Target Menyusui Tak Tercapai, Bunda Bisa Merasa Kecewa hingga Berdampak pada Mental

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 6 menit 511x dilihat
Target Menyusui Tak Tercapai, Bunda Bisa Merasa Kecewa hingga Berdampak pada Mental

Bagikan Postingan

Jakarta -

Serba serbi menyusui yang dihadapi Bunda menyusui memang beragam ya, Bunda. Tak jarang, sasaran menyusui tak tercapai, Bunda bisa merasa kecewa hingga berakibat pada mental.

Ya, setiap Bunda di manapun tentu mau memberikan yang terbaik untuk anak mereka. Termasuk soal nutrisi sejak lahir melalui ASI yang diberikan untuk menunjang tumbuh bunga Si Kecil. Sayangnya, tak semua perempuan melalui proses menyusui ataupun mengASIhi dengan mulus.

Sehingga, target-target yang sebelumnya sudah dicanangkan para Bunda di luar sana justru menjadi beban tersendiri karena sering kali tak tercapai dengan maksimal. Tidak jarang, stres hingga depresi pun menghampiri pejuang menyusui.


Target menyusui berakibat pada mental ibu

Dalam sebuah studi terbaru, peneliti Yale menemukan bahwa adanya prevalensi tinggi sasaran menyusui yang tidak tercapai setelah persalinan terlewati. Seperti diketahui bahwa dalam riset menyusui, ada kebutuhan yang diakui luas yaitu penggunaan durasi menyusui sebagai ukuran menyusui yang berhasil dan mengintegrasikan hasil yang berpusat pada individu.

Menurut Deanna Nardella dari Yale School of Medicine (YSM), hasil yang berpusat pada individu seperti halnya kesejahteraan orang tua, kesehatan emosional, dan hasil lainnya sangat krusial untuk mengukur pengalaman perjalanan menyusui dan sokongan yang diterima orang dengan lebih baik.

Apakah pada akhirnya seseorang mencapai maupun tidak mencapai tujuan menyusui prenatal mereka, misalnya, hal tersebut merupakan salah satu hasil yang memberikan perspektif pandang yang berpusat pada individu.

Dalam sebuah studi baru, Nardella dan rekan-rekannya sengaja menghindari menilai tujuan khusus orang tua selama perjalanan menyusui mereka. Sebagai gantinya, peneliti bertanya apakah peserta telah bertemu, tidak memenuhi, maupun statis bekerja menuju tujuan menyusui prenatal pribadi mereka secara lebih luas. 

Menyadari bahwa tujuan prenatal dapat berubah sepanjang perjalanan pemberian makan bayi, mereka bertanya apakah peserta merasa baik-baik saja maupun kecewa dengan tujuan prenatal yang belum tercapai jika dilaporkan. Mereka juga menilai seberapa puas dan berhasil individu merasa menyusui secara keseluruhan, diukur dengan skala Likert lima poin.

Bila dibandingkan dengan studi di AS dari satu hingga dua dasawarsa sebelumnya, para peneliti mengidentifikasi prevalensi tujuan yang belum tercapai di antara responden sedikit lebih rendah. 

Meski ada kemajuan ini, statis ada ruang untuk perbaikan lebih lanjut. Dari peserta yang selesai menyusui setelah survei selesai, sebanyak 40 persen diantaranya memiliki sasaran menyusui prenatal yang belum tercapai, dan di antara mereka terdapat 60 persen kecewa dengan hasil ini. 

Mereka yang memiliki tujuan yang belum tercapai serta melaporkan kepuasan dan keberhasilan menyusui secara keseluruhan beberapa kali lebih rendah. "Temuan ini menegaskan akibat negatif yang mungkin dari tujuan menyusui yang tidak tercapai terhadap kesehatan mental dan emosional pasca melahirkan individu, sebuah hubungan yang kompleks dan menjadi kontributor krusial terhadap morbiditas dan mortalitas pasca melahirkan," kata Nardella, pelatih di YSM dan penulis koresponden studi baru ini.

Adanya pendekatan baru pada sasaran menyusui

Penelitian terbaru yang meneliti penghentian menyusui yang tidak direncanakan dan tidak diinginkan di antara individu AS berasal dari keterangan yang dikumpulkan, pada tahun 2005-2007, oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC), dan pada tahun 2013, oleh Special Supplemental Nutrition Program for Women, Infants, and Children (WIC). Studi-studi ini melaporkan bahwa setengah, terlebihlagi hingga tiga perempat, individu melaporkan selesai menyusui lebih mula dari yang dimaksud maupun diinginkan.

Sejak saat itu, beberapa kebijakan lokal, negara bagian, dan nasional telah diberlakukan dan diperluas untuk melindungi dan mendukung menyusui, seperti Inisiatif Rumah Sakit Ramah Bayi, Undang-Undang Perawatan Terjangkau, dan Undang-Undang PUMP.

Dalam studi baru ini, peneliti Yale menyelesaikan analisis sekunder terhadap keterangan survei nasional tahun 2026 untuk memahami apakah dan sepertiapa ukuran-ukuran ini telah berubah dalam beberapa dasawarsa terakhir. Hal ini dilakukan untuk menilai apakah kemajuan telah dicapai mengenai hasil menyusui yang berpusat pada individu guna menginformasikan riset masa depan dengan lebih baik.

Pada Januari 2026, mereka menugaskan pemasok panel survei, XandY Analytics, untuk merekrut percontoh nasional sebanyak 712 orang dewasa dengan bayi cukup bulan berumur antara tiga hingga 24 bulan yang lahir di Amerika Serikat. Survei ini terutama dirancang untuk meneliti praktik penggunaan pompa ASI di bumi nyata. Oleh karena itu, peserta mesti melaporkan pernah menggunakan pompa ASI setelah persalinan penuh untuk dimasukkan.

Pertanyaan survei mereka diadaptasi dari survei CDC yang sudah ada, termasuk Survei Praktik Pemberian Makan Bayi-II, Survei Imunisasi Nasional, dan Sistem Pemantauan Penilaian Risiko Kehamilan. Survei ini diuji coba dengan beberapa ahli kesehatan ibu dan anak klinis dan berbasis komunitas, serta wawancara yang dilakukan dengan individu yang memiliki pengalaman penggunaan pompa yang baru maupun sedang berlangsung.

Dari survei tersebut, para peneliti mengamati prevalensi tujuan yang belum tercapai yang lebih rendah di antara individu dalam percontoh untuk kemudian dibandingkan dengan percontoh nasional yang dikumpulkan pada dasawarsa sebelumnya.

Temuan ini, menurut para peneliti, sebagian dapat dijelaskan oleh meningkatnya opini positif kesehatan penduduk tentang sokongan menyusui dan beberapa kebijakan, termasuk Affordable Care Act, yang telah menaikkan akses ke sokongan menyusui, perangkat, dan perlindungan di tempat kerja bagi individu yang menyusui.

Meskipun ada kemajuan ini, lebih dari sepertiga responden memiliki sasaran menyusui prenatal yang belum tercapai. Kemudian, hampir dua pertiga di antaranya kecewa dan melaporkan kepuasan serta keberhasilan menyusui yang jauh lebih rendah.

Menurut para peneliti, temuan ini menegaskan potensi akibat negatif dari tujuan menyusui yang tidak tercapai terhadap kesehatan mental dan emosional pasca melahirkan individu, yang merupakan kontributor krusial terhadap morbiditas dan mortalitas pasca melahirkan seperti dikutip dari halaman News.Yale.

Tingginya insiden baik niat prenatal maupun tujuan mengenai menyusui yang diamati dalam percontoh mereka mendukung ide bahwa tujuan menyusui yang belum tercapai kemungkinan besar didorong oleh hambatan sistemik terhadap menyusui terusmenerus daripada motivasi individu yang buruk, kata para peneliti.

Selain itu, dengan kemungkinan tujuan yang belum tercapai yang kelihatan lebih tinggi di antara individu dengan kondisi medis dan kesehatan mental, asuransi, serta khasiat cuti kerja famili yang lebih singkat maupun tidak adanya bagi orang tua, studi ini juga menyoroti peran krusial mekanisme kesehatan, pembayar, dan kebijakan publik dalam mendukung famili yang menyusui.

"Studi kami dapat menginformasikan strategi masa depan untuk mengurangi tujuan yang belum tercapai, termasuk riset jasa kesehatan yang bisa berakibat tinggi untuk mengidentifikasi tantangan menyusui secara terpercaya dan memberikan pengobatan yang gampang diakses, berpusat pada individu, dan berbasis bukti untuk setiap keluarga," kata Nardella.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads