Menyebut “Napoléon” (1927) sebagai movie riwayat hidup terasa kurang memadai. Abel Gance memang menceritakan perjalanan Napoleon Bonaparte sejak masa sekolah militernya hingga awal kampanye Italia, tetapi movie ini tidak terlalu tertarik menyusun sejarah secara objektif. Gance membangun mitologi.
Napoleon tampil sebagai sosok yang sejak mini seolah telah ditakdirkan menjadi pemimpin, sementara Revolusi Prancis menjadi panggung besar tempat takdir tersebut bergerak menuju kekuasaan. Yang membikin movie ini monumental bukan hanya skalanya, melainkan gimana Gance menggunakan nyaris seluruh kemungkinan bahasa sinema yang tersedia pada zamannya—dan kemudian mencoba menciptakan kemungkinan baru ketika teknik yang ada dianggap belum cukup.
Cerita dimulai di sekolah militer Brienne, ketika Napoleon muda memimpin perang bola salju dengan kecerdikan strategi yang sudah menyerupai seorang jenderal. Adegan ini menjadi semacam miniatur dari keseluruhan film. Gance tidak mencoba memperkenalkan Napoleon sebagai anak biasa yang perlahan berubah menjadi pemimpin besar. Sejak awal dia sudah dibingkai sebagai figur luar biasa. Setelah masa mudanya, cerita bergerak melalui Revolusi Prancis, bentrok politik di Paris, kepulangan Napoleon ke Corsica, pengepungan Toulon, masa Teror, hubungannya dengan Joséphine de Beauharnais, hingga keberangkatannya memimpin pasukan menuju Italia.

Secara screenplay, pendekatan tersebut menjadi kekuatan sekaligus kelemahan “Napoléon”. Gance membangun movie seperti rangkaian bagian sejarah yang terus memperbesar aura protagonisnya. Napoleon bukan karakter psikologis yang dianalisis secara kritis, melainkan figur sejarah yang perlahan berubah menjadi legenda. Perspektif ini membikin movie sangat efektif sebagai epik, tetapi kurang kompleks sebagai biografi. Sisi ambisius, autoritarian, dan destruktif Napoleon tidak banyak mendapatkan ruang lantaran cerita berakhir sebelum periode kekaisarannya. Film ini pada dasarnya menangkap Bonaparte muda sebagai simbol daya revolusioner dan nasionalisme Prancis.
Albert Dieudonné memainkan Napoleon dengan intensitas yang sangat sesuai dengan pendekatan tersebut. Tatapannya tajam, tubuhnya kaku, dan ekspresinya sering tampak seperti seseorang yang sudah memandang masa depan yang belum dipahami orang lain. Akting era movie bisu tentu mempunyai gestur yang lebih ekspresif dibandingkan naturalisme modern, tetapi Dieudonné relatif terkendali. Ia memberikan Napoleon kualitas nyaris misterius tanpa terus-menerus berjuntai pada aktivitas teatrikal.
Gina Manès sebagai Joséphine membawa dimensi yang lebih manusiawi ke tengah movie yang sangat didominasi mitologi politik. Hubungan mereka memang tidak berkembang sedalam drama romantis modern, tetapi kehadiran Joséphine krusial lantaran menunjukkan Napoleon dalam ruang personal. Pemeran pendukung lainnya apalagi mencakup Antonin Artaud sebagai Jean-Paul Marat, sementara Abel Gance sendiri tampil sebagai Saint-Just. Banyak figur sejarah datang dan pergi seperti bagian dari fresco besar mengenai Revolusi Prancis, sehingga movie lebih terasa sebagai pemandangan sejarah daripada drama karakter konvensional.
Namun argumen utama “Napoléon” tetap dibicarakan nyaris seratus tahun setelah dibuat adalah penyutradaraannya. Gance memperlakukan kamera bukan sekadar sebagai perangkat pencatat, tetapi sebagai sesuatu yang kudu ikut bergerak berbareng peristiwa. Dalam perang bola salju, kamera ditempatkan pada perangkat bergerak, diputar, dan digunakan untuk memberikan sensasi bahwa penonton berada di tengah serangan. Pada segmen pengejaran di Corsica, kamera dipasang pada kendaraan dan apalagi kuda untuk menciptakan sensasi kecepatan yang pada 1920-an tetap sangat tidak biasa. Dalam segmen kerusuhan di National Convention, kamera digantung pada struktur seperti pendulum sehingga gerakannya menyerupai ombak yang menyapu kerumunan.
Editing apalagi lebih eksperimental. Gance menggunakan rapid cutting, split screen, multiple exposure, superimposition, dan montase paralel dengan intensitas yang tetap terasa garang bagi movie bisu era tersebut. Salah satu pencapaian terbaiknya adalah rangkaian yang menghubungkan Napoleon menghadapi angin besar di laut dengan kekacauan politik di Paris. Laut bergelombang dan massa revolusioner diperlakukan sebagai dua manifestasi dari kekuatan yang sama: sejarah sebagai angin besar yang tidak dapat dikendalikan.

Film juga memperlihatkan pemahaman bahwa ritme editing dapat menghasilkan sensasi fisik. Semakin dekat movie dengan ledakan emosional alias politik, lama shot semakin pendek dan gambar dapat bertumpuk satu sama lain. Gance tidak selalu menginginkan penonton membaca setiap gambar secara rasional. Kadang dia mau penonton dihantam oleh gambar.
Puncak eksperimennya muncul pada bagian akhir melalui sistem yang kemudian dikenal sebagai Polyvision. Ketika Napoleon bersiap membawa pasukannya menuju Italia, frame konvensional tiba-tiba berkembang menjadi tiga layar. Tiga proyektor menciptakan pemandangan dengan rasio yang sangat lebar, tetapi Gance tidak hanya menggunakannya seperti widescreen modern. Ketiga layar kadang menampilkan pemandangan yang menyambung, tetapi pada kesempatan lain menampilkan gambar berbeda secara bersamaan, membentuk semacam kolase sinematik raksasa. Dalam movie yang terus berupaya memperbesar Napoleon, apalagi satu layar akhirnya dianggap tidak cukup.
Secara sinematografi, ambisi “Napoléon” memang luar biasa, tetapi estetika movie bukan hanya hasil perangkat teknis. Close-up wajah, kerumunan besar, lanskap, bayangan, tinting warna, dan komposisi geometris digunakan untuk membangun atmosfer. Gance dapat beranjak dari perincian wajah seseorang menuju ribuan manusia tanpa kehilangan rasa monumental. Film ini memahami bahwa sejarah dapat berjalan secara berbarengan pada skala intim dan massal.
Skala tersebut juga menjadi tantangan terbesar bagi penonton modern. Berbagai rekonstruksi “Napoléon” mempunyai lama berbeda, dan jenis restorasi BFI yang banyak beredar berdurasi sekitar lima separuh jam. Film memerlukan komitmen besar, sementara beberapa bagian memang terasa berulang alias terlalu antusias mengagungkan protagonisnya. Struktur episodiknya juga membikin momentum tidak selalu konsisten.

Kelemahan yang lebih mendasar berada pada langkah movie membangun kultus terhadap Napoleon. Gance begitu terpesona terhadap figur tersebut sehingga simbolismenya kadang menjadi terlalu eksplisit. Burung elang berulang kali digunakan untuk menandai kebesaran Napoleon, sementara beragam peristiwa masa mudanya dibaca seperti ramalan menuju kejayaan. Dalam perspektif kontemporer, pendekatan tersebut dapat terasa terlalu romantis terhadap kekuasaan dan nasionalisme.
Namun kekurangan ideologis tersebut tidak mengurangi signifikansi formalnya. Justru menarik memandang gimana teknologi sinema digunakan untuk menciptakan mitos politik. “Napoléon” bukan pengarsipan netral tentang seorang pemimpin; dia adalah contoh sangat awal mengenai keahlian movie menjadikan manusia tampak lebih besar daripada sejarah itu sendiri.
Ambisi awal Gance apalagi lebih besar lagi. “Napoléon” direncanakan sebagai bagian pertama dari enam movie yang bakal mengikuti seluruh perjalanan hidup Napoleon, tetapi proyek komplit tersebut tidak pernah terwujud. Film yang tersisa lantaran itu berakhir ketika tokohnya baru mulai memasuki fase kekuasaan yang lebih besar. Dalam satu sisi, ketidaklengkapan ini terasa ironis: sebuah movie yang mau menaklukkan keseluruhan kehidupan Napoleon akhirnya justru menjadi monumen terhadap ambisi yang tidak pernah sepenuhnya selesai.
Sebagai drama sejarah, “Napoléon” tidak selalu objektif, dan sebagai riwayat hidup terlalu memuja subjeknya untuk menjadi potret psikologis yang seimbang. Namun sebagai karya sinema, keberaniannya nyaris susah dipercaya. Kamera bergerak, montase, split screen, multiple exposure, ritme editing, hingga Polyvision memperlihatkan Gance seperti seorang kreator movie yang menolak menerima pemisah medium yang sedang digunakannya.
Yang paling mengesankan adalah banyak eksperimennya tidak terasa seperti gimmick teknologi. Teknik tersebut digunakan untuk membikin sejarah terasa fisik: revolusi menjadi gelombang, perang menjadi ritme, kerumunan menjadi organisme, dan Napoleon menjadi pusat gravitasi visual.
Pesan Moral
“Napoléon” secara sadar membangun narasi mengenai ambisi, kepemimpinan, dan keahlian seorang perseorangan mengubah sejarah. Namun jika dilihat dengan jarak nyaris satu abad, movie juga memberikan pelajaran yang mungkin tidak sepenuhnya dimaksudkan oleh Gance: kekuatan sebuah gambaran dapat mengubah manusia menjadi mitos.
Ketika sinema memandang seseorang dengan kekaguman terus-menerus, pemisah antara sejarah dan legenda menjadi semakin tipis. Karena itu, movie ini sekaligus menunjukkan sungguh kuatnya medium audiovisual dalam membentuk langkah masyarakat mengingat tokoh politik dan kekuasaan.
Dampak Budaya
“Napoléon” sekarang dianggap sebagai salah satu pencapaian teknis utama era movie bisu. Penggunaan kamera bergerak, rapid montage, split screen, superimposition, dan terutama finale tiga layar Polyvision membuatnya menjadi salah satu penelitian visual paling radikal sebelum munculnya format widescreen modern. BFI menempatkan movie ini pada posisi berbareng ke-225 dalam jajak pendapat kritikus Sight and Sound 2022 mengenai movie terbaik sepanjang masa.
Sejarah filmnya sendiri nyaris sama luar biasa dengan produksinya. Setelah perilisan 1927, “Napoléon” dipotong, disusun ulang, dan beredar dalam beragam versi. Sejarawan movie Kevin Brownlow kemudian menghabiskan puluhan tahun merekonstruksinya, menghasilkan restorasi BFI berdurasi sekitar lima separuh jam. Pada 2024, Cinémathèque française memperkenalkan rekonstruksi berbeda dari apa yang disebut “grande version” sekitar tujuh jam setelah proyek selama lebih dari 15 tahun yang melacak materi movie dari beragam arsip internasional. Bagian pertamanya dipresentasikan sebagai pembuka Cannes Classics 2024.
Warisan “Napoléon” tidak hanya terdapat pada kisah yang diceritakannya, tetapi pada pendapat mengenai apa yang mungkin dilakukan sinema. Hampir satu abad kemudian, banyak tekniknya sudah menjadi bagian normal dari bahasa film. Namun ketika ditempatkan kembali dalam konteks 1927, penelitian Gance terasa seperti upaya seorang sutradara untuk membikin medium yang tetap muda bergerak lebih sigap daripada zamannya sendiri.