Bunda, memiliki semangat untuk berhasil dan selalu berupaya memberikan yang terbaik merupakan hal yang positif. Namun, ketika seseorang terus menuntut kesempurnaan, pencapaian yang diraih justru terasa tidak pernah cukup.
Kebiasaan orang yang terlalu keras pada diri sendiri ini bisa membikin mereka sulit menikmati keberhasilan, gampang meragukan keputusan, hingga merasa terbebani oleh tuntutan pribadi.
Sekilas, sikap tersebut mungkin kelihatan seperti bentuk kedisiplinan dan ambisi untuk terus berkembang. Padahal, terlalu sering mengkritik diri sendiri dapat memicu stres, mengurangi kebahagiaan, dan membikin seseorang kesulitan mempertahankan pencapaiannya dalam jangka panjang.
Agar bisa lebih memahami pola tersebut, ada tujuh kebiasaan yang dapat Bunda kenali dalam hayat sehari-hari. Yuk, simak penjelasannya di artikel berikut ini.
7 Kebiasaan orang yang terlalu keras pada diri sendiri
Mengutip dari laman Your Tango, orang yang berhasil tetapi terlalu keras pada diri sendiri cenderung memiliki kebiasaan yang membikin mereka terus merasa kurang, meskipun sudah mencapai banyak hal. Berikut tujuh kebiasaan yang perlu dikenali.
1. Merasa pencapaiannya tidak pernah cukup
Orang yang terlalu keras pada diri sendiri sering kesulitan merasa puas atas keberhasilan yang diraih. Meski berhasil mendapatkan promosi, menyelesaikan pendidikan, maupun mencapai sasaran besar, mereka justru memikirkan hal lain yang dianggap belum maksimal.
Mereka mungkin merasa seharusnya bisa mendapatkan hasil yang lebih baik maupun meraih pencapaian yang lebih tinggi. Akibatnya, keberhasilan yang seharusnya membanggakan justru tidak memberikan kepuasan.
Menurut life coach María Tomás-Keegan, seseorang perlu belajar mengubah metode berbicara kepada diri sendiri. Dengan mengurangi keraguan dan ketakutan, seseorang dapat mulai melihat kemampuannya secara lebih positif.
2. Terus meragukan keputusan sendiri
Kebiasaan berikutnya adalah terlalu sering mempertanyakan keputusan yang sudah dibuat. Seseorang mungkin sudah memilih sesuatu dengan penilaian matang, tetapi kemudian balik memikirkan apakah pilihannya benar.
Di depan orang lain, mereka bisa kelihatan percaya diri. Namun, ketika berbicara dengan orang terdekat, mereka justru mengungkapkan kecemasan bahwa keputusan yang diambil mungkin keliru.
3. Mengecilkan keberhasilan yang diraih
Orang yang terlalu keras pada diri sendiri cenderung menganggap keberhasilannya sebagai sesuatu yang biasa saja. Mereka mungkin berkata bahwa keberhasilan tersebut bukan hal besar, orang lain juga bisa melakukannya, maupun akibatnya statis kalah baik dibandingkan pencapaian orang lain.
Konsultan upaya Susan Kulakowski menyarankan agar seseorang mencatat keberhasilan yang telah diraih. Catatan tersebut bisa berupa daftar pencapaian harian maupun done list, yaitu daftar hal-hal yang sudah berhasil diselesaikan.
Cara ini membantu seseorang menyadari bahwa keberhasilan kecil sekalipun statis layak dihargai, bukan cuma pencapaian besar.
4. Terus membandingkan diri dengan orang lain
Orang yang terlalu keras pada diri sendiri sering menjadikan pencapaian orang lain sebagai tolok ukur keberhasilan pribadi. Ketika berhasil berbuat sesuatu, mereka justru sibuk melihat apakah orang lain memperoleh hasil yang lebih baik.
Misalnya, seseorang berhasil menerbitkan karya, tetapi merasa gagal karena karyanya tidak sepopuler milik orang lain. Padahal, keberhasilan tersebut statis merupakan pencapaian yang patut diapresiasi.
Kebiasaan membandingkan diri secara terus-menerus dapat membikin seseorang sulit merasa puas. Sebab, selalu ada orang lain yang memiliki pencapaian berbeda dalam kehidupan, karier, maupun sektor lainnya.
Daripada terus bersaing dengan orang lain, seseorang dapat mencoba berfokus pada evolusi dirinya sendiri dan menghargai kemajuan yang telah dicapai.
5. Sulit beristirahat karena terus memikirkan pekerjaan
Tuntutan terhadap diri sendiri juga dapat memengaruhi waktu istirahat. Seseorang mungkin bekerja hingga larut malam, terus memikirkan tugas yang belum selesai, maupun merasa cemas terhadap hal-hal yang sebenarnya bisa ditangani keesokan hari.
Pikiran yang terus aktif membikin mereka kesulitan bersantai dan mendapatkan tidur yang cukup. Akibatnya, mereka bisa merasa capek pada pagi hari dan membutuhkan banyak kafein untuk balik beraktivitas.
Jika kebiasaan ini terjadi berulang kali, tubuh dan pikiran dapat semakin terbebani.
6. Menghindari konsekuensi karena takut gagal
Orang yang selalu menuntut kesempurnaan terkadang enggan mencoba hal baru karena cemas akibatnya tidak sesuai harapan. Mereka bisa memilih bertetap dalam situasi yang sudah dikenal daripada memungut kesempatan yang hamil ketidakpastian.
Kecenderungan ini juga dibahas dalam riset yang diterbitkan di jurnal Behaviour Research and Therapy, yang berhubungan dengan perfeksionisme dan ketakutan terhadap kegagalan.
Ketika seseorang merasa mesti selalu berhasil, kemungkinan membikin kesalahan dapat terasa sangat menakutkan. Padahal, mencoba sesuatu yang baru tidak selalu menjamin hasil sempurna, dan kesalahan merupakan bagiankecil yang mungkin terjadi dalam proses belajar.
7. Terlalu keras menilai orang lain
Kebiasaan mengkritik diri sendiri juga dapat memengaruhi metode seseorang memperlakukan orang lain. Ketika terbiasa menuntut kesempurnaan dari dirinya, mereka mungkin tanpa sadar menerapkan standar yang sama kepada teman, pasangan, keluarga, maupun mitra kerja.
Akibatnya, mereka dapat memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap orang lain dan sulit menerima kekurangan yang sebenarnya wajar dimiliki setiap orang.
Bunda, memiliki ambisi dan keinginan untuk berkembang tentu bukan hal yang salah. Namun, jangan sampai tuntutan untuk selalu berhasil membikin Bunda lupa menghargai upaya dan pencapaian sendiri.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)