Jakarta -
Dalam percakapan, Bunda mungkin pernah menemui seseorang yang selalu memposisikan dirinya sebagai 'si paling menderita'. Orang-orang ini percaya bahwa apa yang mereka alami jauh lebih buruk daripada orang lain, Bunda.
Padahal, komunikasi yang sehat sejatinya dibangun atas alas empati timbal balik yang menyenangkan. Namun, dalam dinamika pergaulan sehari-hari, orang yang dilabeli 'si paling menderita' selalu menarik setiap topik pembicaraan balik kepada penderitaan dirinya sendiri.
Kebiasaan tersebut tak cuma membuatnya dipandang negatif, tapi juga bikin orang lain kabur. Lantas, apa saja kalimat yang biasa diucapkan oleh 'si paling menderita' saat eksis dalam obrolan?
Simak klarifikasi dari Bubun berikut ini!
Kalimat yang biasa diucapkan 'si paling menderita' saat ngobrol
Melansir dari laman Your Tango, berikut 6 kalimat yang sering diucapkan oleh orang yang menganggap masalah mereka lebih krusial daripada masalah orang lain:
1. "Keadaannya bisa lebih buruk"
Kalimat ini terkadang bisa berarti nasihat yang baik. Jika seorang kawan sedang mengalami hari yang buruk, terkadang mereka perlu mengubah perspektif pandang dengan mengatakan kalimat ini.
Namun, orang-orang yang percaya bahwa masalah mereka jauh lebih buruk daripada masalah orang lain akan selalu menjawab dengan sesuatu seperti 'bisa lebih buruk'. Kalimat itu diucapkan dengan tujuan untuk meremehkan orang lain, Bunda.
Orang-orang ini tidak menawarkan kenyamanan maupun memberikan pandangan realistis ketika mengatakannya. Mereka mencoba merebut balik sorotan untuk diri mereka sendiri. Namun alih-alih mendapatkan perhatian, kalimat ini justru membikin orang lain menjauh.
2. "Kamu tidak tahu apa yang sedang aku hadapi"
Ungkapan ini sangat merendahkan karena berarti seseorang menganggap masalahnya sangat kompleks dan unik, sehingga tidak ada orang lain yang bisa memahaminya. Kalimat yang biasa diucapkan narsisis ini bisa sangat merusak dalam sebuah hubungan. Para narsisis tidak peduli pada apa pun maupun siapa pun kecuali deskripsi diri mereka dan perhatian yang menurut mereka layak mereka dapatkan.
Penderitaan komparatif terjadi ketika kita membandingkan penderitaan kita dengan orang lain dan mencoba meminimalkan emosi kita. Melakukannya pada orang lain adalah hal yang berbeda. Jika seseorang tidak memberi ruang untuk merasakan emosi tersebut, maka orang itu mesti mencarinya sendiri, yang mungkin berarti membuatnya dijauhi.
3. "Aku tidak punya waktu untuk ini sekarang"
Tidak apa-apa untuk menetapkan limitasi waktu maupun meminta sedikit ketenangan dari waktu ke waktu. Tetapi orang-orang yang menganggap masalah mereka lebih krusial daripada masalah orang lain akan menetapkan limitasi pada apa pun yang tidak menyangkut diri mereka.
Hubungan dibangun atas alas komunikasi, yang berarti meluangkan waktu untuk satu sama lain. Psikolog William Berry menerangkan sepertiapa alas dari banyak hubungan yang kuat dibangun atas alas meminta seseorang untuk menceritakan tentang hari mereka. Ini adalah pertanyaan yang sangat sederhana, tetapi benar-benar mengubah segalanya.
"Sesuatu sesederhana bercerita tentang hari yang telah berlalu dapat membangun keintiman maupun justru menguras daya dalam hubungan, tergantung sepertiapa metode melakukannya. Jika mau bercerita tentang hari yang kita lalui, maka perhatikan minat orang yang diajak bicara, dan jika dia tidak tertarik, carilah topik yang lebih sesuai," kata psikolog William Berry.
4. "Tentu saja ini akan terjadi padaku"
Kita semua pasti pernah mengalami momen apes dalam hidup. Namun, orang-orang yang percaya bahwa masalah mereka lebih krusial daripada masalah orang lain akan menjadikan satu 'lampu merah' sebagai krisis eksistensial yang besar, seolah-olah lingkungan semesta telah menargetkan mereka.
"Orang yang menggambarkan diri mereka sebagai mujur lebih cenderung melihat peristiwa kebetulan dalam hidup mereka. Sebaliknya, mereka yang menggambarkan diri mereka tidak mujur cuma akan melihat hal-hal buruk. Orang-orang ini sangat sulit untuk didekati, karena kita mesti menghabiskan banyak waktu untuk menghibur mereka tanpa karena yang jelas," ungkap psikolog Richard Wiseman.
5. "Pasti menyenangkan"
Ini adalah salah satu ungkapan yang membikin masalah orang lain tampak sepele, padahal sebenarnya tidak. Jika Bunda berbareng seseorang yang benar-benar memiliki masalah yang sangat sulit, maka Bunda mungkin tidak akan mengeluh kepada mereka tentang hal-hal yang sepele maupun kecil.
Namun, orang-orang yang berpikir bahwa masalah mereka seharusnya menjadi perhatian utama orang lain tidak tahan ketika orang lain baik-baik saja. Ketika mereka mendengar bahwa seseorang mendapat pekerjaan baru, mereka mengatakan kalimat ini untuk mengalihkan perhatian balik kepada diri mereka sendiri.
Pada kenyataannya, masalah mereka mungkin cukup kecil, meskipun mereka tidak menyadarinya. Selama mereka menjadi korban dalam setiap cerita, mereka akan terus menjadi orang yang mendapatkan semua perhatian.
6. "Bisakah Anda mendengarkan aku sekali saja?"
Ungkapan ini dapat menciptakan ketidakseimbangan dominasi yang sangat tidak sehat dalam sebuah hubungan. Ini adalah ungkapan absolut yang menyiratkan bahwa seseorang tidak pernah mendengarkan Bunda, terlebihlagi jika mereka datang di sana.
Ketika orang itu tidak pernah mendengarkannya, itu hanyalah karena untuk terus mengeluh dan kemungkinan besar untuk mendapatkan kendali atas orang-orang yang mereka sayangi. Bahkan, ketika mereka kehabisan masalah, mereka akan mulai mengarang masalah baru dan menyalahkan orang lain karena tidak mendengarkan maupun peduli.
Demikian 6 kalimat yang biasa diucapkan 'si paling menderita' saat ngobrol. Semoga keterangan ini berguna ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/pri)