Jakarta -
Tidak semua pasangan bisa dengan mudah mendapatkan anak. Ada yang kudu melewati perjalanan panjang, penuh emosi, dan juga biaya yang tidak sedikit demi menjalani program kehamilan alias promil.
Salah satu kisah yang viral datang dari pasangan suami istri di Sydney, Australia, yang kudu mengeluarkan biaya besar hingga puluhan ribu dolar untuk menjalani program bayi tabung alias in vitro fertilization.
Biaya promil tembus Rp700 juta
Melissa Szeto dan suaminya, Dat, menghabiskan bertahun-tahun mencoba untuk mengandung secara alami dan ketika itu tidak berhasil, mereka menjalani beberapa kali program bayi tabung (IVF) di klinik Sydney dengan biaya penuh yang membikin mereka kekurangan uang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasangan itu menyelesaikan tiga kali program yang ketat dan tidak berhasil, dan masing-masing menghabiskan biaya AU$15.000. Keduanya mempunyai pekerjaan yang mapan dan berpenghasilan layak, tetapi mengeluarkan duit sebanyak itu sembari juga tinggal di kota termahal di Australia adalah perihal yang berat.
“IVF menghabiskan biaya dengan sangat cepat, terutama ketika Anda menjalani beberapa siklus dan transfer,” kata Szeto dikutip dari News.com.au.
Pasangan ini diketahui telah menghabiskan lebih dari AU$70.000 alias sekitar Rp700 juta untuk menjalani perjalanan IVF selama beberapa tahun.
Biaya tersebut bukan hanya untuk satu kali prosedur, melainkan akumulasi dari beragam siklus IVF, termasuk pemeriksaan, obat-obatan hormon, pengambilan sel telur, hingga transfer embrio yang kudu diulang berkali-kali. Setiap siklus IVF sendiri bisa menyantap biaya sekitar AU$15.000, sehingga ketika dilakukan berulang kali, total pengeluaran pun membengkak drastis.
Sampai kudu tarik biaya pensiun
Karena tekanan finansial yang semakin besar, pasangan ini akhirnya mengambil langkah berat: Mencairkan biaya pensiun (superannuation) mereka untuk melanjutkan pengobatan. Langkah ini dilakukan setelah beberapa kali percobaan IVF tidak berhasil, sementara kemauan untuk mempunyai anak tetap kuat.
Meski akhirnya mereka sukses mempunyai anak setelah menemukan klinik dengan skema biaya lebih terjangkau, keputusan tersebut meninggalkan akibat finansial jangka panjang, termasuk berkurangnya tabungan pensiun di masa depan.
Dilema besar: Mimpi jadi orang tua vs masa depan finansial
Kisah ini membuka mata banyak orang tentang dilema yang sering dihadapi pasangan infertil: antara mengejar angan mempunyai anak alias menjaga stabilitas finansial jangka panjang.
Di satu sisi, IVF menjadi angan terakhir bagi banyak pasangan. Namun di sisi lain, biaya yang sangat tinggi membikin sebagian orang kudu mengorbankan tabungan masa depan mereka.
Menurut Financial educator yang dikutip ABC News, penarikan biaya pensiun di usia 30–40 tahun dapat mengurangi saldo pensiun hingga dua kali lipat dari jumlah yang diambil pada saat pensiun nanti, lantaran hilangnya pengaruh kembang majemuk (compound interest).
Artinya, jika seseorang menarik sekitar Rp300 juta dari biaya pensiun hari ini, nilai 'kerugian' di masa depan bisa mencapai jauh lebih besar ketika dihitung dalam pertumbuhan investasi jangka panjang.
Perjuangan yang tidak selalu terlihat
Di kembali kisah viral pasangan yang menghabiskan ratusan juta untuk program bayi tabung, ada lapisan perjuangan yang sering tidak tampak di permukaan. Publik biasanya hanya memandang hasil akhir kehamilan yang sukses alias cerita tentang biaya besar, padahal prosesnya jauh lebih panjang dan kompleks.
Secara medis, program IVF bukan sekadar prosedur sekali jalan. Banyak pasangan kudu melewati beberapa siklus, dengan tingkat keberhasilan yang tidak selalu pasti. Setiap kegagalan bukan hanya berfaedah penundaan, tetapi juga pengulangan seluruh proses dari awal, termasuk penggunaan obat hormon, tindakan medis, hingga biaya tambahan yang terus menumpuk.
Namun yang lebih jarang dibahas adalah sisi emosional dan psikologisnya. Studi di bagian ilmu jiwa reproduksi menunjukkan bahwa pasangan yang menjalani program infertilitas sering mengalami stres kronis, kecemasan, apalagi indikasi depresi ringan hingga sedang. Tekanan ini biasanya berasal dari kombinasi angan yang tinggi, usia, serta ekspektasi sosial tentang kehadiran anak dalam pernikahan.
Dari perspektif pandang sosial, pasangan juga sering menghadapi pertanyaan alias tekanan lingkungan yang tidak selalu sensitif. Hal ini membikin perjalanan promil menjadi pengalaman yang sangat personal, namun sekaligus terasa 'terbuka' bagi penilaian orang lain.
Sementara dari sisi finansial, beban tidak hanya terlihat dari nomor yang dikeluarkan. Banyak keputusan besar diambil dalam kondisi emosional yang tinggi, termasuk penggunaan tabungan jangka panjang alias apalagi biaya pensiun. Para mahir finansial menekankan bahwa keputusan seperti ini sering terjadi dalam kondisi “financially vulnerable decision-making”, ialah saat emosi dapat menggeser pertimbangan logis tentang masa depan.
Karena itu, perjuangan promil sering kali tidak bisa dinilai hanya dari hasil akhirnya. Di kembali satu berita baik, ada perjalanan panjang yang melibatkan tubuh, pikiran, relasi, dan stabilitas ekonomi yang semuanya diuji secara bersamaan.
Pada akhirnya, kisah seperti ini mengingatkan bahwa tidak semua perjuangan terlihat di permukaan. Ada proses yang sunyi, berat, dan sangat personal—yang hanya dipahami sepenuhnya oleh mereka yang menjalaninya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·