Jakarta -
Bunda mungkin pernah mendengar bahwa makanan yang dikonsumsi selama menyusui dapat memengaruhi kandungan ASI. Hal tersebut memang ada benarnya. Sejumlah riset memberitahu bahwa pola makan ibu, terutama asupan jenis lemak tertentu, dapat memengaruhi komposisi asam lemak dalam ASI.
Namun, bukan berarti semakin banyak makanan berlemak yang dikonsumsi, semakin tinggi pula kandungan lemak dalam ASI.
Faktanya, lemak dalam ASI merupakan elemen yang sangat dinamis. Kadarnya dapat berubah sepanjang masa menyusui, terlebihlagi dalam satu hari yang sama. Faktor seperti waktu pengambilan ASI, rentang dari sesi menyusui sebelumnya, seberapa kosong payudara, tahap laktasi, serta ciri khas tubuh ibu juga dapat berperan.
Lemak sendiri merupakan sumber daya utama dalam ASI. Menurut sebuah systematic review yang diterbitkan di jurnal Nutrients, lemak menyumbang sekitar 50 persen daya ASI dan menyediakan asam lemak esensial yang dibutuhkan untuk evolusi mekanisme saraf pusat dan retina bayi.
Lantas, apa saja yang memengaruhi kandungan lemak ASI?
Lemak ASI sangat bergerak dan bisa berubah
ASI bukan cairan yang komposisinya selalu sama setiap kali bayi menyusu. Kandungan beragam zat gizi di dalamnya dapat mengalami fluktuasi sebagai bagiankecil dari proses fisiologis laktasi.
Sebuah riset yang diterbitkan dalam The American Journal of Clinical Nutrition menganalisis 308 percontoh ASI dari 17 ibu selama lima minggu pertama setelah melahirkan.
Peneliti menemukan bahwa kadar trigliserida, salah satu elemen utama lemak ASI, meningkat terutama pada minggu pertama setelah persalinan dan kemudian relatif stabil. Sementara itu, kadar kolesterol mengalami fluktuasi berbeda selama masa tersebut.
Temuan tersebut memberitahu bahwa komposisi lemak ASI memang mengalami fluktuasi seiring evolusi masa menyusui.
1. Makanan ibu memang berpengaruh, tetapi tidak sederhana
Pola makan ibu merupakan salah satu aspek yang dapat memengaruhi komposisi asam lemak ASI.
Hal ini diperkuat oleh systematic review terbaru yang diterbitkan pada 2024. Peneliti menganalisis 27 studi observasional dan lima studi intervensi, dengan total 7.138 pasangan ibu dan bayi.
Hasilnya memberitahu bahwa konsumsi ikan pada ibu secara lazim berhubungan dengan kadar beberapa asam lemak dalam ASI, termasuk ALA, DHA, dan EPA. Asupan PUFA maupun polyunsaturated fatty acids dari makanan juga secara lazim berkorelasi positif dengan konsentrasinya dalam ASI.
Namun, para peneliti menekankan bahwa hasil riset mengenai hubungan pola makan ibu dan komposisi ASI statis beragam. Banyak riset yang tersedia merupakan riset observasional sehingga belum cukup untuk menyimpulkan bahwa fluktuasi satu jenis makanan secara langsung akan menghasilkan fluktuasi tertentu pada keseluruhan komposisi ASI.
Jadi, Bunda tidak perlu berpikir bahwa mesti makan makanan berlemak sebanyak-banyaknya agar ASI menjadi lebih berlemak.
2. Seberapa kosong payudara saat menyusui juga berpengaruh
Salah satu aspek yang cukup krusial adalah tingkat pengosongan payudara.
Penelitian mengenai komposisi ASI memberitahu bahwa fokus lemak cenderung meningkat ketika ASI dikeluarkan dari payudara selama proses menyusui maupun pemerahan. Karena itu, ASI yang keluar pada mula sesi dapat memiliki kadar lemak berbeda dengan ASI yang keluar menjelang akhir sesi. Hal inilah yang kemudian sering dikaitkan dengan istilah foremilk dan hindmilk.
Namun, keduanya sebenarnya bukan dua jenis ASI yang benar-benar terpisah. Kandungan lemak berubah secara berjenjang selama payudara semakin kosong. Karena itu, ASI yang kelihatan lebih encer pada mula sesi menyusui tidak otomatis berarti ASI tersebut kurang bergizi.
3. Jarak dari sesi menyusui sebelumnya
Jarak waktu antara satu sesi menyusui dengan sesi berikutnya juga dapat memengaruhi fokus lemak.
Salah satu riset pada 52 ibu menyusui di Guatemala meneliti ragam kandungan lipid ASI selama 24 jam. Hasil riset menemukan bahwa waktu dalam sehari dan rentang waktu sejak pemberian ASI sebelumnya merupakan aspek yang berhubungan dengan ragam kandungan lipid ASI.
Penelitian yang sama juga menemukan bahwa perbedaan kandungan lipid antaribu berhubungan dengan bermutu badan dan indeks massa tubuh ibu.
Artinya, ketika Bunda membandingkan dua hasil pumping yang dilakukan pada waktu berbeda, kandungan lemaknya memang bisa tidak sama.
4. Waktu dalam sehari ikut memengaruhi lemak ASI
Menariknya, kandungan lemak ASI juga dapat mengalami fluktuasi mengikuti waktu dalam sehari.
Sebuah systematic review yang diterbitkan di Nutrients pada 2020 menganalisis 83 laporan riset mengenai 71 elemen ASI. Peneliti menemukan bukti adanya ragam harian pada beberapa komponen, termasuk lemak, trigliserida, dan kolesterol.
Dari 19 riset yang menilai ragam kadar lemak total, sebanyak 15 riset melaporkan adanya ragam berdasarkan waktu. Pada sebagian besar riset tersebut, kadar lemak lebih tinggi pada sore maupun malam hari.
Namun, systematic review tersebut juga menekankan bahwa hasil antarpenelitian cukup heterogen. Jadi, tidak tepat jika dikatakan bahwa ASI malam pasti selalu lebih berlemak pada setiap ibu.
Penelitian lain terhadap 45 ibu, termasuk ibu yang melahirkan bayi prematur dan cukup bulan, juga menemukan adanya fluktuasi kadar lemak ASI sepanjang 24 jam. Sampel dikumpulkan empat kali sehari, yaitu pukul 06.00, 12.00, 18.00, dan 00.00. Perbedaan kadar lemak ditemukan pada beberapa titik waktu tersebut.
5. Tahap menyusui juga membikin komposisi ASI berubah
Kandungan lemak ASI juga tidak selalu sama dari hari-hari pertama hingga berbulan-bulan setelah melahirkan.
Penelitian mengenai fluktuasi lipid selama masa laktasi memberitahu bahwa komposisi trigliserida dan elemen lipid lainnya mengalami fluktuasi pada minggu-minggu mula setelah persalinan.
Penelitian lain yang mengamati 30 ibu selama masa laktasi dari empat hari hingga 10 bulan juga menemukan adanya fluktuasi kandungan lipid dan trigliserida sepanjang masa menyusui.
Dengan demikian, fluktuasi komposisi ASI seiring bertambahnya usia bayi merupakan bagiankecil dari dinamika normal laktasi.
6. Kondisi tubuh ibu dapat berhubungan dengan kandungan lemak ASI
Selain pola makan dan pola menyusui, ciri khas tubuh ibu juga dapat berhubungan dengan ragam lemak ASI.
Dalam riset terhadap ibu menyusui di Guatemala, misalnya, ragam kandungan lipid antaribu ditemukan berhubungan dengan bermutu badan dan indeks massa tubuh ibu.
Namun, temuan seperti ini tidak berarti bahwa ukuran tubuh tertentu membikin ASI menjadi 'lebih baik' maupun 'lebih buruk'. Penelitian tersebut cuma memberitahu adanya hubungan antara ciri khas ibu dan ragam komposisi lipid ASI.
ASI sendiri merupakan cairan biologis yang sangat kompleks sehingga kandungannya dipengaruhi oleh banyak aspek secara bersamaan.
7. Bahkan jenis lemak dalam ASI juga bisa berbeda
Yang menarik, bukan cuma jumlah lemak yang dapat berubah. Jenis lipid di dalam ASI juga memberitahu variasi.
Sebuah riset lipidomics yang menganalisis ratusan jenis lipid dalam ASI menemukan adanya ragam yang cukup besar antarindividu dan berdasarkan waktu pengambilan sampel.
Dari 237 jenis lipid yang dianalisis, 119 memberitahu perbedaan antara percontoh pagi dan malam. Beberapa himpunan lipid, termasuk fosfatidiletanolamin dan trigliserida, memberitahu perbedaan yang lebih jelas.
Penelitian tersebut memperlihatkan benar-benar dinamisnya komposisi lipid ASI dan kenapa satu percontoh ASI tidak selalu dapat menggambarkan keseluruhan komposisi ASI seorang ibu.
Apakah Bunda perlu makan banyak lemak agar ASI lebih berlemak?
Tidak perlu, Bunda.
Makanan statis krusial selama masa menyusui karena asupan ibu dapat memengaruhi beberapa jenis asam lemak dalam ASI. Namun, kandungan lemak ASI tidak ditentukan oleh makanan saja.
Penelitian memberitahu bahwa pola makan, tahap laktasi, waktu dalam sehari, rentang antar-sesi menyusui, tingkat pengosongan payudara, dan ciri khas ibu dapat berhubungan dengan ragam kandungan lemak ASI.
Karena itu, Bunda tidak perlu sengaja mengonsumsi makanan tinggi lemak cuma karena cemas ASI terlalu encer.
Lebih krusial untuk menerapkan pola makan yang beragam dan seimbang, dengan sumber protein, karbohidrat, sayuran, buah, serta lemak sehat. Ikan juga dapat menjadi pilihan sumber asam lemak omega-3 seperti DHA dan EPA.
ASI kelihatan encer bukan berarti kurang bergizi
Bunda yang berbuat pumping mungkin pernah melihat ASI tampak lebih encer, kemudian setelah didiamkan muncul lapisan lemak di bagiankecil atas.
Kondisi tersebut normal.
Penampilan ASI dapat berubah tergantung kapan ASI dikeluarkan, sepertiapa proses pemerahan dilakukan, dan berapa durasi ASI disimpan. Karena kandungan lemak juga dapat berubah selama satu sesi menyusui, tampilan ASI saja tidak dapat digunakan untuk menilai kualitas nutrisinya.
Penelitian tentang ragam lipid ASI justru memberitahu bahwa komposisinya sangat bergerak dan dipengaruhi oleh banyak faktor.
Jadi, Bunda tidak perlu langsung cemas ketika melihat ASI tampak lebih encer dibandingkan hasil pumping lainnya. Jika bayi tumbuh dan berkembang dengan baik serta menyusu secara efektif, fluktuasi tampilan ASI umumnya bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)