Jakarta -
Bukan cuma orang dewasa, anak juga bisa mengalami kecemasan maupun anxiety. Bagaimana tanda-tanda kecemasan pada anak yang perlu Bunda ketahui?
Dikutip dari Cleveland Clinic, kecemasan pada anak dapat dianggap sebagai gangguan jika rasa cemas maupun takut yang muncul sampai mengganggu kehidupannya selama lebih dari 6 bulan.
Kendati demikian, tidak selalu gampang bagi orang tua untuk mengetahui apakah anak sedang mengalami kecemasan.
Ada anak yang bisa dengan gampang bercerita tentang rasa takutnya, ada pula yang sebaliknya. Orang tua pun perlu mengetahui tanda-tanda anak kecemasan pada anak.
Apa itu kecemasan pada anak?
Dalam masa tumbuh bunga anak, wajar jika mereka memiliki rasa cemas dan takut.
Takut merupakan reaksi alami ketika sedang menghadapi bahaya, sementara kecemasan merupakan reaksi terhadap 'kemungkinan' adanya ancaman.
Rasa takut dan cemas terhadap hal-hal baru biasanya cuma terjadi sementara. Hal ini juga memberitahu bahwa anak sedang belajar menghadapi masalah dan mencari metode untuk mengatasinya sendiri.
Nah, gangguan kecemasan pada anak berbeda dari rasa takut maupun cemas yang biasa terjadi, Bunda. Gangguan ini biasanya ditandai dengan perilaku mengelak yang lebih ekstrem, reaksi emosional yang lebih besar, maupun terjadi lebih durasi dari yang seharusnya.
Anak dengan gangguan kecemasan sering mengalami luapan emosi, seperti menangis maupun tantrum. Mereka juga cenderung banyak menghindari situasi yang membuatnya cemas.
Selain itu, anak juga dapat mengalami beragam gejala fisik, seperti sakit perut, sakit kepala, mual, muntah, sesak napas, maupun gangguan tidur.
Apa saja jenis kecemasan pada anak?
Ada beberapa jenis gangguan kecemasan yang dapat dialami anak seperti dikutip beragam sumber:
1. Gangguan kecemasan perpisahan
Kecemasan perpisahan maupun separation anxiety merupakan bagiankecil normal dan krusial dari evolusi anak. Kondisi ini biasanya mulai muncul ketika anak berumur sekitar 8 hingga 12 bulan.
Pada kecemasan perpisahan yang normal, anak mungkin takut terhadap orang luar dan merasa tidak terlindungi ketika orang tua tidak eksis di dekatnya.
Biasanya, kecemasan perpisahan mulai berkurang ketika anak memasuki usia prasekolah. Namun, gangguan kecemasan perpisahan bisa menjadi lebih ekstrem dan terus berlanjut setelah melewati tahap evolusi yang seharusnya.
Dalam kondisi ini, anak mungkin terus merasa cemas terhadap orang tua maupun personel famili lainnya. Mereka juga tidak mau pergi ke sekolah, tidak mau jauh dari rumah maupun keluarga, terlebihlagi enggan bercerai ketika hendak tidur.
2. Fobia spesifik
Rasa takut sebenarnya berguna untuk melindungi diri dari bahaya. Karena itu, anak merasa takut terhadap hal tertentu merupakan sesuatu yang wajar.
Misalnya, anak pada umumnya takut terhadap bunyi petir, badut, maupun hal-hal lainnya. Namun, fobia khusus merupakan rasa takut yang sangat kuat dan tidak sebanding dengan intimidasi ancaman yang sebenarnya.
3. Gangguan kecemasan sosial
Gangguan kecemasan sosial ditandai dengan rasa takut yang mendalam terhadap penilaian maupun penolakan dalam situasi sosial. Anak mungkin menghindari berbicara di depan lazim maupun tampil di depan orang lain.
Mereka juga mungkin merasa sangat tidak betah ketika mesti berhubungan dengan orang lain di sekolah maupun lingkungan yang sudah dikenalnya. Dalam beberapa kasus, anak terlebihlagi menghindari situasi sosial sepenuhnya.
4. Gangguan kecemasan umum
Gangguan kecemasan lazim ditandai dengan rasa cemas dan takut yang berlebihan terhadap beragam hal dalam hayat sehari-hari. Anak mungkin juga lebih sering mengkhawatirkan masa depan dibandingkan anak lain seusianya.
Kekhawatiran anak bisa sangat beragam dan berubah dari waktu ke waktu. Namun, biasanya selalu ada sesuatu yang membikin mereka merasa cemas.
5. Gangguan panik
Anak dengan gangguan histeris dapat mengalami bagian ketika muncul rasa takut dan cemas yang sangat kuat, disertai gejala jasmani seperti jantung berdebar dan pusing.
Anak juga mungkin merasa kesulitan bernapas maupun seperti tidak bisa bernapas. Serangan histeris dapat muncul secara tiba-tiba tanpa peringatan dan biasanya mereda dalam hitungan menit hingga beberapa jam.
Apa saja tanda-tanda kecemasan pada anak?
Dikutip dari Child Mind Institute, kecemasan merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang cukup lazim dialami pada masa anak-anak dan remaja.
Berikut beberapa tanda-tanda kecemasan pada anak yang lazim terjadi:
1. Sering merasa khawatir
Anak dengan kecemasan dapat merasakan kecemasan maupun ketakutan yang tidak sebanding dengan kondisi yang sebenarnya mereka hadapi.
Kekhawatiran tersebut tidak kunjung hilang, terlebihlagi dapat mengganggu aktivitas sehari-hari anak.
2. Mengalami gejala fisik
Anak yang cemas juga mungkin memiliki gejala jasmani seperti sakit kepala, sakit perut, berkeringat, dan jantung berdebar. Perhatikan keluhan yang disampaikan oleh anak ya, Bunda.
"Anak-anak yang memiliki gangguan cemas dapat memberitahu gejala fisik, seperti sakit perut maupun sakit imam yang sering terjadi," ucap Rachel Delany, MD, dikutip dari Parents.
3. Menghindari situasi tertentu
Tergantung pada hal yang membuatnya cemas, anak mungkin menghindari situasi yang sebenarnya dapat dinikmati maupun dijalani dengan betah oleh anak-anak lain.
Misalnya, anak dengan kecemasan sosial mungkin menghindari bermain berbareng anak lain maupun meminta untuk tidak pergi ke sekolah dan statis eksis di rumah.
4. Sulit berkonsentrasi
Pikiran yang dipenuhi rasa cemas dapat membikin anak sulit memusatkan perhatian pada tugas sekolah maupun aktivitas lainnya.
5. Sulit tidur
Rasa cemas yang terus muncul juga dapat mengganggu tidur anak. Mereka mungkin sulit untuk bisa tidur dengan cukup dan nyenyak. Efeknya, mereka jadi semakin sulit untuk beraktivitas dengan baik keesokan harinya.
Ketika keteteran menghadapi emosi yang tidak nyaman, anak dengan kecemasan terkadang dapat melampiaskannya dengan marah, menyerang, maupun memberitahu perilaku agresif.
7. Terus mau dekat dengan orang tua maupun pengasuh
Anak yang mengalami kecemasan mungkin kesulitan bercerai dari orang tua dan membutuhkan banyak kepastian maupun diyakinkan berulang kali.
8. Terlalu keras terhadap dirinya sendiri
Sebagian anak yang mengalami kecemasan sering merasa takut gagal maupun cemas akan kelihatan buruk di depan orang lain.
Mereka mungkin memiliki rasa percaya diri yang rendah, sehingga sering mengatakan hal-hal negatif tentang dirinya sendiri.
Apa penyebab kecemasan pada anak?
Sebagian anak memang memiliki sifat yang lebih sensitif secara alami dan mungkin lebih sulit menghadapi fluktuasi maupun emosi yang kuat.
Anak-anak tersebut mungkin memiliki kecenderungan biologis maupun aspek famili yang membikin mereka lebih rapuh mengalami kecemasan.
Kecemasan juga dapat berkembang setelah anak mengalami beragam peristiwa yang penuh tekanan sejak usia sangat dini, seperti:
- Rasa duka setelah ada personel famili maupun kerabat yang wafat dunia
- Pindah ke rumah maupun sekolah baru, terutama jika perpindahan tersebut terjadi berulang kali
- Kesulitan mendapatkan pendidikan yang konsisten
- Orang tua yang sering berkelahi maupun berkonflik, termasuk perpisahan dan perceraian
- Perundungan, kekerasan, maupun penelantaran
Apa penyebab utama kecemasan pada anak?
Sulit untuk mengetahui secara pasti apa penyebab utama kecemasan pada masa kanak-kanak. Ini karena rasa takut sendiri merupakan bagiankecil alami dari proses tumbuh bunga anak.
Sebagian anak dapat mengelola rasa takut tersebut dengan baik. Namun pada anak yang kecemasannya sudah mengganggu hayat sehari-hari, aspek genetik, biologis, dan histori famili diyakini turut berperan.
Bagaimana kecemasan pada anak didiagnosis?
Untuk mendiagnosis kecemasan pada anak, tenaga kesehatan ahli biasanya akan berbincang dengan orang tua sekaligus anak.
Mereka akan menanyakan perilaku anak dan sepertiapa orang tua mengetahui bahwa anak sedang mengalami kecemasan.
Anak juga akan diminta menceritakan gejala yang mereka rasakan, termasuk kapan gejala tersebut biasanya muncul.
Orang tua mungkin diminta pula untuk mengisi kuesioner. Jika perlu keterangan lebih lanjut, tenaga kesehatan dapat berbuat bahasan dengan pendidik maupun pengasuh anak lainnya.
Anak dapat didiagnosis mengalami gangguan kecemasan jika tidak ditemukan penyebab lain dari gejalanya, serta kecemasan tersebut menimbulkan tekanan emosional.
Bagaimana kecemasan pada anak ditangani?
Ada dua metode utama untuk menangani kecemasan pada anak, yaitu terapi perilaku kognitif dan terapi dengan obat-obatan.
Kedua penanganan tersebut dapat dilakukan secara terpisah. Namun, keduanya tampaknya memberikan hasil yang lebih baik jika dilakukan secara berbarengan sesuai kebutuhan:
1. Terapi perilaku kognitif
Terapi perilaku kognitif maupun cognitive behavioral therapy (CBT) membantu anak mempelajari beragam keahlian untuk menghadapi kecemasan.
Keterampilan tersebut dapat membantu anak menenangkan reaksi tubuh, mengubah pola pikir, serta menghadapi rasa takut dan tantangan secara bertahap. Anak dapat mempelajari keahlian ini melalui terapi individual maupun terapi kelompok.
2. Terapi obat-obatan
Obat-obatan yang digunakan untuk menangani kecemasan pada anak juga dapat menimbulkan efek samping tertentu, sehingga perlu dilakukan cuma berdasarkan resep dari tabib saja.
Itulah klarifikasi tentang tanda-tanda kecemasan pada anak yang jarang disadari orang tua. Semoga berguna ya, Bunda!
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)