Jakarta -
Nyeri menyusui merupakan gangguan umum pada busui terutama di awal-awal masa menyusui. Namun, perihal berbeda dialami pada seorang ibu satu ini. Ia merasakan nyeri saat menyusui dikira keluhan biasa, rupanya Bunda ini idap kanker stadium 4.
Adalah wanita berjulukan Gini Harrison yang menderita pemeriksaan tersebut. Seperti halnya para wanita pada umumnya usai melahirkan yang merasakan sakit, dia pun mengalami perihal yang sama. Namun, rasa sakit itu terbatas pada bahunya sehingga dia mengira hanya mengalami cedera otot lantaran menggendong bayinya dan menyusui.
Kenyataannya, ibu dua anak ini justru kudu menelan pil pahit lantaran pemeriksaan kanker paru-paru yang kudu diterimanya. Dokter umum awalnya meresepkan obat penghilang rasa sakit dan mengatakan bahwa ketidaknyamanannya bakal lenyap dalam beberapa minggu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berselang 10 bulan kemudian, penderitaan Gini justru malah bertambah buruk. Ia didiagnosis menderita kanker baru-baru. Mendengar perihal tersebut, dia kemudian terdiam. Ia merasa kaget lantaran dia merupakan wanita sehat yang tidak merokok dan tidak mempunyai indikasi khas, seperti sesak napas dan batuk.
“Satu-satunya indikasi yang saya alami adalah nyeri bahu yang semakin parah dan tidak kunjung hilang,” kata ibu dua anak ini kepada The Sun.
Diagnosis awal hanya kesalahan posisi menyusui
Dipaparkannya mengenai pemeriksaan tersebut ialah berasal ketika master mengira gangguan itu adalah masalah muskuloskeletal karena posisi menyusui yang jelek alias posisi ibu baru mengingat saya baru saja melahirkan putra pada akhir Februari 2021.
"Ketika tidak kunjung membaik, mereka mengatakan mungkin lantaran saya tidak bisa mengistirahatkan tubuh saya sebagai seorang ibu dengan bayi yang selalu saya gendong," ungkapnya.
Saat itu, kondisinya sedang pandemi COVID-19 dan semua janji jumpa medis dilakukan melalui telepon. Sehingga, tidak ada yang betul-betul bisa memandang seberapa parah kondisi sebenarnya.
Gini tidak berjumpa langsung dengan siapa pun selama sembilan bulan, dan saat itu dia sudah 'sangat frustrasi'. Akhirnya dia menemui master ahli di Klinik Saxon pada Oktober 2021 yang langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres padanya.
“Mereka menyuruh saya untuk melakukan MRI, yang hasilnya menunjukkan tumor di paru-paru kanan atas dan satu lagi di tulang belikat saya. Itu adalah perihal terakhir yang saya duga bakal terjadi pada saya saat libur melahirkan,” kata Gini, ibu dari Emily dan Michael.
Tak lama sebelum Natal tahun itu, dia mengetahui kanker yang dideritanya sudah stadium 4, artinya telah menyebar dari paru-paru.
Dalam kondisi yang dialami seperti Gini, hanya lima persen penderita kanker paru-paru yang memperkuat hidup selama lima tahun alias lebih setelah didiagnosis. Studi menunjukkan bahwa waktu memperkuat hidup rata-rata adalah 17 bulan.
Gini, seorang guru besar ilmu jiwa di Open University, mengatakan, “Saya adalah seseorang yang tidak pernah merokok, dan secara umum relatif sehat. Saya tidak mempunyai indikasi yang biasanya dikaitkan dengan kanker paru-paru. Saya tidak mengalami sesak napas, batuk, alias indikasi paru-paru lainnya. Saya betul-betul tidak percaya. Saya sangat terkejut. Rasanya seperti seluruh bumi saya tiba-tiba runtuh dan tidak ada yang masuk akal," katanya.
Terkait kondisi yang dialami Gini, master kemudian mengungkapkan bahwa Gini menderita penyakit yang dipicu oleh mutasi genetik langka, yang disebut kanker paru-paru non-sel mini EGFR Exon 20 (NCSLC).
EGFR, alias reseptor aspek pertumbuhan epidermal, adalah protein yang terlibat dalam pertumbuhan dan pembelahan sel-sel sehat. Pada beberapa orang dengan NCSLC, terdapat mutasi pada gen pengkode, yang dapat menyebabkan sel tumbuh di luar kendali dan menyebabkan kanker.
Ada sekitar 10-15 persen kanker paru-paru di Inggris mempunyai mutasi EGFR. Mutasi ini lebih umum terjadi pada perempuan, dan orang yang telah merokok kurang dari 100 batang rokok sepanjang hidup mereka.
"Saya belum pernah mendengar tentang kanker paru-paru non-perokok sebelum pemeriksaan saya. Saya tahu secara logis bahwa siapa pun dapat terkena kanker di bagian tubuh mana pun, tetapi saya tidak pernah betul-betul memikirkannya sebelumnya. Saya selalu berasumsi aspek akibat saya sangat rendah. Saya selalu mengaitkan kanker paru-paru dengan merokok. Saya sama sekali tidak pernah berpikir itu adalah sesuatu yang bisa terjadi pada saya, apalagi di usia semuda ini."
Kabar itu tentu cukup susah untuk dihadapinya sendiri, tetapi dia pun takut untuk memberitahukan kepada kedua anaknya mengenai kondisinya. "Anak laki-laki saya tetap terlalu mini untuk memahami apa yang terjadi, tetapi anak wanita saya berumur lima tahun saat saya didiagnosis, jadi kami memutuskan untuk sejujur mungkin dengannya. Kami tidak pernah duduk dan melakukan percakapan serius dengannya lantaran saya cemas itu mungkin bakal membuatnya sedikit takut," bebernya.
"Sebagai gantinya, kami memberinya info sedikit demi sedikit tentang kebenaran bahwa saya tidak begitu sehat dan kudu melakukan banyak tes. Kami memberi tahu dia bahwa saya bakal dirawat di rumah sakit untuk kemoterapi dan itu mungkin membikin saya sakit.”
Gini menambahkan bahwa anak-anaknya bisa sangat handal dan itu sungguh menakjubkan. Sebagai seorang psikolog, dia percaya bahwa kebenaran yang sesuai usia adalah langkah terbaik.
“Anak-anak cukup intuitif, jadi jika mau mencoba menyembunyikan sesuatu dari mereka, khayalan mereka bisa menjadi liar lantaran mereka menyadari sesuatu yang besar sedang terjadi. Emily tahu saya hanya kurang beruntung. Saya memastikan dia tahu bahwa itu bukan kesalahannya alias kesalahan orang lain, dan itu bukan sesuatu yang bisa menular. Karena saya didiagnosis selama COVID-19, itu adalah sesuatu yang sangat mau saya jelaskan, lantaran saya tidak mau dia takut mendekati saya. Saya sangat bangga dengan langkah Emily menangani semuanya, dengan sangat tenang," kata Gini.
Faktor akibat ibu menyusui terkena kanker
Dikatakannya bahwa jika kalian belum pernah merokok, kesempatan untuk terhindar dari penyakit ini jauh lebih besar. Namun, akibat tetap mungkin terjadi untuk mengembangkan kanker paru-paru meskipun telah berakhir merokok. Faktanya, hingga 14 persen orang dengan kanker paru-paru di Inggris belum pernah merokok, menurut Cancer Research UK.
“Untuk memberikan perspektif, jika kanker paru-paru pada orang yang belum pernah merokok adalah penyakit terpisah, itu bakal menjadi penyebab kematian mengenai kanker kedelapan yang paling umum,” demikian peringatan badan kebaikan tersebut. Dalam informasi terpisah dari Ruth Strauss Foundation menunjukkan bahwa dari 50 ribu orang yang didiagnosis menderita kanker paru-paru setiap tahun di Inggris, sekitar 7.000 di antaranya bukanlah perokok.
Seiring waktu, jumlah dari kasusnya terus meningkat. Para mahir menyalahkan polusi udara, serta asap masakan, radon, asap rokok pasif, kompor kayu alias batu bara, dan mutasi genetik seperti EGFR.
Dalam perihal ini, wanita paling banyak terkena dampaknya, dengan nyaris 7 dari 10 kasus. Sayangnya, sekitar 90 persen pasien didiagnosis pada stadium lanjut penyakit, ketika penyakit tersebut tidak dapat disembuhkan lagi. Memang, kanker paru-paru stadium 4 tidak dapat disembuhkan, tetapi pengobatan dapat membantu memperpanjang hidup seseorang.
Pada kasus yang dialami Gini, lantaran tumornya terlokalisasi, Gini menjalani kemoterapi dan radioterapi di Guy’s and St Thomas’ Hospital di London, yang sukses sebaik mungkin.
Sekarang dia tidak mempunyai penyakit yang terukur dan menjalani pemindaian setiap tiga bulan sebagai tindakan pencegahan. Dokternya percaya sel kanker tetap ada tetapi belum terlihat pada pemindaian dan sayangnya itu bisa berubah kapan saja.
Dengan kondisi yang dia alami, Gini merasa sangat beruntung lantaran banyak pihak yang memberikan support untuknya. Dikatakannya bahwa sebagian besar orang sangat baik. Mereka semua terkejut, tetapi sebagian besar dari mereka telah membantu dan sangat mendukung.
“Suami saya, Andy, sangat luar biasa saat saya mulai menjalani perawatan, begitu pula family saya. Saya tidak tahu gimana saya bisa melewatinya tanpa mereka.”
Penting diketahui bahwa kanker paru-paru adalah kanker paling mematikan yang umum terjadi di Inggris. Kanker ini dianggap umum berbarengan dengan kanker prostat, payudara, dan usus, yang bersama-sama mencakup lebih dari separuh dari semua kasus baru.
Sekitar 49 ribu orang didiagnosis menderita kanker paru-paru setiap tahun dan 35 ribu meninggal karenanya. Hanya satu dari 10 pasien yang memperkuat hidup selama satu dasawarsa alias lebih setelah didiagnosis dan tumor paru-paru menyumbang 21 persen dari kematian akibat kanker di Inggris.
Kanker ini sangatlah mematikan lantaran gejalanya tidak jelas pada tahap awal. Di tahap awal, gejalanya mungkin meliputi sebagai berikut:
1. Batuk yang berjalan tiga minggu alias lebih, dan mungkin terasa sakit
2. Infeksi dada berulang
3. Batuk berdarah
4. Sesak napas
5. Kelelahan yang tidak biasa
The National Health Service tidak secara rutin melakukan skrining kanker paru-paru tetapi sedang meluncurkan lebih banyak tes untuk perokok dan mantan perokok yang berisiko tinggi, dalam upaya untuk mendeteksinya lebih awal. Pengujian sendiri dalam perihal ini dapat melibatkan rontgen dan CT scan dada.
Terkait penyebab dari kanker paru-paru, dari sekian penyebab yang ada, perokok adalah aspek akibat nomor satu dan menyumbang sekitar 70 persen kasus. Risikonya juga mungkin lebih tinggi bagi orang yang menghirup asap alias unsur berbisa lainnya di tempat kerja, seperti asbes, asap batu bara, alias silika.
Gini yang menjalani hari-harinya dengan diagnosa tersebut telah kembali bekerja setelah menunjukkan respons yang baik terhadap pengobatan yang dijalaninya. Dengan kasus yang dialaminya, dia mau lebih banyak orang menyadari bahwa kanker paru-paru pada non-perokok, dan tanda-tanda utama yang perlu diperhatikan.
“Kanker paru-paru dapat terjadi pada siapa saja. Yang kalian butuhkan hanyalah paru-paru,” katanya.
Ditambahkannya bahwa kita tahu bahwa jumlah wanita yang terkena kanker paru-paru yang tidak mengenai dengan merokok dua kali lipat lebih banyak daripada pria, dan jumlahnya meningkat pada orang di bawah 55 tahun.
“Hal utama yang mau saya sampaikan adalah bahwa gambaran stereotip pasien kanker paru-paru terjadi pada laki-laki tua yang merupakan perokok seumur hidup itu salah. Faktanya, siapa pun bisa terkena. Jadi, jika ada sesuatu yang terasa tidak beres dengan kesehatan diri sendiri, segeralah memeriksakan diri lantaran pemeriksaan awal sangat penting.”
Selain itu, dia juga mau mendesak siapa pun yang didiagnosis menderita penyakit ini untuk tidak berasumsi yang terburuk.
“Pertama-tama, jangan panik. Saya tahu ketika seseorang pertama kali didiagnosis menderita kanker, rasanya seperti akhir sudah dekat, tetapi itu tidak selalu demikian,"katanya.
Beruntung, banyaknya penelitian yang dilakukan membikin banyaknya pula pilihan pengobatan yang tersedia.
“Ketika saya pertama kali didiagnosis menderita NSCLC EGFR Exon 20, tidak ada pengobatan yang tersedia di Inggris untuk jenis mutasi genetik spesifik saya. Sekarang ada dua dan beberapa lagi sedang dalam pengembangan. Intinya, luangkan waktu untuk mendapatkan semua info yang kalian bisa. Bicaralah dengan mahir onkologi untuk mengetahui mutasi genetik apa yang menyebabkan kanker tersebut, dan selidiki beragam pilihan pengobatan yang tersedia untuk itu. Imunoterapi dan terapi sasaran telah membikin terobosan besar dalam kanker paru-paru dalam dasawarsa terakhir.”
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·