Lulusan Ilmu Komputer Disebut Makin Sulit Dapat Kerja, Ini Alasannya

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 7 menit 285x dilihat
Lulusan Ilmu Komputer Disebut Makin Sulit Dapat Kerja, Ini Alasannya

Bagikan Postingan

Di era yang serba digital seperti sekarang, tampaknya bidang kuliah ilmu komputer semakin diminati. Namun tahukah Bunda jika banyak lulusan ilmu komputer disebut semakin sulit dapat kerja. Mengapa hal itu terjadi?

Lulus dari bidang ilmu komputer selama ini sering dianggap sebagai modal kuat untuk mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi, terutama di industri teknologi. Namun kondisi pasar kerja kini mulai berubah.

Di tengah pesatnya evolusi kecerdasan buatan maupun artificial intelligence (AI), para lulusan baru justru menghadapi persaingan yang semakin ketat untuk mendapatkan pekerjaan, khususnya di sektor pengembangan alat lunak (software development). Situasi ini menjadi tantangan bagi mahasiswa yang memilih ilmu komputer saat industri teknologi sedang mengalami lonjakan kebutuhan tenaga kerja.


Jika sebelumnya perusahaan berlomba-lomba merekrut programmer, kini sebagian pekerjaan yang berhubungan dengan penulisan kode mulai dibantu, terlebihlagi diambil alih, oleh AI. Akibatnya, lowongan untuk buruh pemula semakin berkurang, sementara perusahaan mengharapkan kandidat memiliki kapasitas yang lebih matang sejak mula bekerja.

Berdasarkan analisis Associated Press (AP), tingkat pengangguran di kalangan lulusan baru ilmu komputer dan teknik komputer mencapai sekitar 7,1 persen. Salah satu aspek yang memengaruhi kondisi tersebut karena banyaknya mahasiswa yang masuk ke sektor ini ketika kesempatan kerja di industri teknologi sedang berkembang pesat.

Kini perusahaan teknologi besar seperti Microsoft, Meta, dan Google semakin memanfaatkan AI untuk membantu menulis kode. Sementara itu, sejumlah perusahaan besar lainnya, termasuk Amazon, berbuat pengurangan karyawan ketika pengeluaran untuk pengembangan AI terus meningkat.

Analisis Federal Reserve terhadap keterangan situs pelacakan kerja Indeed juga memberitahu bahwa jumlah lowongan di sektor pengembangan alat lunak jauh lebih sedikit dibandingkan sebelumnya. Meski demikian,, kesempatan kerja bagi lulusan ilmu komputer belum sepenuhnya tertutup.

Sejumlah perusahaan di luar industri teknologi, termasuk upaya berskala kecil, mulai mencari karyawan yang bisa membantu mereka memahami dan memanfaatkan AI. Pergeseran ini turut mendorong perguruan tinggi untuk menyesuaikan kurikulum agar lulusannya memiliki keahlian sesuai dengan kebutuhan industri saat ini.

Alasan lulusan ilmu komputer semakin sulit dapat kerja

Berikut karena lulusan ilmu komputer semakin sulit mendapat pekerjaan.

1. Perusahaan mengharapkan lulusan baru memiliki keahlian tingkat lanjut

Berkurangnya pekerjaan untuk pemula bukan satu-satunya tantangan. Perusahaan juga mulai menaikkan standar perekrutan dengan mengharapkan kandidat bisa menangani tanggung jawab yang sebelumnya diberikan kepada buruh berpengalaman.

Nicholas Mattei, guru besar madya ilmu komputer di Tulane University, mengungkapkan bahwa perusahaan kini meminta perguruan tinggi mempersiapkan lulusan dengan kapasitas yang lebih tinggi.

"Semua perusahaan balik kepada kami dan mengatakan, 'Oh, kalian perlu melatih orang-orang ini dengan lebih baik lagi. Mereka mesti bisa langsung menjalankan peran pengelolaan tingkat menengah, bukan sekadar menjadi developer junior maupun pemula,'" ujar Mattei dilansir dari Independent.

Ia menilai tuntutan tersebut cukup mengejutkan karena lulusan baru seharusnya memiliki kesempatan memulai pekerjaan dari posisi mula dan mengembangkan kapasitas secara bertahap. Di sisi lain, evolusi AI membikin perusahaan mencari kandidat yang bisa langsung berkontribusi tanpa membutuhkan terlalu banyak pelatihan.

Akibatnya, lulusan baru menghadapi kesenjangan antara keahlian yang mereka miliki dan ekspektasi pemberi kerja.

3. AI memungut alih

Kemampuan AI dalam membantu menulis kode menjadi salah satu fluktuasi besar yang memengaruhi industri alat lunak. Tugas yang sebelumnya dikerjakan programmer, seperti menyusun kode alas maupun membantu proses pengembangan aplikasi, kini dapat dilakukan dengan pertolongan teknologi tersebut.

Perubahan ini tidak berarti seluruh pekerjaan programmer akan hilang. Namun perusahaan mulai membutuhkan karyawan yang bisa menggunakan AI secara efektif, memeriksa hasilnya, serta memastikan teknologi tersebut menghasilkan solusi yang tepat.

Tracy Camp, ketua pelaksana sekaligus CEO Computing Research Association, menerangkan bahwa industri kini mencari buruh yang bisa mengamati penggunaan AI dan tidak menerima akibatnya begitu saja. Menurut Camp, keahlian tersebut selama ini lebih lazim ditemukan pada buruh yang telah memiliki pengalaman profesional.

Jadi, lulusan ilmu komputer tidak cukup cuma menguasai bahasa pemrograman. Mereka juga perlu memahami metode mengevaluasi hasil kerja AI, menemukan kesalahan, serta menentukan apakah solusi yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengguna.

4. Lulusan baru bersaing dengan tuntutan industri yang terus berubah

Perubahan kebutuhan karyawan membikin pelacakan pekerjaan menjadi pengalaman yang melelahkan bagi sebagian lulusan baru. Jack Zemke, lulusan ilmu komputer dari Tulane University, bercerita bahwa dirinya telah mengirimkan ratusan lamaran pekerjaan, namun sebagian besar tidak mendapatkan tanggapan.

Jelang kelulusannya, Zemke terlebihlagi sempat mempertimbangkan untuk balik tinggal berbareng orangtua. Kesempatan kerja akhirnya datang ketika ia mempresentasikan proyek himpunan berupa alat pelacakan berbasis AI dalam sebuah pertemuan teknik.

Zemke pun langsung menyambut kesempatan itu. Setelah bekerja selama satu tahun di perusahaan teknik sipil tersebut, ia akhirnya mendapatkan pekerjaan di perusahaan rintisan teknologi AI pada musim panas tahun ini.

Ia menggambarkan kondisi industri saat ini sebagai situasi yang bergeser sangat cepat dan penuh ketidakpastian.

"Pekerjaan-pekerjaan ini mengharapkan Anda bisa langsung terjun dan bekerja di garis depan evolusi teknologi. Perubahannya begitu cepat. Ada orang yang terkena PHK, ada pula yang meninggalkan pekerjaan. Saat ini, semuanya benar-benar terasa kacau," ujar Zemke.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kesempatan kerja bagi lulusan ilmu komputer statis tersedia, namun jalurnya tidak selalu sesuai dengan deskripsi pekerjaan yang mereka bayangkan ketika memilih jurusan.

5. Pekerja muda di sektor yang terdampak AI semakin sulit mendapatkan pekerjaan

Dampak AI terhadap pasar kerja juga kelihatan dalam keterangan ketenagakerjaan. Menurut Stanford Digital Economy Lab, tingkat pekerjaan bagi buruh berumur mula 20-an di sektor yang terpapar AI, termasuk pengembangan alat lunak, eksis 19 persen di bawah tingkat yang diperkirakan akan tercapai jika pertumbuhannya mengikuti sektor pekerjaan yang lebih sedikit terdampak AI.

Badan Sensus Amerika Serikat juga menyamakan penurunan kesempatan kerja tersebut dengan situasi yang dihadapi seseorang ketika lulus kuliah di tengah resesi besar. Angka ini memberitahu bahwa fluktuasi teknologi dapat memberikan akibat berbeda berdasarkan tingkat pengalaman pekerja.

Karyawan senior mungkin lebih siap menghadapi fluktuasi karena telah memiliki ilmu praktis, pengalaman menyelesaikan masalah, dan kapasitas memungut keputusan. Sebaliknya, buruh pemula biasanya mengandalkan pekerjaan tingkat mula untuk memperoleh pengalaman itu.

Ketika posisi junior semakin terbatas, lulusan baru berisiko kehilangan kesempatan untuk membangun keahlian yang dibutuhkan agar dapat naik ke hierarki pekerjaan berikutnya.

Tracy Camp pun memperingatkan bahwa perusahaan perlu mempertimbangkan akibat jangka panjang dari kebijakan perekrutan mereka.

"Jika mereka tidak mengubah metode perekrutan yang dilakukan saat ini, dalam beberapa tahun ke depan mereka tidak akan memiliki karyawan tingkat menengah dalam pekerjaan mereka," kata Camp.

Peringatan menyoroti pentingnya memberi kesempatan kepada lulusan baru. Tanpa jalur masuk yang memadai, perusahaan bisa kesulitan menemukan buruh ahli yang siap mengisi posisi strategis pada masa mendatang.

6. Minat terhadap bidang ilmu komputer mulai mengalami penurunan

Ketatnya persaingan kerja juga memengaruhi keputusan calon mahasiswa dalam memilih jurusan. Setelah jumlah lulusan baru ilmu komputer dan teknik komputer meningkat tiga kali lipat selama sekitar satu dasawarsa hingga mencapai sekitar 362 ribu orang pada 2024, jumlah mahasiswa yang memungut sektor tersebut mulai memberitahu penurunan.

Data terbaru dari National Student Clearinghouse Research Center memberitahu bahwa pada musim semi tahun ini, jumlah mahasiswa ilmu komputer dan keterangan di institusi pendidikan tinggi empat tahun di Amerika Serikat turun 8,4 persen.

Perubahan ini mengindikasikan bahwa sebagian calon mahasiswa mulai mempertimbangkan balik prospek pekerjaan di industri teknologi. Mereka tidak cuma melihat potensi gaji dan kesempatan kerja, tapi juga memperhitungkan fluktuasi kebutuhan perusahaan akibat evolusi AI.

Penurunan minat tersebut tidak langsung berarti ilmu komputer kehilangan relevansinya. Justru, kapasitas memahami teknologi statis dibutuhkan oleh beragam industri, mulai dari upaya hingga kehutanan.

Tantangan bagi mahasiswa dan perguruan tinggi adalah menyesuaikan keahlian dengan fluktuasi kebutuhan pasar kerja. Penguasaan pemrograman statis penting, namun perlu dilengkapi dengan kapasitas menggunakan AI, berpikir kritis, memecahkan masalah, dan memahami implementasi teknologi dalam bumi nyata.

Dengan persiapan yang lebih relevan, lulusan ilmu komputer statis memiliki kesempatan membangun karier. Di tengah fluktuasi industri yang terjadi cepat, gelar akademik saja semakin sulit menjadi garansi untuk memperoleh pekerjaan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads