Jakarta -
Menjadi master anak bukan sekadar pekerjaan bagi sebagian orang. Ada kisah panjang, pengalaman pribadi, dan kepedulian yang tumbuh hingga akhirnya mengantarkan seseorang memilih jalan hidup tersebut. Hal itu yang juga dirasakan oleh dr. Margareta Komalasari, Sp.A, dalam perjalanan kariernya.
Sejak kecil, dr. Margareta tumbuh dengan memandang orang-orang terdekatnya berjuang melawan penyakit. Sang Bunda diketahui menderita kanker, sementara sang Ayah mengalami penyakit jantung. Tak hanya itu, salah seorang tantenya juga berjuang melawan kanker.
"Saya berpikir apa yang bisa saya kerjakan untuk support family saya yang sakit jantung dan kanker," kata dr. Margareta dalam wawancara eksklusif berbareng HaiBunda baru-baru ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengalaman tersebut membuatnya sering berada di lingkungan rumah sakit dan berjumpa tenaga kesehatan. Di saat yang sama, dr. Margareta juga termasuk anak yang cukup sering sakit sehingga kerap berjamu ke dokter.
Dari situlah muncul kesan mendalam yang terus dia ingat hingga sekarang. Ia mengaku pernah berjumpa master yang ramah dan edukatif, sehingga membuatnya kagum pada pekerjaan tersebut.
"Dari situ saya berpikir, lezat juga ya jadi dokter. Kita bisa menolong orang, baik family maupun orang lain," ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, cita-cita tersebut akhirnya terwujud. Setelah menjadi dokter, dr. Margareta dihadapkan pada banyak pilihan spesialisasi. Namun, hatinya justru tertambat pada bumi kesehatan anak. Menurutnya, keputusan tersebut tidak lepas dari perannya sebagai seorang Bunda.
"Paling tidak jika anak saya sakit, saya bisa mengurusnya sebelum ditangani orang lain," tutur dr. Margareta sembari mengungkapkan bahwa kedua anaknya juga sekarang masuk Fakultas Kedokteran.
Lebih dari itu, dia percaya bahwa anak-anak merupakan investasi masa depan yang perlu dijaga kesehatannya sejak dini.
"Saya juga berpikir bahwa anak-anak adalah masa depan kita. Kalau lingkungan anak baik, mereka bakal tumbuh dengan baik juga. Karena itu, saya merasa menjadi master anak adalah pilihan yang tepat," lanjutnya.
Pandangan tersebut kemudian menjadi fondasi dalam praktiknya sebagai master anak hingga saat ini. Tak hanya menangani pasien, dia juga aktif memberikan edukasi kepada para orang tua mengenai kesehatan dan tumbuh kembang anak.
Di kembali jas dokter, ada peran sebagai istri dan Bunda
Menjalani pekerjaan sebagai master ahli anak membikin dr. Margareta berkawan dengan kesibukan yang padat setiap harinya. Namun, di tengah agenda praktik yang penuh, dia tetap berupaya menjalankan perannya sebagai istri dan Bunda bagi anak-anaknya.
Baginya, keseimbangan antara pekerjaan dan family memang tidak selalu mudah. Sebab, selain bekerja penuh waktu sebagai dokter, dia juga tetap menjalani praktik di tempat lain pada sore hari.
Meski begitu, dr. Margareta mempunyai satu prinsip yang selalu dia pegang. Saat sudah berada di rumah, waktunya didedikasikan untuk keluarga.
"Begitu sampai di rumah, sebisa mungkin saya sudah tidak mengurus pekerjaan lain. Jadi memang konsentrasi untuk anak-anak," tuturnya.
Beruntung, sang suami yang juga berprofesi sebagai master memahami ritme pekerjaan yang mereka jalani. Oleh lantaran itu, keduanya berupaya menyempatkan waktu unik untuk menikmati kebersamaan berbareng keluarga.
"Dalam satu minggu biasanya ada waktu unik untuk keluarga. Kami suka jalan-jalan, makan, nonton. Ya senang-senang saja berbareng anak-anak," kata dr. Margareta.
Dokter juga bisa panik saat anak sendiri sakit
Meski sehari-hari menangani pasien anak, dr. Margareta mengaku tetap merasakan kekhawatiran yang sama seperti orang tua lainnya ketika anaknya sakit. Menurutnya, saat yang sakit adalah personil family sendiri, terkadang justru lebih susah untuk bersikap objektif.
Namun, pengalaman sebagai master membuatnya memahami bahwa tidak semua kondisi sakit pada anak kudu langsung ditangani di rumah sakit. Selama kondisi anak tetap baik dan tidak menunjukkan tanda bahaya, orang tua bisa melakukan perawatan sederhana di rumah terlebih dahulu.
"Kalau anak saya sakit, jadi saya dan suami sama-sama melakukan penanganan seperti memperbanyak minum dan memberikan obat penurun panas sebagai pertolongan pertama," ujar dr. Margareta.
Tak hanya mengobati anak, dr. Margareta juga aktif mengedukasi orang tua
Dari pengalamannya bertahun-tahun sebagai master anak dan memberi edukasi selama ini, dr. Margareta juga menilai, banyak orang tua sebenarnya sudah mempunyai kesadaran yang semakin baik tentang pentingnya menjaga kesehatan anak sejak dini. Hal ini terlihat dari semakin banyak family yang mulai memperhatikan pola makan, waktu tidur, hingga kelengkapan imunisasi anak.
"Kadang-kadang saya memandang jika anak dibesarkan dengan pola hidup yang baik, seperti makan sehat, tidak sering mengonsumsi junk food, tidur cukup, dan imunisasi lengkap, hasilnya anak-anak jadi lebih sehat dan jarang sakit," ungkapnya.
Saat berkonsultasi dengan orang tua pasien, dr. Margareta tidak hanya berfokus pada pengobatan. Ia juga berupaya mengedukasi pentingnya pola hidup sehat yang konsisten sejak dini.
"Kalau anak dirawat dengan baik, makan sehat, divaksin, dan penggunaan obatnya seperlunya alias rational use of medicine, hasilnya memang bisa terlihat," tuturnya.
dr. Margareta pun memuji perubahan positif pada para orang tua saat ini. Menurutnya, banyak Bunda yang sekarang lebih aktif mencari info dan memahami bahwa tidak semua kondisi anak memerlukan obat.
"Sekarang Bunda-Bunda juga sudah semakin pintar. Kalau memang tidak perlu obat, biasanya mereka memilih untuk tidak langsung memberikan obat-obatan dahulu. Nah, itu bisa diterapkan sebelum anak betul-betul memerlukan obat," ujarnya.
Pesan dr. Margareta untuk orang tua di tengah kekhawatiran soal virus
Belakangan ini, banyak orang tua merasa cemas dengan munculnya beragam virus dan kuman baru yang dapat menyerang kesehatan anak. Kondisi tersebut membikin Bunda semakin waspada ketika Si Kecil mulai menunjukkan indikasi sakit, seperti batuk, pilek, alias demam.
Menurut dr. Margareta, kekhawatiran tersebut sebenarnya wajar dirasakan oleh para orang tua. Namun, dia mengingatkan bahwa ada banyak aspek yang dapat memengaruhi kesehatan anak, salah satunya kondisi lingkungan tempat mereka tumbuh.
Sebagai master yang tinggal dan berpraktik di Jakarta, dr. Margareta memandang bahwa tingginya tingkat polusi turut berpengaruh terhadap meningkatnya akibat jangkitan pada anak-anak.
"Sistem imun mereka kan belum sesempurna orang dewasa," ungkapnya.
Oleh lantaran itu, anak-anak lebih rentan mengalami beragam keluhan kesehatan dibanding orang dewasa. Mulai dari batuk pilek hingga jangkitan tertentu tetap cukup sering ditemukan.
Meski begitu, dr. Margareta mengingatkan para orang tua untuk tidak hanya konsentrasi pada hal-hal yang tidak bisa dikendalikan, seperti polusi alias cuaca. Sebaliknya, ada banyak langkah sederhana yang bisa dilakukan di rumah untuk membantu menjaga kesehatan Si Kecil.
Menurutnya, membiasakan anak mengonsumsi makanan bergizi, melengkapi imunisasi, serta membujuk mereka aktif bergerak setiap hari merupakan investasi krusial untuk kesehatan jangka panjang. Selain itu, dr. Margareta juga mengingatkan agar anak tidak terlalu banyak menghabiskan waktu dengan gadget dan lebih sering melakukan kegiatan bentuk yang sesuai usianya.
"Jangan hanya di dalam rumah terus main gim alias gadget. Menurut saya, dari perspektif pandang master anak, itu kurang ideal untuk tumbuh kembang mereka," katanya.
Di era digital seperti sekarang, orang tua juga semakin mudah mengakses beragam info tentang kesehatan anak. Namun di sisi lain, banyaknya info yang beredar di media sosial juga sering kali membikin Bunda bingung, apalagi tidak jarang justru memicu kekhawatiran berlebih.
Menurut dr. Margareta, perihal pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah memastikan sumber info yang digunakan betul-betul terpercaya.
"Jadi jika saya menyarankan orang tua untuk searching, biasanya saya juga kasih link yang terpercaya," ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya komunikasi yang baik antara orang tua dan master saat berkonsultasi. Dengan begitu, info yang diterima bisa lebih jelas dan sesuai kebutuhan anak. Tak hanya itu, dr. Margareta juga menyarankan agar orang tua mencatat pertanyaan sebelum konsultasi agar tidak ada perihal krusial yang terlewat.
dr. Margareta: kapan orang tua perlu tenang saat Si Kecil sakit
dr. Margareta juga mengungkapkan bahwa tidak semua kondisi anak yang sakit kudu langsung dibawa ke rumah sakit. Selama kondisi anak tidak menunjukkan tanda bahaya, perawatan di rumah tetap bisa dilakukan.
"Selama anak tetap terlihat aktif, pipisnya tetap banyak, bibirnya tetap basah, mulutnya tidak kering, serta tetap mau makan dan minum, itu bisa dilakukan perawatan di rumah," ucapnya.
Namun, ada kondisi tertentu yang tidak boleh diabaikan dan memerlukan penanganan medis segera.
"Tapi jika sudah muncul tanda-tanda darurat, seperti kejang, demam yang tidak turun, muntah terus-menerus, tidak buang air mini dalam waktu lama, alias mengalami kesulitan bernapas, itu tidak bisa ditangani di rumah saja," ucapnya.
Saat anak sakit, terutama batuk, pilek, alias demam, salah satu kekhawatiran terbesar orang tua adalah anak menjadi tidak mau makan dan minum. Menurut dr. Margareta, kondisi ini perlu diwaspadai lantaran dapat berisiko menyebabkan dehidrasi. Ia menekankan pentingnya menjaga asupan cairan anak agar tetap terpenuhi selama sakit.
"Jangan lupa berikan banyak minum dan pastikan cairannya cukup. Apa pun jenis cairan yang tersedia di rumah bisa diberikan," ujarnya.
Selain itu, dalam memberikan obat alias produk kesehatan, dr. Margareta juga mengingatkan bahwa orang tua perlu memperhatikan usia dan kebutuhan anak. Misalnya ada beberapa obat pilek yang baru boleh diberikan pada usia tertentu, seperti di atas 2 tahun.
"Kita kudu menggunakan obat secara bijak dan rasional," katanya.
Namun untuk indikasi batuk dan pilek ringan, tidak selalu kudu langsung diberikan obat. Orang tua bisa mencoba langkah cara non-obat yang bisa dilakukan di rumah. Seperti banyak minum, memakai busana tipis, mandi air hangat, dan membersihkan hidung dengan air garam untuk membantu mengurangi sumbatan.
Saat pijatan lembut jadi corak kasih sayang untuk Si Kecil
Selain menyarankan beragam langkah non-obat tadi, dr. Margareta menilai bahwa perihal yang paling krusial saat anak sakit adalah memastikan Si Kecil tetap merasa nyaman.
"Rasa nyaman itu penting, baik untuk orang tua maupun anaknya," tuturnya.
Ia juga menjelaskan bahwa proses pengobatan memerlukan waktu, sehingga orang tua perlu lebih tenang dan tidak terburu-buru. Untuk bayi, dia lebih menyarankan penggunaan perawatan dari luar tubuh alias yang berkarakter topikal, dibandingkan langsung memberikan obat oral.
"Berbicara tentang rasa nyaman, saya lebih menyarankan obat-obatan yang sifatnya topikal alias digunakan dari luar. Jadi cukup dioleskan," ujarnya.

Salah satu pilihan balsam yang dapat dioleskan untuk bayi adalah Vicks Baby Balm yang diformulasikan unik untuk bayi dengan kandungan yang lembut dan aroma menenangkan. Vicks Baby Balm datang di Indonesia sebagai bagian dari family Vicks yang telah dipercaya selama beberapa generasi.
Pijat bayi dengan penggunaan balsam dapat menjadi salah satu langkah untuk membantu Si Kecil merasa lebih nyaman saat tidak lezat badan. Menurut dr. Margareta, pijat bayi memberikan banyak faedah lantaran termasuk stimulasi multisensori. Pijatan lembut dari orang tua, terutama Bunda, juga dapat membantu bayi menjadi lebih relaks.
"Biasanya anak jadi merasa lebih nyaman. Kalau anak tidur lebih nyenyak, otomatis proses pemulihannya juga bisa lebih cepat," tuturnya.
Sejalan dengan faedah pijat bayi yang dijelaskan dr. Margareta, Vicks Baby Balm datang melalui konsep "Oles, Pijat, LOVE" yang membujuk orang tua menjadikan momen perawatan sebagai corak ekspresi kasih sayang. Ritual sederhana berupa mengoleskan balsam sembari memberikan pijatan lembut tidak hanya membantu memberikan rasa nyaman saat Si Kecil sedang kurang fit, tetapi juga menjadi kesempatan berbobot untuk mempererat kedekatan antara orang tua dan anak.
"Saat memijat, kita juga memandang bayi dan mengajaknya berbicara. Itu sudah menjadi stimulasi auditori. Selain itu, bayi juga memandang wajah dan aktivitas kita, sehingga mendapat stimulasi visual, " ujar dr. Margareta.
Ritual sederhana seperti mengoleskan balsam lampau memijat bayi juga dapat membantu meningkatkan kenyamanan Si Kecil, terutama saat mengalami batuk pilek ringan.
Menurut dr. Margareta, penggunaan produk perawatan yang tepat juga perlu menjadi perhatian orang tua, terutama lantaran kulit bayi tetap sangat sensitif. Oleh lantaran itu, memilih produk dengan kandungan yang lembut dan alami menjadi perihal yang tidak boleh diabaikan.
Seperti diketahui, produk Vicks Baby Balm yang diformulasikan unik untuk bayi mempunyai tekstur lembut untuk mengurangi gesekan saat pijat, kandungan bahan alami seperti rosemary, minyak kelapa, ekstrak aloe vera, aroma eucalyptus dan lavender yang menenangkan.
dr. Margareta menjelaskan bahwa produk dengan bahan alami dan aroma yang menenangkan dapat membantu mendukung kenyamanan bayi selama masa pemulihan. Ketika bayi merasa lebih relaks dan nyaman, mereka condong bisa beristirahat lebih baik, yang pada akhirnya dapat membantu proses pemulihan melangkah lebih optimal.
"Penting sekali untuk memperhatikan komposisi dari balm alias balsam yang digunakan, sehingga selain memberikan pengaruh menenangkan dan melegakan, tapi sekaligus kondusif di kulit bayi," ucapnya.
Jangan panik, batuk pilek pada anak merupakan kondisi yang umum terjadi
Di akhir wawancara, dr. Margareta menyampaikan satu pesan krusial bagi para orang tua yang kerap merasa resah saat anak mengalami batuk alias pilek. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling sering dialami anak usia balita dan tetap tergolong normal.
"Kita bilang normal jika dalam satu tahun anak bisa mengalami 6-12 kali bagian batuk pilek," ungkapnya.
Meski demikian, dia memahami bahwa memandang anak sakit tetap menjadi situasi yang tidak mudah bagi orang tua. Namun, kepanikan berlebihan justru dapat memengaruhi kenyamanan anak selama masa pemulihan.
"Kalau tetap memungkinkan, bisa dibantu dengan pemberian balm alias cuci hidung. Itu juga sudah cukup membantu. Jangan lupa makan yang bergizi dan imunisasi, itu sudah cukup membantu bisa meningkatkan sistem imun Si Kecil," katanya.
Pada akhirnya, kunci utama menghadapi anak yang sedang sakit adalah tetap tenang, memberikan perawatan yang tepat, serta memahami kapan kudu mencari support medis. Dengan begitu, orang tua dapat menjadi pendamping terbaik bagi Si Kecil selama proses pemulihan berlangsung.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/som)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·