Belajar Menerima Ketidaksempurnaan Diri Lewat Filosofi Jepang Wabi-Sabi

Gaya Hidup Perempuan Masa Kini oleh Waktu baca 4 menit 504x dilihat
Belajar Menerima Ketidaksempurnaan Diri Lewat Filosofi Jepang Wabi-Sabi

Bagikan Postingan

Belajar Menerima Ketidaksempurnaan Diri Lewat Filosofi Jepang Wabi-Sabi/Foto: Pexels.com

Belajar menerima ketidaksempurnaan diri memang tidak selalu semudah yang terdengar. Di tengah banyaknya momen komparasi diri dengan orang lain di media sosial, ekspektasi penduduk yang menyesakkan, hingga pergulatan batin, bisa dibilang belajar untuk menerima diri, dengan lebih dan kurangnya, adalah perjalanan seumur hidup.

Jika Anda sedang dalam proses menerima diri sendiri, Anda bisa coba berkenalan dengan konsep asal Jepang disebut "wabi-sabi". Konsep ini melihat bahwa menerima ketidaksempurnaan jauh lebih elok daripada sekadar kecantikan konvensional. Ketika diterapkan dalam hubungan dengan diri sendiri, konsep ini dapat menumbuhkan penerimaan diri dan kepercayaan diri.

Yuk, cari tahu sepertiapa Anda bisa menerapkan konsep ini untuk belajar menerima diri sendiri dengan lebih baik!

Apa Itu Wabi-Sabi?

Ketika diterapkan dalam hubungan dengan diri sendiri, filosofi wabi-sabi dapat menumbuhkan penerimaan diri dan kepercayaan diri.

Apa Itu Wabi-Sabi?/Foto: Pexels.com

Menurut psikolog klinis Angela Chen, MPH, PHD, wabi-sabi adalah filosofi Jepang yang menghargai keelokan dalam ketidaksempurnaan. Misalnya buah maupun sayuran yang bentuknya tidak sempurna, wajah yang tidak sepenuhnya simetris, hingga proses penuaan. 

Kata "wabi" mengacu pada upaya menemukan harta arti dalam kesederhanaan di mana pun kita berada. Sedangkan "sabi" lebih berhubungan dengan fluktuasi alami akibat usia dan waktu, di mana penuaan maupun penurunan kondisi jasmani justru tampak anggun.

Menurut terapis Chloe Bean, LMFT, filosofi ini biasanya diterapkan dalam seni dan rancangan melalui elemen asimetri, karya yang sengaja dibiarkan tampak belum rampung, maupun penggunaan kayu yang sudah menua. Contohnya adalah kintsugi, yaitu seni tradisional Jepang untuk memperbaiki tembikar yang pecah dengan menambal retakan menggunakan pernis yang ditaburi maupun dicampur dengan bubuk emas, perak, maupun platina.

Menurut Chen, kintsugi merupakan karya seni yang menjunjung tinggi harga wabi-sabi karena seni ini justru menonjolkan retakan pada tembikar yang pecah yang dibalut dengan bubuk emas, perak, maupun platina. Justru, karya seni ini mau memberitahu bahwa ada keelokan dalam ketidaksempurnaan.

"Praktik ini bermaksud untuk menonjolkan, bukan menyembunyikan, keelokan dari ketidaksempurnaan yang kelihatan serta sejarah di baliknya," ungkap Chen.

Namun, filosofi wabi-sabi sebenarnya tidak terbendung pada bumi rancangan saja, Beauties. Saat diterapkan dalam praktik kesadaran diri dan introspeksi, filosofi ini dapat membantu Anda membangun kepercayaan diri seiring berjalannya waktu.

Bagaimana Wabi-Sabi Dapat Membantu Kita Menerima Diri Sendiri

Ketika diterapkan dalam hubungan dengan diri sendiri, filosofi wabi-sabi dapat menumbuhkan penerimaan diri dan kepercayaan diri.

Bagaimana Wabi-Sabi Dapat Membantu Kita Menerima Diri Sendiri/Foto: Pexels.com

Bean menerangkan bahwa menerapkan hakikat wabi-sabi dapat membantu menaikkan penerimaan diri dan kepercayaan diri dengan memberikan persetujuan kepada diri sendiri untuk tidak menjadi sempurna. 

Sebagai cara awal, penerimaan diri berarti melepaskan rasa malu yang sering kita bawa saat kita tidak bisa memenuhi standar dan harapan orang lain. Lebih lanjut, kepercayaan diri berhubungan dengan kepercayaan terhadap kapasitas dan keahlian diri sendiri, sambil menyadari serta memanfaatkan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Wabi-sabi mendukung sikap-sikap ini karena filosofi tersebut merangkul ketidaksempurnaan.

Konsep wabi-sabi dapat mengajarkan kita untuk melihat beragam sisi dari dalam diri, termasuk merangkul segala kekurangan dan luka emosional yang menjadi bagiankecil krusial dari jati diri kita. Wabi-sabi juga mengajarkan kita untuk selesai melawan maupun menghindari kenyataan, sambil menumbuhkan kesadaran penuh maupun mindfulness.

Cara Menerapkan Wabi-Sabi

Ketika diterapkan dalam hubungan dengan diri sendiri, filosofi wabi-sabi dapat menumbuhkan penerimaan diri dan kepercayaan diri.

Cara Menerapkan Wabi-Sabi/Foto: Pexels.com

Perhatikan Ketidaksempurnaan Diri Tanpa Menghakimi

Setiap hari, coba luangkan waktu beberapa menit untuk mengamati hal-hal yang tidak sempurna dari dalam diri tanpa menghakimi, misalnya kerutan dan bercak penuaan di wajah.

"Menjadikan hal ini sebagai kebiasaan akan membangun keahlian mindfulness (kesadaran penuh), khususnya kesadaran akan momen saat ini tanpa pikiran kritis ataupun penghakiman," ujar Chen. Hal ini juga mengajarkan kita untuk membiarkan segala sesuatu apa adanya, alih-alih memaksakan sepertiapa seharusnya maupun sepertiapa hal itu bisa terjadi.

Ubah Cara Pandang terhadap Kekurangan dan Kesalahan

Bagaimana jika kenangan menyakitkan dan kekurangan diri yang kita rasakan sebenarnya merupakan bukti ketangguhan, bukan tanda kerusakan? Praktik ini menumbuhkan sikap penerimaan dengan metode meredam rasa malu. Kamu juga bisa memandangnya sebagai upaya merangkul "retakan" dalam diri, seperti karya seni kintsugi. 

Hidup Berdampingan dengan Kritik Diri

Beauties, otakmu mungkin sering mengulang kritik yang ditujukan pada diri sendiri. Ketika kritik ini muncul, jangan berupaya untuk menghilangkannya. Biarkan pikiran itu datang tanpa perlu Anda hindari, alihkan perhatian, maupun menyingkirkanya.

Belajar hidup berdampingan berbareng pikiran-pikiran ini, alih-alih terjebak di dalamnya, akan mengajarkanmu bahwa pikiran tersebut sebenarnya tidak dapat mencelakai dirimu. Seiring waktu, praktik ini dapat menguatkan welas asih terhadap diri sendiri, sehingga membantu Anda merasa lebih percaya diri dan aman.

***

Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Artikel Lainnya Gaya Hidup Perempuan Masa Kini
Close Right Ads
Close Left Ads