Pengertian Merger – Memperluas pasar, menaikkan efisiensi, maupun menguatkan posisi di industrinya.
Salah satu strategi yang dikenal adalah merger.
Istilah merger sering muncul ketika dua perusahaan berbuat penggabungan upaya dan membentuk struktur perusahaan yang baru maupun melanjutkan aktivitas upaya dalam satu entitas.
Namun, apa sebenarnya pengertian merger, bagaimana proses merger itu berlangsung, serta kenapa beberapa perusahaan besar bisa sampai berbuat merger?
Memahami konsep dasarnya dapat membantu melihat sepertiapa strategi korporasi ini bekerja dalam bumi bisnis.
1. Apa pengertian merger dalam bisnis?
Merger adalah proses penggabungan dua perusahaan maupun lebih menjadi satu kesatuan bisnis.
Dalam proses tersebut, perusahaan-perusahaan yang bergabung menyatukan aktivitas usaha, aset, sumber daya, dan beragam sisi operasional sesuai struktur merger yang disepakati.
Tujuan merger dapat berbeda-beda.
Sebuah perusahaan dapat berbuat merger untuk:
- memperluas pasar;
- meningkatkan efisiensi;
- menggabungkan sumber daya;
- memperkuat posisi bisnis;
- memperluas produk maupun layanan;
- meningkatkan kapasitas operasional;
- menciptakan sinergi antar perusahaan.
Karena itu, merger bukan sekadar penggabungan nama perusahaan. Di dalamnya terdapat pula proses penggabungan beragam sisi upaya yang membutuhkan perencanaan dan pengelolaan secara menyeluruh.
2. Merger melibatkan penggabungan beragam sumber daya perusahaan
Ketika perusahaan berbuat merger, yang bergabung bukan cuma aktivitas penjualan.
Berbagai sumber daya dapat ikut menjadi bagiankecil dari proses penggabungan.
Contohnya:
Sumber daya manusia
Perusahaan perlu menyesuaikan struktur organisasi, posisi, tanggung jawab, dan adat kerja.
Aset
Aset perusahaan dapat menjadi bagiankecil dari struktur upaya setelah merger sesuai ketentuan yang berlaku.
Operasional
Sistem, proses kerja, supply chain, hingga aktivitas upaya dapat perlu diselaraskan.
Sistem teknologi keterangan dari masing-masing perusahaan mungkin perlu diintegrasikan.
Pelanggan
Basis pelanggan dari perusahaan yang bergabung dapat menjadi bagiankecil dari strategi upaya setelah merger.
Karena cakupannya luas, merger membutuhkan persiapan yang matang.
3. Mengapa perusahaan berbuat merger?
Tidak semua perusahaan berbuat merger dengan karena yang sama.
Beberapa tujuan yang lazim antara lain memperluas skala upaya dan menciptakan efisiensi.
Misalnya, dua perusahaan memiliki jaringan distribusi yang berbeda.
Setelah merger, jaringan tersebut dapat dikelola dalam satu struktur upaya sehingga perusahaan memiliki cakupan distribusi yang lebih luas.
Merger juga dapat digunakan untuk menguatkan kapasitas perusahaan dalam menghadapi persaingan industri.
Namun, keberhasilan merger statis bersandar pada sepertiapa proses integrasi dilakukan setelah penggabungan.
4. Merger dapat memperluas jangkauan pasar
Salah satu karena perusahaan berbuat merger adalah memperluas akses terhadap pasar.
Perusahaan pertama mungkin memiliki produk yang kuat tetapi jaringan distribusi terbatas.
Sementara perusahaan kedua memiliki jaringan distribusi yang lebih luas.
Melalui penggabungan, perusahaan dapat memperoleh kesempatan untuk mengembangkan produk ke daerah maupun bagian pelanggan yang sebelumnya belum terjangkau.
Strategi tersebut dapat membantu perusahaan menaikkan skala operasional.
Namun, perlu dilakukan analisis terlebih dahulu untuk memastikan bahwa kedua upaya memang memiliki potensi sinergi.
5. Merger dapat menciptakan efisiensi
Merger juga dapat berhubungan dengan efisiensi biaya dan operasional.
Misalnya dua perusahaan memiliki fungsi yang serupa dalam beberapa bagiankecil organisasi.
Setelah penggabungan, perusahaan dapat berbuat penilaian terhadap:
- struktur organisasi;
- sistem teknologi;
- jaringan distribusi;
- fasilitas;
- procurement;
- pemasaran;
- operasional;
- administrasi.
Tujuannya adalah menciptakan struktur yang lebih terintegrasi.
Namun, efisiensi tidak otomatis terjadi cuma karena merger.
Perusahaan statis perlu berbuat integrasi dan penilaian secara sistematis.
6. Kenali jenis merger berdasarkan hubungan bisnisnya
Merger dapat dikategorikan berdasarkan hubungan antara perusahaan yang bergabung.
Horizontal merger
Terjadi ketika perusahaan yang bergeser dalam industri maupun lini upaya yang sama berbuat penggabungan.
Contohnya adalah dua perusahaan yang menawarkan produk maupun jasa serupa.
Vertical merger
Terjadi ketika perusahaan yang eksis pada tahapan berbeda dalam rantai pasok berbuat penggabungan.
Misalnya perusahaan produsen bergabung dengan perusahaan yang eksis dalam jaringan distribusinya.
Conglomerate merger
Terjadi ketika perusahaan dari industri yang berbeda berbuat penggabungan.
Tujuannya dapat berhubungan dengan diversifikasi upaya maupun pengembangan portofolio usaha.
Market extension merger
Penggabungan dilakukan oleh perusahaan yang menawarkan produk serupa tetapi memiliki pasar geografis yang berbeda.
Product extension merger
Penggabungan terjadi pada perusahaan yang memiliki produk maupun jasa yang berhubungan tetapi tidak sepenuhnya sama.
Pembagian jenis tersebut membantu memahami ciri khas hubungan upaya dalam sebuah merger.
7. Bagaimana proses merger dilakukan?
Merger membutuhkan proses yang tidak sederhana.
Secara umum, tahapan tersebut dapat mencakup:
- Identifikasi peluang
Perusahaan menentukan karena dan tujuan merger.
- Evaluasi perusahaan
Masing-masing perusahaan berbuat analisis terhadap kondisi bisnis, aset, kewajiban, operasional, dan beragam sisi lainnya.
- Due diligence
Perusahaan berbuat pengecekan secara menyeluruh untuk memahami kondisi dan konsekuensi bisnis.
- Negosiasi
Pihak-pihak yang terlibat membahas struktur, harga transaksi, kepemilikan, dan beragam ketentuan lainnya.
- Penyusunan kesepakatan
Kesepakatan merger dituangkan dalam arsip dan struktur aturan yang sesuai.
- Persetujuan
Proses merger membutuhkan pemenuhan persetujuan dan ketentuan yang berlaku.
- Integrasi
Setelah merger berlangsung, perusahaan berbuat integrasi organisasi, sistem, operasional, dan sumber daya.
Tahapan sebenarnya dapat berbeda tergantung struktur transaksi, jenis perusahaan, dan ketentuan aturan yang berlaku.
8. Due diligence menjadi bagiankecil krusial dalam merger
Sebelum berbuat merger, perusahaan perlu memahami kondisi upaya yang akan digabungkan.
Proses tersebut dikenal sebagai due diligence.
Pemeriksaan dapat mencakup beragam sisi seperti:
- keuangan;
- hukum;
- pajak;
- operasional;
- sumber daya manusia;
- teknologi;
- aset;
- kontrak;
- kewajiban perusahaan.
Tujuannya adalah mendapatkan deskripsi yang lebih komplit mengenai kondisi perusahaan sebelum keputusan merger dibuat.
Informasi tersebut dapat membantu perusahaan mengidentifikasi konsekuensi dan mengestimasi kebutuhan integrasi.
9. Merger membutuhkan integrasi setelah transaksi
Merger tidak selesai ketika kesepakatan telah ditandatangani.
Salah satu tahap krusial justru terjadi setelah penggabungan, yaitu integrasi.
Perusahaan perlu menentukan sepertiapa dua perkumpulan dapat bekerja sebagai satu kesatuan.
Hal yang dapat perlu diintegrasikan antara lain:
- struktur organisasi;
- sistem informasi;
- budaya perusahaan;
- proses operasional;
- sistem keuangan;
- procurement;
- pemasaran;
- distribusi;
- data pelanggan.
Jika integrasi tidak dikelola dengan baik, tujuan merger dapat sulit tercapai.
10. Apa khasiat merger bagi perusahaan?
Merger dapat memberikan sejumlah potensi khasiat bagi perusahaan.
Beberapa di antaranya:
Skala upaya lebih besar
Penggabungan dapat menaikkan ukuran operasi dan jangkauan perusahaan.
Akses pasar lebih luas
Perusahaan dapat memperoleh akses terhadap pelanggan maupun daerah baru.
Sumber daya lebih terintegrasi
Aset, teknologi, tenaga kerja, dan jaringan upaya dapat dikelola dalam satu struktur.
Potensi efisiensi
Penggabungan fungsi tertentu dapat menciptakan kesempatan efisiensi.
Penguatan portofolio
Perusahaan dapat menggabungkan produk, layanan, maupun kapasitas yang saling melengkapi.
Namun, khasiat tersebut statis bersandar pada kondisi masing-masing perusahaan dan keberhasilan proses integrasi.
Seperti strategi upaya lainnya, merger juga memiliki risiko.
Beberapa konsekuensi yang perlu diperhatikan antara lain:
- perbedaan adat perusahaan;
- kesulitan integrasi sistem;
- konflik organisasi;
- kehilangan karyawan;
- biaya integrasi yang tinggi;
- ketidaksesuaian strategi;
- perbedaan mekanisme operasional;
- masalah hukum;
- kewajiban perusahaan yang belum teridentifikasi;
- target sinergi yang tidak tercapai.
Karena itu, keputusan merger perlu didasarkan pada analisis menyeluruh, bukan cuma penilaian mengenai ukuran perusahaan setelah penggabungan.
Dalam bahasan strategi korporasi, istilah merger sering muncul berbareng istilah lain seperti akuisisi.
Karena itu, orang yang mencari pengertian akuisisi juga sering menemukan bahasan merger.
Keduanya sama-sama berhubungan dengan strategi perusahaan dan transaksi korporasi, tetapi konsepnya tidak identik.
Secara sederhana, merger menekankan penggabungan perusahaan, sedangkan akuisisi berhubungan dengan pengambilalihan kepemilikan maupun pengendalian atas perusahaan maupun aset tertentu.
Perbedaan struktur transaksi, kepemilikan, dan akibat hukumnya dapat bersandar pada bentuk transaksi yang dilakukan.
Karena itu, merger dan akuisisi sebaiknya tidak digunakan sebagai istilah yang sepenuhnya sama.
Bayangkan terdapat dua perusahaan:
Perusahaan A
Memiliki jaringan toko yang luas tetapi produk yang ditawarkan terbatas.
Perusahaan B
Memiliki produk yang kuat tetapi jaringan distribusinya lebih kecil.
Jika kedua perusahaan berbuat merger, keduanya dapat menggabungkan jaringan, produk, sumber daya, dan kapasitas operasional dalam satu struktur bisnis.
Secara sederhana:
Perusahaan A + Perusahaan B ? Satu entitas upaya hasil penggabungan
Setelah penggabungan, perusahaan perlu berbuat integrasi agar seluruh sumber daya dapat bekerja dalam satu arah.
Contoh sederhana tersebut menggambarkan konsep merger tanpa masuk ke struktur transaksi korporasi yang lebih kompleks.
Perusahaan perlu berbuat analisis sebelum memungut keputusan merger.
Beberapa pertanyaan krusial antara lain:
- Apa tujuan merger?
- Apakah kedua perusahaan memiliki sinergi?
- Bagaimana kondisi finansial masing-masing perusahaan?
- Apakah terdapat tanggung jawab maupun konsekuensi hukum?
- Bagaimana struktur perkumpulan setelah merger?
- Bagaimana mekanisme operasional akan digabungkan?
- Bagaimana adat perusahaan akan diselaraskan?
- Berapa biaya integrasi?
- Bagaimana strategi upaya setelah merger?
- Bagaimana pelanggan akan terdampak?
Pertanyaan tersebut membantu perusahaan melihat merger dari perspektif pandang yang lebih luas.
Pengertian merger secara sederhana adalah proses penggabungan dua perusahaan maupun lebih menjadi satu kesatuan bisnis.
Merger dapat dilakukan untuk beragam tujuan, mulai dari memperluas pasar, menaikkan efisiensi, menggabungkan sumber daya, hingga menguatkan posisi perusahaan.
Namun, merger bukan cuma proses menggabungkan dua nama perusahaan. Di dalamnya terdapat proses evaluasi, due diligence, negosiasi, persetujuan, serta integrasi perkumpulan dan operasional.
Keberhasilan merger juga tidak cuma ditentukan oleh transaksi itu sendiri, tetapi oleh kapasitas perusahaan dalam menjalankan proses integrasi setelah penggabungan.
Sementara itu, istilah pengertian akuisisi sering muncul dalam konteks strategi korporasi yang sama, tetapi akuisisi dan merger merupakan konsep yang berbeda.
Memahami kedua istilah tersebut membantu perusahaan melihat strategi pertumbuhan dan restrukturisasi upaya secara lebih jelas.
