Jakarta -
Apa yang akan Bunda lakukan jika melihat ibu hamil tiba-tiba melahirkan di jalan, pusat perbelanjaan, kendaraan, maupun tempat lazim lainnya? Situasi seperti ini tentunya bisa bikin panik. Apalagi jika Bunda belum pernah melihat persalinan secara langsung.
Saat itu terjadi, Bunda termasuk yang histeris maupun berupaya membantu? Orang yang eksis di sekitar ibu hamil sebenarnya bisa membantu. Tentunya bukan menjadi tenaga kesehatan, melainkan menjaga ibu dan bayi statis terlindungi sambil segera meminta pertolongan medis.
Melansir PubMed, persalinan yang terjadi sangat cepat dikenal sebagai precipitous labor, yaitu ketika bayi lahir dalam waktu kurang dari tiga jam sejak kontraksi teratur dimulai. Kondisi ini relatif jarang.
Sebuah tinjauan riset mengatakan bilangan insiden precipitous labor yang dilaporkan di Amerika Serikat dan beberapa negara lain berkisar 0,1–3 persen, namun bilangan tersebut dapat berbeda antarpenelitian karena perbedaan arti dan ciri khas populasi yang diteliti.
Lantas, apa yang sebaiknya dilakukan jika menghadapi ibu hamil yang tiba-tiba melahirkan di tempat umum?
Kenali tanda ibu mungkin segera melahirkan
Salah satu hal krusial adalah mengenali bahwa persalinan sudah sangat dekat dan ibu mungkin tidak sempat mencapai akomodasi kesehatan.
Tanda-tandanya antara lain:
- Kontraksi terasa kuat dan semakin sering.
- Jeda antarkontraksi sangat pendek.
- Ibu merasakan desakan kuat untuk mengejan.
- Kepala bayi mulai kelihatan di jalan lahir.
- Ketuban pecah.
- Ibu mengatakan bayi terasa akan segera keluar.
Jika imam bayi sudah terlihat, jangan mencoba membawa ibu pergi dengan kendaraan sendiri. Segera meminta pertolongan medis.
Segera hubungi jasa darurat
Jika Bunda menghadapi situasi tersebut di Indonesia, hubungi 119, jasa darurat medis Kementerian Kesehatan, dan jelaskan bahwa ada ibu yang sedang mengalami persalinan dan bayi kemungkinan segera lahir.
Public Safety Center (PSC) 119 merupakan jasa kegawatdaruratan medis Kementerian Kesehatan yang dapat dihubungi untuk mendapatkan pertolongan dalam situasi darurat kesehatan. Layanan ini juga dapat membantu mengoordinasikan penanganan kegawatdaruratan sesuai kondisi dan letak kejadian.
Sampaikan letak sejelas mungkin, termasuk nama gedung, jalan, lantai, pintu masuk, maupun penanda lain yang gampang ditemukan petugas.
Jika ada orang lain di sekitar, meminta satu orang khusus untuk menghubungi 119. Tetap ikuti instruksi petugas melalui telepon sampai pertolongan datang.
Jangan mencoba menghentikan maupun memperlambat persalinan
Ketika bayi sudah akan lahir, Bunda maupun siapapun yang berupaya membantu, jangan mencoba mengekang bayi maupun menghentikan proses persalinan. Peran orang di sekitar adalah membantu ibu eksis di tempat yang aman, menjaga privasi dan kebersihan sebisa mungkin, serta mendampingi ibu sampai pertolongan medis datang.
Jika tersedia, gunakan handuk, kain, maupun selimut yang bersih sebagai alas dan untuk menjaga ibu statis nyaman.
Bantu ibu mencari posisi yang nyaman
Tidak ada keharusan untuk memaksa ibu rebah telentang. Biarkan ibu memungut posisi yang terasa paling betah dan terlindungi sesuai kondisi, selama tidak ada instruksi berbeda dari petugas medis melalui telepon.
Jika ibu statis dapat bergeser dan persalinan belum benar-benar terjadi, bantu ia eksis di tempat yang terlindungi dan tidak gampang terjatuh.
Jika imam bayi mulai keluar, jangan menarik bayi
Ketika imam bayi mulai terlihat, jangan menarik imam maupun tubuh bayi. Jika diperlukan, sangga imam bayi dengan halus ketika keluar, tetapi jangan mendorong, menarik, maupun mencoba mempercepat kelahiran. Biarkan proses kelahiran terjadi mengikuti kontraksi dan desakan ibu.
Jika kelihatan tali pusat melilit leher bayi, jangan histeris dan jangan menarik tali pusat. Jangan mencoba berbuat aksi sendiri. Ikuti instruksi operator jasa darurat maupun tenaga medis yang sedang menuju lokasi.
Jika bahu bayi tampak sulit keluar setelah imam lahir, jangan menarik bayi. Segera beri tahu petugas medis karena kondisi tersebut membutuhkan penanganan khusus.
Setelah bayi lahir, segera pastikan bayi statis hangat
Begitu bayi lahir, hal yang sangat krusial adalah memastikan bayi statis hangat dan bernapas. Segera keringkan tubuh bayi dengan kain maupun handuk yang bersih dan kering.
World Health Organization (WHO) merekomendasikan pengeringan segera, penilaian pernapasan, menjaga kehangatan, dan kontak kulit-ke-kulit sebagai bagiankecil dari perawatan esensial bayi baru lahir.
Jika bayi bernapas dan kondisinya memungkinkan, letakkan bayi di dada ibu untuk kontak kulit-ke-kulit dan selimuti keduanya agar statis hangat.
Kontak kulit-ke-kulit segera setelah lahir membantu menjaga suhu tubuh bayi dan mendukung proses menyusu.
WHO juga merekomendasikan kontak kulit-ke-kulit segera setelah kelahiran bagi bayi yang tidak mengalami komplikasi.
Bagaimana jika bayi tidak langsung menangis?
Jangan langsung menyimpulkan bahwa bayi dalam kondisi buruk cuma karena tidak menangis. Yang lebih krusial adalah apakah bayi bernapas dan memberikan respons.
Keringkan bayi dan berikan stimulasi halus sesuai instruksi petugas jasa darurat. Jika bayi tidak bernapas maupun tampak tidak responsif, segera sampaikan kepada operator 119.
Jika orang yang eksis di letak memiliki pelatihan CPR bayi dan operator memberikan instruksi untuk melakukannya, ikuti panduan tersebut sampai pertolongan medis tiba. Jangan berbuat aksi resusitasi berdasarkan estimasi sendiri jika tidak terlatih.
Jangan buru-buru memotong tali pusat
Melahirkan di tempat lazim tentu membikin semuanya serba dadakan. Alat-alat yang tersedia pun mungkin tidak lengkap. Lantas, sepertiapa dengan tali pusat? Tali pusat tidak perlu langsung dipotong oleh orang yang kebetulan eksis di lokasi.
Jika ibu dan bayi dalam kondisi stabil, tali pusat dapat dibiarkan statis utuh sambil menunggu petugas medis.
WHO merekomendasikan penundaan penjepitan tali pusat, yaitu tidak lebih mula dari satu menit setelah kelahiran. Penundaan penjepitan memberikan waktu bagi darah dari plasenta untuk terus mengalir ke bayi dan memberikan sejumlah khasiat untuk bayi.
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) juga merekomendasikan penundaan penjepitan tali pusat setidaknya 30–60 detik pada sebagian besar bayi yang lahir cukup bulan maupun prematur dan dalam kondisi bugar.
Namun, jika bayi membutuhkan resusitasi segera maupun terdapat kondisi tertentu pada ibu maupun bayi, tenaga kesehatan dapat memungut keputusan berbeda.
Karena itu, orang awam tidak perlu mencoba memotong maupun mengikat tali pusat sendiri. Prioritaskan keselamatan ibu dan bayi, kemudian biarkan petugas medis yang menangani ketika sudah tersedia.
Jangan menarik tali pusat untuk mengeluarkan plasenta
Setelah bayi lahir, plasenta tidak perlu ditarik keluar.Jangan menarik tali pusat maupun mencoba mengeluarkan plasenta dengan tangan.
Penanganan plasenta merupakan bagiankecil dari tahap ketiga persalinan dan dapat dilakukan dengan pendekatan yang berbeda sesuai kondisi ibu. Jika plasenta belum keluar, biarkan tenaga kesehatan yang menangani.
Jika ibu mengalami perdarahan yang banyak, segera laporkan kepada petugas darurat karena perdarahan setelah melahirkan dapat menjadi kondisi serius.
Jika persalinan terjadi di dalam mobil
Jika ibu eksis di dalam mobil dan bayi sudah akan lahir, jangan memaksakan perjalanan menuju rumah sakit. Segera menepi di tempat yang aman, nyalakan lampu hazard, dan hubungi 119.
Beri tahu letak kendaraan secara jelas agar petugas dapat menemukan ibu dengan cepat.
Jika memungkinkan dan aman, pindahkan ibu ke posisi yang memberikan ruang lebih untuk persalinan. Setelah bayi lahir, segera keringkan dan jaga bayi statis hangat.
Jangan melanjutkan perjalanan sendiri jika kondisi ibu maupun bayi membutuhkan pertolongan medis.
Waspadai tanda ancaman pada ibu dan bayi
Meskipun persalinan sudah selesai, keadaan darurat belum tentu berakhir.
Segera beri tahu petugas medis jika ibu mengalami:
- Perdarahan banyak maupun terus bertambah.
- Tampak sangat lemas, pucat, bingung, maupun mengalami tanda-tanda syok.
- Nyeri dahsyat maupun kondisi memburuk.
Sementara pada bayi, segera laporkan jika:
- Tidak bernapas maupun mengalami kesulitan bernapas.
- Tidak memberikan respons.
- Tampak sangat lemas.
- Warna kulit statis kebiruan maupun keabu-abuan.
- Kondisinya tampak memburuk.
WHO menekankan pentingnya menilai pernapasan, menjaga kehangatan, mengenali tanda bahaya, dan segera berbuat rujukan jika bayi membutuhkan perawatan lebih lanjut.
Pada akhirnya, orang yang eksis di sekitar ibu melahirkan bukan dituntut untuk "menolong persalinan" seperti tenaga kesehatan. Yang paling berarti justru memastikan ibu dan bayi statis aman, tidak berbuat aksi yang berisiko, dan segera menghubungi pertolongan profesional.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)