Kurangnya Dukungan Pasca Melahirkan, Bunda Ini Ungkap Sisi Gelap Menyusui

Jun 26, 2026 09:10 AM - 15 jam yang lalu 675

Jakarta -

Kisah menyusui setiap Bunda tentu berbeda-beda. Bagi sebagian ibu, menyusui menjadi momen penuh kehangatan dan kedekatan dengan Si Kecil. Namun bagi sebagian lainnya, perjalanan menyusui justru dipenuhi tantangan fisik, emosional, hingga trauma yang membekas lama setelah masa nifas berakhir.

Mengutip laman BBC, sejumlah ibu baru mengungkapkan pengalaman mereka tentang sisi gelap menyusui di masa-masa awal setelah melahirkan. Mereka menilai kurangnya support pasca persalinan yang diterima tetap kurang memadai sehingga membikin proses menyusui menjadi pengalaman yang sangat berat secara mental maupun fisik.

Kehilangan support di hari-hari pertama jadi Bunda

Kisah menyusui pertama dari Jess Nicholson, seorang ibu asal Brighton yang melahirkan bayi kembar perempuannya melalui operasi caesar pada September 2025.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Alih-alih menikmati momen senang setelah persalinan, kisah menyusui Jess justru mengalami pengalaman yang membuatnya trauma. Ia menceritakan bahwa salah satu bayinya sempat membiru dan nyaris kehabisan napas saat mencoba menyusu untuk pertama kalinya.

"Saya ingat berpikir, bayi-bayi ini baru lima menit berada di dunia, dan saya sudah nyaris membunuh salah satunya," kata Jess Nicholson.

Tak hanya itu, Jess juga merasa situasi semakin susah lantaran bangsal tempat dia dirawat mengalami kekurangan staf. Setiap kali memerlukan bantuan, Jess kudu menunggu cukup lama setelah menekan bel panggilan. Menurutnya, Jess dan suaminya merasa kudu menghadapi semuanya sendiri tanpa support yang memadai. 

"Hanya ada saya, suami saya, dan kedua bayi kami yang berupaya mencari langkah untuk menjaga bayi-bayi mini ini tetap hidup tanpa support apa pun," ujarnya.

Akibat pengalaman tersebut, Jess mempertimbangkan untuk tidak mempunyai anak lagi. Ia tidak mau mengalami seperti momen awal-awal menyusui. 

"Saya tahu saya tidak bakal mempunyai anak lagi, lantaran saya tidak mau melalui masa-masa awal setelah melahirkan seperti itu lagi."

Triple feeding yang menguras bentuk dan mental

Kisah menyusui lainnya datang dari Vicki Rose yang melahirkan bayinya melalui operasi caesar darurat setelah mengalami jangkitan selama persalinan.

Setelah melahirkan, produksi ASI Vicki tidak langsung lancar. Ia kemudian disarankan menjalani metode triple feeding. Metode triple-feeding bermaksud meningkatkan produksi ASI dengan tiga langkah berurutan, menyusui bayi secara langsung, kemudian memberikan tambahan ASI perah alias susu formula (biasanya melalui botol), lampau memompa ASI selama 15 menit.

Akibatnya, Vicki kudu mengikuti agenda ketat untuk menyusui dan memompa ASI setiap tiga jam, termasuk sepanjang malam. Bagi Vicki, metode ini sangat melelahkan.

"Sama sekali tidak ada persiapan mengenai sungguh beratnya menjalani triple-feeding. Saya apalagi nyaris tidak punya waktu untuk pergi ke toilet, apalagi untuk makan. Itu betul-betul masa yang sangat berat," katanya.

Tak hanya itu, Vicki mengatakan bahwa dia merasa kehilangan momen-momen berbobot pada masa awal kehidupan bayinya.

"Saya tidak bisa pergi ke mana-mana, yang kemudian semakin memengaruhi kesehatan mental saya lantaran saya hanya terjebak di rumah sepanjang hari sembari terus memandang jam," ujarnya.

Lebih menyakitkan lagi, ketika berat badan putrinya susah naik. Vicki merasa seolah-olah tenaga medis menyiratkan bahwa dirinya tidak berupaya cukup keras dan membiarkan bayinya kelaparan. Menurut Vicki, tenaga kesehatan perlu mendapatkan training yang lebih baik mengenai langkah berkomunikasi dengan ibu baru.

"Karena satu komentar saja betul-betul bisa membikin seseorang terpuruk," katanya.

Kisah menyusui Vicky menunjukkan bahwa selain support medis, para ibu baru juga memerlukan empati, komunikasi yang baik dan support emosional selama masa menyusui dan pemulihan setelah melahirkan.

Merasa seperti mesin penghasil ASI

Kisah menyusui selanjutnya adalah dari Lucy. Dia dan suaminya sebenarnya sudah mempersiapkan diri sebelum kelahiran anak mereka. Mereka mengikuti kelas persiapan persalinan (antenatal) dan sesi virtual menyusui yang diselenggarakan oleh National Health Service.

Namun kenyataannya jauh berbeda dari teori yang dipelajari. Pada minggu-minggu pertama setelah melahirkan, Lucy mengalami rasa nyeri luar biasa setiap kali menyusui.

"Rasanya sangat sakit sampai membikin jari-jari kaki saya refleks menekuk," katanya menggambarkan nyeri yang dialami.

Seperti Vicki, Lucy juga diminta menjalani triple feeding. Rutinitas tersebut membuatnya merasa kehilangan momen berbobot berbareng Si Kecil. 

Setelah menyusui, dia kudu segera menyerahkan bayinya kepada sang suami Sean agar dapat memompa ASI. Akibatnya, Lucy merasa tidak mempunyai kesempatan menikmati momen tenang memeluk dan menenangkan bayinya setelah menyusui. Ia apalagi menyebut dirinya seperti mesin penghasil ASI.

"Yang saya lakukan hanyalah menyusuinya, lampau menyerahkannya kepada Sean agar saya bisa memompa ASI. Jadi saya tidak mendapatkan momen-momen bagus setelah menyusui, seperti memeluk bayi dengan tenang dan penuh kebahagiaan. Saya seperti hanya menjadi mesin penghasil ASI, kata Lucy.

Saat mengenang kembali pengalaman tersebut, Lucy mengatakan bahwa tidak pernah ada yang menanyakan apa yang sebenarnya menjadi prioritas dan keinginannya mengenai proses pemberian makan pada bayinya.

"Tidak pernah ada yang bertanya kepada kami apa prioritas kami dan apa yang sebenarnya kami inginkan dari proses menyusui ini."

Lucy mengaku tetap menyimpan banyak kenangan susah tentang masa-masa awal setelah kelahiran anaknya.

"Saya mempunyai banyak kenangan yang menantang tentang periode bayi baru lahir. Saya juga menyimpan banyak kekhawatiran ketika mengingat masa itu," tuturnya.

Terlalu banyak orang terlibat

Kisah menyusui ketiga ibu ini merasa banyak orang yang terlibat. Mereka mengaku menerima saran yang berbeda-beda dari beragam tenaga kesehatan. Mereka juga merasa tidak sepenuhnya dilibatkan dalam pengambilan keputusan mengenai langkah memberi makan bayi mereka.

Vicki mengaku merasa kembali mengalami trauma setiap kali kudu menceritakan ulang perjalanan menyusuinya kepada tenaga kesehatan yang berbeda.

"Terlalu banyak orang yang terlibat, lantaran setiap kali berjumpa orang baru, Anda kudu menceritakan kembali seluruh kisah dari awal." 

Selain itu, para ibu tersebut menilai bahwa sebelum melahirkan mereka mendapatkan banyak info mengenai pentingnya menyusui. Namun, mereka merasa kurang mendapatkan edukasi mengenai tantangan nyata yang mungkin terjadi setelah bayi lahir.

Jess mengatakan bahwa kondisi itu membikin para ibu merasa bersalah ketika menyusui tidak melangkah sesuai harapan.

"Anda merasa seperti membikin pilihan yang salah setiap saat lantaran semuanya tidak melangkah mudah seperti yang selama ini diberitahukan kepada Anda," kata Jess.

Pentingnya support menyusui yang holistik

Sementara itu, Carla Mastroianni, seorang Konsultan Laktasi Bersertifikat Internasional (IBCLC) yang berbasis di Brighton, mengatakan bahwa support dan saran mengenai pemberian makan bayi semestinya diberikan secara lebih holistik alias menyeluruh.

Menurutnya, pendampingan tidak hanya berfokus pada keberhasilan menyusui semata, tetapi juga perlu mempertimbangkan kondisi fisik, kesehatan mental, kebutuhan keluarga, serta pilihan yang paling realistis dan nyaman bagi ibu maupun bayi.

Menurut Carla Mastroianni, para tenaga kesehatan sering kali terlalu konsentrasi pada rencana pemberian makan bayi tanpa betul-betul memperhatikan kondisi ibu yang menjalaninya.

"Kami memandang rencana ini, tetapi tidak ada yang memandang ibu di kembali rencana tersebut. Jika kami bertanya, kami bakal tahu bahwa sebenarnya dia tidak baik-baik saja, tidak bisa mengatasinya, dan sedang tenggelam dalam kesulitan," kata Mastroianni.

Selain itu, Mastroianni juga menyoroti minimnya sumber daya yang tersedia untuk mendukung ibu menyusui. Menurutnya, training mengenai pemberian makan bayi bagi tenaga kesehatan apalagi nyaris tidak ada sama sekali.

Menurut Mastroianni, seorang ahli pemberian makan bayi semestinya mengunjungi ibu baru setidaknya dua kali seminggu selama dua hingga tiga minggu pertama setelah melahirkan.

"Dalam situasi yang ideal, seorang ahli pemberian makan bayi semestinya mengunjungi seorang ibu dua kali seminggu selama dua hingga tiga minggu pertama," ujarnya.

Begitulah kisah menyusui para Bunda yang merasa menyusui bukan perihal yang mudah. Semoga informasinya berfaedah ya Bunda. 

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya