Review Buku Ranah 3 Warna Karya A Fuadi

Apr 14, 2026 08:50 AM - 2 minggu yang lalu 18872

Ranah 3 Warna – Alif baru saja menamatkan pendidikannya di Pondok Madani. Ia apalagi sudah bisa bermimpi dalam bahasa Arab dan Inggris, dan cita citanya melambung tinggi. Ia mau belajar teknologi di Bandung seperti Habibie lampau merantau sampai Amerika. Namun, setibanya di Maninjau, semangatnya terhenti oleh realita yang pahit. Dia belum mempunyai piagam SMA. Bagaimana mungkin semua angan itu terwujud tanpa syarat paling dasar ini?

Dari kegamangan hingga angin besar masalah yang datang bertubi tubi, Alif nyaris saja menyerah. Namun dia kembali terkenang dua mantra yang membentuk fondasi hidupnya. Man jadda wajada dan man shabara zhafira. Dengan keduanya, dia melangkah menghadapi setiap rintangan.

Apa yang menanti Alif di perjalanan penuh warna ini? Siapa saja tokoh yang mewarnai hidupnya, dan pelajaran besar apa yang dia temukan?

Jika Grameds penasaran dengan kisah perjuangan dan keteguhan hati Alif dalam Ranah 3 Warna, Gramin sudah menyiapkan ulasan lengkapnya untuk kalian. Buku dengan ketebalan 162 laman ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 14 Juni 2017.

Sebelum membaca ulasan ini lebih lanjut, yuk kita mulai dengan mengenal penulisnya terlebih dahulu, Grameds!

Profil A Fuadi – Penulis Buku Ranah 3 Warna

Ahmad Fuadi berasal dari nagari Bayur, sebuah kampung tenang di tepi Danau Maninjau, tidak jauh dari tanah kelahiran Buya Hamka. Ia tumbuh berbareng family pendidik, ibunya seorang pembimbing SD dan ayahnya pembimbing madrasah.

Mengikuti pesan sang ibu, dia merantau ke Jawa dan masuk sekolah agama. Di Pondok Modern Gontor, dia berjumpa para ustad dan ustaz yang mengajarinya ketulusan, pengetahuan hidup, dan pelajaran akhirat.

Dari tempat inilah dia menemukan rumus sederhana yang mengubah jalan hidupnya, man jadda wajada, siapa yang bersungguh sungguh bakal berhasil.

Di Gontor pula dia belajar bahwa pengetahuan dan bahasa asing adalah kunci untuk membuka jendela dunia. Dengan bekal angan dan prinsip itu, dia mencoba UMPTN dan lulus di bidang Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran.

Semasa kuliah, dia mewakili Indonesia dalam Youth Exchange Program di Quebec, Kanada, lampau mendapat kesempatan belajar satu semester di National University of Singapore melalui SIF Fellowship. Setelah lulus, mimpinya kembali terbuka ketika majalah Tempo terbit lagi. Ia diterima sebagai wartawan dan belajar langsung dari para wartawan terbaik negeri ini.

Kesempatan belajar ke luar negeri datang silih berganti. Ia meraih danasiwa Fulbright untuk studi S2 di George Washington University dan tinggal di Washington DC berbareng istrinya Yayi yang juga wartawan Tempo.

Di sana mereka menjadi koresponden Tempo dan wartawan VOA, apalagi meliput peristiwa berhistoris seperti tragedi 11 September dari Pentagon, White House, dan Capitol Hill. Beberapa tahun kemudian, dia menerima danasiwa Chevening untuk mendalami movie dokumenter di Royal Holloway, University of London.

Kini pecinta fotografi ini menjabat sebagai Direktur Komunikasi di organisasi konservasi The Nature Conservancy.

Fuadi dan istrinya tinggal di Bintaro dan doyan membaca serta bepergian. Karyanya Negeri 5 Menara menjadi kitab pertama dari sebuah trilogi yang merayakan pengalaman belajar yang penuh inspirasi. Ia berambisi karya ini bisa membuka mata dan hati banyak orang. Sebagian royalti kitab tersebut dia dedikasikan untuk membangun Komunitas Menara, organisasi sosial berbasis relawan yang menyediakan pendidikan dan jasa dasar secara cuma-cuma bagi masyarakat yang membutuhkan.

Sinopsis Buku Ranah 3 Warna

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Aku hanya terdiam sembari menggigit bibir. Aneh, sejak tadi pelambung dari sandal jepit merahku tidak bergerak sedikit pun. Hanya ikan supareh mini yang terus sibuk mengerubungi kakiku.

Kalau saya kalah memancing, apakah betul saya kudu mentraktir Randai dengan pensi, kerang mungil unik Danau Maninjau itu? Pensi rebus yang dibungkus daun pisang dan diberi kuah bambu memang selalu sukses membikin siapa pun ketagihan.

Eh, Alif, jadi setelah selesai dari pesantren ini, Anda tetap berambisi jadi seperti Habibie? tanya Randai sembari menepuk betisnya yang diganggu agas.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Ranah 3 Warna

Pros & Cons

Pros

  • Memberikan semangat.
  • Penggunaan bahasa yang mengalir.
  • Bahan refleksi.
  • Penuh dengan pesan moral.
  • Relevansi dengan kehidupan nyata.
  • Penokohan yang kuat. 

Cons

  • Ending yang terkesan terburu-buru.

Kelebihan Buku Ranah 3 Warna

Buku Ranah 3 Warna karya A Fuadi ini mempunyai banyak sekali kelebihan yang membikin kitab ini menarik untuk Grameds telusuri!

  • Memberikan semangat

Ranah 3 Warna menghadirkan kisah yang penuh dengan daya tentang perjalanan Alif Fikri setelah lulus dari Pondok Madani. Ia pulang ke Maninjau dengan bekal pengetahuan kepercayaan sekaligus tekad bulat untuk mengejar mimpi menjadi Habibie berikutnya. Hasratnya untuk mencetak prestasi di bumi teknologi tidak pernah surut.

Dalam cerita ini, perjuangan, keyakinan, cinta, dan family sukses dirangkai menjadi satu sehingga memberikan dorongan kuat bagi pembaca untuk terus mengejar cita cita.

  • Penggunaan bahasa yang mengalir

Gaya bahasa A Fuadi terasa sangat natural dan mudah untuk diikuti. Setiap emosi, kegelisahan, dan pikiran Alif disajikan dengan bening dan jelas sehingga pembaca larut tanpa sadar bahwa kitab ini sebenarnya cukup tebal.

Dengan narasi yang runtut dan jumlah laman yang tidak berlebihan, petualangan jatuh bangun Alif menjadi pengalaman membaca yang nyaman dan mengalir begitu saja.

  • Bahan refleksi

Buku ini juga punya kekuatan untuk membujuk pembaca berakhir sejenak dan bertanya pada diri sendiri.

Sebelum sibuk memikirkan langkah mewujudkan mimpi, kitab ini mengingatkan bahwa langkah pertama adalah betul benar memahami apa mimpi itu.

Bacaan yang sederhana namun bisa mengundang renungan mendalam.

  • Penuh dengan pesan moral

Kisah Alif diperkaya dengan nilai nilai kehidupan yang kuat. Prinsip man jadda wajada menegaskan bahwa kesungguhan bakal membuahkan hasil. Man shabara zhafira mengajarkan pentingnya kesabaran dalam menghadapi hari hari yang berat.

Ada juga rayuan untuk selalu berupaya lebih dari yang diminta melalui konsep i’malu fauqa ma amilu yang menanamkan kebiasaan bekerja melampaui pemisah minimal.

  • Relevansi dengan kehidupan nyata

Tema yang diangkat terasa sangat dekat dengan realitas kehidupan. Perjalanan Alif yang mengejar mimpi sekaligus menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan membikin pembaca mudah terhubung secara emosional, terutama bagi mereka yang sedang berada di fase perjuangan yang sama. Nilai spiritual dan pengalaman individual Alif menjadi cermin bagi banyak orang.

  • Penokohan yang kuat

Setiap karakter dalam kitab ini datang dengan nyawa yang jelas. Alif sebagai tokoh utama memberikan gambaran tentang tekad dan kesabaran dalam mewujudkan mimpi. Tokoh pendamping seperti Rusdi juga menambah warna dalam cerita lewat kepribadiannya yang jenaka, penuh nasionalisme, dan mempunyai jiwa seni.

Selain itu, semua karakter dalam cerita ini juga digambarkan dengan mendetail dan terasa hidup, kehadiran karakter-karakter ini membikin cerita semakin hidup dan berkesan.

Kekurangan Buku Ranah 3 Warna

Buku Ranah 3 Warna karya A Fuadi mempunyai banyak sekali kelebihan, bakal tetapi bukan berfaedah kitab ini tidak mempunyai kekurangan sama sekali. Adapun, perihal yang tetap dirasa mengganjal dari kitab ini adalah:

  • Ending yang terkesan terburu-buru

Salah satu perihal yang terasa kurang adalah bagian akhir cerita yang ditampilkan dengan cepat.

Ranah pertama digambarkan dengan panjang dan detail, sementara dua ranah berikutnya terasa lebih singkat sehingga beberapa bagian tampak kurang tergarap dengan mendalam.

Apa itu Pondok Pesantren? 

Alif dalam cerita ini merupakan lulusan pondok. Akan tetapi, apakah Grameds sudah tahu apa sebenarnya yang dimaksud dengan pondok pesantren?

Jika belum, Gramin bakal menjelaskannya secara singkat dan mudah untuk dipahami.

Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam berbasis masyarakat yang mengajarkan pengetahuan agama, baik secara penuh maupun dipadukan dengan pendidikan umum. Mereka yang belajar dan tinggal di lingkungan pesantren disebut santri alias santriwati.

Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah berapa lama proses belajar di pesantren berlangsung. Jawabannya bervariasi. Ada santri yang mondok selama satu hingga tiga tahun, ada juga yang menetap enam sampai sembilan tahun, apalagi lebih, tergantung tujuan pendidikan, jenis pesantren, serta jenjang yang diambil.

Apa saja faedah mondok

  1. Pembentukan Karakter dan Akhlak Mulia

Pesantren dikenal sebagai tempat yang menanamkan disiplin, kemandirian, dan rasa tanggung jawab. Santri terbiasa hidup sederhana dan menjaga kebersamaan. Kebiasaan ini menjadi pondasi krusial dalam kehidupan sosial dan ahli mereka ketika dewasa.

  1. Pendalaman Ilmu Agama dan Dunia

Banyak pesantren modern sekarang menggabungkan pelajaran kepercayaan dengan mata pelajaran umum. Santri belajar Al Qur an dan hadits, sekaligus matematika, bahasa Inggris, sampai komputer.

Dengan lama mondok enam tahun alias lebih, mereka mempunyai bekal pengetahuan yang komplit untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat universitas, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

  1. Hafalan dan Penguasaan Kitab Kuning

Untuk program tahfidz atau pengkajian kitab salaf, waktu belajar yang panjang sangat dibutuhkan. Makin lama santri mondok, makin kuat mahfuz dan pemahaman kitab yang dimiliki. Bahkan sekarang beberapa pesantren sudah memakai sistem digital untuk memantau perkembangan santri secara lebih akurat.

Jenjang Pendidikan di Pesantren dan Lama Belajarnya

  1. Pesantren Salafiyah (Tradisional)

Jenis pesantren ini memusatkan pelajaran pada kitab kuning alias kitab klasik. Jangka waktu mondok bisa mencapai lima hingga sepuluh tahun, tergantung keahlian santri menguasai materi.

Di beberapa tempat, tidak ada pemisah waktu tertentu, sehingga santri bisa belajar hingga dianggap matang dalam pengetahuan dan akhlak.

  1. Pesantren Khalaf (Modern)

Pesantren modern menggabungkan kurikulum nasional dengan pendidikan agama. Sistemnya lebih teratur, dengan jenjang seperti berikut :

  1. MTs alias SMP Pesantren selama tiga tahun.
  2. MA alias SMA Pesantren selama tiga tahun.
  3. Program Takhasus alias pendalaman pengetahuan selama satu sampai tiga tahun.

Jika digabungkan, total waktu mondok bisa mencapai enam sampai sembilan tahun, tergantung apakah santri meneruskan ke program lanjutan.

  1. Pesantren Kilat alias Program Khusus

Ada juga program mondok jangka pendek seperti pesantren kilat alias tahfidz intensif. Durasi belajarnya bisa mulai dari satu bulan hingga satu tahun. Program ini cocok untuk liburan sekolah alias untuk santri yang mau konsentrasi menghafal.

Penutup

Melalui perjalanan Alif yang penuh dengan lika-liku, Ranah 3 Warna menghadirkan kisah tentang mimpi, perjuangan, dan kesabaran yang begitu dekat dengan kehidupan banyak orang. Setiap laman bakal membujuk Grameds untuk menyelami semangat agar terus melangkah meski angin besar datang silih berganti. Bagi Grameds yang sedang mencari cerita inspiratif yang membangkitkan angan dan keberanian, kisah Alif dalam Ranah 3 Warna layak menemani hari hari kalian.

Nah Grameds, itu dia sinopsis dan ulasan dari Buku Ranah 3 Warna Karya A Fuadi. Yuk langsung saja dapatkan kitab ini hanya di Gramedia.com!

Sebagai kawan untuk mendukung perjalananmu #TumbuhBermakna, kami selalu siap memberikan info dan produk terbaik untuk kamu.

Penulis: Gabriel

Rekomendasi Buku

Buku Ayo, Berlatih Silat!:Let’s Practice Silat! (Bilingual) Room to Read

Ayo Berlatih Silat

Saat libur sekolah, Salman mengunjungi Agam di Sumatera Barat. Dia mau mengenal budaya Minangkabau. Agam mengajaknya memandang silat. Yuk, Ikut Salman dan Agam mengenal bela diri unik Indonesia!

Buya Hamka Edisi Poster Film

Buya Hamka

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Membaca kisah hidup Hamka bagai menonton jenis movie sekaligus. Film petualangan penuh segmen mendebarkan, movie religi yang menyentuh sanubari, dan movie romantis yang terasa manis di hati.

Hidupnya memang kerap berayun ekstrem dari satu kutub ke kutub lain. Mulai dari penulis roman sampai jadi ustadz besar penulis tafsir, dari gerilyawan melawan Belanda sampai dituduh makar dan ditangkap oleh Orde Lama. Tapi di kemudian hari, dia malah diangkat jadi pahlawan nasional.

Kronika bumi Hamka yang dirangkum di kitab ini bagai buket dari taman kembang yang luas. Bunga itu wangi, bagus warna-warni lantaran dipelihara secara kolektif oleh banyak hati. Taman kembang yang terhampar itulah hikayat Hamka yang menginspirasi, melintas banyak generasi.

Buya Hamka

Buya Hamka

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah Datuk Indomo, terkenal dengan nama penanya Hamka (17 Februari 1908–24 Juli 1981) adalah seorang ulama, filsuf, dan sastrawan Indonesia.

Ia berkarier sebagai wartawan, penulis, dan pengajar. Ia sempat berkecimpung di politik melalui Masyumi sampai partai tersebut dibubarkan, menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, dan aktif dalam Muhammadiyah hingga akhir hayatnya.

Universitas al-Azhar dan Universitas Nasional Malaysia menganugerahkannya gelar ahli kehormatan, sementara Universitas Moestopo mengukuhkan Hamka sebagai pembimbing besar.

Namanya disematkan untuk Universitas Hamka milik Muhammadiyah dan masuk dalam daftar Pahlawan Nasional Indonesia.

Selengkapnya