Jakarta -
Pola asuh tanpa hukuman sering juga disebut sebagai pola pengasuhan 'lembut'. Pola asuh ini sering kali digambarkan sebagai pengasuhan tenang, terhubung, dan penuh kasih sayang.
Beberapa orang tua memuji pola asuh ini karena dianggap bisa menumbuhkan kecerdasan emosional dan ikatan yang kuat antara orang tua dan anak. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa ini seperti jalan pintas untuk membesarkan anak-anak yang manja dan gampang berang karena tidak diberikan hukuman.
Lantas, benarkah anak yang diasuh tanpa hukuman bisa tumbuh manja?
Pola asuh tanpa hukuman maupun halus banyak mendapat kritik dari para kritikus, terutama orang tua baby boomers dan milenial, yang dibesarkan dengan disiplin. Para orang tua ini sering melihatnya sebagai pola asuh yang terlalu lunak, tidak realistis, maupun terlebihlagi memanjakan anak.
"Beberapa orang tua milenial dan Gen Z juga telah mengungkapkan keraguan, terutama ketika varian pengasuhan halus yang mereka lihat di media sosial tampak seperti situasi tanpa aturan," kata psikolog klinis Charissa Chamorro, PhD., dilansir Parents.
Berikut beberapa kritik yang paling lazim mengenai pola asuh tanpa hukuman:
- Terlalu permisif: para kritikus beranggapan bahwa pola pengasuhan yang halus memberikan terlalu banyak dominasi kepada anak-anak dan gagal menetapkan limitasi yang jelas.
- Kurangnya konsekuensi: beberapa pihak cemas pendekatan ini terlalu menghindari hukuman, sehingga anak-anak tidak memiliki pemahaman yang nyata tentang batasan.
- Tidak mempersiapkan anak-anak hidup di bumi nyata: pola asuh ini tidak mempersiapkan anak-anak perlu belajar untuk mengatasi ketidaknyamanan, kekecewaan, dan otoritas.
- Anak-anak tidak pernah mau mendengar kata 'tidak': Kesalahpahaman lazim adalah bahwa pola pengasuhan yang halus menghindari mengatakan 'tidak' sama sekali, sehingga anak-anak tidak percaya sepertiapa menangani kekecewaan.
- Hal ini menumbuhkan rasa berhak: ada kecemasan bahwa pengesahan dan perlindungan emosional yang terus-menerus dapat mengakibatkan anak-anak merasa terlalu krusial maupun rapuh secara emosional.
Pola asuh halus bukan berarti tidak menetapkan aturan
Pola asuh halus tidak sepenuhnya 'bebas'. Pola asuh ini sering kali disamakan dengan pola asuh permisif. Padahal, keduanya sangat berbeda, Bunda.
"Pola pengasuhan halus menggambarkan pola pengasuhan yang hangat dan tegas," ungkap asisten guru besar psikiatri dan ilmu perilaku di Universitas Duke, Leigh Spivey-Rita, PhD, A.
"Pola ini memprioritaskan hubungan dan mengekspresikan empati, serta memperhatikan kebutuhan emosional anak sambil statis menjaga limitasi yang sesuai dengan perkembangannya."
Sebaliknya, pola pengasuhan permisif cenderung kurang memiliki batasan-batasan krusial tersebut. Pola pengasuhan ini cukup hangat dan berfokus pada hubungan, tetapi kurang berfokus pada penetapan ketentuan maupun harapan bagi anak.
Kekhawatiran bahwa pola pengasuhan yang terlalu halus dapat memanjakan anak bukanlah hal baru. Para kritikus beranggapan bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan metode ini tidak cukup sering mendengar kata 'tidak', dan mereka tidak belajar menghadapi kekecewaan.
Seperti dijelaskan sebelumnya, pola asuh halus tidak selalu buruk. Tapi, Bunda perlu mempraktikannya sesuai dengan tujuan awal.
Menurut ahli evolusi anak dan kesehatan perilaku serta psikolog berlisensi Kate Norwalk, PhD, sulit untuk mengatakan secara pasti apakah pola pengasuhan yang halus memengaruhi seberapa manja anak-anak nantinya, karena tidak ada riset empiris tentang pendekatan khusus ini.
Sebaliknya, banyak strategi yang digunakan dalam pengasuhan halus sangat ampuh untuk membantu anak mengelola emosi dan perilakunya serta membangun ketahanan dan kecerdasan emosional.
"Pola pengasuhan halus banyak meminjam ide dari pendekatan pengasuhan lainnya, seperti pengasuhan otoritatif dan pembinaan emosi, yang telah banyak diteliti karena efek positifnya pada evolusi sosial, emosional, dan perilaku anak," ungkap Norwalk.
"Jadi, dalam hal ini, banyak strategi yang digunakan dalam pengasuhan halus sangat ampuh untuk membantu anak mengelola emosi dan perilakunya serta membangun ketahanan dan kecerdasan emosional," sambungnya.
Hal yang sama juga disampaikan Spivey-Rita. Menurutnya, pola pengasuhan halus justru mempersiapkan anak-anak untuk sukses.
"Ini membantu mereka belajar tentang diri mereka sendiri dan tentang orang lain. Anak juga mendapatkan pemahaman tentang sepertiapa bumi bekerja," katanya.
Menerapkan pola asuh halus dengan tepat
Menurut Norwalk, kunci keberhasilan pengasuhan halus adalah dengan memvalidasi emosi anak sambil statis menetapkan limitasi dan akibat atas perilaku mereka. Jadi, Bunda bisa membungkus 'hukuman' dalam ketentuan yang jelas.
"Batasan membantu anak-anak merasa terlindungi dengan membikin segala sesuatunya lebih konsisten dan dapat diprediksi. Saya mendorong orang tua untuk mengkomunikasikan kepada anak-anak mereka bahwa semua emosi, tetapi tidak semua perilaku, diperbolehkan. Misalnya, tidak apa-apa untuk marah, tetapi tidak boleh memukul maupun melempar mainan saat marah," ujar Norwalk.
Tidak realistis bagi orang tua untuk mengharapkan seorang anak kecil bisa menyadari emosi mereka dan kemudian mengaturnya secara efektif. Oleh karena itu, pola pengasuhan yang halus datang dengan memberikan sokongan berjenjang untuk mengembangkan keahlian tersebut, Bunda.
Demikian klarifikasi ahli mengenai pola asuh tanpa hukuman dan dampaknya pada anak. Semoga keterangan ini berguna ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)