Bunda pernah dengar hero child syndrome? Hero child syndrome adalah ketika anak tumbuh dalam kondisi psikologis yang membikin mereka merasa kudu selalu kuat, berprestasi.
Namun, sebelum lebih jauh membahasnya, perlu dipahami bahwa sejatinya setiap personil mempunyai masing-masing peran dalam sebuah keluarga, termasuk anak-anak.
Pada family yang sehat, peran-peran itu bisa elastis dan kemungkinan didasarkan pada perbedaan kepribadian, minat, alias perilaku. Namun, dalam family yang 'tidak sehat' alias dalam ranah ilmu jiwa disebut disfungsional, peran-peran ini mempunyai tujuan yang berbeda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam family disfungsional, peran-peran personil keluarganya untuk membantu memulihkan keseimbangan dalam unit family yang sedang kacau. Salah satu peran ini, ialah hero child alias anak pahlawan.
Apakah hero child syndrome bakal merugikan anak? Simak selengkapnya dalam tulisan kali ini.
Hero child dalam keluarga
Dilansir Psychology Today, hero child adalah personil family yang berprestasi tinggi yang menggunakan pencapaian dan idealnya kesuksesannya untuk menjaga keutuhan keluarga.
Hero child termotivasi oleh penghargaan eksternal, biasanya pujian dari orang tua alias orang lain, dan mencapai apa pun yang mereka anggap sebagai kesuksesan.
"Anda mungkin berpikir, 'Lalu, apa yang salah dengan kesuksesan? Itu tidak terdengar begitu buruk….' Memang benar, peran anak pahlawan mungkin kurang mengenai dengan indikasi depresi di kemudian hari dibandingkan beberapa peran family disfungsional," ungkap Lauren Dennelly Ph.D., LCSW, penulis The Mental Health of Girls and Women.
Namun, menurut Dennelly, peran pahlawan mempunyai jebakan dan perjuangannya sendiri yang seringkali bersambung hingga dewasa dan membentuk kepribadian dengan langkah yang dapat berkarakter maladaptif.
Dampak Hero Child Syndrome pada Anak
Dikutip dari Prospect Therapy, hero child alias anak pahlawan ini secara keliru diberi kewenangan untuk mengurus segala sesuatu dan semua orang. Mereka biasanya muncul sebagai anak yang berprestasi tinggi dalam keluarga, berupaya mendapatkan persetujuan dan kekaguman dari orang tua.
Peran tersebut sering terbentuk dalam family dengan angan tinggi, alias di mana setidaknya satu orang tua tidak tersedia secara emosional, mendorong anak untuk mencari pengesahan melalui kesuksesan.
Hero child mungkin merasa bertanggung jawab untuk menjaga stabilitas keluarga, seringkali mengambil tanggung jawab yang signifikan di usia muda, yang dapat menumbuhkan rasa kompetensi dan keahlian yang kuat. Namun, peran ini dapat menyebabkan tekanan dan perfeksionisme.
Hero child ketika dewasa
Sebagai orang dewasa, anak-anak yang alami hero child syndrome condong berprestasi tinggi secara berlebihan, seringkali mengacaukan nilai diri mereka sendiri dengan apa yang telah mereka capai. Mereka bisa tidak menerima apa pun selain kesempurnaan dari diri mereka sendiri (dan terkadang orang lain), dan condong lebih cemas.
Para pemimpin di tempat kerja biasanya menyukai mereka lantaran menyelesaikan pekerjaan dengan baik, teman-teman menghargai mereka lantaran selalu punya jawaban alias rencana. Tetapi di kembali penampilan yang tampaknya mengagumkan ini, mungkin tersembunyi tubuh dan pikiran yang dilanda kepanikan, kebencian terhadap diri sendiri, dan kelelahan lantaran merasa tidak pernah cukup baik bagi diri mereka sendiri alias orang lain.
Dalam hubungan romantis kelak, hero child mungkin berjuang dengan kerentanan, takut bahwa nilai diri mereka mengenai dengan pencapaian mereka. Misalnya, mereka mungkin memprioritaskan kebutuhan pasangan mereka daripada kebutuhan mereka sendiri, yang menyebabkan ketidakseimbangan dalam hubungan.
Dalam pertemanan, mereka mungkin menjadi orang yang diandalkan untuk memberikan dukungan, seringkali mengabaikan kebutuhan emosional mereka sendiri. Secara profesional, mereka mungkin unggul dalam pekerjaan mereka tetapi mengalami kelelahan lantaran pengejaran kesuksesan yang tanpa henti dengan mengorbankan kebutuhan pribadi mereka.
Anak-anak yang memikul peran sebagai hero child sering tumbuh menjadi sosok yang berprestasi, namun rentan menerima kegagalan. Sebagai orang tua, Bunda dan Ayah mulai bisa mengarahkan anak agar tumbuh semestinya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·