Openai Minta Data Kerja Asli Kontraktor Demi Latih Ai, Aman?

Jan 10, 2026 02:14 PM - 4 bulan yang lalu 121300

Kincai Media – Ambisi OpenAI untuk menciptakan kepintaran buatan yang setara alias apalagi melampaui keahlian manusia (AGI) sekarang memasuki fase baru yang cukup kontroversial. Perusahaan di kembali ChatGPT tersebut dilaporkan meminta para kontraktor pihak ketiga untuk mengunggah tugas nyata dan arsip original dari pekerjaan mereka saat ini alias sebelumnya, guna melatih dan mengevaluasi model AI generasi terbaru.

Langkah ini terungkap melalui arsip internal yang melibatkan OpenAI dan perusahaan penyedia informasi pelatihan, Handshake AI. Proyek ini bermaksud untuk menetapkan “tolok ukur manusia” (human baseline) yang akurat. Dengan membandingkan output AI melawan hasil kerja ahli manusia di beragam industri, OpenAI berambisi dapat mengukur seberapa dekat mereka dengan pencapaian AGI. Namun, metode ini memicu kekhawatiran serius mengenai privasi informasi dan potensi pelanggaran rahasia dagang.

Dalam instruksinya, OpenAI meminta kontraktor untuk mengambil contoh pekerjaan jangka panjang alias kompleks yang pernah mereka kerjakan, lampau mengubahnya menjadi tugas untuk AI. Tidak main-main, mereka meminta “output konkret” berupa file original seperti arsip Word, PDF, PowerPoint, Excel, hingga repositori kode, bukan sekadar ringkasan.

Risiko Kebocoran Rahasia Dagang

Permintaan ini tentu saja bukan tanpa risiko. Meskipun OpenAI menginstruksikan kontraktor untuk menghapus info pribadi (PII) dan informasi kekayaan intelektual perusahaan, pelaksanaannya di lapangan sangat berjuntai pada penilaian perseorangan kontraktor tersebut. Salah satu arsip presentasi memberikan contoh tugas dari seorang manajer style hidup mewah yang diminta membikin draf rencana perjalanan kapal pesiar ke Bahama.

Kontraktor diminta mengunggah itinerary original yang pernah mereka buat untuk pelanggan nyata. Meski ada perintah untuk melakukan anonimisasi, pemisah antara informasi umum dan rahasia perusahaan seringkali kabur. Hal ini menjadi sorotan tajam, terutama mengingat fitur baru AI yang semakin garang dalam memproses informasi sensitif.

Evan Brown, seorang pengacara kekayaan intelektual, memperingatkan bahwa laboratorium AI yang menerima info rahasia dari kontraktor dalam skala besar bisa menghadapi tuntutan norma atas penyalahgunaan rahasia dagang. Kontraktor yang menyerahkan arsip dari tempat kerja lama mereka, meskipun sudah disensor, berisiko melanggar perjanjian kerahasiaan (NDA) dengan mantan pemberi kerja.

“Laboratorium AI meletakkan kepercayaan yang sangat besar kepada kontraktor untuk memutuskan apa yang rahasia dan apa yang tidak,” ujar Brown. Ia mempertanyakan apakah perusahaan AI betul-betul memverifikasi informasi yang masuk, alias sekadar menerima akibat tersebut demi mendapatkan informasi training berbobot tinggi.

Menariknya, arsip tersebut juga menyebut sebuah perangkat internal ChatGPT berjulukan “Superstar Scrubbing” yang memberikan saran tentang langkah menghapus info rahasia. Namun, keberadaan perangkat ini justru menegaskan bahwa OpenAI sadar bakal potensi ancaman yang mengintai dari strategi pengumpulan informasi mereka.

Perburuan Data Berkualitas Tinggi

Strategi ini menyoroti tren yang lebih luas di industri kepintaran buatan: pergeseran konsentrasi dari jumlah informasi ke kualitas data. Perusahaan seperti OpenAI, Anthropic, dan Google sekarang berlomba-lomba merekrut “pasukan” kontraktor mahir untuk menghasilkan informasi training yang bisa mengotomatisasi pekerjaan perusahaan (enterprise work). Hal ini sejalan dengan banyaknya kegiatan populer pengguna yang sekarang memanfaatkan AI untuk tugas profesional.

Permintaan bakal informasi berbobot tinggi ini telah menciptakan sub-industri yang menguntungkan. Handshake AI, mitra OpenAI dalam proyek ini, dilaporkan mempunyai valuasi miliaran dolar. Sementara itu, perusahaan lain seperti Surge AI apalagi mematok valuasi puluhan miliar dolar. Fenomena ini juga berakibat pada industri perangkat keras, di mana produsen sekarang lebih fokus ke AI untuk memenuhi kebutuhan komputasi yang melonjak.

Selain merekrut kontraktor, OpenAI tampaknya juga menjajaki langkah lain yang lebih ekstrem untuk mendapatkan informasi nyata. Seorang sumber mengungkapkan bahwa perwakilan OpenAI pernah menanyakan kemungkinan memperoleh informasi dari perusahaan yang sudah ambruk melalui likuidator. Data tersebut mencakup arsip internal dan email. Namun, buahpikiran tersebut ditolak lantaran kekhawatiran bahwa info pribadi tidak dapat sepenuhnya dihapus secara aman.

Langkah OpenAI ini menunjukkan sungguh putus asanya raksasa teknologi untuk mendapatkan informasi “dunia nyata” demi melatih model mereka agar tidak hanya pandai berteori, tetapi juga ocehan bekerja. Namun, menyerahkan tanggung jawab penyortiran informasi rahasia kepada pekerja lepas adalah pertaruhan besar yang bisa berujung pada sengketa norma di masa depan.

Selengkapnya