Project Zenith Disebut Hanya Gimmick Marketing?

Windows Portal Indonesia Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 4 menit 30x dilihat
Project Zenith Disebut Hanya Gimmick Marketing?

Sebelumnya kita sudah membahas mengenai Project Zenith yang kabarnya bakal menjadi sistem operasi Windows 11 unik developer.

Baca Juga : Microsoft Perkenalkan Project Zenith, Windows 11 Khusus untuk Developer

Tapi, apakah itu betul-betul sebuah jenis Windows 11 khusus? Dan apakah Project Zenith memang menawarkan sesuatu yang betul-betul baru untuk para developer?

Nah, rupanya jawabannya tidak sesederhana itu guys. Project Zenith memang ditujukan untuk developer, tetapi Microsoft menjelaskan bahwa ini bukan merupakan jenis alias SKU baru dari Windows 11, dimana bisa dibilang Project Zenith lebih tepat disebut sebagai pengalaman Windows yang telah dikonfigurasi unik untuk perangkat kelas developer.

Bukan Windows 11 Versi Baru

Nah jadi, Project Zenith bukanlah Windows 11 Developer Edition seperti yang mungkin dibayangkan sebagian pengguna.

Microsoft tidak membikin jenis Windows baru yang terpisah seperti Windows 11 Home alias Windows 11 Pro, namun sebaliknya Project Zenith merupakan Windows 11 yang sudah dikonfigurasi dengan sejumlah pengaturan dan tools yang dianggap sesuai untuk kebutuhan developer.

Microsoft menyebut pengalaman ini sebagai “ready-to-code” dan “distraction-free Windows experience”. Artinya, ketika pengguna mendapatkan perangkat Project Zenith, sejumlah tools dan pengaturan krusial sudah tersedia sehingga developer dapat langsung mulai bekerja tanpa kudu melakukan konfigurasi dari awal.

Namun tentu dong, justru itulah yang membikin banyak orang bertanya, termasuk saya sendiri, ialah apa sih yang membikin project zenith ini berbeda?

Apa yang Membuat Project Zenith Berbeda?

Nah, jika dilihat lebih jauh, sebenarnya ada beberapa perihal yang membedakan Project Zenith dengan Windows 11 biasa. Salah satunya tentu saja adalah sejumlah tools pengembangan yang sudah tersedia secara langsung.

Microsoft menyiapkan beragam aplikasi dan tools yang cukup familiar bagi para developer, mulai dari Visual Studio Code, GitHub Copilot, PowerToys, hingga beragam tools untuk kebutuhan terminal dan source control.

Selain itu, Microsoft juga sudah menyiapkan sejumlah bahasa pemrograman dan runtime, seperti Python 3.14+, uv, NVM, Node 24+, WSL 2 dengan Ubuntu, hingga .NET 10.

Jadi secara sederhana, ketika pengguna mendapatkan perangkat dengan Project Zenith, mereka tidak perlu lagi menghabiskan waktu untuk memasang beragam tools dasar tersebut satu per satu.

Namun tentu, itu sih perihal yang biasa lantaran pada dasarnya semua tools tersebut juga bisa diinstal secara manual di Windows 11 biasa.

Ada Sejumlah Pengaturan Windows yang Diubah

Nah disinilah letak menariknya, lantaran selain menyediakan beragam tools untuk developer, Microsoft juga melakukan beberapa penyesuaian pada Windows 11.

Misalnya, File Explorer bakal menampilkan ekstensi file secara default. Detail pane juga bakal diaktifkan, sementara full path dari letak file bakal ditampilkan pada title bar.

Kemudian, beberapa fitur yang mungkin dianggap kurang krusial untuk kebutuhan developer juga bakal dinonaktifkan. Contohnya seperti recently used files dan sync provider tips di File Explorer.

Selain itu, Microsoft juga mengaktifkan Command Palette untuk Start dan Search, serta menonaktifkan Start menu tips dan beberapa notifikasi.

Sekilas memang terlihat seperti Windows 11 yang lebih bersih dan lebih konsentrasi untuk bekerja.

Namun lagi lagi sebenarnya kustomisasi tersebut tetap bisa kita atur manual dari Settings, next mungkin kita coba jelaskan caranya.

Persyaratan Gila

Nah disamping tool dan pengaturan yang sebenarnya bisa kita atur dan tambahkan sendiri di Windows 11 biasa, ada satu perihal yang justru menjadi pembeda, dimana Project Zenith ini mempunyai persyaratannya yang tidak main main,

Microsoft menetapkan bahwa perangkat Project Zenith kudu mempunyai setidaknya 64GB unified memory dan memory bandwidth lebih dari 250GB/s.

Dengan spesifikasi tersebut, Microsoft menyatakan perangkat Project Zenith dapat menjalankan model AI lokal dengan lebih dari 30 miliar parameter.

Tujuannya tentu cukup jelas guys. Microsoft mau menyediakan perangkat yang bisa menjalankan model AI secara lokal tanpa kudu selalu berjuntai pada jasa cloud.

Tapi tentu, ada pertanyaan lain yang muncul, apakah semua developer butuh keahlian untuk menjalankan model AI dengan lebih dari 30 miliar parameter?

Menurut saya sih tidak, lantaran baik developer web, backend, mobile, alias apalagi network automation belum tentu memerlukan hardware dengan spesifikasi setinggi itu.

Bahkan dalam kasus nyata, banyak developer yang tetap bekerja dengan perangkat RAM 16GB alias 32GB dan tetap dapat menjalankan workflow mereka dengan sangat baik.

Jadi, membatasi pengalaman Windows yang disebut “distraction-free” berasas spesifikasi hardware tertentu terasa sedikit asing saja, tapi gimana menurutmu? komen dibawha guys, apakah Project Zenith betul-betul menawarkan sesuatu yang baru, alias sebenarnya hanya Windows 11 biasa yang sudah dipasangi sejumlah tools dan konfigurasi unik untuk developer?


Catatan Penulis : WinPoin sepenuhnya berjuntai pada iklan untuk tetap hidup dan menyajikan konten teknologi berbobot secara cuma-cuma — jadi jika Anda menikmati tulisan dan pedoman di situs ini, minta whitelist laman ini di AdBlock Anda sebagai corak support agar kami bisa terus berkembang dan berbagi insight untuk pengguna Indonesia. Kamu juga bisa mendukung kami secara langsung melalui support di Saweria. Terima kasih.

Written by

Gylang Satria

Tech writer yang sehari‑hari berkutat dengan Windows 11, Linux, dan Samsung S24. Punya pertanyaan alias butuh diskusi? Tag @gylang_satria di Disqus. Untuk kolaborasi, email saja ke [email protected]

Post navigation

Previous Post

Artikel Lainnya Windows Portal Indonesia

Bagikan Postingan