Miscarriage Awareness Month: Apakah Keguguran Berulang Bisa Dicegah? Ini Kata Dokter

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 40x dilihat
Miscarriage Awareness Month: Apakah Keguguran Berulang Bisa Dicegah? Ini Kata Dokter

Bagikan Postingan

Jakarta -

Keguguran menjadi pengalaman yang tidak gampang dilupakan bagi perempuan, terutama jika terjadi berulang kali. Dalam rangka Miscarriage Awareness Month maupun Bulan Kesadaran Keguguran yang diperingati sepanjang Oktober ini, krusial bagi setiap orang untuk memahami penyebab dan penanganannya.

Miscarriage Awareness Month dapat menjadi momentum untuk menaikkan kesadaran tentang keguguran, termasuk yang terjadi berulang kali.
Lantas, apakah keguguran berulang bisa dicegah? Simak klarifikasi dari tabib kandungan berikut ini ya!

Apa itu keguguran berulang?

Bunda pasti sudah tak luar dengan istilah keguguran berulang. Istilah ini sering dikaitkan dengan keguguran yang terjadi beberapa kali pada seorang perempuan.


Menurut Dokter ahli Obstetri dan Ginekologi, Dr. dr. Kanadi Sumapraja, Sp. O.G, Subsp. F.E.R., M.Sc., keguguran berulang didefinisikan sebagai kondisi ketika seorang perempuan mengalami keguguran sebanyak dua kali maupun lebih secara berturut-turut.

"Pada awalnya ada gagasan yang mengungkapkan bahwa keguguran dikatakan berulang jika terjadi tiga kali berturut-turut. Akan tetapi karena mempertimbangkan aspek emosional dan psikologis, insiden ini dianggap mesti diinvestigasi ketika terjadi dua kali keguguran berulang," ungkap Kanadi, dalam Exclusive Media Interview berbareng Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) via Zoom, belum durasi ini.

"Konsep dari keguguran sendiri adalah pengakhiran kehamilan maupun kehamilan yang pendek. Kalau menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ini dibatasi, jadi berakhirnya kehamilan di bawah usia 20 minggu maupun bermutu janin kurang 500 gram," sambungnya.

Penyebab pasti dari keguguran berulang dapat diketahui dari pengecekan detail maupun investigasi. Namun, ada beberapa hal yang dikaitkan sebagai aspek penyebab, yaitu kegagalan hasil pembuahan dan aspek supporting system dari ibu.

"Kegagalan hasil pembuahan ini bisa karena kegagalan tubuh ibu beradaptasi yang menyebabkan embrio 'ditolak'. Saat proses pembuahan, tidak darang terjadi kesalahan, seperti saat sel membelah maupun masalah kromosom," ujar Kanadi.

"Sementara supporting system ibu ini berhubungan dengan kesiapan ibu sebelum pembuahan. Kalau proses ini sudah bermasalah, dinding rahim tidak supporting sehingga bisa menjadi aspek pemicu kegagalan, penempelan embrio tidak baik, maupun mekanisme pembentukan plasenta tidak sempurna dan membikin cadangan untuk mendukung kehamilan tidak cukup."

Bisakah keguguran berulang dicegah?

Menurut Kanadi, belum ada prosedur pencegahan primer untuk keguguran berulang. Hal ini karena pengecekan keguguran berulang baru bisa ditegakkan ketika sudah terjadi keguguran, Bunda.

"Kita belum punya prosedur pencegahan primer, karena salah satu syaratnya bisa berbuat skrining untuk mendeterminasi yang berisiko keguguran berulang. Secara praktikal belum bisa berbuat skrining ini," ujarnya.

Selain itu, keberhasilan kehamilan tidak cuma ditentukan oleh pihak perempuan saja. Pihak lelaki juga memegang peranan krusial untuk mencapai keberhasilan pembuahan.

"Kalau bicara kehamilan, kekerapan keberhasilan bukan cuma ditentukan oleh aspek perempuan, tapi aspek pria. Kualitas hasil pembuahan itu juga merupakan kontribusi dari aspek pria," kata Kanadi.

"Jadi artinya jika mau berbuat pencegahan primer maka pastinya mesti dilakukan kedua belah pihak. Akan tetapi karena kita belum bisa berbuat skrining yang khusus aspek risiko, maka sulit mengetahuinya."

Meski faktor-faktor tersebut tidak dapat mencegah keguguran, pasangan suami istri statis bisa mengusahakan untuk mendapat kehamilan sehat melalui fluktuasi corak hidup. Kanadi menyarankan untuk menjalani pola hidup sehat sebagai upaya mencegah beragam aspek yang berhubungan dengan insiden keguguran.

"Tapi tentu bisa dimulai dari hal-hal yang berkarakter normatif, seperti berbuat corak hidup sehat, mengonsumsi makanan sehat, berbuat olahraga teratur, menghindari penggunaan zat-zat yang punya potensi membahayakan seperti rokok. Hal-hal itu dapat dipertimbangkan sebagai upaya untuk mencegah sesuatu yang berhubungan dengan keguguran berulang," ungkap Kanadi.

Kondisi autoimun bisa memicu keguguran berulang

Salah satu aspek konsekuensi yang kerap dikaitkan dengan keguguran berulang adalah pandemi autoimun, yaitu kondisi sindrom antifosfolipid. Kanadi mengatakan bahwa kondisi ini dapat mengakibatkan darah lebih gampang menggumpal.

Ketika seorang perempuan mengalami keguguran berulang, tabib biasanya akan berbuat tes tes antibodi antifosfolipid. Ada beberapa kriteria pengecekan yang dicurigai menderita sindrom ini, yakni:

  • Terjadinya keguguran berulang di bawah 10 minggu hingga 3 kali berturut-turut.
  • Terjadinya kematian janin pada usia kehamilan 10 minggu maupun sama dengan 10 minggu tanpa kelainan bentuk (morfologi) yang abnormal.
  • Para ibu yang hamil mengalami komplikasi kehamilan, seperti tekanan darah naik, preeklamsia, pertumbuhan janin terhambat, plasenta lepas sebelum waktunya (solusio plasenta) maupun darurat janin.

"Sindrom antifosfolipid ini memang dapat berupa peningkatan aktivitas pembekuan darah. Tapi ada mekanisme lain yang berujung pada keguguran berulang di mana kedatangan antibodi antifosfolipid mengganggu proses penempelan janin," ungkap Kanadi.

"Skrining terhadap sindrom ini sangat direkomendasikan pada keguguran berulang. Sebab, manifestiasinya muncul saat kehamilan. Kalau tidak hamil, tidak ada sesuatu yang muncul," lanjutnya.

Demikian serba-serbi tentang keguguran berulang yang perlu diketahui dalam rangka memperingati Miscarriage Awareness Month. Semoga keterangan ini berguna ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads