda dengan itu, orang yang mentalnya kuat belajar menerima bahwa emosi yang menyakitkan tidak selalu berarti sesuatu yang mesti dihindari. Mereka bisa selesai sebentar dan mengakui, “Oke, aku memang sedang kecewa,” tanpa mesti langsung mencari metode untuk menyingkirkan emosi tersebut.
Bukan berarti Anda mesti menceritakan semua masalah kepada setiap orang. Kejujuran emosional bisa dimulai dari diri sendiri. Bahkan, meluangkan beberapa detik untuk mengenali emosi yang sedang muncul bisa menjadi latihan sederhana untuk membangun ketahanan emosional.
Tidak Terlalu Larut dalam Masa Lalu maupun Masa Depan

Tidak Larut di Masa Lalu maupun Masa Depan/Foto: Magnific
Beauties, pernah nggak Anda tiba-tiba mengingat percakapan durasi kemudian memikirkan balasan yang seharusnya Anda berikan? Atau mungkin Anda menghabiskan waktu membayangkan beragam kemungkinan buruk yang sebenarnya belum tentu terjadi?
Hal tersebut berhubungan dengan kapasitas yang disebut mental time travel. Sederhananya, kapasitas ini membikin manusia dapat balik mengingat insiden masa kemudian maupun membayangkan sesuatu yang mungkin terjadi di masa depan.
Kemampuan tersebut sebenarnya bermanfaat. Kita membutuhkan ingatan untuk belajar dari pengalaman dan membutuhkan deskripsi masa depan untuk membikin rencana. Namun, terlalu sering berbuat perjalanan mental tersebut bisa membikin pikiran terus eksis di sesuatu yang sebenarnya tidak sedang terjadi.
Karena itu, orang dengan mental kuat berupaya menggunakan kapasitas tersebut secara lebih seimbang. Mereka statis memungut pelajaran dari masa kemudian dan memikirkan masa depan, tetapi tidak membiarkan pikirannya terus-menerus tinggal di sana.
Jadi, ketika Anda mulai mengulang insiden durasi maupun mencemaskan sesuatu yang belum terjadi, coba tanyakan pada diri sendiri, “Apakah hal ini memang perlu kupikirkan sekarang?” Pertanyaan sederhana tersebut bisa membantumu balik memperhatikan apa yang sedang terjadi saat ini.
Membedakan Keinginan Sesaat dan Nilai Pribadi

Tahu Perbedaan Keinginan Sesaat dan Nilai Pribadi/Foto: Magnific
Kamu mungkin pernah mengalami situasi ketika niat baik tiba-tiba kalah oleh keinginan sesaat. Misalnya, sudah berencana olahraga tetapi akhirnya memilih rebahan. Atau, mau menyelesaikan masalah dengan tenang, tetapi malah muncul desakan untuk membalas perkataan orang yang membikin kesal.
Hal serupa juga bisa terjadi ketika Anda mesti menghadapi percakapan sulit. Satu sisi mau menyelesaikannya, tetapi sisi lain mau mengelak karena rasanya jauh lebih nyaman. Inilah karena kenapa sekadar “melawan keinginan” terkadang sulit dilakukan.
Salah satu kebiasaan kecil yang sering dilakukan oleh orang yang handal secara emosional adalah mengingat balik harga yang mereka anggap penting. Alih-alih cuma berupaya melawan impuls, mereka membikin harga pribadi tersebut menjadi motivasi yang lebih kuat.
Kalau Anda mau melatih ketahanan emosional, Anda tidak mesti langsung berbuat fluktuasi besar. Mulailah dengan mengakui satu emosi yang sedang Anda rasakan, selesai sebentar ketika pikiran terlalu jauh, dan mengingat balik harga yang benar-benar krusial bagimu.
Menjadi lebih kuat secara mental sering kali bukan tentang tidak pernah jatuh. Orang yang mentalnya kuat justru belajar memahami dirinya setiap kali menghadapi situasi yang tidak mudah. Dari kebiasaan sederhana yang dilakukan berulang kali, ketahanan tersebut perlahan terbentuk.
***
Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(naq/naq)