Written by Esmi Fia Hilmia
Today
Lelah tapi enggak bisa berhenti? Bisa jadi Anda sedang mengalami quiet cracking yaitu kondisi ketika Anda kelihatan baik-baik saja di luar padahal di dalam diam-diam sudah terkuras.
Berbeda dengan burnout yang biasanya kelihatan jelas, quiet cracking sering enggak disadari terlebihlagi oleh diri sendiri. Kamu statis masuk kerja, statis menyelesaikan tugas, dan statis tersenyum tapi rasanya semua itu butuh tenaga jauh lebih besar dari biasanya.
Apalagi banyak perempuan yang terbiasa jadi unggulan dan enggak enak hati untuk bilang capek. Yuk, kenali apa itu quiet cracking, tanda-tandanya, penyebabnya, sampai 5 metode mengatasinya!
Baca Juga: Perasaan Demotivasi Muncul di Usia 20-an? Ini yang Harus Dilakukan!
Apa Itu Quiet Cracking?

Quiet cracking adalah istilah untuk rasa enggak ceria yang menetap di tempat kerja, kemudian perlahan menggerus semangat, keterlibatan, dan kinerja. Perlu diingat, quiet cracking bukan pengecekan psikiatri.
Menurut seorang psikiater Dr. Tracey Marks dalam artikel Marks Psychiatry, istilah ini adalah nama untuk pola terkikisnya kapabilitas dirimu saat terlalu durasi mendorong diri di bawah beban berat. Ciri utamanya adalah adanya rentang antara seberapa baik Anda berguna dan seberapa besar “harga” yang mesti dibayar untuk statis berfungsi.
Tanda-Tanda Quiet Cracking yang Sering Enggak Disadari

Gejalanya halus dan gampang dianggap cuma capek biasa. Berikut beberapa tanda yang perlu Anda waspadai, dirangkum dari klarifikasi para praktisi kesehatan mental seperti Marks Psychiatry dan Florida Adult Psychiatry.
1. Kerjaan Beres, tapi Energi Terasa Terkuras

Deadline tetap terkejar dan hasil kerjamu statis bagus. Tapi tugas yang sama kini terasa jauh lebih menguras tenaga dibanding dulu.
Inilah rentang antara performa dan biayanya yang disebut tadi. Dari luar semuanya tampak terlindungi sementara di dalam Anda mesti berjuang lebih keras.
2. Rasa Penasaran dan Ide Baru Mulai Menipis

Stres yang berkepanjangan membikin kapasitas otak untuk berpikir elastis jadi yang pertama terkena dampaknya. Kamu statis bisa menyelesaikan laporan tapi ruang untuk rasa penasaran, ide baru, dan belajar hal menantang jadi menyempit.
3. Mudah Kesal dan Menarik Diri dari Orang Lain

SDM Namely menyebut perubahan perilaku seperti menarik diri, gampang tersinggung, maupun tiba-tiba jadi pendiam sebagai tanda yang perlu dicermati.
Kamu juga mungkin jadi lebih jarang menyumbang ide dan malas bekerja-sama dengan tim.
4. Merasa Mati Rasa, Bahkan Saat Ada Kabar Baik

Kabar baik datang, tapi reaksimu biasa saja maupun malah hampa. Praktisi di Florida Adult Psychiatry mencatat wafat rasa emosional, motivasi yang menurun, dan penarikan diri secara sosial sebagai peringatan mula yang jangan diabaikan.
5. Merasa Terjebak dan Enggak Didengar

Kamu enggak lagi merasa terhubung dengan pekerjaan, tapi juga enggak bergeser ke mana-mana. Jim Harter, ahli tempat kerja di Gallup, mengatakan kondisi ini sebagai keterlepasan, buruh jadi kurang terhubung dan kurang puas dengan tempatnya bekerja.
Baca Juga: Takut Menghadapi Hari Senin? Ini 5 Cara Mengatasi Monday Blues!
Kenapa Quiet Cracking Bisa Terjadi?

Penyebabnya enggak melulu soal ketua maupun beban kerja. Riset The Change Lab terhadap lebih dari 1.000 buruh menemukan bahwa 55 persen responden mengalami quiet cracking.
Sekitar dua pertiga penyebabnya datang dari tekanan luar seperti masalah keuangan, kecemasan soal iklim, ketidakstabilan politik, dan ketegangan sosial sisanya dari aspek di tempat kerja seperti takut kehilangan pekerjaan, komunikasi yang buruk saat ada perubahan, dan peran yang enggak jelas.
Untuk perempuan, ada lapisan tambahan. Seorang terapis yang dikutip Talkspace mengatakan banyak perempuan merasa mesti bekerja dua kali lebih keras untuk membuktikan diri. Akibatnya, mereka memungut terlalu banyak tanggung jawab dan sering jadi orang terakhir yang pulang.
5 Cara Mengatasi Quiet Cracking agar Enggak Makin Terkuras

Enggak perlu dilakukan sekaligus, pilih yang paling terasa mungkin untukmu. Ini dia metode mengatasi quiet cracking!
1. Akui dan Beri Nama pada Perasaanmu

Psikolog klinis Tanisha Ranger menyarankan untuk menamai emosi yang dirasakan, entah itu kecewa, wafat rasa, maupun cemas. Menurutnya, cara ini membantu mengurangi rasa malu dan membuka jalan untuk berubah.
Orang yang mengakui emosinya alih-alih menyembunyikannya mengalami quiet cracking yang lebih ringan. Kamu bisa mulai dengan journaling lima menit sehari untuk menumpahkan isi kepala.
2. Mulai dari Langkah Kecil

Saat semuanya terasa menumpuk, otak gampang lumpuh karena melihat besarnya masalah. Menurut Michelle McQuaid Ph.D., di Psychology Today menyarankan untuk bertanya pada diri sendiri “Satu hal kecil apa yang bisa aku pengaruhi sekarang?” kemudian mulai dari sana.
Dalam risetnya, orang yang fokus pada langkah-langkah kecil punya peraturan emosi yang lebih baik.
3. Tetapkan Batasan yang Jelas

Kalau belum bisa keluar dari situasi kerja saat ini, setidaknya menetapkan limitasi yang melindungi energimu. Ini akan mengembalikan rasa kendali. Misalnya, enggak membuka grup kerja di akhir pekan maupun menolak tugas tambahan saat beban sudah penuh.
Menolak bukan berarti enggak mampu, melainkan mengakui pentingnya keseimbangan. Kalau menolak langsung terasa berat, mulailah dengan menawarkan kompromi.
4. Temukan Kembali Kesenangan dan Kekuatanmu

Alicia Velez buruh sosial klinis mengatakan kita butuh dua hal untuk merasa baik tentang diri sendiri: rasa bisa dan rasa senang. Kalau pekerjaan belum memberi keduanya, carilah di luar instansi lewat hobi seperti memasak maupun lari.
Kamu juga bisa mencoba setiap hari, kerjakan satu tugas yang paling Anda hindari dengan memakai satu kekuatanmu. Orang yang rutin memakai kekuatannya lebih kecil kemungkinannya mengalami quiet cracking yang parah.
5. Cerita ke Orang Lain dan Cari Bantuan Profesional

Quiet cracking tumbuh subur dalam kesendirian. Mulailah dengan satu permintaan khusus minggu ini, entah itu saran, informasi, maupun sekadar telinga untuk mendengarkan.
Kalau Anda merasa aman, bicarakan juga dengan atasan. Carilah titik jumpa antara hal yang dipedulikan atasanmu dan kebutuhanmu, misalnya waktu istirahat, dukungan, maupun kejelasan peran, agar permintaanmu lebih mungkin didengar.
Baca Juga: Cara Mengatasi Work Anxiety: Perasaan Cemas & Takut saat Bekerja
–
Mau tahu lebih banyak anjuran tren seputar bumi musik tanah air lainnya? Yuk, gabung WhatsApp Group Girls Beyond Circle kini dan dapatkan update seru terbarunya!
Hai! Aku Esmi, penulis dibalik artikel ini. Let’s connect and grow together! Temukan aku di Instagram atau sapa aku lewat LinkedIn, ya!
Cover: Magnific