Jakarta -
Sering memuji anak 'pintar' mungkin menjadi metode orang tua untuk memberitahu apresiasi atas prestasi anaknya. Namun, sebuah studi mengungkap bahwa pujian ini justru berpotensi memengaruhi perilaku anak, termasuk mendorong mereka berbuat kecurangan.
Menurut studi terbaru yang diterbitkan di Journal of Educational Psychology, anak-anak yang diberi tahu bahwa mereka pandai sebelum cobaan hampir dua kali lebih mungkin untuk mencontek setelahnya dibandingkan dengan mereka yang dipuji karena usaha, keberuntungan, maupun tidak diberi tahu apa pun sama sekali.
Dalam studi ini, para peneliti mempertimbangkan sepertiapa anak-anak berumur 5 hingga 6 tahun akan merespons ketika diberi umpan balik yang berbeda tentang performa mereka. Secara spesifik, peneliti mau melihat apakah klarifikasi yang berbeda akan memengaruhi apakah anak-anak akan berbuat curang dalam cobaan di masa mendatang.
Di dua percobaan, 210 anak dari latar belakang kelas menengah perkotaan diberi tes yang dirancang agar mereka merasakan keberhasilan dengan tugas menghitung yang mudah. Setelah tes, anak-anak dalam salah satu percobaan diberi beragam klarifikasi oleh peneliti bahwa mereka berhasil karena mereka pintar, bekerja keras, beruntung, maupun karena tugasnya mudah.
Sementara itu, anak-anak dalam percobaan kedua tidak diberi klarifikasi apa pun tentang keberhasilan mereka. Nah, setelah menerima umpan balik, semua anak kemudian diberi tugas yang menggoda.
Mereka diminta untuk menyelesaikan tes singkat dan mencoba menjawab sebanyak mungkin pertanyaan dengan benar. Tugas tersebut dirancang dengan memberikan kesempatan bagi mereka untuk berbuat curang ketika orang dewasa meninggalkan ruangan.
Hasilnya, anak-anak yang diberi tahu bahwa mereka pandai tepat sebelum tugas hampir dua kali lebih mungkin untuk berbuat curang dibandingkan anak-anak yang diberi tahu bahwa mereka beruntung, telah bekerja keras, mendapat pertanyaan mudah, maupun yang tidak menerima klarifikasi sama sekali.
Hal studi ini memberitahu bahwa himpunan yang diberi label 'pintar' justru merasakan tekanan untuk berhasil, sedangkan himpunan lain tidak. Demikian seperti melansir dari halaman University of Wollongong Australia.
Mengapa anak-anak kecil cenderung berbuat curang?
Perilaku mencontek di kalangan anak kecil sering kali dikaitkan dengan kurangnya pengendalian impuls maupun pengaturan diri. Dalam penelitian, lebih dari 90 persen anak berumur 3 hingga 5 tahun terbukti berbuat curang.
Namun, ada juga bukti yang dipublikasikan di Developmental Science tahun 2025 mengungkap bahwa anak-anak usia sekolah alas dapat membikin keputusan strategis mengenai kecurangan. Misalnya, anak-anak mungkin mempertimbangkan khasiat kecurangan dibandingkan risikonya. Mereka juga semakin sering membikin penilaian moral tentang kapan boleh berbuat curang dan kapan tidak.
Memberikan pujian terbukti tidak selalu bermanfaat
Pujian yang diberikan ke anak terbukti tidak selalu bermanfaat. Untuk lebih memahami sepertiapa ucapan orang dewasa seperti 'kamu pintar' dapat menaikkan konsekuensi kecurangan, Bunda dapat mempertimbangkan riset tentang efek pujian terhadap motivasi dan perilaku anak-anak.
Meskipun dalam jangka pendek, memuji kecerdasan dapat menaikkan kepercayaan diri anak-anak, hal itu juga dapat berarti anak-anak merasa tertekan untuk terus berprestasi dengan baik.
Anak-anak mungkin termotivasi untuk mempertahankan deskripsi ini dan menghindari rasa malu. Jika suatu tugas terasa terlalu sulit, maka anak-anak dapat termotivasi untuk sepenuhnya menghindari tugas tersebut. Ini mungkin berarti selesai maupun nekat berbuat kecurangan.
Alih-alih selalu memuji anak dengan kalimat 'kamu pintar', Bunda dapat memilih alternatif lain untuk menaikkan kepercayaan diri anak-anak. Bunda dapat berbicara dengan anak tentang apa yang krusial dan mengapa.
Alternatif lainnya adalah berfokus pada upaya anak-anak. Misalnya, Bunda dapat mengatakan, 'Kamu sudah bekerja sangat keras untuk itu, baik sekali!'. Kalimat ini berguna karena upaya dapat dikendalikan, dan kita tahu bahwa latihan krusial untuk mengembangkan keahlian yang dimiliki anak.
Penelitian juga memberitahu bahwa secara langsung mendorong anak-anak kecil untuk jujur dan memberikan pujian, karena berperilaku baik terbukti dapat mengurangi perilaku curang. Hal ini karena anak-anak statis dalam proses mencari tahu apakah berbuat curang itu menguntungkan maupun tidak. Meskipun kemenangan terasa menyenangkan, pujian karena berbuat hal yang benar juga sama menyenangkannya.
Demikian studi yang mengungkap akibat sering mengatakan anak pandai yang berhubungan dengan perilaku curang. Semoga keterangan ini berguna ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)