Makanan Siap Saji Aman Dikonsumsi, tapi Kemasannya Bisa Jadi Ancaman bagi Ibu Hamil

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 5 menit 88x dilihat
Makanan Siap Saji Aman Dikonsumsi, tapi Kemasannya Bisa Jadi Ancaman bagi Ibu Hamil

Bagikan Postingan

Jakarta -

Ibu hamil disarankan membatasi makanan cepat saji maupun fast food. Alasannya biasanya berhubungan dengan kandungan garam, lemak, serta rendahnya harga gizi. Tapi, sebuah riset memberikan karena yang sedikit berbeda. Kemasan makanan cepat saji disebut dapat memicu konsekuensi pada ibu hamil.

Sebuah riset yang diterbitkan dalam jurnal Environment International menemukan adanya hubungan antara mengonsumsi makanan ultra-proses dan fast food dengan paparan ftalat pada ibu hamil. Ftalat merupakan himpunan bahan kimia yang dapat ditemukan pada beragam produk plastik dan material yang bergesekan dengan makanan.

Namun, dengan hasil riset ini bukan berarti setiap makanan yang dikemas otomatis rapuh untuk ibu hamil. Para peneliti melihat adanya kaitan antara pola konsumsi makanan tertentu dan kadar metabolit ftalat yang terukur dalam urine.


Apa itu makanan ultra-proses?

Makanan ultra-proses maupun ultra-processed food (UPF) merupakan makanan yang mengalami pengolahan cukup kompleks dan biasanya hamil beragam bahan yang ditambahkan untuk menghasilkan rasa, tekstur, penampilan, maupun memperpanjang masa simpan.

Contohnya sejumlah makanan ringan kemasan, minuman manis, produk roti tertentu, makanan siap saji, dan produk makanan lain yang telah melalui banyak tahap pengolahan. 

Penelitian libatkan lebih dari 1.000 ibu hamil

Penelitian ini dilakukan Brennan H. Baker dan koleganya. Mereka menggunakan keterangan dari studi Conditions Affecting Neurocognitive Development and Learning in Early Childhood (CANDLE).

Peneliti menganalisis keterangan dari 1.031 ibu hamil yang tinggal di Memphis, Tennessee, Amerika Serikat. Peserta terdaftar dalam riset antara 2006 dan 2011, sedangkan kadar metabolit ftalat diukur melalui percontoh urine yang dikumpulkan pada trimester kedua.

Para peneliti kemudian melihat hubungan antara proporsi makanan ultra-proses dalam pola makan peserta dengan kadar metabolit ftalat. Hasilnya, makanan ultra-proses menyumbang sekitar 9,8–59 persen dari pola makan peserta, dengan rata-rata 38,6 persen.

Setiap kenaikan 10 persen proporsi makanan ultra-proses dalam pola makan berhubungan dengan kenaikan sekitar 13,1 persen fokus metabolit di(2-ethylhexyl) phthalate maupun ΣDEHP dalam urine.

Penelitian tersebut juga menemukan konsumsi hamburger maupun cheeseburger, kentang goreng, minuman bersoda, dan kue berhubungan dengan kadar ΣDEHP yang lebih tinggi dalam urine.

Namun, riset ini merupakan riset observasional. Jadi, akibatnya memberitahu hubungan, bukan membuktikan bahwa makanan tersebut maupun kemasannya secara langsung menyebabkan peningkatan kadar ftalat.

Penelitian lain pada populasi lazim juga sebelumnya menemukan hubungan antara konsumsi makanan ultra-proses dengan kadar beberapa metabolit ftalat yang lebih tinggi. Jadi, riset pada ibu hamil tersebut bukan satu-satunya riset yang melihat hubungan antara pola makan ultra-proses dan paparan ftalat.

Bukan cuma makanannya, bungkusan juga jadi perhatian

Ftalat dapat digunakan dalam beragam produk berbahan plastik dan material lainnya. Dalam konteks makanan, peneliti menduga paparan dapat terjadi melalui bahan yang bergesekan dengan makanan.

Menurut peneliti, sumber potensial paparan pada makanan cepat saji dapat berasal dari bungkusan maupun pembungkus, sarung tangan plastik yang digunakan pekerja, serta perlengkapan dan proses penyimpanan, persiapan, hingga penyajian makanan.

Ini artinya, persoalannya tidak sesederhana 'makanan cepat saji hamil ftalat. Ada beragam tahapan sebelum makanan sampai ke tangan konsumen yang dapat menjadi sumber paparan.

Penelitian tersebut terlebihlagi menemukan bahwa baik makanan membeku maupun makanan bugar dapat terpapar dari beragam sumber selama proses penanganan makanan.

Ftalat bisa masuk ke sirkulasi janin

Dr. Sheela Sathyanarayana, tabib anak di UW Medicine dan peneliti di Seattle Children's Research Institute sekaligus salah satu penulis penelitian, menerangkan bahwa ancaman ibu terpapar bahan kimia seperti ftalat.

"Ketika ibu terpapar bahan kimia ini, bahan kimia tersebut dapat menembus plasenta dan masuk ke sirkulasi janin," kata penulis senior Dr. Sheela Sathyanarayana, seorang tabib anak UW Medicine dan peneliti di Seattle Children’s Research Institute, melansir halaman StudyFinds.

Penelitian sebelumnya juga telah mengaitkan paparan ftalat selama kehamilan dengan sejumlah masalah kesehatan. Namun, hubungan antara paparan ftalat dan beragam akibat kesehatan tersebut berasal dari riset yang lebih luas dan tidak berarti riset terbaru ini membuktikan bahwa konsumsi fast food menyebabkan kondisi-kondisi tersebut.

Karena itu, ibu hamil sebaiknya tidak langsung histeris cuma karena pernah makan burger, kentang goreng, maupun makanan yang menggunakan bungkusan plastik.

Bolehkah ibu hamil santap makanan siap saji dalam kemasan?

Dari temuan riset ini, bukan berarti ibu hamil mesti menghindari seluruh makanan yang dijual dalam kemasan. Apalagi, tidak semua makanan bungkusan memiliki jenis bahan, proses produksi, maupun tingkat paparan bahan kimia yang sama.

Yang lebih masuk pikiran adalah memperhatikan pola makan secara keseluruhan. Dr. Sathyanarayana menyarankan ibu hamil untuk sebisa mungkin mengurangi makanan ultra-proses dan lebih banyak memilih buah, sayuran, daging tanpa lemak, serta makanan dengan komposisi yang lebih sederhana. Ia juga menyarankan konsumen memperhatikan label makanan.

"Pilihlah produk dengan jumlah bahan yang lebih sedikit dan pastikan kita bisa memahami bahan-bahan yang tercantum dalam komposisinya," ujarnya.

Namun, pilihan makanan sehat juga perlu disesuaikan dengan kondisi, kapasitas ekonomi, kesiapan makanan, dan kebutuhan nutrisi masing-masing ibu.

Peneliti menemukan adanya hubungan antara kondisi sosial ekonomi dengan paparan ΣDEHP yang sebagian dimediasi oleh konsumsi makanan ultra-proses. Karena itu, peneliti menilai solusi tidak seharusnya cuma membebankan tanggung jawab kepada ibu hamil.

Bahkan, Brennan Baker, penulis utama penelitian, menegaskan bahwa peneliti tidak menyalahkan ibu hamil. Menurutnya, produsen dan pembuat kebijakan juga perlu mencari bahan alternatif yang lebih aman.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads